NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7: Kebenaran yang Membuka Mata dan Janji yang Terucap

Suasana di dalam ruangan itu terasa hening, namun penuh dengan emosi yang meluap-luap.

Alexandria masih duduk di lantai, buku catatan ayahnya terbuka di pangkuannya, matanya tak lepas dari sosok macan kumbang yang kini meletakkan kepalanya di atas gambar itu—sebuah jawaban yang tanpa kata-kata namun begitu jelas.

Air mata Alexandria terus mengalir, tapi ini bukan air mata kesedihan atau ketakutan. Ini adalah air mata haru, air mata pemahaman, dan air mata rasa sayang yang semakin meluap. Semua potongan teka-teki yang selama ini membingungkan dirinya kini perlahan tersusun rapi. Tatapan mata yang penuh makna, kecerdasan yang melebihi hewan biasa, aura yang kuat namun menenangkan, dan bahkan mimpi-mimpi anehnya—semuanya kini memiliki jawaban.

"Jadi... itu benar," bisik Alexandria pelan, suaranya bergetar namun lembut.

Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu menatap macan itu dengan tatapan yang berbeda. Tatapan yang tidak lagi hanya melihat seekor hewan, tapi melihat jiwa seorang pria yang terkurung, seorang pangeran yang menderita.

"Leonard..."

Sebutan nama itu—nama yang baru saja ia baca di pikirannya, nama yang terasa begitu pas—membuat macan kumbang itu menegang sejenak. Matanya yang keemasan terbuka lebar, menatap Alexandria dengan keterkejutan yang jelas. Seolah-olah ia tidak percaya bahwa wanita itu bisa menyebut namanya, nama manusianya, dengan begitu lancar dan penuh kasih sayang.

Alexandria tersenyum tipis, air mata masih menggenang di pelupuk matanya.

"Leonard... itu namamu, kan? Pangeran Leonard dari Eldoria."

Macan itu—Leonard—menganggukkan kepalanya perlahan di atas buku itu. Gerakan itu begitu anggun, begitu penuh rasa hormat. Dan dalam tatapan matanya, Alexandria bisa melihat rasa syukur yang mendalam, seolah beban berat yang selama ini dipikulnya kini sedikit terangkat karena ada seseorang yang akhirnya tahu, seseorang yang akhirnya memanggilnya dengan identitas aslinya.

"Aku tidak tahu segalanya," kata Alexandria pelan, tangannya kembali mengusap bulu hitam yang halus itu dengan lembut.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, bagaimana kamu bisa dikutuk, atau berapa lama kamu sudah berada di wujud ini. Tapi aku tahu satu hal... kamu tidak sendirian lagi. Tidak peduli apa pun yang terjadi, aku ada di sini untukmu."

Leonard mengangkat kepalanya dari buku itu, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Alexandria. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya menatapnya dari jarak yang sangat dekat, seolah ingin mengingat setiap detail wajah wanita yang telah menyelamatkan jiwanya ini. Aroma tubuhnya yang khas—bau musky yang hangat—menyelimuti indra Alexandria, tapi kali ini, aroma itu terasa berbeda. Bukan hanya aroma seekor macan, tapi aroma seorang pria yang melindungi, aroma rumah.

"Ayahku tahu," lanjut Alexandria, matanya kembali menatap tulisan ayahnya di buku itu.

"Ayah dan Ibu tahu tentang Eldoria, tentang kamu, dan mungkin... mungkin mereka juga tahu tentang takdirku. Itu sebabnya mereka membangun rumah di sini, itu sebabnya mereka mengajariku cara bertahan hidup dan meracik obat. Mereka mempersiapkanku, bukan?"

Leonard mengeluarkan suara dengungan rendah yang lembut, seolah membenarkan ucapan Alexandria. Ia tahu betul tentang orangtua Alexandria. Ia bisa merasakan aura mereka yang lembut dan penuh pengetahuan saat mereka masih hidup. Mereka adalah penjaga pengetahuan kuno, jembatan antara dua dunia yang kini mulai terhubung kembali melalui Alexandria.

"Mereka berkorban karena wabah itu... karena panggilan jiwamu, kan?" tanya Alexandria pelan, matanya berkaca-kaca lagi mengingat orangtuanya.

"Mereka tahu risikonya, tapi mereka tetap membiarkanku berada di sini agar aku bisa bertemu denganmu."

Rasa sedih memang ada, tapi kini bercampur dengan rasa bangga. Orangtuanya bukan hanya korban, mereka adalah pahlawan yang telah menyiapkan jalan bagi masa depan ini.

Alexandria menutup buku catatan itu perlahan, lalu meletakkannya di sampingnya. Ia memeluk leher Leonard dengan erat, membenamkan wajahnya di bulu yang hangat itu.

"Terima kasih, Leonard. Terima kasih karena sudah bertahan sampai kita bertemu. Terima kasih karena sudah menjadi pelindungku. Dan maafkan aku karena baru bisa memanggilmu dengan namamu yang sebenarnya hari ini."

Leonard membiarkan dirinya dipeluk, tubuh besarnya rileks dalam pelukan wanita itu. Ia menjilat rambut Alexandria dengan lembut, lama dan penuh kasih sayang. Jika ia bisa berbicara saat itu juga, ia akan mengatakan betapa beruntungnya ia, betapa Alexandria adalah anugerah terindah dalam hidupnya, dan betapa ia bersedia melakukan apa saja untuk melindunginya. Tapi untuk saat ini, sentuhan dan tatapan mata harus cukup.

