"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.
Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.
Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".
Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Stelan Awal
Suasana di ruang CEO yang biasanya dingin dan kaku itu mendadak berubah menjadi panggung sandiwara paling canggung sedunia. Gisel memegang laptopnya dengan tangan gemetar, sementara Adrian duduk dengan gaya santai di kursi kebesarannya, menopang dagu dengan satu tangan menunggu dengan sabar seolah sedang menunggu pengumuman pemenang piala Oscar.
Adrian: "Ayo, Gisel. Suara yang tadi lantang memaki saya, sekarang saya ingin mendengarnya membacakan artikel itu. Dengan perasaan, kalau bisa."
Gisel menelan ludah, wajahnya merah padam sampai ke telinga) "B-bapak... beneran harus keras-keras? Ini isinya... ini isinya hoaks kelas berat, Pak!"
Adrian: "Baca!!! atau Budi menginap di gudang."
Gisel menarik napas panjang, menutup matanya sejenak, lalu mulai membaca dengan nada datar namun cepat karena saking malunya.
Gisel membaca dengan nada robot) "CEO kita, Bapak Adrian Bramantyo, sejatinya adalah matahari tersembunyi di balik awan mendung perusahaan. Di balik jas mahalnya yang sedingin es, tersimpan hati selembut sutra yang sangat peduli pada keselamatan bawahannya..."
Adrian: (Interupsi, matanya berkilat jenaka) "Kurang penghayatan, Gisel. Coba bagian yang... berlutut tadi."
**Gisel**: (Wajahnya hampir meledak, suaranya makin melengking karena frustrasi) "Beliau... Beliau tidak segan merendahkan tubuh tegapnya demi memastikan sepotong plester menempel di jempol asistennya yang lecet. Beliau adalah pemimpin visioner yang tidak hanya melihat angka, tapi juga melihat... melihat setiap inci luka di hati dan kaki karyawannya. Beliau... adalah pahlawan tanpa tanda jasa di balik meja jati."
Gisel berhenti membaca, napasnya tersengal karena menahan malu. Ia berani bersumpah ini adalah tulisan paling lebay yang pernah ia buat seumur hidup. Ia menoleh ke arah Adrian, siap menerima ejekan.
Namun, ia justru mendapati Adrian sedang menatapnya dengan pandangan yang sangat asing. Adrian tidak tertawa. Adrian justru menatap Gisel lekat-lekat memperhatikan bagaimana bibir Gisel sedikit bergetar, rambutnya yang berantakan karena frustrasi, dan kilauan cahaya sore dari jendela yang menerpa wajah asistennya itu.
Bagi Adrian, Gisel yang sedang malu-malu kucing dengan tulisan lebay-nya itu terlihat jauh lebih cantik daripada model papan atas mana pun. Cantik alami, tanpa filter korporat.
Adrian: (Suaranya mendadak lembut, hampir seperti gumaman) "Luar biasa. Ternyata kamu jago juga membuat fiksi yang... menghangatkan hati."
Gisel: "T-tuh kan! Bapak aja tau itu fiksi! Udah ya, Pak? Puas kan?! Sekarang balikin Mami Budi ya pak"
Di layar monitor, Budi yang tadinya sedih mendadak heboh sendiri. Ia menempelkan wajahnya sampai hidungnya penyet di layar monitor hitam putih itu.
Budi: "Aduuuuh, Mak! Liat tuh tatapan Pak Bos! Itu bukan tatapan pengusaha lagi denger laporan, itu tatapan cowok lagi jatuh cinta mampus! Gisel juga, mukanya udah kayak udang rebus! Haduh, ini drakor kenapa nggak ada suaranya sih?! Gue mau denger suara deg-degan mereka!"
Budi langsung mengirim pesan ke Hadi.
Budi: Hadidit! Bangun lo dari pingsan! Buruan cek CCTV lantai atas! Pak Bos udah mode 'Cinta di Balik Plester'! Kayaknya bentar lagi kita bebas tugas karena Bos lagi mabuk asmara!
