Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.
Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.
Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.
"Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."
Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uhuk! Huek!
Udara Jakarta yang panas dan polusi yang khas langsung menyambut Rayna begitu ia melangkah keluar dari pintu kedatangan Bandara Soekarno-Hatta. Sepuluh tahun. Waktu yang cukup lama untuk mengubah wajah kota ini menjadi belantara beton yang lebih padat dan modern. Gedung-gedung pencakar langit seolah berlomba menyentuh langit, membuat teriknya matahari sedikit terhalang, namun tetap terasa menyengat di kulit putihnya.
"Jakarta... aku pulang," bisik Rayna pelan.
Sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti tepat di depannya. Pintu kemudi terbuka, dan sosok wanita anggun dengan setelan Dokter yang rapi keluar dari sana. Senyum hangatnya langsung mengembang begitu melihat Rayna.
"Rayna?"
"Tante Jovita!" Rayna tidak bisa membendung emosinya. Ia berlari kecil dan langsung menghambur ke pelukan tantenya itu.
Tangis Rayna pecah di bahu Jovita. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis haru yang menyesakkan dada. Sepuluh tahun ia memendam rindu pada kenangan masa kecil yang tertinggal di sini, dan tentu saja... pada dia yang selalu ada dalam mimpinya.
"Hey, sudah, sudah. Putri Black Lotus kok cengeng begini?" goda Jovita sambil tersenyum, jemarinya mengacak rambut Rayna dengan sayang saat gadis itu masih sesenggukan di pelukannya. "Selamat datang kembali di rumah, Sayang."
TIIIIIIIDDDDD!!!!
Suara klakson yang memekakkan telinga tiba-tiba membelah suasana haru itu. Bunyinya begitu panjang dan dahsyat, seolah sengaja ingin memecahkan gendang telinga siapapun yang mendengarnya.
Rayna dan Jovita tersentak kaget. Rayna segera menghapus air matanya dan menoleh ke arah sumber suara, mobil yang dikendarai Jovita.
Jendela kursi belakang perlahan turun, menampilkan sosok anak kecil perempuan berusia sekitar lima tahun dengan rambut dikuncir dua. Namun, bukannya wajah imut yang menyambut, Rayna justru dihadiahi tatapan sinis yang luar biasa tajam. Anak itu melipat tangan di dada, bibirnya mengerucut seolah sedang melihat musuh bebuyutan.
"Mami kelamaan pelukannya, Chila mau es klim sekalang!" seru anak kecil nan cadel itu dengan nada memerintah yang sangat kental.
Rayna berkedip tak percaya. "Itu... Chira?"
Jovita hanya bisa menghela napas panjang dan menepuk jidatnya sendiri. "Ya, itu Chira. Sepupumu yang paling nakal. Dan mulai besok, selamat berjuang menjadi 'kakak asuh' untuk nona muda yang satu ini, Ray."
Rayna menelan ludah. Menghadapi mafia di Meksiko mungkin terasa berat, tapi melihat tatapan maut bocah mungil itu, Rayna merasa tantangannya di Jakarta baru saja dimulai.
Di dalam mobil yang membelah kemacetan Jakarta, suasana terasa lebih panas daripada udara di luar. Mata tajam Chira masih memindai Rayna dari ujung kepala hingga kaki. Tatapannya persis seperti hakim agung yang siap menjatuhkan vonis hukuman mati.
“Kenapa lihat-lihat? Aku cantik, ya? Baru lihat cewek selevel model Meksiko begini?” goda Rayna sambil mengibaskan rambutnya ke samping, berlagak sombong demi mencairkan suasana.
Chira tidak tergiur. Ia justru membuang muka dengan gaya angkuh. “Mami, Chila ndak mau dia jadi babysittel. Olangnya kelihatan ndak benal, Mi. Kayak Tante-Tante di pelsimpangan jalan. Muka Onty ini ndak menyakinkan bisa ulus Chila.”
Mulut Rayna ternganga. ‘Tante-tante persimpangan jalan? Wah, bocah nakal ini benar-benar minta dijitak!’
