NovelToon NovelToon
Mawar Kota Di Mihrab Sunyi

Mawar Kota Di Mihrab Sunyi

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
​Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
​Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka di balik cemburu dan fitnah yang mewangi

Langit pesantren setelah kepergian Geral tidak lantas menjadi cerah. Ada awan abu-abu yang menggantung, bukan di langit, melainkan di wajah para santri. Kejadian Zayna menggenggam ujung sarung Gus Haidar di depan publik telah menjadi "ledakan" yang lebih dahsyat daripada suara knalpot mobil sport tadi. Di tempat di mana pandangan mata saja dijaga ketat, tindakan Zayna dianggap sebagai sebuah anomali—sebuah noda di atas kain putih tradisi.

Zayna duduk di tepi tempat tidurnya, menatap telapak tangannya sendiri. Masih ada sensasi tekstur kain sarung Haidar yang tertinggal di sana. Ia tahu ia telah melanggar batas, tapi ia tidak menyesal. Baginya, itu adalah cara satu-satunya untuk menunjukkan pada dunia—dan pada dirinya sendiri—bahwa ia telah memilih pelabuhannya.

"Mbak Zay," panggil Zoya pelan sambil membawa nampan berisi teh hangat. "Mbak Najwa memanggil semua pengurus asrama ke aula bawah. Namanya Mbak juga disebut-sebut."

Zayna mendongak, matanya yang biasa bersinar nakal kini tampak waspada. "Untuk apa? Mau merayakan keberhasilanku mengusir monster kota tadi?"

Zoya menggeleng cemas. "Sepertinya bukan, Mbak. Suasananya tegang sekali. Mbak Najwa bilang ada 'virus' yang harus segera dikarantina sebelum merusak akhlak santriwati lain."

Zayna tersenyum getir. "Virus, ya? Oke, mari kita lihat seberapa kuat imun mereka menghadapi virus sepertiku."

Aula bawah sudah penuh sesak. Najwa berdiri di depan, wajahnya tampak seperti pualam yang dingin—indah namun tak tersentuh. Saat Zayna masuk, bisik-bisik yang tadinya riuh mendadak senyap, seolah-olah seorang terdakwa baru saja memasuki ruang sidang.

"Terima kasih sudah datang, Mbak Zayna," ucap Najwa, suaranya jernih dan tenang, namun setiap katanya terasa seperti sembilu. "Kami di sini sedang merenungkan kejadian tadi siang. Pesantren Al-Fatih bukan tempat untuk mempertontonkan adegan drama kota. Tindakan Mbak yang menyentuh barang pribadi Gus Haidar di depan umum adalah sebuah penghinaan terhadap kesucian ilmu yang kami pelajari di sini."

Zayna berdiri tegak, tangannya bersedekap. "Penhinaan? Saya cuma melindungi orang yang saya... yang menjadi tanggung jawab saya dari orang gila yang mau bikin onar. Apa itu salah?"

"Melindungi?" Najwa tertawa tipis, suara tawanya kering. "Atau justru Mbak sengaja memanggil pria itu ke sini agar Mbak punya alasan untuk memancing perhatian Gus Haidar? Kita semua tahu siapa Mbak Zayna sebelum datang ke sini. Seorang sosialita yang terbiasa dikelilingi pria. Bagaimana kami tahu kalau pria tadi bukan 'skenario' yang Mbak susun sendiri?"

Dada Zayna bergemuruh. "Jaga bicaramu, Najwa! Aku mungkin bukan santriwati teladan, tapi aku nggak serendah itu untuk menjadikan tempat ini sebagai panggung sandiwara!"

"Lalu bagaimana dengan surat ini?" Najwa mengangkat sebuah amplop berwarna merah jambu yang harumnya sangat menyengat—sangat identik dengan parfum yang dipakai Zayna saat pertama kali datang. "Salah satu santri menemukannya di dekat gerbang setelah mobil itu pergi. Isinya sangat menarik. Undangan untuk menjemput, lengkap dengan peta lokasi pesantren. Tertulis nama 'Zayna' di bawahnya."

Zayna ternganga. "Itu bukan punya saya! Saya nggak pernah kirim surat ke Geral! Saya bahkan nggak tahu dia tahu alamat ini dari mana!"

"Bukti sudah bicara, Mbak Zayna," Najwa menatap santriwati lain dengan pandangan prihatin yang dibuat-buat. "Mbak adalah duri yang sengaja ditanam untuk menguji kesabaran Gus kita. Keberadaan Mbak di sini hanya akan membawa fitnah bagi nama baik Ndalem."

Zayna merasa dunianya runtuh. Ia menoleh ke arah teman-temannya, namun mereka semua menunduk. Bahkan Zoya hanya bisa menangis diam-diam. Di tengah keputusasaan itu, sebuah bayangan muncul di pintu aula.

Gus Haidar berdiri di sana. Wajahnya pucat, mungkin karena sisa demam semalam, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan.

"Hentikan semua ini," suara Haidar rendah, namun sanggup membungkam seluruh ruangan.

Najwa segera menunduk takzim. "Gus, kami hanya sedang mencoba menjaga marwah pesantren. Zayna telah membawa fitnah—"

"Fitnah itu datang dari hati yang keruh, Najwa, bukan dari selembar kertas yang bisa dipalsukan oleh siapa saja," Haidar melangkah masuk, berhenti tepat di tengah-tengah antara Najwa dan Zayna. Ia tidak melihat ke arah Zayna, namun posisinya jelas-jelas melindungi.

Haidar mengambil surat merah jambu itu dari tangan Najwa, lalu tanpa membacanya, ia merobek kertas itu menjadi kepingan kecil.

