NovelToon NovelToon
Owned By The Cold CEO

Owned By The Cold CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."

Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.

Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

..

...

  Malam di Hallstatt biasanya hanya dihiasi oleh suara riak air danau dan desir angin yang membelai pepohonan pinus. Namun bagi Kalea, kesunyian malam ini terasa mencekam. Dari balik gorden jendela lantai dua rumah kayunya, ia bisa melihat siluet tegap Liam Jionel yang masih berdiri mematung di teras bawah. Liam tidak beranjak sedikit pun sejak Aris datang membawa kabar buruk tadi sore. Cahaya lampu jalanan yang temaram menyinari bahunya yang lebar, memberikan kesan bahwa pria itu adalah satu-satunya dinding yang memisahkan Kalea dari bahaya luar.

Kalea menoleh ke arah tempat tidur Leo. Putranya itu terlelap dengan napas yang teratur, memeluk boneka beruang dan miniatur helikopter logamnya. Hati Kalea berdesir. Tiga tahun ia membangun benteng kedamaian ini, dan dalam sekejap, dunia gelap Liam Jionel kembali menyeretnya masuk. Namun, kali ini ada yang berbeda. Kalea tidak merasa dikurung; ia merasa... dijaga.

Ia menuruni tangga kayu yang berderit pelan, membawa sebuah selimut wol tebal. Saat ia membuka pintu teras, udara dingin musim semi langsung menusuk kulitnya. Liam menoleh, matanya yang tajam seketika melembut saat melihat Kalea.

"Kenapa belum tidur? Udara di luar sangat dingin, Kalea. Masuklah," perintah Liam, namun suaranya kali ini lebih berupa permohonan daripada komando.

Kalea tidak menjawab. Ia mendekat dan menyampirkan selimut wol itu ke bahu Liam. "Kau juga manusia, Liam. Kau bisa membeku jika berdiri di sini semalaman. Minumlah kopi yang kubuatkan tadi, masih ada di meja."

Liam tertegun. Ia menatap selimut di bahunya, lalu menatap mata cokelat Kalea yang kini tidak lagi memancarkan kebencian murni. "Kau mengkhawatirkanku?"

Kalea memalingkan wajah, menatap kegelapan danau. "Aku mengkhawatirkan Leo. Jika sesuatu terjadi padamu, siapa yang akan menghentikan Clarissa? Aku tahu wanita itu gila. Jika dia berani kabur dari penjara dan terbang ke Eropa, itu artinya dia benar-benar ingin menghancurkan kita."

Liam menghela napas, uap putih keluar dari mulutnya. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Kalea hingga lengan mereka bersentuhan. "Dia tidak akan menyentuh kalian. Aku sudah menempatkan tim keamanan di setiap titik masuk desa ini. Aris sudah berkoordinasi dengan kepolisian setempat dengan alasan perlindungan investor asing. Tidak akan ada tikus yang bisa lewat tanpa seizinku."

"Kenapa dia begitu membenciku, Liam? Padahal aku sudah menghilang. Aku sudah tidak memiliki apa-apa dari Jionel Group," gumam Kalea lirih.

Liam mencengkeram pagar kayu teras dengan kuat. "Karena dia tahu kau adalah satu-satunya kelemahanku. Bagi Clarissa, menghancurkanmu adalah cara tercepat untuk membunuhku tanpa menyentuh tubuhku. Dan sekarang dia tahu soal Leo... obsesinya berubah menjadi kegilaan."

Liam menoleh pada Kalea, tatapannya sangat intens. "Maafkan aku. Gara-gara aku, hidupmu kembali terancam. Aku membawa kutukan Jionel sampai ke tempat suci ini."

Kalea menatap Liam lama. Untuk pertama kalinya, ia melihat kerapuhan di balik topeng besi pria itu. "Tiga tahun lalu, aku akan menyalahkanmu habis-habis. Tapi sekarang... melihat Leo sangat menyukaimu, aku sadar bahwa lari selamanya bukan jawaban. Darahmu ada di dalam dirinya, Liam. Dan bahaya ini adalah bagian dari takdirnya yang tidak bisa kupungkiri."

Keesokan paginya, suasana Hallstatt tampak normal bagi para turis, namun bagi mata yang terlatih, desa itu telah berubah menjadi benteng. Pria-pria berjas kasual dengan alat komunikasi nirkabel di telinga mereka tampak berlalu lalang di dermaga. Liam tetap berada di radius dekat toko "Lili’s Garden".

Leo sedang asyik bermain di depan toko saat seorang pria asing dengan topi bucket mendekat, berpura-pura mengambil foto bunga. Insting Liam bekerja secepat kilat. Sebelum pria itu sempat bicara pada Leo, Liam sudah berdiri di antara mereka, matanya berkilat penuh ancaman.