Hadi: STOP Budi, Gue nggak mau lagi kena potong bonus segala
Budi: Gak SERUUU lo mah HADIDIT, Tolong Mami ya Gisel sayang, di sini Mami bakalan kena ASMA
**
Suasana di ruang CEO mendadak mencekam bagi Gisel. Jari-jarinya membeku di atas keyboard. Ia mendongak, menatap Adrian dengan tatapan tidak percaya, berharap pria itu hanya sedang bercanda dengan selera humornya yang kering.
Gisel: "P-Pak... Bapak serius? Nama lengkap? Adrian Bramantyo?! Bapak tahu kan kalau blog saya itu pembacanya hampir seluruh karyawan di gedung ini, bahkan kompetitor kita juga sering intip? Kalau saya tulis nama lengkap, itu sama saja saya mendeklarasikan kalau Bapak itu... kalau Bapak itu narsis!"
Adrian: (Berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mendekati Gisel hingga bayangannya menutupi meja) "Saya tidak peduli sebutan mereka, Gisel. Saya ingin dunia tahu, atau setidaknya pembaca setiamu tahu, siapa sosok yang kamu sebut 'Matahari Tersembunyi' itu. Tekan tombol publish sekarang, atau Budi akan mulai akrab dengan tikus gudang semalaman."
Gisel: (Gemetar hebat, keringat dingin mengucur di pelipisnya) "Tapi Pak... ini... ini beneran lebay. 'Adrian Bramantyo: Sang Pemilik Hati Lembut Selembut Sutra'. Duh, saya mau muntah bacanya, Pak! Nanti saya dikira naksir Bapak!"
Adrian: (Membungkuk, wajahnya sejajar dengan Gisel, matanya mengunci mata Gisel dengan intensitas yang mematikan) "Memangnya... kamu tidak?"
Adrian : "Segera Publish nasib kamu
Gisel nyaris terjungkal dari sofa. Pertanyaan retoris itu lebih tajam dari audit logistik mana pun. Dengan mata terpejam dan tangan gemetar, Gisel akhirnya menekan tombol biru bertuliskan "PUBLISH".
Klik.
Dalam hitungan detik, ponsel Gisel dan kemungkinan besar seluruh ponsel karyawan di gedung Bramantyo Grup bergetar serentak. Notifikasi blog "Macan Gudang" baru saja meledak.
Gisel: (Menutup wajahnya dengan kedua tangan, mengerang frustrasi) "Selesai. Karir saya tamat. Besok saya bakal jadi bahan tertawaan di pantry. Puas, Pak?!"
Di monitor gudang, Budi yang sedang memegang ponselnya mendadak melompat dari kursi plastik sampai kursinya terbalik.
**Budi**: "DEMI APA?! ADRIAN BRAMANTYO?! Gisel beneran nulis nama lengkap?! Makkk... ini mah bukan artikel pujian, ini mah pengumuman go public!"
Budi langsung menari-nari di depan kamera CCTV, melambaikan tangan ke arah monitor seolah-olah dia tahu Adrian dan Gisel sedang menontonnya.
Budi: "MAKASIH GISELKUH! MAKASIH PAK BOS ADRIAN BRAMANTYO YANG GANTENG! MAMI BEBAS! MAMI MAU KERAMAS PAKE AIR BUNGA ABIS INI!"
Adrian melihat ke arah monitor CCTV, melihat kelakuan konyol Budi, lalu kembali menatap Gisel yang masih menyembunyikan wajahnya. Ia mengambil ponsel Gisel yang tergeletak di meja, membukanya, dan memberikan like pertama pada postingan itu menggunakan akun Gisel sendiri.
Adrian: "Artikel yang bagus, Gisel. Sangat... berani. Sekarang, ambil tasmu. Silahkan kembali ke meja kamu dan lanjutkan tugasmu sebagai sekertaris."