"Saya yang memberi tahu Ayah Zayna tentang keberadaannya di sini secara detail. Dan saya juga yang tahu betul siapa yang tadi siang datang untuk mengacau," ucap Haidar bohong—sebuah kebohongan putih demi melindungi wanita yang dicintainya. "Jika ada yang harus disalahkan atas kegaduhan hari ini, maka itu adalah saya. Karena saya yang belum cukup kuat menjaga gerbang ini dari debu luar."

Najwa gemetar. "Tapi Gus... dia menyentuh sarung Gus..."

"Sarung itu hanyalah kain, Najwa," potong Haidar dengan nada puitis yang tajam. "Namun niat di balik tindakan itu adalah pelindung yang tulus. Saya lebih menghargai kejujuran yang meledak-ledak daripada kesantunan yang menyimpan racun di balik lidahnya."

Haidar kemudian berbalik ke arah Zayna. Untuk pertama kalinya, ia menatap Zayna cukup lama di depan semua orang. Ada pesan di matanya: Sabar, badai ini belum usai.

"Kembalilah ke kamar, Zayna. Berwudulah. Biarkan air menghapus panas di hatimu. Dan bagi kalian semua," Haidar menatap seluruh santriwati, "Kembalilah mengaji. Jangan biarkan lidah kalian menjadi jembatan bagi setan untuk merusak persaudaraan."

Malam itu, Zayna tidak bisa tidur. Ia pergi ke serambi masjid, tempat yang kini menjadi tempat favoritnya untuk merenung. Ia menemukan Haidar sedang duduk di sana, menatap bulan sabit yang bergantung di langit.

Zayna duduk di tangga, cukup jauh. "Gus... kenapa Gus bohong tadi? Gus nggak tahu siapa yang kirim surat itu, kan?"

Haidar tersenyum tipis ke arah langit. "Dalam perang, terkadang kita harus menjadi tameng bagi orang yang paling berharga, meskipun kita sendiri harus terluka oleh anak panah fitnah."

"Tapi Najwa benar, Gus. Saya cuma bikin masalah. Saya nggak punya hafalan, saya nggak punya adab..."

"Zayna," Haidar memotong dengan suara yang sangat lembut, seperti desau angin di antara celah bambu. "Bulan itu tidak perlu berusaha menjadi bintang untuk terlihat indah. Dia punya fasenya sendiri. Kadang redup, kadang purnama. Begitu juga kamu. Kamu tidak perlu menjadi Najwa untuk terlihat berharga di mata saya. Cukup jadilah Zayna yang jujur, yang berani mencuci sarung saya meski hasilnya rusak."

Zayna tertawa di sela isak tangisnya. "Gus mah, malah bahas sarung lagi!"

"Karena di balik serat sutra yang rusak itu, saya melihat hati yang tulus mencoba belajar," Haidar berdiri. "Istirahatlah. Besok, kita mulai bab baru. Bukan bab sabar, tapi bab Mahabbah (Cinta). Dan saya harap, kamu tidak akan pernah bosan mengeja maknanya bersama saya."

"Zayna menatap punggung Haidar yang menjauh. Ia tahu, Najwa tidak akan tinggal diam. Surat itu hanyalah permulaan. Namun di bawah cahaya bulan, Zayna tidak lagi merasa takut. Jika gunung di depannya sudah bersedia menjadi tameng, maka ia akan belajar menjadi akar yang menguatkan pijakannya."

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Kutu Buku
udah Tamat Aj Thor Pdhal Baru beberapa hari aj aku Ndak baca🤣🤣🤣🤣, jngan tamat laa Thor lanjut lagi season 2 nya, trus Critanya Jngan Di percepat Thor Mnimal ada flotwistnya, ada adengan ngidam aneh2 atau apa gtuu🤭🤭🤭🤭 baru nikah udah lgsung hamil dan mlhirkan
Kutu Buku: pada Umumnya Orang EMG Gtuu Thor, TPI Yang Ada plotwishnya, Ada Romance, trus Di Barengen dengan komidi itu lbih Seruu Thor Dan akan membuat para pembaca Pnsran, Shingga Crtanya gag gampangg Ktbak mau happy Ending Atau SAD.
Semangat Aj Thor pokoknya
total 1 replies
Kutu Buku
bljar dari mana Thor Mrangkai Kata2?
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
Isti Mariella Ahmad: Belajar sendiri dan belajar dari teman juga
total 1 replies
Kutu Buku
aku Mau Baca In Aj
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,

yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
Isti Mariella Ahmad: banyak nanti aku spil y
total 3 replies
Kutu Buku
thorr Thanks banget laa pokoknya 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
udah banyak Up Hari in
Kutu Buku
jahat Banget Drmuu Thor,
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
Kutu Buku
mksih Thor Udah Up banyak Hari In,
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
Kutu Buku
Allah Thor Skit kali 🤭🤭🤭🤭
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp
Isti Mariella Ahmad: /Hammer/
total 1 replies
Kutu Buku
mksih Thor sangat panjang Babnya
Kutu Buku
mgkin Aku Bcanya terlalu buru2, sampai aku mengira Bab nya Sdkit
Kutu Buku: Ea laa Thor aku hanya just kidding aj🤭🤭🤭 Bsok2 aku baca ngija aj laa biar lamaa
total 2 replies
Kutu Buku
makin ke Sini Mkin Seruu aj, thank's udah BKIN novel SE kece In thor
Kutu Buku
Kayaknya Baru Tarik Nafas masak Ea Udah habis Babnya
Isti Mariella Ahmad: 🤣 staytune ya, aku tambah besok deh
total 1 replies
Kutu Buku
Thank's udah Di panjangin Thor Babnya 👍👍
Isti Mariella Ahmad: komen terus say biar semangat up nya
total 1 replies
Kutu Buku
menarik Untuk Di Baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!