"Pemandangan danau ada di sana, Tuan. Jangan arahkan kameramu pada anakku," ucap Liam dengan suara rendah yang sangat mengancam.

Pria itu tampak gugup dan segera pergi. Liam segera menggendong Leo, membawanya masuk ke dalam toko. "Kalea, tutup tokonya sekarang. Kita akan tinggal di rumah atas bukit mulai siang ini."

"Apa? Rumah atas bukit? Liam, aku punya bisnis di sini!" protes Kalea.

"Rumah itu lebih aman, Kalea. Dindingnya diperkuat, dan aksesnya hanya satu jalur yang bisa kupantau sepenuhnya. Aris baru saja mendapat laporan bahwa Clarissa terlihat di stasiun kereta Salzburg satu jam lalu. Dia sangat dekat," wajah Liam tampak sangat tegang.

Kalea melihat ketakutan di mata Liam—ketakutan yang tulus untuk keselamatan Leo. Tanpa membantah lagi, ia segera mengemasi barang-barang pentingnya. Mereka bergerak cepat menuju sebuah vila modern yang terletak tersembunyi di lereng bukit, menghadap langsung ke desa Hallstatt.

Vila itu adalah mahakarya keamanan. Dikelilingi oleh pagar tinggi dan sistem pengawasan canggih, namun tetap terlihat cantik dengan arsitektur kayu khas Austria. Di sana, Leo merasa seperti di dalam istana baru. Ia asyik menjelajahi ruang bermain yang sudah disiapkan Liam secara lengkap dengan berbagai mainan edukasi dan buku-buku.

Malam harinya, saat badai salju mulai turun menutupi jalur pendakian, suasana di dalam vila terasa sangat hangat karena perapian yang menyala. Kalea sedang memasak sup di dapur saat ia melihat Liam duduk di lantai ruang tengah, bermain balok susun dengan Leo.

"Om Liam, liat! Ini gedung tinggi kayak yang di buku!" seru Leo bangga.

Liam tersenyum, sebuah senyuman yang benar-benar mengubah wajahnya menjadi lebih manusiawi. "Bagus, Leo. Tapi kalau mau bangun gedung tinggi, fondasinya harus kuat. Sini, Om bantu pasang dasarnya."

Kalea terdiam di ambang pintu dapur, memegang sendok sayurnya. Pemandangan itu sangat ironis. Pria yang dulu membelinya seharga satu miliar, kini sedang duduk di lantai kayu, mengajari putranya tentang fondasi bangunan. Ia menyadari bahwa Liam benar-benar mencoba menebus setiap kesalahan masa lalunya.

Tiba-tiba, suara alarm pelan berbunyi dari ponsel Liam yang tergeletak di meja. Liam seketika berdiri, wajahnya berubah menjadi sangat dingin dan waspada. Ia menatap layar ponselnya.

"Aris?" Liam mengangkat telepon dengan cepat.

"Tuan, mereka sudah di kaki bukit. Tiga mobil hitam tanpa plat nomor. Mereka mencoba menerobos barikade bawah. Polisi sedang dalam perjalanan, tapi salju menghambat mereka," suara Aris terdengar terburu-buru.

Liam menatap Kalea. "Kalea, bawa Leo ke ruang aman di bawah tanah. Sekarang!"

"Liam, apa yang terjadi?" suara Kalea bergetar.

"Clarissa sudah di sini. Jangan banyak tanya, bawa Leo masuk! Jangan keluar sampai aku yang memanggilmu!" Liam berlari ke arah lemari di sudut ruangan, mengeluarkan sebuah senjata api—sesuatu yang sangat ia hindari untuk ditunjukkan di depan Leo.

Kalea segera menggendong Leo yang kebingungan. "Leo, kita main petak umpet yuk di ruang bawah? Ayo, Mama punya banyak cokelat di sana!"

Begitu pintu ruang aman yang terbuat dari baja itu tertutup, Kalea bisa mendengar suara benturan keras di luar. Suara tembakan terdengar memecah sunyinya malam Alpen, bersahutan dengan deru angin badai. Leo mulai menangis karena ketakutan.

"Sstt... jangan takut, Sayang. Ada Om Liam di luar. Om Liam itu naga yang sangat kuat, ingat?" bisik Kalea sambil memeluk Leo erat, meskipun tubuhnya sendiri gemetar hebat.

Di luar, di ruang tengah yang luas, Liam berdiri di balik pilar batu. Lampu vila sengaja dimatikan, hanya menyisakan keremangan dari api di perapian. Pintu depan hancur ditabrak, dan tiga orang pria bersenjata masuk, dipimpin oleh seorang wanita dengan jubah merah yang mencolok di tengah putihnya salju.

