Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:
Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.
Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.
Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.
Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.
Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.
Aku melihat kematianku sendiri.
Dan aku tersenyum.
Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.
Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: AKU MATI DI SINI 20 TAHUN LALU
Lilin kecil itu satu-satunya yang memisahkan aku dari kegelapan.
Aku duduk bersandar di dinding berkarat, lutut tertekuk ke dada, sementara Damian Kecil duduk persis di hadapanku. Jarak kami hanya selebar lengan. Cukup dekat untuk melihat setiap detail wajahnya—mata bulat yang terlalu besar untuk tulang pipi yang terlalu tajam, bibir pucat yang selalu sedikit terbuka seperti orang yang kehabisan napas, dan poni yang hampir menutupi alis.
Damian dewasa memiliki semua fitur ini. Tapi di wajah anak ini, semuanya terlihat salah. Seperti potret yang dilukis ulang oleh tangan anak kecil—bentuknya sama, tapi proporsinya kacau.
Api lilin berkedip. Bayangan Damian Kecil menari-nari di dinding di belakangnya, membesar dan mengecil bergantian, seolah mencoba melarikan diri dari tubuhnya.
“Kak Alea takut?” suaranya kecil. Hampir tidak terdengar di atas dengungan lampu darurat yang redup di luar lorong.
Aku menggenggam tanganku sendiri. Kuku jari telunjuk masih patah sejak merobek sarung bantal kamar semalam. Rasa sakitnya tajam, tapi membantu aku tetap sadar. Ini nyata. Ini benar-benar nyata.
“Aku takut,” jawabku jujur. “Tapi bukan karena tempat ini.”
Damian Kecil memiringkan kepala. Gerakannya tersentak-sentak, seperti boneka yang engselnya berkarat. “Takut sama aku?”
“Takut apa yang akan kau ceritakan.”
Dia tersenyum. Senyum yang tidak pernah kulihat di wajah Damian dewasa. Tidak dingin. Tidak mengejek. Hanya... kosong. Seperti anak yang sudah lupa bagaimana caranya tersenyum dengan benar.
“Aku suka kakak jujur.”
Dia menggeser lilin ke samping, lalu membungkuk. Telapak tangannya menempel di lantai. Aku mendengar suara jari-jari kecil itu meraba-raba ubin, mencari sesuatu.
“Kak Alea tahu, kenapa aku bisa di sini?” tanyanya tanpa menoleh.
“Kau... kepribadian Damian yang terpisah,” jawabku hati-hati. “Karena trauma masa kecil.”
“Bukan.” Dia menggeleng. Tangannya berhenti di satu ubin yang warnanya sedikit lebih gelap dari yang lain. “Bukan aku yang terpisah. Damian dewasa yang terpisah. Aku Damian asli.”
Jantungku berdegup lebih cepat. Di luar, aku bisa mendengar suara langkah kaki di lantai atas. Damian dewasa mungkin sedang marah karena aku tidak ada di kamar. Atau mungkin ia sudah tahu aku di sini. Mungkin ia sengaja membiarkanku menemukan ruang ini.
“Damian asli?” ulangku.
Dia mengangguk. Lalu, dengan gerakan yang terlalu terkoordinasi untuk anak seusianya, ia mencongkel ubin itu. Ubin itu terangkat dengan bunyi krekek yang panjang, meninggalkan lubang persegi di lantai.
Di dalam lubang itu ada sesuatu yang dibungkus kain usang.
“Aku lahir 29 tahun lalu,” kata Damian Kecil sambil mengeluarkan benda itu. “Nama aku Damian Adhiratria. Nama itu dari mama.”
Aku diam. Membiarkan dia berbicara dengan ritmenya sendiri.
“Waktu aku kecil, papa bilang aku anak lemah. Aku nangis kalau lihat darah. Aku kasih makan kucing jalanan. Aku peluk adik tiri aku kalau dia jatuh dari sepeda.” Suaranya datar, seperti membaca daftar belanja. “Papa benci aku.”
Tangannya membuka kain usang itu. Di dalamnya ada buku. Bukan buku biasa—buku catatan kecil dengan sampul kulit berwarna coklat tua, hampir hitam di beberapa sudut. Tulisan di sampulnya sudah pudar, tapi aku masih bisa membaca satu kata: DIARY.
“Papa pengen aku jadi seperti dia. Kejam. Keras. Tidak punya perasaan.” Damian Kecil membuka halaman pertama. Tanganku gemetar saat melihat tulisannya—rapi, huruf kapital semua, seperti anak yang baru belajar menulis.
