"Aku cuma mau jadi beban keluarga CEO, kenapa malah dikasih beban nyawa Mafia?!"
Velin mengira transmigrasi ke tubuh istri pengganti dalam drama CEO klise adalah tiket liburannya dari dunia korporat. Tugasnya mudah: diabaikan suami, dihina pelakor, lalu mati konyol.
Tapi Velin menolak alur! Saat ia sedang asyik berendam mawar untuk merayakan kebebasannya, plafon kamar mandinya jebol.
Bukannya suami yang datang minta maaf, justru seorang pria asing bersimbah darah jatuh tepat di hadapannya. Kieran Marva D’Arcy—Ketua Mafia kejam yang seharusnya tidak ada dalam naskah ini.
Satu pria ingin membuangnya, satu pria lagi mengancam akan menembaknya.
Saat alur drama sudah "Salah Server", apakah Velin akan tetap mengikuti naskah, atau justru menulis takdir baru bersama sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Logika Figuran di Tengah Perang Bintang
Seluruh istana berguncang. Lampu darurat berwarna merah berputar, menciptakan suasana horor yang membuat Velin ingin pingsan di tempat. Kieran sudah mengenakan rompi taktisnya, memeriksa magasin senjatanya dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
"Jaxon, jaga perimeter dalam! Jangan biarkan satu pun anjing Lorenzo melewati gerbang utama!" perintah Kieran lewat intercom.
Velin berdiri mematung di tengah kamar, memegang sebuah helm taktis yang diberikan pengawal. Wajahnya pucat, tapi mulutnya tidak bisa berhenti komat-kamit.
Batin Velin:
Ya Gusti... Ini beneran bukan drama CEO lagi! Ini mah 'Call of Duty' versi nyata! Mana ada di naskah aslinya Aveline harus pake rompi antipeluru begini? Dulu paling mentok masalahku itu printer kantor macet atau kena omel Adriano karena telat bikin kopi. Sekarang? Masalahku adalah peluru nyasar!
Kenapa genre-nya nggak bisa konsisten sih? Habis romantis-romantisan, kok langsung pindah ke 'Mission Impossible'? Penulis naskahnya pasti lagi mabuk pas bikin plot ini. Aku cuma pengen jadi janda kaya yang santai, kenapa malah jadi istri Mafia yang terancam jadi janda beneran sebelum dapet warisan?!
"Aveline! Masuk ke ruang bawah tanah sekarang!" bentak Kieran sambil menarik tangan Velin.
"Tunggu, Tuan Kieran! Aku nggak mau sembunyi kayak tikus!" seru Velin, meskipun kakinya gemetar. "Aku punya rencana!"
Belum sempat Kieran membalas, ledakan keras menghantam dinding paviliun depan. Debu beterbangan. Dan dari balik asap, muncul sosok Lorenzo Vane dengan setelan putihnya yang kini ternoda jelaga, diikuti oleh selusin pasukan elit.
Kieran langsung menodongkan senjatanya, namun Lorenzo memegang sebuah detonator. "Satu langkah lagi, Kieran, dan seluruh sayap barat istana ini akan rata dengan tanah. Berikan wanita itu, dan cincinnya."
Velin melangkah maju dari balik punggung Kieran, membuat semua orang—termasuk Lorenzo—mengernyit bingung.
"Heh, Pak Putih! Denger ya!" teriak Velin dengan suara melengking. "Ya Tuhan... kenapa sih aku malah tersesat di drama menegangkan begini? Kenapa nggak bisa yang adem-adem aja kayak drama reborn jadi putri kerajaan gitu?!"
Lorenzo mengerutkan kening, menatap Velin seolah wanita itu baru saja kehilangan akal sehatnya. "Apa yang kau bicarakan, Wanita? Serahkan cincin itu sekarang!"
"Percuma!" Velin berkacak pinggang, mengabaikan moncong senjata yang mengarah padanya. "Dengerin ya, Pak Lorenzo. Kamu itu cuma antagonis musiman! Kamu nggak tahu hukum alam ya? Pemeran utama itu SELALU menang! Di episode berapa pun, mau babak belur kayak gimana pun, Kieran itu Main Lead-nya, dan aku Female Lead-nya. Kamu itu cuma figuran yang dapet screentime banyak tapi ujung-ujungnya bakal tamat!"
Lorenzo terdiam sejenak, menoleh ke arah anak buahnya dengan tatapan bertanya. "Apa dia sedang merapal mantra? Apa itu bahasa rahasia klan D'Arcy?"
"Bukan mantra, Pak! Itu kenyataan!" lanjut Velin makin ugal-ugalan. "Mending kamu pulang, buka bisnis katering atau apa gitu. Menyerang kita itu sia-sia. Kamu lihat pengawal di belakangku ini? Namanya Jaxon. Dia itu karakter pendukung yang overpower. Kamu nggak akan menang lawan hukum naskah!"
Kieran yang tadinya tegang, kini hanya bisa memijat pangkal hidungnya. "Aveline... berhenti bicara soal naskah."
"Nggak bisa, Tuan! Dia harus tahu kalau dia itu cuma villain yang bakal kalah!" Velin menunjuk Lorenzo. "Ayo, Tuan Kieran! Tembak kakinya sekarang! Ini saatnya scene aksi yang bikin penonton bersorak!"
Lorenzo yang merasa dihina karena omongan Velin yang tidak masuk akal baginya, mulai kehilangan kesabaran. "Cukup omong kosong ini! Tembak—"
DOR! DOR!
Sebelum Lorenzo menyelesaikan perintahnya, tim Jaxon yang sudah menyusup dari ventilasi atas melepaskan tembakan peringatan. Kekacauan pecah. Kieran dengan sigap menarik Velin ke pelukannya sambil melepaskan tembakan balasan.
"Aveline, kalau kita selamat, aku akan membelikanmu seluruh studio film agar kau berhenti merasa sedang berada di dalam drama!" geram Kieran di tengah desingan peluru.
Velin berpegangan erat pada rompi Kieran. "Janji ya! Dan aku mau naskahnya yang romantis komedi aja, nggak mau ada adegan tembak-tembakan begini! Jantungku nggak kuat, Tuan Mafia!"
Lorenzo terpaksa mundur karena terdesak oleh strategi "Naga Tidur" yang diaktifkan Kieran. Di tengah pelarian, Lorenzo masih bergumam, "Apa itu pemeran utama? Apa dia gila?"
...****************...
Di Luar Istana...
Adriano, yang memantau dari jauh lewat teropong, hanya bisa melongo melihat Velin yang malah mengomeli Lorenzo di tengah hujan peluru.
"Velin... kau benar-benar sudah berubah," gumam Adriano haru. "Bahkan di depan maut, kau masih sempat-sempatnya ceramah. Kau memang wanita paling unik yang pernah aku sia-siakan."
terimakasih 🙏🙏🙏