NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Rem yang Terputus

Gerimis mulai membasuh kaca depan bus "Klinik Keliling Xavier-Malik" saat kendaraan besar itu merayap membelah kabut di jalur Puncak, Bogor. Di dalamnya, suasana jauh dari kata tenang.

Arkan Xavier duduk di kursi pengemudi, tangannya mencengkeram kemudi dengan urat-urat yang menonjol. Di belakangnya, Aisyah sedang berjuang menstabilkan seorang pasien pria paruh baya yang mengalami syok anafilaktik akibat sengatan tawon hutan yang ekstrem.

"Arkan, tekanan darahnya turun drastis! 80 per 50!" teriak Aisyah di sela bunyi mesin bus yang menderu. "Kita butuh epinefrin tambahan, tapi stok di laci darurat macet!"

Arkan melirik spion tengah. "Gunakan kunci manual di bawah laci, Aisyah! Aku akan menambah kecepatan agar kita sampai di RSUD terdekat dalam sepuluh menit."

Namun, saat Arkan menginjak pedal rem untuk mengurangi laju di tikungan tajam yang dikenal sebagai "Tikungan Maut", jantungnya seolah berhenti berdetak. Pedal itu amblas ke lantai bus tanpa perlawanan. Kosong.

"Leo! Remnya blong!" Arkan berteriak ke arah belakang, tempat Leo sedang merapikan tabung oksigen.

Wajah Leo berubah pucat, namun insting mekaniknya segera mengambil alih. Ia melompat ke arah rem tangan, menariknya perlahan agar ban tidak selip, namun tuas itu patah di tangannya. Seseorang telah menggergaji kabel baja utamanya hingga hanya menyisakan satu serat yang pasti putus saat ditarik paksa.

"Ini sabotase, Arkan! Kabelnya dipotong bersih!" tergah Leo.

Bus itu mulai meluncur tak terkendali di turunan curam. Di sisi kiri adalah tebing cadas, dan di sisi kanan adalah jurang sedalam seratus meter yang hanya dibatasi pagar besi tipis. Arkan mencoba memindahkan gigi transmisi ke posisi rendah untuk melakukan engine brake, namun tuas porsnelingnya terkunci—sebuah sistem elektronik tambahan telah ditanamkan untuk menyandera sistem mekanik bus.

"Aisyah! Pegangan! Pakai sabuk pengaman di kursi tindakan!" perintah Arkan dengan suara yang menggelegar, mencoba meredam kepanikan di dalam kabin.

Aisyah, dengan ketenangan seorang dokter bedah, tidak langsung menyelamatkan dirinya. Ia menyuntikkan dosis terakhir epinefrin ke paha pasien, memasang sabuk pengaman pada brankar pria itu, baru kemudian mengikat dirinya sendiri ke kursi. "Lakukan apa yang harus kau lakukan, Arkan! Aku percaya padamu.

Arkan memutar kemudi dengan presisi gila. Ia menggesekkan bodi bus bagian kiri ke dinding tebing untuk menciptakan gesekan yang bisa mengurangi kecepatan. Percikan api menyambar-nyambar, suara besi beradu dengan batu menciptakan pekikan memekakkan telinga.

"Leo, buka pintu belakang! Jika aku bilang lompat, kau bawa Aisyah!" instruksi Arkan.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Bos!" balas Leo sambil mencoba membongkar panel lantai bus untuk meraih kabel transmisi secara manual.

Di depan mereka, sebuah truk tangki air muncul dari arah berlawanan. Arkan hanya punya waktu dua detik. Ia membanting stir ke kanan, melesat tipis di antara moncong truk dan pagar pembatas jurang. Kaca spion bus hancur berantakan.

"Arkan, ada tikungan tajam di depan! Kita tidak akan bisa melewatinya dengan kecepatan 90 km/jam!" teriak Aisyah.

Arkan melihat sebuah gundukan pasir besar di sisi jalan yang biasanya digunakan untuk keadaan darurat. Tanpa ragu, ia mengarahkan moncong bus ke sana. BRAKK! Bus itu menghantam gundukan pasir, terangkat sedikit ke udara, lalu terperosok sedalam satu meter.

Guncangan hebat melemparkan peralatan medis ke segala arah, namun kerangka bus yang diperkuat Leo tetap utuh.

Keheningan mendadak menyelimuti kabin, hanya menyisakan suara desis uap dari radiator yang pecah.

Arkan adalah yang pertama bergerak. Ia menendang pintu depan yang macet dan segera membantu Aisyah serta pasien mereka.

Beruntung, sistem pengaman brankar bekerja sempurna. Pasien itu selamat, meski pingsan.

Saat Arkan berdiri di samping bus yang ringsek, sebuah mobil sedan hitam berhenti beberapa meter di depan mereka. Seorang pria turun dengan tenang. Ia mengenakan setelan safari yang sangat rapi, rambutnya klimis, dan wajahnya membawa senyum yang sangat dikenal Arkan sepuluh tahun lalu.