Gisel berjalan dengan langkah yang diseret : "Baik Pak"
Adrian tersenyum penuh makna menatap punggung Gisel yang meninggalkan ruangannya.
**
Budi sedang duduk lesu di depan puluhan monitor yang menampilkan sudut-sudut gedung. Matanya yang biasanya berbinar kini kuyu karena bosan melihat rekaman koridor yang sepi. Tiba-tiba, telepon interkom di mejanya berdering nyaring.
Budi: (Mengangkat telepon dengan nada malas) "Halo, dengan Budi Sang Pengawas Masa Depan di sini. Ada yang mau dilaporkan? Kalau cuma mau lapor AC mati, mending hubungi teknisi ya, say..."
Suara di Telepon (Tim HRD): "Selamat pagi, Rekan Budi. Berdasarkan instruksi langsung dari manajemen atas setelah meninjau efektivitas Anda, surat pemindahan Anda sudah keluar. Mulai jam ini juga, Anda dipindahkan kembali ke Divisi Operasional dan Logistik. Silakan kemasi barang-barang Anda."
Mendengar kata "Dipindahkan kembali ke Logistik", tubuh Budi langsung menegang. Jantungnya berdegup kencang seperti sedang mendengarkan musik disko!
Budi: (Matanya melotot, menjerit tertahan) "Hah?! DEMI BULU HIDUNG HADI YANG SUKA NONGOL?! Seriusan, Mbak?! EKE BALIK KE KANDANG OPERSIONAL DAN LOGISTIK LAGI?! ARRRRGGGGGGGG! AKHIRNYA EKE BEBAS DARI PENJARA MONITOR INI!"
Budi tidak berjalan, ia berlari melintasi jembatan penghubung antar gedung sambil membawa kardus berisi mug kesayangannya dan beberapa cermin kecil. Sepanjang jalan, ia berteriak histeris mengabaikan tatapan heran karyawan lain.
Budi: "MINGGIR SEMUAAAA! SANG DIVA LOGISTIK TELAH KEMBALI DARI PEMBUANGAN! GISEEEEL! HADIIIIT! MAMI BUDI PULAAANG KE RUMAH KITA!"
Gisel yang masih mencoba fokus menatap data stok barang dari meja sekertaris setelah menyelesaikan tugas dari Adrian meskipun pikirannya masih melayang ke senyum Adrian, tiba-tiba dikejutkan oleh teriakan Budi yang sangat keras membuatnya terjungkal kaget.
GGGIIIIIISSSSEEEEELLLLLL
Budi: (Masuk dengan napas tersengal-sengal, langsung berlutut di depan meja Gisel sambil memeluk tumpukan berkas Gisel secara dramatis) "GISEEEEL! TOLONGIN EKE, GISEELLL! EKE MAU MATI BERDIRI SEKARANG JUGA! YA TUHAN, INI BENERAN KEAJAIBAN DUNIA!"
Gisel: (Mundur kaget sampai kursinya menabrak dispenser) "Mami ! Lo kesurupan jin gudang CCTV sebelah mana lagi sih?! Lepasin berkas gue! Lo kenapa histeris begini, hah?!"
Budi: (Menangis tanpa air mata, memukul-mukul dadanya sendiri) "Eke ditelepon HRD barusan, say! Eke dipindahin balik ke sini! Lo tau nggak alasannya apa?! Katanya eke terlalu berisik di ruang CCTV dan bikin operator lain stres! Padahal eke tau itu cuma akal-akalan Pak Bos Adrian biar eke bisa balik mantau pergerakan cinta kalian berdua secara live di sini! Ini artinya apa, Sela sayang?! Artinya Pak Bos beneran butuh eke jadi wingman kalian!"
Hadi yang baru saja masuk membawa kopi hangat langsung mematung di ambang pintu begitu melihat pemandangan Budi yang sedang berlutut histeris di kaki Gisel.