Aku Damian. Umur 8 tahun. Hari ini papa pukul aku pakai ikat pinggang karena aku nangis lihat anak anjing mati.
“Mama meninggal waktu aku 7 tahun,” lanjut Damian Kecil. “Tapi sebelum meninggal, mama kasih tahu aku sesuatu.”
Aku menahan napas.
“Mama bilang, kalau papa jahat sama aku, aku harus punya tempat aman. Tempat di mana papa tidak bisa masuk.” Dia menunjuk kepalanya sendiri. “Mama bilang, buat tempat rahasia di dalam sini. Tempat untuk Damian asli. Kalau Damian asli di sana, papa tidak akan pernah bisa bunuh aku.”
Mata itu menatapku. Hitam pekat, seperti dua lubang tanpa dasar.
“Aku buat tempat itu. Aku panggil Rumah Kecil. Di sana aman. Di sana aku bisa nangis. Bisa kasih makan kucing. Bisa jadi anak kecil.”
Halaman kedua. Tanganku sendiri yang membaliknya, tanpa sadar.
Hari ini papa suruh aku bunuh anak anjing. Aku tidak mau. Papa kunci aku di gudang. Gelap. Aku tidak suka gelap. Aku panggil mama. Mama tidak datang.
“Tapi papa tahu,” kata Damian Kecil. Suaranya berubah. Ada nada getar yang sebelumnya tidak ada. “Papa tahu aku punya tempat aman. Dia tidak bisa masuk ke Rumah Kecil, tapi dia bisa buat sesuatu yang lebih jahat.”
Aku menatapnya. Wajah anak ini masih tenang, tapi aku melihat sesuatu merayap di balik matanya. Seperti bayangan yang bergerak sendiri.
“Papa buat Damian lain.”
Udara di ruang hukuman ini terasa lebih dingin. Atau mungkin itu hanya aku. Aku menarik napas, dan aroma tanah basah serta sesuatu yang manis dan busuk masuk ke paru-paruku. Bau yang sama dengan yang kuhirup saat pertama kali membuka pintu ini.
“Dia suruh aku lihat sesuatu,” lanjut Damian Kecil. “Setiap hari. Berjam-jam. Sampai aku tidak bisa lupa.”
“Lihat apa?” suaraku serak.
Dia tidak menjawab. Sebaliknya, ia membalik beberapa halaman buku harian itu sekaligus. Tangannya berhenti di satu halaman yang tulisannya berbeda—tidak rapi lagi, hurufnya besar-besar, goyah, dan beberapa kata dicoret sampai sobek.
HARI KE 47. PAPA SURUH AKU LIHAT LAGI. AKU TUTUP MATA TAPI PAPA BUKA PAKSA. AKU LIHAT MAMA TIDUR DI LANTAI. MAMA BIRU. AKU TERIAK TAPI PAPA TERTAWA. PAPA BILANG INI AKU KALAU AKU TIDUR DI RUMAH KECIL TERUS. AKU TIDUR DI RUMAH KECIL 3 HARI. PAPA MARAH. AKU KELUAR. PAPA TUNJUKKAN LAGI. MAMA MASIH BIRU. MAMA BAU. AKU MAU MUNTAH TAPI PAPA SURUH AKU LIHAT.
Aku tidak sadar kalau tanganku sudah menutup mulut sendiri. Perutku mual. Bukan karena jijik—tapi karena bayangan yang muncul di kepalaku. Seorang anak laki-laki, dipaksa melihat mayat ibunya sendiri berhari-hari sampai membusuk.
“Papa bunuh mama,” kata Damian Kecil. Masih dengan suara datar itu. “Mama tahu papa punya simpanan rahasia. Mama mau lapor polisi. Jadi papa bunuh mama. Lalu papa tunjukkan mama ke aku. Berulang-ulang.”
“Kenapa... kenapa kau harus melihat?” bisikku.
“Karena papa mau bunuh Damian asli.”
Dia menatap lilin di antara kami. Api kecil itu hampir padam, sumbunya tenggelam dalam genangan lilin cair.
“Papa tidak mau anak lemah. Papa mau anak yang bisa bunuh tanpa rasa bersalah. Papa mau anak yang tidak takut darah. Papa mau anak yang... seperti dirinya.”
Dia tersenyum lagi. Senyum kosong itu.
“Tapi Damian asli tidak bisa berubah. Aku coba, Kak. Aku coba jadi keras. Aku coba bunuh anak anjing itu. Aku coba pukul adik tiri aku. Tapi setiap malam aku nangis. Setiap malam aku minta maaf sama mereka.”
