Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.
Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.
Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.
Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Birthday Party
Lyodra keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang hitam panjang masih meneteskan air. Lyodra segera membungkusnya dengan handuk pink tebal agar kemeja putih dan celana pendek hitamnya tidak basah.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu biru kamar tidur membuatnya sedikit terkejut. Lyodra mengernyitkan alis. Bertanya dalam hati, siapa yang datang ke kamarnya? Karena dia sama sekali tidak mengenal siapa pun di rumah ini, kecuali Edward. Dan Edward, tadi sudah pamit untuk pergi sebentar menyelesaikan urusannya.
"Ya, tunggu sebentar!" Lyodra segera mendekati pintu dan membukanya perlahan.
Nampak seorang pria dengan riasan tebal mengenakan baju wanita, berdiri dengan pose feminim di hadapan Lyodra. Pria itu juga membawa koper merah besar.
Di belakangnya ada beberapa gadis muda mendorong rak gantungan baju dari besi yang berisi banyak gaun dan baju yang fashionable. Membawa kantong-kantong kertas berisi skin care, sepatu, tas dan clutch branded.
"Selamat sore, Miss. Kami ditugaskan Mister Edward yang super tampan seperti aktor drama China untuk merias Miss. Juga memberikan semua gaun, baju dan banyak barang lainnya untuk Nona."
"Apa? Kak Edward? Tapi saya tidak suka dimake up, Mas eh Mbak. Sorry, salah panggil. Mbak, maaf beribu maaf sebelumnya. Saya juga tidak perlu baju baru. Baju yang saya pakai ini sangat nyaman kok. Lebih baik, dibawa pulang lagi aja, Mbak."
Pria itu tersenyum lebar melihat mata bulat Lyodra membelalak dan terus menolak pemberian Edward.
"Maaf, Mbak. Gaun, baju, sepatu, tas ini terlalu mahal untuk saya. Saya tidak bisa menerimanya." Lyodra masih belum patah arang untuk menolak.
Lyodra tinggal di desa sebagai petani, dia tidak membutuhkan barang-barang mewah seperti itu. Karena petani memakai baju sederhana untuk bekerja sehari-hari.
"Ssttt! Sudah manut aja ya, Miss." Pria itu menggerakkan tangannya dengan centil agar Lyodra berhenti menolak.
Pria melambai itu sudah bertekad untuk membuat kekasih Mister Edward ini menjadi pelanggan tetap kedua setelah Mistress Rose.
"Kapan lagi Mister Edward belanja besar-besaran di butikku dan khusus memintaku untuk memake up wajah Miss yang cantik ini? Lagian semua baju ini sudah dibayar lunas oleh Mister Edward, masak mau dibuang? Kan sayang, Miss. Udah terima saja, Miss juga gak rugi kan?"
Tanpa permisi, pria itu melenggang masuk dan memerintah para gadis untuk memasukkan semua barang bawaannya ke dalam kamar Lyodra.
Lyodra hanya melongo ketika tangannya ditarik oleh pria melambai itu untuk duduk di depan meja rias.
Pria itu dengan cekatan langsung membubuhkan fondation, bedak, eyes shadow dan lipstik di wajah Lyodra. Sementara gadis-gadis muda itu menata rambut Lyodra dengan hair dryer dan catokan.
Voila! Hanya dalam waktu singkat, wajah Lyodra sudah dimake up dan rambutnya sudah ditata begitu indah.
Hiasan silver berbentuk gelombang air laut dengan rantai menjuntai, dijepit di bagian kanan rambut Lyodra.
Pria melambai itu juga memilih gaun tali spagheti berwarna biru tua dan sepatu hak tinggi berwarna senada untuk Lyodra pakai menghadiri pesta ulang tahun Ethan.
Dalam hati Lyodra hanya dapat membatin, pesta birthday seorang anak laki-laki di rumah, kenapa harus memakai gaun sebagus dan semahal ini?
"Perfect! Miss terlihat sangat cantik. Mister Edward pasti tak akan berpaling ke wanita lain," ucap pria melambai itu sambil bertepuk tangan kecil.
Lyodra memaksakan sebuah senyuman manis.
Wajahnya memang terlihat cantik. Rambutnya yang hitam disemprot cat coklat lalu diikal di bagian bawah. Pakaiannya juga sangat seksi dan anggun. Lyodra benar-benar terpesona dengan penampilan barunya.
Namun, Lyodra kurang nyaman dengan baju dan sepatu pilihan pria melambai.
"Baiklah. Karena sudah selesai semua tugasnya, aku pamit undur diri, Miss. Ingat, jika anda ingin berbelanja, jangan sungkan untuk datang ke butikku. Aku menunggumu, Pretty." Pria melambai itu pergi meninggalkan Lyodra sendirian di kamar.