Clarissa.

Wajahnya tampak kurus dan cekung, namun matanya memancarkan kegilaan yang murni. Ia tertawa nyaring, sebuah tawa yang menggema mengerikan di ruangan itu.

"Liam! Keluar kau, Sayang! Aku tahu kau menyembunyikan 'harta karunmu' di sini!" teriak Clarissa sambil menembakkan senjatanya ke arah lampu kristal di langit-langit hingga hancur berkeping-keping.

"Hentikan ini, Clarissa. Kau tidak akan keluar hidup-hidup dari sini," suara Liam terdengar tenang namun mematikan dari kegelapan.

"Aku tidak peduli hidup atau mati, Liam! Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada seorang pun yang boleh! Terutama gadis rusun itu dan anak haramnya!" Clarissa memerintahkan anak buahnya untuk menyisir ruangan.

Liam bergerak seperti bayangan. Dengan kecepatan predator yang sudah terlatih, ia melumpuhkan salah satu anak buah Clarissa dengan satu tembakan akurat di kaki, lalu menyerang yang lain secara fisik. Perkelahian brutal terjadi di ruang tengah yang mewah itu. Liam bertarung bukan hanya untuk nyawanya, tapi untuk setiap detik masa depan yang baru saja ia mulai bangun bersama Kalea.

Satu per satu anak buah Clarissa tumbang. Liam berdiri di depan pintu ruang bawah tanah, melindungi akses menuju Kalea dan Leo dengan tubuhnya sendiri. Clarissa mengarahkan senjatanya tepat ke dada Liam.

"Menyingkir, Liam! Biarkan aku membunuh mereka, dan kita bisa mulai hidup baru di Rusia atau manapun!" jerit Clarissa histeris.

"Kau sudah mati sepuluh tahun lalu di hatiku, Clarissa," jawab Liam dingin. "Dan hari ini, kau benar-benar akan menghilang."

Tepat saat Clarissa hendak menarik pelatuknya, suara sirine polisi Austria menggema di seluruh lereng bukit. Pasukan khusus bersenjata lengkap masuk melalui jendela dan pintu. Clarissa yang terdesak mencoba mengarahkan senjata ke kepalanya sendiri, namun Liam lebih cepat menerjangnya, menjatuhkan senjata itu dan mengunci tangan Clarissa.

"Kematian terlalu mudah untukmu, Clarissa," desis Liam di telinga wanita itu. "Kau akan kembali ke lubang yang lebih dalam dari penjara sebelumnya. Kali ini, tanpa cahaya matahari sedikit pun."

Setelah polisi membawa Clarissa pergi, Liam jatuh terduduk di lantai yang berantakan. Napasnya terengah-engah, bahunya terluka akibat goresan peluru, namun ia segera berdiri saat teringat Kalea.

Ia berjalan menuju pintu ruang aman, mengetuknya dengan irama khusus yang ia janjikan pada Kalea. "Kalea... ini aku. Buka pintunya. Semuanya sudah selesai."

Pintu baja itu terbuka. Kalea berlari keluar, langsung menabrak dada Liam dengan pelukan yang sangat erat. Ia menangis di bahu pria itu, melepaskan semua ketakutan yang ia tahan. Leo ikut memeluk kaki Liam, meskipun ia tidak mengerti sepenuhnya apa yang terjadi.

Liam memeluk mereka berdua, mencium puncak kepala Kalea. Untuk pertama kalinya, sang predator merasa benar-benar tenang. Ia telah melindungi miliknya. Ia telah membuktikan bahwa ia bukan lagi sekadar pria yang membeli malam, tapi pria yang bersedia mati untuk hari esok mereka.

"Sudah berakhir, Kalea," bisik Liam. "Benar-benar berakhir sekarang."

Malam itu, di tengah badai salju Alpen yang mulai reda, sebuah keluarga kecil berdiri di tengah puing-puing vila yang rusak. Namun di tengah kerusakan itu, sebuah ikatan baru telah terbentuk—bukan lagi karena kontrak atau obsesi, melainkan karena pengorbanan yang nyata. Perang dengan masa lalu telah dimenangkan, dan fajar di Hallstatt esok hari akan membawa cahaya yang benar-benar baru. beb_

1
lia juliati
semoga hatinya selalu hangat oleh kalea
arilias
thor kpn cerita nya di lanjut?
arilias
masyaalloh cerita nya bagus bgt. awal awal bikin aku gregetan. dan sekarang cerita nya bikin aku penasaran sama bab selanjutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!