Hadi: (Menepuk jidatnya dengan pasrah) "Ya Tuhan... baru tenang sejam hidup gue tenang tanpa si Budi, sekarang sumber gempa buminya udah dikembaliin lagi ke sini..."
Gisel hanya bisa melongo. Ia tahu betul siapa yang bermain di balik keputusan HRD ini. Adrian Bramantyo benar-benar mengumpulkan kembali pasukannya!
Suasana di kubikel Gisel yang tadinya dipenuhi histeria Budi mendadak hening seketika. Bunyi ting! yang sangat khas dari notifikasi aplikasi mobile banking memecah ketegangan.
Hadi, yang masih berdiri mematung di dekat pintu sambil memegang berkas, merogoh saku celananya dengan malas. Ia mengira itu hanyalah pesan spam tagihan bulanan yang biasa menerornya di akhir bulan.
Namun, begitu layar ponselnya menyala, mata Hadi yang tadinya kuyu dan pasrah langsung melotot sempurna. Rahangnya jatuh nyaris menyentuh lantai marmer!
Hadi: (Suaranya tercekat, tangannya gemetar hebat sampai ponselnya hampir terjatuh) "G-Gisel... Bud... Ini... Ini beneran?!"
Budi: (Langsung bangkit dari posisinya yang sedang berlutut, merebut ponsel Hadi dengan gerakan kilat) "Apose sih, Hadidit?! Liat apa lo sampe muka lo pucet kayak mayat diformalin begitu?! Sini eke liat!"
Budi menatap layar ponsel Hadi, dan sedetik kemudian, lengkingan histeria Budi jilid III kembali mengguncang ruangan sekitar CEO.
Budi: "YA TUHAN! DEMI BULU MATA PALSU EKE YANG BELUM LUNAS! HADIDIT! BONUS LO YANG KEMARIN DIPOTONG GARA-GARA KASUS PELABUHAN BUSAN... DIKEMBALIIN SEMUANYA! BAHKAN ADA BONUS TAMBAHANNYA! TOTALNYA BISA BUAT BELI MOTOR MATIC BARU CASH INI MAH!"
Di layar ponsel Hadi terpampang jelas notifikasi transfer masuk dari rekening perusahaan dengan keterangan: "RETURN BONUS PERFORMANCE & APPRECIATION - CEO OFFICE".
Mendengar teriakan Budi, Hadi tidak bisa menahan harunya lagi. Beban hidupnya untuk membayar cicilan mobil bulan depan mendadak luntur seketika. Tanpa memedulikan gengsi, Hadi langsung melakukan sujud syukur di atas lantai ubin logistik yang dingin.
Hadi: (Sambil sujud) "Terima kasih, Ya Tuhan! Engkau memang Maha Mendengar doa hambamu yang tertekan ini! Akhirnya gue nggak jadi jualan gorengan di depan gudang!"
Gisel yang melihat pemandangan itu hanya bisa menyilangkan dada. Ia tahu persis ini bukan sekadar "keajaiban" sistem akuntansi perusahaan. Ini adalah ulah si Bos Kulkas yang sedang melancarkan aksi sogokan halusnya.
Gisel: (Membatin) Pak Adrian... Bapak beneran pakai taktik 'suap' ya buat beli loyalitas temen-temen gue? Tapi... kok gue malah ngerasa tersentuh ya liat Hadi sebahagia itu?
Tepat saat Hadi bangkit dari sujudnya sambil mengusap air mata haru, pintu kaca logistik kembali terbuka secara otomatis. Sosok jangkung dengan setelan jas navy yang sangat rapi berdiri di sana. Adrian Bramantyo. Ia berdiri dengan kedua tangan di saku celana, menatap dingin ke arah keributan di hadapannya.
**
Setelah kehebohan transferan maut yang membuat Hadi sujud syukur di lantai ubin, suasana di kubikel logistik belum sempat mendingin. Sosok tegap Adrian yang masih berdiri di ambang pintu kaca menatap Budi dan Hadi dengan tatapan tajam yang tidak bisa dibantah.
