Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keributan Di kedai
Jaka berjalan masuk sambil melihat ke kiri dan ke kanan melihat keramaian kotaraja karang setra, saat melihat satu kedai makan yang cukup besar, setelah dua hari perjalanan jaka hanya memakan buah atau hewan buruan saja, melihat kedai itu perutnya berkeruyuk minta di isi, ia masuk ke dalam kedai itu dan duduk di meja berada di pojokan tetapi menghadap ke pintu masuk
Tak lama seorang pelayan menghampirinya
" Tuan mau pesan apa?' tanya pelayan itu ramah
" Nasi putih dan sayur saja kak" jawab Jaka
" Tunggu sebentar tuan" pelayan itu kembali ke dapur guna menyiapkan pesanan Jaka
tak lama ia kembali denga baki berisi pesanan Jaka
" Silahkan di nikmati tuan" pelayan itu menaruh semua makanan yang di bawanya,
" Terima kasih kak" ucap Jaka, ia mulai makan dengan santai
" Tuan minta sedekahnya tuan, aku belum makan dari kemarin" dari arah pintu masuk seorang bocah meminta minta, ia meminta sedekah dari satu meja ke meja yang lain
" tuan tolong sedekahnya tuan" saat sampai di meja Jaka, pengemis kecil itu menyodorkan mangkuk dari batok kelapa pada Jaka, Jaka mengambil satu keping emas dan memberikan pada pengemis itu, Pengemis kecil itu berbinar matanya
" Tuan terima kasih , semoga sang hyang Widi memberikan keselamatan dan umur yang panjang" seru pengemis kecil itu mendoakan Jaka
" Sama sama" jaka tersenyum , seandainya ia tak di tolong oleh Elang Hitam, ia pasti akan berakhir seperti bocah pengemis itu, pengemis itu menganggukan kepala dua kali lalu pergi melangkah keluar dengan perasaan senang, satu keping emas, setara dengan sepuluh keping perak, satu keping perak bisa untuk makan dua hari dengan lauk seadanya, ia senang karena mempunyai bekal makan selama dua puluh hari.
Saat pengemis kecil itu pergi dari luar dua orang dengan pedang di pundak berjalan masuk dengan langkah lebar,
" Braaak"
Cring
entah di sengaja atau tidak, dua oarang itu menabrak pengemis kecil membuat pengemis kecil itu terjatuh dan keping emas yang ada di mangkuk batok kelapa itu terjatuh
"Pengemis bau kau mau mencuri!" salah satu dari mereka yang melihat keping emas terjatuh membentak,
" aku tidak mencuri tuan" pengemis itu menyangkal dan berusaha berdiri
" Bohong! dari mana kamu mendapatkan keping emas ini!" bentak seorang lagi sambil mengambil keping emas yang terjatuh di lantai kedai, lalu melayangkan tamparan pada pengemis kecil itu
Wuut
Jaka yang melihat itu tentu saja tak tinggal diam, ia meloncat dari tempat duduknya
Plaaak
plaaak
Aduuuh
dua tamparan keras terdengar di susul suara mengaduh, Jaka ternyata langsung menampar keduanya
" kamu tak apa apa?" tanya Jaka sambil membantu pengemis kecil itu yang sedang ketakutan
" aku tak apa apa tuan hanya saja kepin emas itu di ambil oleh mereka" jawab Pengemis kecil itu sambil menunjuk pria yang mengambil keping emasnya
" tak apa apa, nanti aku ambil kembali" ucap Jaka , ia berdiri menatap kedua orang itu
" kalian tak tahu malu, sudah menabrak orang memfitnah lagi!" bentak jaka dengan suara keras
" Hmm. anak muda jangan kau ikut campur!" bentak mereka dan langsung mencabut pedang mereka
" kau akan menyesal mencampuri urusan kami" raungnya sambil mengayunkan pedangnya ke arah Jaka
" Wuuuut"
Wuuut
dua pedang dengan kecepatan tinggi menyerang Jaka , satu menyerang dada dan satunya menyerang kaki,
Hiaaaaat
wush
desh
bugh
aaargh
Blang
Jaka melompat dan menendang keduanya membuat mereka berdua terpelanting menabrak meja di belakang mereka, piring dan gelas yang ada di meja itu berhamburan, sedangkan mejanya sendiri hancur berantakan
Keduanya tak sadarkan diri terkena tendangan Jaka, Jaka mengambil keping emas milik pengemis kecil itu
" Ini keping emasmu, pergilah, keping emas ini baiknya jangan sembarang kau perlihatkan berbahaya untukmu" ucap Jaka sambil memberikan keping emas itu