“Jadi... papa buat Damian lain?”
Damian Kecil mengangguk. “Papa panggil psikolog. Psikolog itu bilang, kalau aku tidak bisa berubah, papa harus bunuh aku secara psikologis. Bunuh Damian asli, lalu buat Damian baru. Damian yang tidak punya perasaan. Damian yang bisa jadi monster.”
Halaman demi halaman aku balik tanpa membaca isinya. Tanganku gemetar hebat. Buku harian ini bukan sekadar catatan. Ini adalah dokumen kematian. Kematian seorang anak laki-laki yang dibunuh pelan-pelan oleh ayahnya sendiri.
“Di sini,” Damian Kecil menunjuk halaman terakhir.
Tulisannya hanya satu baris. Rapi. Tenang. Seperti seseorang yang sudah pasrah.
Aku mati di sini 20 tahun lalu.
Aku menutup buku itu. Tanganku meletakkannya di pangkuan, tapi aku tidak bisa berhenti gemetar.
“Jadi... Damian dewasa...” suaraku patah.
“Dia yang papa ciptakan,” kata Damian Kecil. “Dia tidak punya perasaan karena papa tidak ijinkan dia punya. Dia tidak takut darah karena papa paksa dia tenggelam dalam darah. Dia tidak kenal kasih sayang karena papa bunuh semua yang dia cintai di depan matanya.”
“Tapi... kau masih ada,” kataku. “Kau masih hidup di dalam dirinya.”
“Karena aku lari ke Rumah Kecil.” Damian Kecil meraih buku harian itu, memeluknya ke dada. “Waktu psikolog itu mulai 'bunuh' aku, aku lari ke tempat rahasia yang mama buat. Aku sembunyi di sana. Selama 20 tahun.”
“Dan Damian dewasa tidak tahu?”
“Dia tahu. Tapi dia pikir aku cuma trauma yang harus dilupakan. Dia pikir aku bayangan yang muncul kalau dia lemah.” Damian Kecil menunduk. “Dia benci aku. Karena aku ingatkan dia pada siapa dia sebenarnya.”
Api lilin padam.
Kegelapan menyergap. Tapi kali ini aku tidak berteriak. Aku hanya duduk diam, merasakan dingin ubin menembus kulit, mendengar napas Damian Kecil yang pendek-pendek di hadapanku.
“Kak Alea,” suaranya nyaris bisikan.
“Ya?”
“Damian dewasa bunuh banyak orang. Dia jahat. Dia kejam. Tapi...” jeda panjang. “Tapi aku yang buat dia seperti itu. Kalau aku tidak lemah, papa tidak perlu bunuh aku. Kalau aku berani lawan papa, mungkin Damian dewasa tidak perlu jadi monster.”
“Itu bukan salahmu,” kataku cepat. “Kau hanya anak kecil.”
“Tapi aku yang memilih lari.”
“Kau selamat. Itu bukan lari. Itu bertahan.”
Diam.
Lalu aku merasakan sesuatu di tanganku. Hangat. Kecil. Damian Kecil menggenggam jariku.
“Kak Alea, aku mau minta tolong.”
“Tolong apa?”
“Jangan bunuh Damian dewasa.”
Aku tersentak. Mataku terbuka lebar dalam gelap. “Apa?”
“Aku lihat. Di mata kakak waktu kakak lihat Damian dewasa pertama kali. Ada bayangan kematian. Aku tahu kakak bisa lihat masa depan.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Damian dewasa akan mati di tangan kakak,” kata Damian Kecil. “Aku lihat itu. Tapi aku minta, jangan bunuh dia.”
“Aku tidak akan—”
“Tapi kakak akan.” Suaranya berubah. Lebih dewasa. Lebih berat. Tapi masih dengan nada polos yang sama. “Karena kakak pikir itu satu-satunya cara. Kakak pikir dengan bunuh Damian dewasa, kakak selamatkan aku. Tapi tidak, Kak. Kalau Damian dewasa mati, aku juga mati. Kami satu tubuh. Satu jiwa yang pecah.”
Aku meremas tangannya. Atau mungkin dia yang meremas tanganku. Aku tidak tahu lagi.
“Lalu aku harus apa?” suaraku serak. Hampir menjerit.
“Satukan kami.”
Lampu lorong di luar mati.
Kegelapan total. Tidak ada satu titik cahaya pun. Aku hanya merasakan genggaman tangan kecil itu, dan napas Damian Kecil yang tiba-tiba berubah menjadi lebih dalam. Lebih berat.