Adrian: "Budi, Hadi. Ikut ke ruangan saya sekarang. Ada hal penting yang harus kita bicarakan mengenai operasional... dan privasi."
Mendengar instruksi bernada dingin namun sarat otoritas itu, nyali Gisel langsung naik ke ubun-ubun. Sebagai 'Singa Gudang' yang tidak suka melihat teman-temannya diintimidasi (atau disogok), ia langsung pasang badan.
Gisel: (Melangkah maju dengan berkacak pinggang) "Tunggu dulu, Pak Adrian! Bapak nggak bisa semena-mena main panggil mereka berdua begitu aja! Kalau soal pekerjaan, bahas di sini aja secara transparan! Bapak jangan coba-coba mengintimidasi tim saya cuma karena—"
Belum sempat Gisel menyelesaikan kalimat "cuma karena kejadian di kantin", sebuah tangan dengan gerakan secepat kilat langsung membekap mulutnya dari belakang.
Itu tangan Budi!
**Budi**: (Membekap mulut Gisel dengan telapak tangannya yang beraroma hand cream stroberi, sambil berbisik panik di telinga Gisel) "Aduuuh Giselkuh! Diem deh ah! Jangan cari perkara lagi! Eke baru aja semenit ngerasain AC logistik, eke kagak mau ya dibuang lagi ke pengasingan menara pemantau CCTV yang horor bin sepi itu! Tutup mulut lo demi keselamatan bulu mata eke!"
Gisel hanya bisa melotot dan meronta-ronta tertahan. Suaranya hanya keluar sebagai gumaman tidak jelas: "Mmph... Mami Bud... bkhshsh..."
Budi: (Sambil menahan tubuh Gisel, tangan satunya lagi menarik kerah kemeja Hadi yang mendadak lesu lagi) "Ayo Dit, jalan! Jangan lelet kayak siput! Pak Bos udah nungguin tuh di depan pintu lift! Jangan bikin Sang Kulkas makin beku!"
Gisel membeku di tempatnya melihat Adrian, Budi dan Hadi menghilang menuju ruangan CEO tersebut.
Hadi yang baru saja merasakan kebahagiaan dapet bonus, kini kembali teringat sejarah kelam masa lalu Adrian. Bahunya merosot, wajahnya kembali pucat pasi membayangkan apa yang akan dibahas oleh bos besarnya itu di dalam ruangan tertutup.
Budi mendorong Hadi masuk ke dalam ruangan Adrian yang mewah dan kedap suara. Begitu pintu otomatis tertutup rapat, aroma kopi arabika yang mahal langsung menyambut mereka. Adrian sudah duduk di balik meja kerjanya yang luas, tanpa melepaskan tatapannya dari kedua pria di depannya.
Adrian: (Menatap Budi dan Hadi bergantian, suaranya sangat tenang namun berwibawa) "Duduk."
Budi langsung duduk dengan gaya anggun yang dibuat-buat, sementara Hadi duduk di ujung kursi dengan sangat kaku, seolah-olah kursi itu dialiri listrik tegangan tinggi.
Adrian: "Saya tahu kau Budi dekat dengan Gisel. Dan saya juga tahu kalian tahu Hadi kau sudah memberikan info tentang blog Gisel kepada saya"
Hadi menelan ludah dengan susah payah. Ia mengira ini adalah awal dari interogasi pemecatan karena menyebarkan rahasia perusahaan.
Adrian: "Saya tidak memanggil kalian ke sini untuk marah. Justru sebaliknya. Saya butuh bantuan kalian berdua."
Budi yang awalnya tegang, langsung menegakkan punggungnya. Matanya berbinar-binar liar. "Apose, Pak Bos?! Bantuan apa?! Mami Budi siap bantuin!"
"Bisakah kalian atur untuk makan malam nanti bersama Gisel?" tanya Adrian membuat Budi dan Hadi melengo dan sudah tidak bisa mengucapkan kata-kata selanjutnya!
**