" Terima kasih tuan" pengemis itu mengambil keping emas dari tangan Jaka dan menyimpannya
Setelah pengemis kecil itu perg, Jaka melihat keadaan kedai makan yang berantakan akibat pertarungan mereka tadi, Jaka mengambil dua keping emas dan memanggil pemilik kedai
" Paman , maaf membuat kedai milik paman berantakan, ini untuk mengganti kerugian paman" Jaka memberikan dua keping emas itu pada pemilik kedai
" terima kasih tuan, memang sekarang banyak orang seperti mereka berkeliaran di kotaraja, membuat resah pedagang" pemilik kedai menerima keping emas
sementara Petugas jaga yang melayani Jaka tadi tampak memasuki kediaman seorang senopati dengan tergesa gesa
" Berhenti!" satu suara prajurit yang menjaga rumah senopati itu menghentikan langkah Prajurit jaga itu
" Darda ada apa kau kemari!?" tanya prajurit yang menjaga rumah senopati bertanya
" Rakai ada berita penting yang harus kusampaikan pada senopati Wira Pati" Seru Darda dengan napas terengah engah
" ayo aku antar" ucap Rakai , Darda mengangguk, keduanya segara masuk ke halaman rumah Senopati Wira Pati, saat itu Senopati sedang berlatih jurus Tombak di halaman
Hiaaat
wuuut
tsk
tsk
gerakan tombaknya saat mengayun mengeluarkan suara menderu, melihat ada yang datang Senopati Wira Pati menghentikan latihannya dan menunggu di tengah lapangan
" ada apa Darda, kau sampai berkeringat seperti itu?" tanya Senopati melihat Darda yang mukanya berkeringat
" Maaf Senopati, aku mau melapor, di gerbang tadi ada seorang pemuda yang bernama Jaka Wisesa" Darda berlutut dan menyampaikan laporannya
" Apa! Jaka Wisesa, apa kau yakin!?" Senopati berseru kaget mendengar laporan Darda
" Benar senopati, ini saya bawa buku catatan daftar tamu yang masuk ke kotaraja" Darda memberikan buku catatan tamu pada Senopati
Senopati langsung menyambar buku itu dan membacanya, saat membaca Nama Jaka Wisesa tangan gemetar
" Rakai, Kumpulkan prajurit, kita cari pemuda itu!" seru Senopati Wira Pati
" Darda kau kembali ke gerbang pastikan pemuda itu belum keluar dari kotaraja" lanjut senopati memberi perintah pada Darda
" Siap senopati" sahut Rakai dan Darda berbarengan, Rakai dengan cepat berlari ke arah barak prajurit, sedangkan Darda kembali ke gerbang
Tak Lama Rakai dengan satu pasukan prajurit berjumlah 20 orang
" kalian siap!" seru Senopati Wira Pati
" Siaaap senopati!"
serempak para prajurit menjawab, Senopati memimpin pasukan itu berjalan untuk mencari Jaka Wisesa
semantara di kedai makan, Jaka mengikat kedua lelaki itu, bermaksud memberikan pada prajurit kerajaan agar di hukum
" drap"
"Drap"
baru selesai Jaka mengikat keduanya dari luar kedai terdengar derap langkah kaki yang teratur dan serempak
tak lama seorang pria paruh baya berusia sekitar 50 tahunan dengan seragam kebesaran kerajaan karang setra masuk di belakangnya prajurit berjaga dengan tombak ditangan kanan
" ada apa ini!" tanya Pria itu
" Senopati, mereka membuat kekacauan dan pendekar muda ini yang meringkus mereka" pemilik Kedai dengan cepat memberitahukan keadaaan, dan lelaki paruh baya itu ternyata Senopati Wira Pati
mendengar laporan pemilik kedai, pandangan Senopati beralih ke Jaka, ia sedikit kaget melihat wajah Jaka
" Anak muda siapa namamu?" tanya Senopati Wira Pati
" Saya Jaka senopati" sahut Jaka
" Jaka Wisesa?" tanya Senopati lagi memastikan
" YA senopati, tapi bagaimana senopati tahu nama belakangku?" tanya Jaka heran
" Ha ha ha , keponakanku, pantas saja kau mirip dengan kakang Mahesa, ternyata kau anaknya yang hilang empat belas tahun yang lalu" Senopati Wira pati tertawa dan memeluk Jaka
" Paman?" ucap Jaka pelan
" ha ha ha , kau pasti lupa dengan ku, ya waktu itu kau baru berusia tiga tahun saat aku berkunjung di kadipaten Tunjung, ayo kita temui kakekmu " Senopati Wira pati langsung menarik Jaka, dua lelaki pengacau itu juga di bawa untuk di jebloskan kepenjara kerajaan