Herman Suroso. Mantan asisten pribadi ayah Arkan yang dikabarkan tewas dalam ledakan di dermaga saat pembersihan faksi Xavier dulu.

"Rem yang payah untuk seorang dokter yang hebat, bukan?" suara Herman terdengar licin, seperti ular yang merayap di atas marmer.

Arkan melangkah maju, menghalangi pandangan Herman dari Aisyah. "Herman. Jadi mawar hitam itu berasal dari lubang kuburmu?"

"Aku tidak pernah mati, Arkan. Aku hanya menunggu serigala muda ini menjadi cukup gemuk dan bersih untuk disembelih," Herman mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya tanpa rasa bersalah di depan bus yang hampir meledak. "Ayahmu membangun kekaisaran ini dengan darah. Kau pikir kau bisa mencucinya hanya dengan membagikan perban dan obat merah pada orang miskin?"

"Kekaisaran itu sudah hancur, Herman. Elders sudah bubar," balas Arkan dingin.

"Elders hanyalah sekumpulan orang tua yang penakut. Aku mewakili mereka yang merasa dikhianati. Kami memiliki 'aset' yang kau sembunyikan, Arkan. Kode akses ke satelit militer Xavier yang kau kunci di dalam memori biometrikmu. Berikan padaku, dan istrimu akan tetap bisa melihat matahari besok."

Arkan tertawa getir. "Kau menyabotase remku hanya untuk meminta kode? Kau kehilangan sentuhanmu, Herman. Kau tahu aku lebih suka mati daripada menjadi bonekamu."

Herman memberi isyarat, dan dua orang pria bersenjata muncul dari balik sedan. Namun, sebelum mereka bisa menarik pelatuk, suara sirine polisi meraung dari kejauhan. Bimo datang dengan unit taktisnya, hasil dari koordinasi cepat Leo lewat pelacak GPS tersembunyi.

Herman tersenyum tipis, tidak tampak panik sedikit pun. "Ini baru permulaan, Arkan. Kau menyelamatkan nyawa di bus ini, tapi kau baru saja membunuh ketenangan di rumahmu."

Herman masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi sebelum Bimo bisa melakukan itu.

Malam itu, Panti Asuhan Kasih Bunda dijaga ketat oleh pasukan Bimo. Arkan duduk di taman mawar, menatap tangannya yang lecet-lecet.

Aisyah datang membawakannya baskom berisi air hangat dan kain kasa.

"Dia tahu tentang kode biometrik itu, Aisyah," bisik Arkan saat Aisyah mulai membersihkan lukanya. "Ayah menanamkan chip identitas di bawah tulang selangkanganku saat aku berusia sepuluh tahun. Itu adalah kunci terakhir untuk gudang data Xavier di Swiss."

Aisyah terhenti sejenak, menatap mata suaminya. "Hapus itu, Arkan. Kita cari cara medis untuk mengeluarkan chip itu. Aku yang akan melakukannya."

"Itu berbahaya, Aisyah. Chip itu terhubung dengan saraf vaskular. Jika salah sedikit, aku bisa lumpuh atau mati karena pendarahan internal," Arkan menghela napas. "Tapi jika aku membiarkannya, Herman tidak akan pernah berhenti mengejar kita."

Aisyah menggenggam tangan Arkan erat.

"Dengarkan aku. Aku bukan hanya istrimu. Aku adalah dokter bedah saraf yang telah menyelamatkan ratusan orang. Jika ada satu orang di dunia ini yang bisa mengeluarkan 'kutukan' itu dari tubuhmu tanpa membunuhmu, itu adalah aku."

Arkan menatap mawar-mawar yang bergoyang di kegelapan. Ia menyadari bahwa perang ini bukan lagi tentang kepolisian melawan mafia, tapi tentang ilmu pengetahuan melawan keserakahan.

"Lakukan besok pagi, Aisyah. Sebelum Herman kembali," ucap Arkan mantap.

Di ruang tindakan panti yang steril, Arkan berbaring di bawah lampu operasi. Aisyah mengenakan masker dan sarung tangan bedah.

Leo berjaga di depan pintu dengan senjata di tangan, sementara Bimo memantau radar keamanan dari ruang kendali.

"Siap, Arkan?" tanya Aisyah, suaranya tetap stabil meski hatinya bergemuruh.

"Lakukan, Dokter Malik," jawab Arkan dengan senyum tipis sebelum anestesi mulai bekerja.

Saat pisau bedah Aisyah menyentuh kulit Arkan, di sebuah gedung tua di pusat kota, Herman Suroso menatap layar monitornya yang mendadak mati. Sinyal pelacak biometrik Arkan menghilang.

"Dia sedang mencoba memutus rantai terakhirnya," gumam Herman pada bawahannya.

"Siapkan pasukan. Kita tidak butuh chip itu dalam keadaan hidup. Ambil saja potongan tubuhnya jika perlu."

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!