NovelToon NovelToon
Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horror Thriller-Horror
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.

Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.

Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Bayangan Dijendela

Hujan berhenti menjelang subuh, tetapi ketenangan yang tersisa justru terasa lebih menakutkan. Rina duduk di sudut ruang tamu, tubuhnya diselimuti selimut tipis, mata tak berkedip menatap jendela. Kaca jendela itu masih basah, penuh garis air yang mengalir seperti urat nadi.

Ritual semalam gagal. Dan ia tahu, kegagalan itu dipantau.

Rumah terasa berbeda. Dinding yang biasanya diam kini seperti bernapas. Jam dinding berhenti tepat pukul 03.17, waktu yang sama dengan nama terakhir yang salah ia tulis di tanah basah.

Rina berdiri perlahan, melangkah ke jendela.

Di balik kaca yang buram, ada bayangan.

Bukan pantulan dirinya.

Bayangan itu berdiri diam, bentuknya menyerupai manusia, tapi terlalu tinggi, terlalu kurus. Kepalanya miring, seolah sedang menatap langsung ke mata Rina. Tidak ada wajah—hanya gelap yang bergerak pelan.

Rina mundur selangkah.

Bayangan itu ikut mundur.

Ia menahan napas. Ketika hujan mulai turun lagi, pelan, tulisan muncul di embun kaca jendela.

KENAPA SALAH MENULIS NAMAKU?

Jantung Rina nyaris berhenti.

Tangannya gemetar, menyentuh kaca. Sentuhan itu dingin—lebih dingin dari udara malam. Saat ia menarik tangannya, embun menghilang… tapi bayangan masih ada.

“Maaf…” bisiknya, suaranya hampir tak terdengar.

“Aku… aku tidak tahu…”

Bayangan itu bergerak lebih dekat ke kaca. Perlahan, bentuknya berubah—sekarang menyerupai seorang pria muda, pakaiannya lusuh, rambutnya basah oleh hujan yang tak pernah berhenti.

Mulutnya terbuka, tapi suara itu muncul langsung di kepala Rina.

Kau menulis namaku terbalik. Kau menghapus keberadaanku. Sekarang aku tak bisa kembali.

Lampu rumah berkedip. Satu per satu mati.

Rina berlari ke kamar, mengunci pintu, punggungnya menempel ke kayu yang bergetar pelan—seperti ada sesuatu di baliknya. Dari luar kamar, terdengar suara langkah kaki… pelan… basah… meninggalkan jejak air.

Langkah itu berhenti tepat di depan pintu.

Ketukan terdengar.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

“Rina…”

Suara itu lirih, seperti berasal dari tenggorokan yang penuh lumpur.

“Tuliskan aku… dengan benar…”

Air merembes dari bawah pintu. Bukan air hujan—lumpur hitam, bergerak sendiri, membentuk huruf-huruf di lantai kamar.

NAMA ITU.

Nama yang ia salah tulis.

Rina terisak. Ia tahu sekarang: arwah yang salah ditulis tidak hanya tersesat—mereka terjebak di antara dunia, dan kemarahan mereka menjadi paling berbahaya.

Dengan tangan gemetar, ia mengambil buku catatan ritual, membuka halaman kosong, dan mulai menulis nama itu perlahan—huruf demi huruf, dengan ejaan yang benar.

Saat huruf terakhir selesai, ketukan berhenti.

Langkah kaki menjauh.

Lampu kamar menyala kembali.

Namun sebelum semuanya benar-benar sunyi, suara itu berbisik sekali lagi, tepat di telinga Rina:

Terima kasih… tapi masih banyak nama yang menunggu…

Rina terduduk lemas.

Di luar, hujan turun lagi.

Dan di tanah halaman rumahnya, nama baru mulai muncul sendiri.

Baik… kita lanjut ke Bab 12. Di bab ini, teror mulai kehilangan batas antara benda mati dan makhluk gaib. Buku bukan lagi alat—ia menjadi penghubung.

