"Legend of kultivator" Bangkitnya tujuh penguasa langit.
"Satu dendam menyatukan mereka.Tujuh kekuatan akan mengguncang semesta".
Dunia kultivator sedang diambang perubahan besar.Pejabat korup yang dulu menghancurkan keluarga Lin mungkin merasa aman diatas singgasananya,namun mereka tidak menyadari bahwa badai sedang datang ke arah mereka.Bukan cuma satu,melainkan tujuh sosok legendaris yang dipersatukan takdir dan persahabatan.
Dipimpin oleh dua saudara sepupu yang berwajah identik,faksi baru ini muncul untuk menghakimi ketidakadilan :
• Jian Feng : Sang reinkarnasi seorang Kaisar dengan Darah Naga Dan Tinju Naga yang mampu menghancurkan langit.
•Ling Chen : Pemilik tubuh surgawi sang maestro pedang yang membelah kegelapan dengan cahaya suci.
Dibelakang mereka berdiri Lima sekutu yang tak kalah mengerikan :
• Zi Yan (Sang penawar maut)
• Xue Li & Mei'er (Duo Kegelapan)
• Shen Long & Qing Long (Naga hitam & Naga Air)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Segel Air Terjun Dan Sang Penjaga Sukma
Suara gemuruh air terjun di luar gua seolah meredam detak jantung mereka. Di dalam remang cahaya obor, altar kuno itu bergetar hebat di bawah jemari Zi Yan yang lincah memanipulasi simbol-simbol terlarang.
"Zi Yan, hentikan! Energi ini terlalu liar!" seru Qing Long, sisik di lengannya berdiri tegak, merasakan tekanan hawa murni yang menyesakkan.
Zi Yan tidak bergeming, matanya memantulkan cahaya ungu dari altar. "Ini bukan sekadar pintu, Qing Long. Ini adalah kunci menuju asal-muasal kegelapan yang kau takuti."
Tiba-tiba, portal di tengah altar membelah udara dengan bunyi dentuman yang memekakkan telinga. Jian Feng yang tadi mencoba mencicipi buah liar di sakunya, langsung tersedak dan menghunus pedangnya saat merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Tidak ada yang tertawa; tekanan energi di ruangan itu membuat oksigen seolah menghilang.
Dari dalam pusaran cahaya perak yang stabil, sesosok bayangan mulai memadat. Ia melangkah keluar dengan keanggunan seorang dewi. Rambut hitamnya panjang menjuntai hingga menyentuh lantai gua, bergerak-gerak seolah memiliki nyawa sendiri di tengah ketiadaan angin.
Wanita itu membuka matanya—sepasang netra yang jernih namun sedingin es abadi. Jubah putihnya yang dihiasi sulaman perak kuno memancarkan aura suci yang membuat Tubuh Surgawi Ling Chen bergetar hebat.
"Siapa yang berani mengusik tidur panjang sang Penjaga Gerbang?" suara wanita itu lembut, namun getarannya membuat dinding gua retak halus.
Ling Chen melangkah maju, tangannya memberi isyarat agar yang lain tetap di posisi. "Aku Ling Chen, pembawa amanat Tetua Langit. Kami kemari untuk mencari kebenaran tentang kekuatan gelap yang mengancam dunia."
Wanita itu menatap Ling Chen, lalu beralih pada Zi Yan dan Qing Long. Sebuah senyuman tipis yang penuh teka-teki muncul di bibirnya. "Amanat? Ataukah kalian hanya bidak yang dikirim untuk membuka kotak Pandora yang seharusnya tetap tertutup?"
Zi Yan membungkuk hormat, namun sorot matanya tetap tajam. "Lama tidak berjumpa, Dewi Yue Niang. Aku kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kaum naga."
Suasana di dalam gua mendadak menjadi sangat mencekam. Pertemuan antara penjaga kuno, pengkhianat masa lalu, dan pewaris tubuh surgawi ini baru saja memulai babak baru yang lebih berbahaya.
Dewi Yue Niang melayang setinggi satu jengkal dari lantai gua, jubah peraknya berpendar lembut seolah menyerap cahaya obor di sekelilingnya. Matanya yang sedalam samudra kini terpaku pada dada Ling Chen—tempat di mana jantung Tubuh Surgawi itu berdetak.
"Amanat Tetua Langit bukanlah jaminan kau akan keluar dari sini dengan napas yang utuh, Ling Chen," ucap Yue Niang, suaranya kini terdengar seperti ribuan lonceng perak yang berdenting pelan. "Kuil ini hanya menerima mereka yang sukmanya lebih keras dari baja, dan hatinya lebih murni dari air terjun di luar sana."
Tiba-tiba, Yue Niang mengangkat tangan kanannya. Butiran air dari dinding gua mulai melayang, membentuk ribuan jarum es yang tajam dan berkilat di udara. Hawa dingin yang luar biasa mendadak membekukan napas mereka.
"Zi Yan, Qing Long... menjauhlah!" seru Ling Chen. Ia merasakan getaran hebat dari dalam tulang rusuknya. Emas murni mulai merambat di permukaan kulitnya, membentuk pelindung alami yang menyilaukan.
Jian Feng yang biasanya paling cepat mengeluh soal perut lapar, kini hanya bisa terdiam membeku, tangannya mencengkeram erat hulu pedangnya. "Ling Chen... energi wanita ini... dia bukan manusia biasa!"
Yue Niang menatap Ling Chen dengan saksama. "Tunjukkan padaku, wahai pewaris penghancur Tiga Alam. Apakah kau seorang pahlawan yang dikirim langit, ataukah hanya monster lain yang sedang menunggu waktu untuk lahir?"
Dengan satu jentikan jari, ribuan jarum es itu melesat ke arah Ling Chen bagaikan badai yang tak terelakkan. Ruangan gua itu meledak dalam cahaya perak dan emas yang membentur satu sama lain, menciptakan guncangan yang meruntuhkan stalaktit dari langit-langit.
Ling Chen berdiri tegak di tengah badai es tersebut, matanya kini telah berubah menjadi emas sepenuhnya. Inilah ujian pertamanya—ujian untuk membuktikan bahwa kekuatannya adalah untuk melindungi, bukan sekadar untuk menghancurkan.
Di balik tirai es yang pecah, Yue Niang tersenyum tipis. "Menarik... mari kita lihat seberapa jauh kau bisa bertahan."
BERSAMBUNG...
Lanjjjjooootttt