Lyodra menghembuskan nafas dalam-dalam. Duduk termenung di depan meja rias sambil menunggu kedatangan Edward untuk membawanya ke party Ethan.
Tak berapa lama, pintu biru kamar Lyodra kembali diketuk.
Edward muncul dari balik pintu. Memamerkan senyum paling manis pada Lyodra.
Hiasan silver berbentuk gelombang air laut dengan rantai silver yang menjuntai dijepit di bagian kiri rambut Edward. Plus setelan jas biru tua senada dengan gaun Lyodra, membuat Lyodra hampir memuji ketampanannya yang di atas rata-rata.
Untung saja, bibir Lyodra tidak sampai keceplosan, masih dapat menahan diri.
"Kita turun sekarang, Kak?" tanya Lyodra gugup sambil berdiri dari kursi meja rias.
Namun, karena belum terbiasa memakai sepatu hak tinggi, tubuh langsing Lyodra langsung oleng. Dengan sigap, Edward segera melingkarkan tangannya ke pinggul Lyodra dan membantunya berdiri tegak.
"Jika kamu kurang nyaman dengan sepatunya, ganti saja dengan sepatu kets."
Edward berjongkok di depan kaki Lyodra lalu membuka sepatu Lyodra dengan lembut.
Jemari tangan Edward yang dingin sesekali menyentuh kulit kaki Lyodra. Lyodra menggigit bibirnya agar tidak memekik ketika kulit mereka bersentuhan. Percikan kelembutan dan kebaikan Edward membuat hati Lyodra luluh.
Setelah menyingkirkan sepatu hak tinggi Lyodra, Edward membantu Lyodra memakai sepatu kets baru warna putih bersih.
Edward juga menarik sebuah selendang sutra dengan hiasan bulu putih dari rak gantungan baju lalu melingkarkannya di bahu Lyodra. "Angin di kolam renang cukup kencang, kamu bisa masuk angin kalau gaunmu terlalu terbuka begini."
Lyodra tersenyum bahagia. Edward memang pria yang terbaik. Dia begitu memahami Lyodra luar dalam. Tanpa harus mengutarakan isi hatinya, Edward tahu kalau Lyodra kurang nyaman dengan gaun dan sepatunya.
"Sekarang kita siap turun ke bawah." Edward menggenggam jemari tangan Lyodra dan membawanya pergi ke kolam renang yang sudah ditutup dengan material yang kuat.
Dan di atasnya sudah berdiri sebuah panggung dengan dekor balon warna putih dan biru tua. Kue tart lima tingkat dengan hiasan boneka karakter games telah siap sedia untuk dipotong.
Begitu Edward dan Lyodra mendekati taman yang ada di dekat kolam renang, semua pasang mata tertuju pada pasangan berbaju biru tua.
Termasuk beberapa sahabat Rose dan orang tua teman Ethan. Mereka berhenti makan dan minum di meja panjang yang diletakkan di tengah-tengah taman.
Mereka terpesona dengan ketampanan Edward dan kecantikan kekasih Edward.
"Rose, aku tak pernah menyangka jika adik iparmu setampan itu. Tinggi dan sangat gagah. Kekasihnya juga luar biasa cantik dan anggun walaupun dia memakai sepatu kets," ujar sahabat dekat Rose sambil tertawa geli melihat kekasih Edward.
Rose tersenyum tipis dan terlihat canggung menimpali sahabatnya.
"Maaf, selama ini kukira adik iparku tidak suka keramaian, jadi dia jarang diundang untuk hadir di acara-acara keluargaku. Aku juga tak menyangka malam ini, dia mau datang menghadiri pesta ulang tahun Ethan. Biasanya dia hanya menelepon dan mengirimkan kado."
Teman Rose yang lain juga ikut menimpali.
"Dimana suamimu, Rose? Kok tidak keliahatan? Apakah dia juga tidak suka keramaian?"
Rose mendengus kesal. "Suamiku sedang ada urusan bisnis, jadi dia tidak datang. Baru pulang dua hari lagi."
Setiap hari ulang tahun Ethan, Edgar selalu ada urusan di luar kota atau luar negeri dan baru pulang untuk merayakan ulang tahun Ethan dua hari kemudian.
Ethan tidak marah karena Edgar selalu membawa hadiah yang sudah diidam-idamkan Ethan.
Sedangkan Rose selalu marah dan memaki-maki Edgar karena tidak pernah memperlihatkan batang hidungnya di acara keluarga yang mengundang teman-teman Rose.