“Kak Alea,” suara itu sekarang berbeda. Bukan Damian Kecil. Juga bukan Damian dewasa. Sesuatu di antara keduanya. “Waktunya hampir habis.”
“Waktu apa?”
“Damian dewasa akan datang ke sini. Dalam 3 menit. Kalau dia tahu aku bicara dengan kakak, dia akan bunuh aku untuk selamanya.”
“Tapi—”
“Kak, ingat. Aku Damian asli. Aku yang mencintai kakak pertama kali. Bukan dia.”
Genggaman itu lepas.
Aku meraba-raba dalam gelap. Kosong. Damian Kecil sudah tidak ada di sampingku.
“Damian?” panggilku panik.
Tidak ada jawaban.
Tapi aku mendengar suara lain. Dari luar lorong. Langkah kaki. Berat. Teratur. Mendekat.
Detak jantungku berpacu. Aku mendorong tubuhku berdiri, tangan meraba dinding dingin, mencari pegangan. Buku harian itu—aku tidak tahu jatuh di mana.
Langkah kaki berhenti tepat di depan pintu ruang hukuman.
Tiga ketukan.
Pelan. Teratur. Satu jeda di antara setiap ketukan.
Lalu suara Damian dewasa. Dingin. Tanpa emosi.
“Alea. Keluar. Sekarang.”
Aku membeku.
Pintu terbuka dengan sendirinya. Cahaya redup dari lorong menyusup masuk, cukup untuk membuatku melihat siluet pria itu berdiri di ambang pintu. Tinggi. Tegap. Wajahnya setengah tertutup bayangan, tapi aku tahu ia sedang menatapku. Menatap langsung ke mataku.
“Kau bertemu dengannya,” kata Damian dewasa.
Bukan pertanyaan.
Aku mengangguk. Tidak bisa berbohong.
Damian dewasa melangkah masuk. Satu langkah. Dua langkah. Ia melewati titik di mana Damian Kecil tadi duduk, dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu di wajahnya. Bukan amarah. Bukan kebencian.
Takut.
“Apa yang dia katakan?” tanyanya.
Aku menggenggam tanganku sendiri. “Dia bilang dia mati di sini 20 tahun lalu.”
Damian dewasa berhenti. Tubuhnya membeku seperti patung. Lalu, perlahan, ia menunduk. Menatap lantai di antara kami.
Di lantai itu, buku harian kecil masih terbuka di halaman terakhir.
Aku mati di sini 20 tahun lalu.
Damian dewasa berlutut. Tangannya—tangan yang sama yang tadi pagi meremas gelas wine sampai pecah—mengambil buku itu dengan lembut. Lembut sekali, seperti memegang bayi yang baru lahir.
“Aku tidak tahu ini masih ada,” bisiknya.
Ini pertama kalinya aku mendengar suaranya tanpa lapisan es. Ini pertama kalinya ia terdengar... manusia.
“Damian...” aku mulai.
“Dia bilang aku jahat?” potongnya tanpa menatapku.
“Dia bilang kau bukan yang jahat.”
“Aku bunuh orang.”
“Kau korban.”
Dia mendongak. Mata hitam itu menatapku, dan untuk pertama kalinya, aku melihat ada air di sana. Tidak jatuh. Tapi ada.
“Alea.” Suaranya parau. “Aku tidak bisa... aku tidak bisa jadi Damian yang dulu. Aku sudah terlalu jauh.”
“Kau tidak perlu jadi Damian dulu.”
“Lalu aku harus jadi apa?”
Aku mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Aku berlutut di hadapannya, sejajar. Jarak kami hanya selebar lengan.
“Jadi Damian yang sekarang,” kataku. “Tapi dengan dia di dalam.”
Damian dewasa menatap buku harian di tangannya. Lalu ia menutupnya. Perlahan. Dengan hati-hati. Seperti menutup peti mati.
“Dia minta tolong apa?” tanyanya.
“Satukan kalian.”
Dia terdiam lama. Angin dari lorong bertiup pelan, membawa aroma cendana dan disinfektan dari lantai atas. Dunia di luar ruang hukuman ini masih berjalan normal. Tapi di sini, di ruang bawah tanah yang bau busuk dan penuh kenangan, waktu terasa berhenti.
“Damian,” aku menyentuh tangannya. Kulitnya dingin. Tapi ia tidak menarik diri.
Matanya turun ke tanganku yang menggenggam tangannya. Lalu perlahan, ia membalik telapak tangannya, membiarkan jari-jari kami bertautan.
