Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Berkelana
Bukit Macan kembali hening seakan tak pernah terjadi apa apa, Adiyana Dan Lingga duduk berkumpul di aula perguruan
" Ketua siasat yang ketua jalankan sangat ampuh, jika tak memakai cara yang ketua rencanakan pasti kita kesusahan menghadapi serbuan para prajurit" Ucap Lingga merasa senang dengan kemenangan mereka
" Kau juga hebat Lingga, kau dengan mudah mengalahkan senopati Wira" balas Adiyana
Mereka merayakan kemenangan mereka dengan berpesta arak dan mengundang beberapa wanita penghibur
Semakin lama Perguruan Macan Hitam yang menaungi para pendekar golongan hitam semakin besar dan merajalela, Pihak kerajaaan sudah beberapa kali mengirim pasukan tetapi berhasil di kalahkan, selain medan ke Puncak Bukit Macan yang terjal dan banyak jebakan jumlah murid dan pendekar yang bergabung sangat banyak
Para pendekar aliran putih menjadi cemas, karena jika di biarkan rakyat semakin menderita dan bisa jadi akan menguasai dunia persilatan, namun beberapa kali mereka mencoba menyusupkan mata mata selalu saja ketahuan dan mata mata itu tewas dengan mengenaskan
Waktu terus berlalu tak terasa sudah tiga belas tahun Jaka tinggal di sana, ia telah menguasai semua gerakan silat yang terlukis di dinding Goa, Jaka tumbuh menjadi pemuda tampan , dengan garis tegas dan sorot mata tajam bagai elang, tubuhnya tegap dengan otot yang sedikit menonjol
Hiaaaaat
wush
wuuuut
Blaaaar
Jaka melesat dengan ilmu meringankan tubuh dan sekaligus bergerak menyerang satu batu hancur saat terkena seranganya
" Sepertinya ini saatnya aku mencari keluargaku" gumam Jaka, ia menatap kakak Elangnya berharap mau ikut dengannya
" Kakak elang aku akan mencari keluargaku dan juga membalas dendam pada Macan hitam yang membuat keluargaku tercerai berai, apa kau mau ikut
Khaaaaawh
Rajawali berteriak keras dan mengangguk lalu dengan gerakan cepat ia melesat ke angkasa, tentu saja hal itu membuat Jaka bingung, jelas jelas Elang Itu mengangguk tetapi kenapa malah pergi, Jaka membereskan pakaiannya yang ia buntal dengan satu kain cukup besar
Keaaaaak
suara Elang Hitam terdengar, dan saat sampai di hadapan Jaka ia menaruh sesuatu yang ia bawa dengan paruhnya
" Klontraaang"
suara besi beradu dengan lantai batu terdengar nyaring, Jaka melihat ternyata Elang Hitam membawa satu pedang dengan ukuran sedang dengan gagang ukiran kepala elang, Elang itu menaruh paruhnya di gagang pedang itu
Uiiiiiing
terdengar suara halus seperti siulan dengan tenaga dalam tinggi, Jaka terdiam, lalu menyadari sesuatu
" kakak elang maksudmu aku bisa memanggilmu dengan pedang ini?" tanya Jaka. Elang itu mengangguk, Jaka dengan segera mengambil pedng itu dan mengerahkan tenaga ke gagang pedang
Wung
bukan suara siulan yang terdengar namun pedang itu berdengung
Ternyata untuk mengeluarkan bunyi mempunyai cara tersendiri, Jaka mencoba beberapa kali dan akhirnya ia bisa juga mengeluarkan bunyi seperti yang di dengar tadi
" Aku bisa" seru Jaka senang, Hari itu juga Jaka keluar dari lembah dan memulai perjalanannya di rimba persilatan, Elang Hitam mengantarnya hingga ke jurang di mana Jaka dulu terjatuh
" Kakak elang, terima kasih, setelah aku mencari keberadaan kedua orang tuaku, aku akan kembali " seru Jaka sambil memeluk leher elang Hitam
" Kwaaaaak"
Elang Hitam berteriak dan terbang kembali ke dalam jurang, Jaka menatap sejenak dan melangkah menuju ke arah Kotaraja.