***

Pagi datang tanpa matahari.

Langit menggantung rendah, kelabu, seolah desa itu dikurung di dalam kain kafan raksasa. Rina tidak tidur semalaman. Ia duduk di lantai kamar, memeluk lutut, menatap buku ritual yang tergeletak terbuka di depannya.

Ia yakin sudah menutupnya.

Namun kini, halaman itu terbuka sendiri.

Perlahan—sangat pelan—huruf-huruf mulai muncul di atas kertas yang kosong. Bukan dengan tinta, melainkan dengan air tanah, basah, menghitam, dan menetes seperti darah encer.

Rina mundur, punggungnya menyentuh dinding.

Tulisan itu berhenti.

Beberapa detik kemudian, halaman berbalik sendiri.

Dan tulisan baru muncul.

KAU TERLAMBAT.

Napas Rina tercekat. Ia tidak menyentuh buku itu sama sekali.

Tangannya gemetar saat ia mendekat. Setiap kali ia membaca satu kalimat, kepalanya dipenuhi gambaran yang bukan miliknya—kuburan lama, hujan deras, tubuh-tubuh dikubur tergesa-gesa di tanah basah tanpa doa.

Buku itu bukan mencatat ritual.

Ia merekam ingatan arwah.

Rina menyadari satu hal mengerikan: buku ini tidak pernah kosong. Ia hanya menunggu orang yang bisa mendengarnya.

Halaman berikutnya terbuka.

TULISAN PERTAMA DIBUAT SAAT HUJAN TIDAK BERHENTI SELAMA TUJUH MALAM.

Gambar muncul di benaknya—desa yang sama, tapi puluhan tahun lalu. Orang-orang berkumpul di balai desa, wajah mereka panik, lumpur setinggi betis. Mayat-mayat tak sempat dikuburkan layak.

Seorang pria berdiri di tengah kerumunan. Tangannya memegang tongkat kayu, wajahnya penuh ketakutan… dan keputusasaan.

IA MENULIS UNTUK MENGURANGI JUMLAH MEREKA.

Rina menutup mulutnya.

“Bukan untuk menenangkan…” bisiknya.

“Tapi untuk… memilih.”

Halaman itu bergetar, lalu tulisan baru muncul lebih besar, lebih kasar.

SETIAP NAMA YANG DITULIS ADALAH SATU ARWAH YANG DITINGGALKAN.

Air menetes dari buku ke lantai, membentuk simbol yang sama dengan simbol ritual gagal Rina malam itu. Tiba-tiba, dinding kamar dipenuhi bayangan—arwah-arwah berdiri tanpa suara, wajah mereka kosong, mata mereka hitam.

Salah satu dari mereka melangkah maju.

Seorang wanita tua dengan rambut panjang menutupi wajahnya. Ketika ia mengangkat kepala, matanya berlubang, namun air mata lumpur mengalir tanpa henti.

“Kami tidak ditenangkan…” suaranya parau.

“Kami dipilih untuk dilupakan.”

Rina menangis.

“Bagaimana menghentikannya?” tanyanya gemetar.

“Apa yang harus kulakukan?”

Buku itu menutup sendiri.

Lalu terbuka lagi… pada halaman terakhir.

Tulisan muncul perlahan, seperti ditulis oleh tangan yang sangat lelah.

HANYA SATU YANG BISA MENUTUP KUTUKAN INI.

ORANG TERAKHIR YANG MENULIS.

Hujan kembali turun, lebih deras dari sebelumnya.

Rina menatap tangannya sendiri—tangan yang telah menulis nama arwah, tangan yang kini mulai berlumur lumpur meski ia berada di dalam rumah.

Ia sadar dengan ngeri:

desa ini tidak membutuhkan penyelamat. Desa ini membutuhkan pengganti.

Dan buku itu… telah memilihnya.

1
anggita
woouu serem juga😯. like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!