Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Ruangan itu hening, tapi bukan hening yang kosong—hening yang terasa penuh, berat, seolah setiap sudutnya menyimpan sesuatu yang baru saja terungkap. Alexandria masih duduk di lantai dengan buku catatan ayahnya terbuka di pangkuannya, tangannya sedikit gemetar saat menahan halaman yang tadi ia baca.
Di depannya, macan kumbang itu tetap diam, kepalanya bertumpu di atas gambar yang sama, seolah tidak ingin bergerak dari kebenaran yang baru saja mereka hadapi bersama.
Air mata Alexandria jatuh tanpa ia sadari, menetes satu per satu, tapi tidak ada kepanikan di wajahnya. Yang ada justru kelegaan yang dalam, seperti seseorang yang akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini ia simpan diam-diam.
“Jadi… ini semua bukan kebetulan,” ucapnya pelan, napasnya masih belum sepenuhnya stabil.
Ia mengangkat tangan, menyapu air matanya sekilas, lalu menatap sosok di depannya dengan cara yang berbeda—bukan lagi melihat seekor hewan yang ia rawat, tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Tatapan mereka bertemu.
“Leonard.”
Nama itu keluar begitu saja, tanpa ragu, tanpa pikir panjang, seolah sudah lama ada di ujung lidahnya. Reaksi itu langsung terlihat. Tubuh macan itu menegang halus, bukan karena ancaman, tapi karena sesuatu yang jauh lebih personal. Mata keemasannya terbuka sedikit lebih lebar, menatap Alexandria dengan sorot yang sulit disembunyikan.
Alexandria menarik napas pendek, senyum kecil muncul di bibirnya meski matanya masih basah.
“Itu namamu, kan? Pangeran Leonard… dari Eldoria.”
Tidak ada kata yang keluar, tapi jawabannya tetap sampai. Leonard menggerakkan kepalanya perlahan, cukup untuk membuat halaman buku di bawahnya bergeser sedikit. Gerakan sederhana, tapi cukup jelas.
Ada sesuatu yang berubah di dalam ruangan itu.
Alexandria menggeser tubuhnya mendekat, tangannya terulur tanpa ragu, menyentuh bulu hitam itu dengan lembut, seperti yang selalu ia lakukan. Hanya saja kali ini, sentuhan itu membawa makna yang berbeda.
“Aku tidak tahu semua yang terjadi padamu,” lanjutnya, suaranya lebih tenang sekarang, meski masih terdengar berat. “Aku tidak tahu siapa yang melakukan ini… atau kenapa kamu harus menanggungnya. Tapi aku tahu satu hal.”
Ia berhenti sejenak, menunduk sedikit agar sejajar dengan mata itu.
“Kamu tidak sendiri lagi.”
Keheningan kembali turun, tapi kali ini terasa hangat. Leonard mengangkat kepalanya dari buku, mendekat tanpa ragu, jarak di antara mereka hampir hilang. Ia tidak menyentuh, hanya menatap, lama, seolah mencoba memastikan bahwa semua yang baru saja ia dengar benar-benar nyata.
Alexandria tidak menghindar. Justru ia mendekat sedikit lagi.
“Ayahku tahu,” katanya pelan, tangannya tetap berada di kepala Leonard, mengusap perlahan. “Semua ini… Eldoria… kamu… bukan sesuatu yang asing bagi mereka. Mereka sudah tahu sejak awal.”
Ia menoleh sekilas ke arah buku yang terbuka, lalu kembali pada Leonard. “Mereka tidak pernah bilang langsung, tapi sekarang aku mengerti. Mereka tidak membawaku ke sini tanpa alasan.”
Ada jeda tipis, bukan karena ragu, tapi karena sesuatu mulai terasa jelas di dalam dirinya.
“Mereka menungguku bertemu denganmu.”
Leonard mengeluarkan dengungan rendah, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat dada Alexandria menghangat. Ia tahu itu bukan sekadar suara, itu respon, itu pengakuan.
Alexandria tersenyum kecil, tapi kali ini senyumnya lebih kuat. “Kalau begitu… mereka berhasil.”
Ia menutup buku itu perlahan, tidak terburu-buru, lalu meletakkannya di sampingnya. Tangannya kembali pada Leonard, tapi kali ini ia tidak hanya mengusap. Ia menarik tubuh besar itu sedikit mendekat, memeluk lehernya tanpa ragu.
“Terima kasih sudah bertahan,” bisiknya, suaranya hampir hilang di antara bulu hitam itu. “Aku tidak tahu seberapa lama kamu sendirian… tapi kamu tidak perlu lagi sekarang.”
Leonard tidak bergerak menjauh. Tubuhnya justru sedikit merunduk, membiarkan pelukan itu, membalas dengan caranya sendiri. Lidahnya menyentuh rambut Alexandria perlahan, satu kali, cukup untuk membuat wanita itu menarik napas panjang.
Hari itu berjalan berbeda.