“Aku tidak tahu caranya,” katanya akhirnya.
“Aku tahu.”
Ia menatapku. Alisnya berkerut.
“Aku psikiater forensik, ingat?” Aku tersenyum tipis. Meski hatiku bergetar. “Atau kau lupa kalau kau menikahi aku karena profesi itu?”
Damian tidak menjawab. Tapi genggamannya menguat.
“Aku butuh waktu,” kataku. “Tapi aku bisa bantu. Kalau kau mau.”
“Dan apa yang kau minta sebagai gantinya?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada?”
“Aku tidak minta apa-apa, Damian. Karena aku tidak melakukannya untuk kau.”
Alisnya naik.
Aku menatap lurus ke matanya. “Aku melakukannya untuk Damian kecil. Karena anak itu sudah 20 tahun sendirian di ruang gelap. Dan karena... dia yang pertama kali memanggilku kakak.”
Damian dewasa tidak berbicara. Tapi aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Lapisan es itu mencair. Hanya sedikit. Tapi cukup.
“Kau tahu,” katanya pelan, “di 29 tahun hidupku, tidak ada satu orang pun yang menawarkan itu.”
“Menawarkan apa?”
“Melihat aku. Tanpa harga.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku hanya duduk di sana, berlutut di lantai ruang hukuman yang dingin, dengan tangan seorang pria yang dijuluki Silent Reaper menggenggam erat jariku.
Di luar, aku mendengar suara mobil. Beberapa unit. Lampu sorot menyorot dari celah ventilasi.
Damian dewasa mendongak. Wajahnya berubah dalam sekejap. Lapisan es itu kembali. Tapi kali ini, aku tahu itu hanya baju zirah. Bukan wajah aslinya.
“Haydar,” katanya dingin.
“Siapa?”
“Musuhku. Dia tahu kau di sini.”
Ia berdiri, menarikku ikut berdiri. Tangannya tidak melepaskan genggamanku.
“Dengar,” katanya cepat. “Kau harus percaya aku sekarang. Apa pun yang terjadi, jangan keluar dari kamar. Jangan buka pintu untuk siapa pun kecuali aku.”
“Tapi—”
“Alea.” Ia menatapku. Dan untuk sesaat, aku melihat Damian Kecil di balik matanya. “Aku tidak bisa kehilangan kalian berdua.”
Lalu ia menarikku keluar dari ruang hukuman. Kami berlari menyusuri lorong gelap, menaiki tangga, melewati dapur besar, dan akhirnya sampai di depan kamarku.
Ia membukakan pintu. Aku masuk. Tapi sebelum pintu tertutup, aku menahan gagangnya.
“Damian.”
Ia menoleh.
“Aku akan selamatkan kalian berdua,” kataku. “Janji.”
Untuk pertama kalinya, Damian dewasa tersenyum.
Bukan senyum kosong seperti Damian Kecil. Bukan senyum mengejek seperti yang sering ia tunjukkan.
Senyum yang kecil. Rapuh. Dan sangat, sangat manusiawi.
“Kalau kau gagal, setidaknya aku tahu ada yang pernah mencoba.”
Pintu tertutup.
Aku mendengar suara kunci diklik dari luar.
Aku mundur, punggungku menyentuh dinding kamar. Tubuhku gemetar hebat. Di tanganku, aku masih menggenggam sesuatu yang diberikan Damian Kecil tanpa aku sadari.
Sebuah foto usang.
Di foto itu, seorang wanita muda menggendong anak laki-laki berusia sekitar 4 tahun. Wanita itu cantik, dengan mata yang sama persis dengan Damian. Di punggung foto, ada tulisan tangan:
Damian dan Mama. 4 tahun. Sebelum semuanya hancur.
Aku menekan foto itu ke dadaku. Mataku basah. Tapi aku tidak menangis.
Karena di luar, aku mendengar suara tembakan.
Banyak tembakan.
---BERSAMBUNG---
Apakah Alea bisa menyelamatkan mereka? Akankah Damian selamat dari serangan Haydar? Dan bagaimana dengan visi kematian yang masih menghantui?
---
Dukung cerita THE DEVIL'S WIFE dengan terus membaca, memberikan likes, dan komentar! Setiap dukungan kalian akan membawa Damian dan Alea lebih dekat ke babak selanjutnya. Siapa yang penasaran apakah Damian selamat? Atau justru Haydar yang membawa kejutan lain? Stay tuned! 💔🔥
#TheDevilsWife #NovelToon #MafiaRomance #DarkRomance #PsikologiGelap