“Chira sayang, dia sepupumu. Bukan Tante-Tante. Rayna ini masih SMA, lho... belum dewasa,” tutur Jovita dengan sabar sambil tetap fokus menyetir.
Rayna mengangguk mantap, membenarkan ucapan tantenya.
“Tapi mukanya kayak ndak pintal di sekolah, Mi. Bisa ndak Onty ini ditukal saja sama es klim satu lemali es?” mohon Chira dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat agar Rayna jengkel dan segera angkat kaki kembali ke Meksiko.
Sekali lagi, mulut Rayna terbuka lebar. Satu lemari es krim? Ternyata harga dirinya di mata bocah ini serendah itu.
“Hm... kayaknya tugasku di sini nggak akan semudah itu. Anak ini jauh lebih ajaib daripada Kayla dan Kesya,” gumam Rayna pada diri sendiri. Ia menangkap sorot mata Chira yang tidak hanya sekadar benci, tapi jelas-jelas tidak mudah percaya pada orang baru.
“Chira, panggil dia Kak Ray, bukan Onty,” tegur Jovita lagi.
“Tidak apa-apa, Tan, aku senang kok mendengarnya,” ucap Rayna mencoba tersenyum ramah, tapi Chira justru buru-buru membuang muka ke arah jendela.
‘Jutek banget nih kurcaci cadel. Keturunan siapa, sih? Perasaan Tante Jovita dulu nggak seperti ini,’ gerutu Rayna dalam hati.
Tiga hari kemudian, Rayna mulai terbiasa dengan ritme rumah Jovita. Rumah itu masih sama seperti sepuluh tahun lalu, menyisakan kenangan masa kecil yang membuatnya betah. Sore itu, Rayna masuk ke dapur untuk menyeduh teh hangat demi meredakan rasa rindunya pada suasana rumah.
Tiba-tiba Jovita masuk bersama Chira yang nempel seperti prangko. Jovita membawa kabar penting bahwa sekolah baru Rayna sudah beres dan besok ia sudah bisa masuk. Namun, Jovita juga mengabarkan bahwa ia harus pergi ke Kalimantan untuk tugas mendadak.
Selagi Jovita sibuk menjelaskan detail jadwal pada Rayna, Chira diam-diam melepaskan genggaman tangan ibunya. Dengan langkah seringan kapas, ia menghampiri cangkir teh yang masih mengepul di atas meja makan.
Chira melirik toples berlabel Table Salt. Dengan kecepatan tangan yang luar biasa, ia memasukkan sepuluh sendok garam ke dalam teh Rayna, lalu buru-buru kembali berdiri di samping ibunya seolah tidak terjadi apa-apa.
“Tapi Tante, gimana caranya aku jagain Chira kalau aku juga harus sekolah?” tanya Rayna, merasa sedikit khawatir dengan pembagian waktunya.
“Tenang saja, di sekolah itu ada fasilitas penitipan anak khusus untuk keluarga pendidik dan donatur. Fasilitasnya sangat lengkap,” jelas Jovita menenangkan. “Lagipula, Rich Family adalah salah satu donatur terbesar di yayasan sekolah itu. Segalanya pasti terjamin.”
Mendengar nama itu, jantung Rayna berdegup kencang. Rich Family? Apakah takdir sedang berpihak padanya?
Tanpa curiga, Rayna meraih cangkir tehnya dan menyesapnya cukup banyak.
"UHUK! HOEK!! ASIIINNN!!"
Rayna menyemburkan teh itu sampai matanya berair. Di sudut ruangan, Chira sedang menutupi mulutnya, menahan tawa kemenangan sementara Rayna sibuk mencari air putih dengan lidah yang mendadak kaku.
‘Sial, ronde pertama dimenangkan oleh kurcaci,’ batin Rayna sambil melotot ke arah Chira yang cepat-cepat lari ke arah Ibunya yang masuk kamar.
semangat update trs ya sampai tamat💪🤗