Tidak ada lagi jarak yang samar seperti sebelumnya. Alexandria tidak lagi menahan pertanyaan, tidak lagi ragu dengan pikirannya sendiri. Ia kembali membuka buku itu beberapa kali, membaca lebih dalam, sesekali berhenti untuk melihat Leonard, memastikan bahwa semua yang ia baca memang berkaitan dengan sosok yang ada di depannya.
Tentang Eldoria. Tentang kerajaan. Tentang kutukan.
Dan satu kalimat yang terus kembali terulang di kepalanya.
“Ikatan jiwa yang murni…”
Alexandria menutup buku itu sekali lagi saat cahaya sore mulai masuk melalui jendela, membentuk bayangan panjang di lantai. Ia keluar ke teras, duduk di anak tangga kayu, membiarkan udara dingin menyentuh wajahnya. Leonard menyusul, langsung berbaring di dekatnya, seperti kebiasaannya.
Tangannya otomatis turun, mengusap kepala itu tanpa sadar.
“Leonard,” panggilnya pelan.
Macan itu membuka mata, menatapnya.
“Ayahku menulis sesuatu…” Alexandria menarik napas, kali ini lebih dalam. “Tentang kutukanmu. Katanya, itu tidak bisa dipatahkan dengan kekuatan biasa. Hanya dengan… ikatan jiwa.”
Ia berhenti, bukan karena ragu, tapi karena mencoba menyusun kata yang tepat.
“Apakah itu benar?”
Leonard tidak langsung merespon. Ia hanya menatap, lama, seolah mempertimbangkan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan mudah. Lalu perlahan, ia mengangguk.
Jawaban itu membuat jantung Alexandria berdetak lebih cepat.
“Kalau begitu…” suaranya sedikit melembut, tapi tetap stabil. “Apakah aku bisa membantu?”
Tidak ada dramatisasi berlebihan, tidak ada suara tinggi, tapi pertanyaan itu jatuh dengan berat yang jelas.
“Aku tidak tahu caranya,” lanjutnya, matanya tidak lepas dari Leonard. “Tapi kalau memang ada cara… aku ingin mencobanya.”
Keheningan kembali muncul, tapi kali ini berbeda. Ada sesuatu yang tidak sepenuhnya nyaman di dalamnya. Leonard tidak menjauh, tapi tubuhnya sedikit menegang, seperti ada sesuatu yang ia tahan.
Alexandria memperhatikan itu.
Ia memiringkan kepala sedikit, lalu menghela napas pelan. “Kamu takut.”
Bukan tuduhan, hanya kesimpulan.
“Takut kalau semuanya berubah,” lanjutnya, suaranya lebih pelan. “Atau… takut kalau aku berubah?”
Leonard tidak bergerak, tapi tatapannya menguat.
Alexandria tersenyum tipis, lalu menunduk sedikit hingga jarak mereka kembali dekat. “Kamu tidak perlu khawatir tentang itu.”
Tangannya berpindah ke sisi wajah Leonard, menyentuhnya dengan lebih pasti.
“Aku sudah memilih,” katanya pelan tapi jelas. “Bukan karena kamu pangeran. Bukan karena cerita itu. Tapi karena kamu… yang selama ini ada di sampingku.”
Ia berhenti sejenak, memastikan kata-katanya sampai.
“Kalau kamu kembali menjadi manusia, aku tetap di sini. Kalau kamu harus pergi, aku ikut. Jangan membuat keputusan sendirian lagi, Leonard. Kali ini… kita hadapi bersama.”
Tidak ada yang berlebihan, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Leonard berubah. Ketegangan di tubuhnya perlahan menghilang, digantikan oleh sesuatu yang lebih hangat, lebih kuat.
Ia mengangkat kepalanya, mendekat, lalu menyentuh pipi Alexandria dengan lembut menggunakan ujung moncongnya. Satu gerakan kecil, tapi cukup untuk menjawab semuanya.
Alexandria tertawa pelan, napasnya terasa lebih ringan. “Ya, aku anggap itu setuju.”
Matahari perlahan tenggelam, meninggalkan warna keemasan di langit. Mereka tetap di sana sampai cahaya benar-benar hilang, tidak banyak bicara, tapi tidak merasa perlu.
Saat malam turun, mereka kembali ke dalam pondok. Alexandria tidur lebih cepat dari biasanya, tubuhnya lelah, tapi pikirannya justru terasa lebih tenang dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak merasa bingung.
Ia tahu di mana ia berdiri.
Di sisi Leonard.
Sementara itu, di luar pondok, hutan tidak benar-benar setenang yang terlihat. Angin malam membawa aroma asing yang samar, hampir tidak terdeteksi oleh manusia biasa. Namun bagi makhluk seperti Leonard, itu cukup jelas.
Mereka semakin dekat.
Matanya tetap terbuka meski Alexandria sudah tertidur. Ia berdiri di dekat pintu, diam, tapi seluruh indranya bekerja. Tidak ada gerakan gegabah, tidak ada kepanikan. Hanya kesiapan.
Kali ini berbeda.
Ia tidak lagi sendiri.