Hari itu berlalu dengan suasana yang berbeda. Ada rasa kebebasan baru yang terasa di udara. Alexandria tidak lagi perlu menyembunyikan pikiran-pikirannya yang aneh tentang Leonard. Ia bisa berbicara dengannya tentang Eldoria, tentang buku ayahnya, dan tentang perasaan yang ia miliki, dan Leonard akan merespons dengan bahasa tubuh yang kini semakin mudah dipahami oleh Alexandria.

Alexandria membaca buku catatan itu lebih jauh lagi. Ia menemukan lebih banyak sketsa, lebih banyak catatan tentang sihir, tentang kerajaan Eldoria yang megah, dan tentang kutukan yang bisa menimpa siapa saja yang dikhianati.

Ayahnya menulis bahwa kutukan itu tidak bisa dipatahkan dengan kekuatan fisik atau sihir semata, tapi hanya dengan "ikatan jiwa yang murni dan tanpa syarat".

Kata-kata itu membuat jantung Alexandria berdegup kencang. Ikatan jiwa... Apakah itu yang ada di antara dia dan Leonard? Apakah itu sebabnya ia merasa begitu terhubung dengannya? Apakah ia adalah kunci untuk membebaskan Leonard?

Saat matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan warna oranye dan ungu yang indah, Alexandria dan Leonard duduk berdampingan di teras depan pondok. Leonard berbaring dengan kepala di pangkuan Alexandria, sementara tangan wanita itu terus mengusap kepalanya dengan lembut.

"Leonard," panggil Alexandria pelan.

"Ayahku menulis bahwa hanya ikatan jiwa yang bisa membebaskanmu. Apakah itu benar?"

Leonard membuka matanya, menatap Alexandria. Ia mengangguk perlahan.

"Jadi..." Alexandria menarik napas panjang, mengumpulkan keberaniannya.

"Apakah aku... apakah aku bisa membantumu? Apakah aku bisa membebaskanmu dari wujud ini?"

Pertanyaan itu membuat suasana menjadi hening sejenak. Leonard menatap Alexandria dengan tatapan yang begitu dalam, begitu kompleks. Ada harapan di sana, ada rasa cinta, tapi juga ada rasa takut. Takut jika ia bebas, segalanya akan berubah. Takut jika ia menjadi manusia sepenuhnya, Alexandria mungkin akan melihat sisi lain dari dirinya, sisi yang mungkin tidak disukainya. Atau mungkin, takut jika ia bebas, ia harus kembali ke Eldoria dan meninggalkan Alexandria.

Tapi Alexandria membaca pikiran itu dari tatapan matanya. Ia segera menggelengkan kepalanya, lalu menunduk sedikit agar tatapannya sejajar dengan mata Leonard.

"Dengarkan aku, Leonard," katanya tegas namun lembut.

"Tidak peduli apa pun yang terjadi. Jika kamu bisa berubah menjadi manusia sepenuhnya, aku akan tetap menyayangimu. Aku akan tetap di sini bersamamu. Dan jika kamu harus pergi... aku akan pergi bersamamu. Kamu adalah bagian dari jiwaku sekarang. Ke mana pun kamu pergi, aku akan pergi. Apa pun yang kamu hadapi, aku akan hadapi bersamamu."

Kata-kata itu begitu tulus, begitu kuat. Leonard bisa merasakan ketulusan itu merasuk ke dalam jiwanya. Rasa takut yang ada di hatinya perlahan menghilang, digantikan oleh keyakinan yang membara. Ya, ia ingin bebas. Ia ingin bisa berbicara dengan Alexandria, memeluknya sebagai seorang pria, dan berjalan bersamanya sebagai pasangan yang setara.

Leonard mengangkat kepalanya, lalu dengan gerakan perlahan, ia menjilat pipi Alexandria, lalu punggung tangannya, lalu dahinya—sebuah upacara kecil, sebuah janji. Ia menatap mata Alexandria lekat-lekat, seolah sedang mengucapkan sumpah dalam hatinya.

Aku akan berjuang. Untukmu. Untuk kita.

Malam itu, saat mereka masuk ke dalam pondok untuk beristirahat, ada perasaan yang berbeda. Rahasia besar telah terungkap, dan ikatan di antara mereka kini menjadi sesuatu yang lebih sakral, lebih kuat. Alexandria tidur dengan perasaan tenang, tahu bahwa orangtuanya bangga, dan tahu bahwa cintanya pada Leonard bukanlah sesuatu yang aneh atau salah, melainkan sesuatu yang ditakdirkan, sesuatu yang indah.

Namun, di luar sana, di kedalaman hutan yang gelap, bayangan-bayangan yang mengintai semakin dekat. Jejak-jejak yang ditemukan di tepi sungai bukanlah yang terakhir. Anak buah Lord Valerius telah melaporkan keberadaan Leonard kepada tuannya. Dan sekarang, persiapan untuk menangkap atau membunuh Pangeran yang terbuang itu sedang berlangsung.

Mereka tidak tahu bahwa ikatan antara Leonard dan Alexandria telah tumbuh begitu kuat. Mereka tidak tahu bahwa Alexandria telah mengetahui kebenaran dan menerima Leonard sepenuhnya. Dan mereka tidak tahu bahwa ketika mereka menyerang, mereka tidak hanya akan menghadapi seekor macan kumbang yang marah, tapi juga seorang wanita yang siap mempertahankan orang yang dicintainya dengan segenap jiwanya.

Badai sedang mendekat, tapi untuk malam ini, di dalam pondok kecil itu, ada kedamaian. Ada dua jiwa yang telah menemukan satu sama lain di tengah kegelapan, dan siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang, bersama-sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!