Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Matahari, Baja, dan Es Abadi
Lokasi: Permukaan Laut Banda.
Waktu: 13.55 WIT.
BYUUUURRRR!!!!
Air laut meledak ke udara setinggi belasan meter.
Kapal selam Baruna-01 menembus permukaan Laut Banda bagaikan paus bungkuk mekanis yang melompat mencari udara. Momentum dari Emergency Blow membuat kapsul titanium seberat puluhan ton itu sempat mengudara selama dua detik penuh sebelum kembali terbanting keras ke atas ombak.
BLAAAMM!! Guncangang pendaratan itu melempar Dimas dan Sarah ke depan, tertahan keras oleh sabuk pengaman lima titik mereka. Kaca viewport akrilik yang sudah retak parah menjerit merespons benturan tersebut, namun keajaiban teknik (dan mungkin sedikit sisa doa pelindung Dimas) membuat kaca itu tetap utuh. Tidak ada air yang masuk.
Di luar jendela yang dipenuhi buih putih, cahaya matahari tropis yang terik menyilaukan mata mereka.
Bagi orang awam, itu hanyalah sinar matahari siang. Tapi bagi Dimas dan Sarah yang baru saja lolos dari penghapusan eksistensi di kegelapan 7.400 meter di bawah laut, cahaya itu adalah pelukan Tuhan yang paling hangat.
“Kita di atas,” napas Sarah terengah-engah, suaranya parau karena tenggorokannya kering. Air mata kelegaan membasahi pipinya yang cemong. “Dim… kita lihat matahari.”
Dimas bersandar lemas di kursinya, melepaskan sabuk pengamannya dengan tangan kiri yang gemetar. Ia menoleh ke arah istrinya, tersenyum lebar menahan perih di sekujur tubuhnya.
“Pemandangan terbaik yang pernah kulihat seumur hidup, Bu Dok,” bisik Dimas. “Selain kamu, tentunya.”
Sarah tertawa pelan, tawa yang lepas dan tanpa beban. Ia menekan radio komunikasi.
“Permukaan, ini Baruna-01. Kami sudah kembali ke dunia orang hidup. Minta penjemputan segera sebelum kaca kapal ini memutuskan buat nyerah.”
Suara statis di radio pecah, digantikan oleh sorakan riuh puluhan kru dari geladak kapal RV Nusantara.
“Baruna-01, ini kontrol Permukaan! Syukurlah kalian selamat! Kami melihat kalian di radar. Kapal penyelamat sedang meluncur!!”
Sepuluh menit kemudian, kait deret baja berdentang mengunci bagian atas Baruna-01. Kapal selam kuning yang kini penyok dan dipenuhi goresan itu diangkat perlahan ke atas geladak RV Nusantara.
Begitu palka atas di buka, hawa panas Laut Banda dan bau garam laut yang segar langsung menyerbu masuk ke dalam kabin.
Tim medis BPCBAN sudah menunggu di luar. Dimas dan Sarah dibantu memanjat keluar dari palka. Mereka disambut sorakan tepuk tangan dari para teknisi dan ilmuwan kelautan yang tidak tahu persis monster apa yang baru saja dikalahkan, tapi tahu bahwa pasangan itu baru saja mencetak sejarah penyelaman.
Di ujung geladak, Arya Baskara berdiri melipat tangan di dada. Ia mengenakan kacamata hitam aviator, berusaha menyembunyikan kelegaannya yang luar biasa melihat adiknya kembali dengan anggota tubuh yang lengkap.
Dimas tertatih-tatih mendekati Kakaknya, tangan kirinya menggenggam erat sebuah silinder logam. Benda itu adalah Gunting Lemuria.
Silinder yang tadinya berwarna perak kusam kini berwarna merah menyala dan berdenyut perlahan, terasa hangat saat disentuh. Di dalamnya, Sang Penenun—entitas kosmik pembengkok dimensi—telah dikompresi dan dikunci paksa dalam ruang hampa mekanis.
Dimas meletakkan silinder itu ke dalam kotak berlapis Lead-Lined (timbal anti radiasi) yang dibawa oleh Arya.
“Lo berdua bener-bener gila,” gumam Arya, menutup kotak itu dengan cepat dan mengunci tuas bajanya. “Gue nyuruh lu berdua ke bawah laut buat investigasi, bukan buat ngebungkus benda kiamat ke dalam botol minum.”
“Kami nggak punya pilihan, Mas,” sahut Sarah yang sedang diperiksa matanya oleh dokter menggunakan senter kecil. “Kalau makhluk itu nggak kami bawa naik dalam kotak ini, makhluk itu bakal ngerajut ulang Nusantara jadi lautan darah tanpa gravitasi. Secara harfiah.”
Arya menatap kotak timbal di tangannya. Meski sudah dikunci tebal, ia masih bisa merasakan aura yang sangat berat dan memualkan memancar dari benda tersebut.
“Divisi Riset nggak akan berani nyentuh benda ini,” putus Arya. “Gue bakal bawa ini langsung ke Fasilitas OMEGA di bawah Gunung Salak. Tempat pembuangan artefak tingkat Dewa. Benda ini bakal dikubur di bawah seratus meter beton dan ditunggui sampai puluhan praktisi spiritual 24 jam sehari.”
Arya menepuk bahu Dimas. “Tugas kalian di laut udah selesai. Pulanglah ke Depok. Tidur yang lama.”