Jaka pernah di bawa berkeliling oleh elang hitam dengan naik di punggung Elang itu jadi ia tahu di mana letak keramaian, dan juga ingatan dari masa kecilnya masih ia ingat dengan jelas
Saat melewati kereta kuda milik ayahnya dulu tanpa sadar ia mengepalkan tangannya
" Macan Hitam, aku akan memburumu!" geram Jaka . ia melesat dengan kecepatan tinggi langkahnya ringan geraknya cepat seperti elang raksasa
Toloooong
tolooooong
saat sampai di pinggiran hutan, telinga Jaka yang tajam mendengar teriakan minta tolong, ia segera melesat ke arah asal suara
Saat sampai di sana matanya memerah, di depannya sebuah desa hancur asap masih mengepul dari beberapa rumah yang terbakar
Hiaaaat
Tubuh Jaka melayang bagai elang saat melihat seorang perampok sedang menyeret seorang wanita
Wuut
plaaaak
Desh
Aaaaaargh
perompok itu terpental, dengan cepat Jaka menolong wanita yang di seret tadi
" Jangan takut, katakan apa yang terjadi?" bujuk Jaka karena wanita itu mengkeret ketakutan saat ia mendekati
" Kurang ajar, siapa kamu berani beraninya mencampuri urusan Macan Hitam!" Perampok yang tadi di pukul Jaka berdiri dan berteriak marah rupanya ia murid Perguruan Macan Hitam
Jaka yang mendengar Macan Hitam langsung menengok ke arah murid Macan Hitam itu dengan mata memerah
" Kenapa kau takut, pergilah sebelum temanku yang lain datang" seru murid itu yang mengira Jaka Takut
Syut
dengan gerakan kilat Jaka telah berdiri di hadapan murid Macan Hitam, ia mencekik leher murid macan hitam itu
" Arg, apa yang kau lakukan!" teriak Murid Macan Hitam itu saat Jaka mencekik dan mengangkat tubuhnya dengan satu tangan
" Katakan mengapa kalian menyerang desa, dan berapa orang semuanya!" bentak Jaka
" Lepaskan!" murid Macan hitam malah memberontak berusaha membebaskan diri
" Kraak"
Suara leher patah terdenger , Murid Macan Hitam itu mati dengan mata melotot karena tak menyangka dia akan mati di tangan seorang pemuda
" Tuan Muda mereka berjumlah lima belas orang, dan sekarang mereka sedang berkumpul di rumahku , " wanita yang di tolong tadi berkata dengan pelan
" panggil saja Jaka, mengapa mereka berkumpul di rumahmu?" tanya Jaka
" Ayahku kepala desa di desa Sugih asih, mereka tadi pagi datang dan meminta upeti, tentu saja ayah menolak, dan mereka langsung mengamuk membakar rumah warga bahkan beberapa wanita di sandera termasuk aku, aku berhasil melarikan diri namun berhasil di kejar oleh salah satu murid mereka hingga akhirnya di selamatkan oleh tuan muda" tutur wanita itu
" kita kerumahmu sekarang, ayo" ajak Jaka ,
wanita itu mengangguk , saat di perjalanan Jaka baru tahu jika wanita itu bernama Sekar, anak kepala desa Sugih Asih yang telah menjabat selama 8 tahun
saat sampai di rumah kepala desa , rumah itu dalam keadaan berantakan, meja kursi terbalik, di sudut ruangan beberapa wanita dalam keadaan terikat dan kepala desa di sudut lainnya
" ha ha ha. kau kembali lagi" salah satu yang memimpin murid Macan Hitam itu tertawa senang melihat Sekar kembali, dan ia mengira Jaka adalah anak buah mereka
" plaaak"
Baru saja ia selesai tertawa satu tamparan keras mendarat di pipinya membuatnya terpelanting dan tak sadarkan diri
" siapa kau!" murid yang lain membentak mereka baru menyadari jika Jaka bukan salah satu dari mereka
" Kalian tak perlu tahu siapa aku" dengus Jaka
dan dengan gerakan secepat kilat ia melesat
Wush
Plak
plaak
desh
Bugh
Aaaaaarh
Aaaaaaa
satu persatu murid Macan Hitam Itu tewas di tangan Jaka, Sekar yang melihat itu segera membebaskan ayahnya dan para wanita yang di ikat