Satu Bulan Kemudian.
Lokasi: Safe House BPCBAN (Apartemen Dimas & Sarah), Depok, Jawa Barat.
Waktu: 20.00 WIB.
Hujan badai yang sering melanda Depok malam itu mengetuk-ngetuk jendela kaca apartemen lantai 15. Suasana di dalam ruangan sangat kontras dengan cuaca di luar; hangat, tenang, dan dipenuhi aroma semur daging buatan Dimas.
Dimas sedang mencuci piring di dapur. Lengan kanannya sudah terbebas dari perban medis, meski luka keloid kehitamannya akan menjadi souvenir permanen seumur hidupnya.
Di ruang tengah, Sarah sedang duduk bersila di atas karpet berbulu tebal, memangku laptopnya. Ia sedang menyusun laporan akhir ekspedisi Palung Weber untuk diarsipkan kedalam basis data rahasia BPCBAN.
“Jadi,” panggil Dimas dari arah dapur, mengelap tangannya dengan serbet. “Kalau Saranjana adalah gerbangnya, Jakarta adalah sistem radarnya, dan Palung Weber adalah penjaranya… menurutmu Lemuria masih ninggalin infrastruktur lain di Indonesia?”
Sarah menghentikan ketikannya. Ia menatap layar monitor dengan pandangan menerawang.
“Logika teknik sipil, Dim. Kalau kamu membangun penjara bawah air berukuran masif untuk mengurung dewa… kamu butuh sumber energi yang nggak terbatas untuk menjaga segelnya tetap aktif selama belasan ribu tahun. Sesuatu yang lebih besar dari sekedar reaktor Gunung Padang.”
Sarah memanggil sebuah peta topografi satelit Nusantara ke layar utamanya.
“Energi geotermal, pergerakan lempeng tektonik, arus laut… Lemuria menggunakan alam Nusantara sebagai mesin mereka,” analisis Sarah. “Tapi ada satu titik ekstrem di Indonesia yang belum kita sentuh.”
BIP.
Tiba-tiba, tablet khusus BPCBAN milik Sarah yang tergeletak di atas meja kopi berkedip merah. Notifikasi darurat tingkat tinggi.
Dimas langsung berjalan mendekat, insting Archivist-nya menajam. Ketenangan sebulan terakhir ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
“Pesan dari Mas Arya?”tanya Dimas, duduk di sebelah istrinya.
Sarah membuka pesan terenkripsi tersebut. Layar menampilkan citra satelit dari sebuah pegunungan berbatu yang tertutup salju tebal.
“Ini dari stasiun pemantau iklim Badan Meteorologi di Papua,” Sarah membaca laporan yang terlampir, matanya membesar.
“Puncak Jaya. Carstensz Pyramid,” Dimas mengenali bentang alam tertinggi di Oceania tersebut. Gunung yang puncaknya diselimuti es abadi, tempat di mana tidak ada manusia purba yang seharusnya bisa hidup.
“Glester abadi di Puncak Jaya mencair dengan kecepatan anomali dalam tiga hari terakhir,” Sarah membacakan baris laporannya, suaranya kembali tegang. “Bukan karena pemanasan global. Gletser itu mencair dari dalam ke luar. Ada sumber panas masif yang tiba-tiba aktif di bawah lapisan es setebal lima puluh meter.”
Sarah menekan tombol putar pada lampiran video drone,
Drone milik tim peneliti cuaca merekam sebuah retakan raksasa di dinding es Puncak Jaya. Dari dalam retakan es biru yang mencair itu, terlihat sebuah struktur logam raksasa yang tidak tertutup salju sama sekali.
Struktur itu bukanlah piramida kristal khas Lemuria. Warnanya bukan hitam obsidian.
Struktur itu terbuat dari paduan logam emas dan perak yang bersinar terang benderang, dengan ukiran aksara yang sama sekali berbeda dari apa pun yang pernah dilihat Dimas.
“Itu… bukan Lemuria,” bisik Dimas merinding. “Arsitekturnya… terlalu simetris. Terlalu sempurna. Ini peninggalan dari zaman yang jauh lebih tua dari Lemuria. Zaman di mana es ini belum terbentuk.”
Di akhir video drone tersebut, terdengar sebuah suara dengungan frekuensi tinggi yang membuat kamera drone mengalami glitch hebat sebelum akhirnya mati total.
Sarah menatap Dimas. Laptop di pangkuannya tiba-tiba terasa sangat berat.
“Dim,” kata Sarah pelan. “Kalau Lemuria yang ngebangun penjara di laut dalam aja butuh naga mesin sama Gunting pengurai realita… peradaban apa yang ngebangun istana emas di bawah es abadi Papua?”
“Dan pertanyaan yang lebih penting,” Dimas membalas tatapan istrinya, kilat petualangan kembali menyala di matanya. “Apa yang bikin es itu mencair sekarang? Apa yang baru aja di bangun di atas sana?”
Kamera fiktif menjauh dari wajah mereka, keluar menembus jendela apartemen Depok yang dilanda hujan, terbang melesat menyeberangi lautan luas Nusantara menuju timur jauh. Menuju pegunungan tertinggi yang tertutup salju abadi, tempat di mana sebuah pintu emas raksasa perlahan-lahan mulai terbuka, mengeluarkan uap panas ke udara beku.