Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
******
Keesokan harinya, pagi yang tenang menyelimuti rumah besar itu. Calista menjalani harinya seperti biasa—dipenuhi kesepian dan kebosanan yang perlahan menggerogoti. Untuk mengusir perasaan itu, ia memutuskan melakukan sesuatu yang sudah ia lakukan beberapa hari ini.
Memasak.
Di dapur, Calista sudah bersiap. Ia mengenakan celemek sebatas paha yang bentuknya menyerupai dress—memberikan kesan manis dan anggun sekaligus. Rambut pendeknya yang mulai tumbuh agak panjang ke bawah diikat sederhana, memperlihatkan wajahnya yang bersih tanpa riasan.
“Bahan-bahannya lengkap… sepertinya cukup untuk membuat cookies dan beberapa loyang brownies cokelat,” gumamnya pelan sambil mengangguk kecil.
Padahal semalam, ia hanya sekadar bertanya pada kepala pelayan apakah ada stok bahan kue di dapur. Ia tidak menyangka, pagi ini semua sudah disiapkan dengan rapi. Bahkan dapur dibiarkan kosong, tanpa satu pun pelayan.
Memang, Calista pernah meminta agar dapur dikosongkan setiap kali ia ingin memasak. Ia ingin menikmati proses itu sendiri—tanpa gangguan, tanpa bantuan.
Lebih tenang. Lebih bebas.
Kini, kedua tangannya sibuk mengaduk adonan red velvet cookies—varian favoritnya sejak kecil. Dulu, ibunya sering membuatkannya. Aroma manis yang khas selalu berhasil membuatnya tersenyum, bahkan di hari terburuk sekalipun.
Ting!
Suara oven listrik berbunyi, menandakan cookies pertama telah matang.
Senyum lebar langsung terukir di wajah Calista saat aroma harum memenuhi seluruh dapur.
“Harumnya…”
Tanpa menunggu lama, ia mengambil satu cookies yang masih hangat, uap tipis masih terlihat mengepul. Dengan sedikit ragu, ia menggigitnya.
Matanya langsung melembut. “Enak… seperti buatan Ibu…”
Dadanya terasa sesak. Kenangan lama yang ia coba kubur perlahan muncul ke permukaan. Sosok ibunya, tawa hangat itu, dapur kecil yang penuh cinta…
Calista menunduk, menggenggam erat cookies di tangannya.
Ia ingin menangis.
Namun, ia menahannya. Kuat-kuat.
Ia tidak ingin kembali tenggelam dalam kenangan, meskipun itu indah.
Perlahan, ia menarik napas panjang. Lalu mengangkat wajahnya kembali, memaksakan senyum tipis di bibirnya.
“Sekarang bukan waktunya sedih…”
Dengan cepat, ia kembali sibuk. Tangannya bergerak lincah menyiapkan adonan berikutnya. Brownies cokelat menjadi pilihan selanjutnya.
Cairan cokelat pekat ia tuang perlahan ke dalam adonan, menciptakan aroma yang semakin menggoda. Sesekali ia mengaduk, sesekali mencicipi, memastikan rasanya pas.
Dapur yang semula sunyi kini terasa hidup.
Hanya dengan suara adukan, dentingan alat masak, dan napas pelan Calista.
Beberapa waktu kemudian, loyang brownies masuk ke dalam oven. Sementara menunggu, Calista menata cookies yang sudah matang ke dalam piring cantik.
Ia memperhatikan hasil buatannya.
Rapi. Cantik. Menggugah selera.
Calista kembali mencicipi red velvet cookies, mengunyah dengan perlahan-lahan— seraya ingin meresapi kenangan indah di masa lalu bersama orangtuanya, walau tadi ia berusaha untuk melupakannya.
Saking fokusnya, ia bahkan tidak menyadari kehadiran seseorang yang memasuki dapur dan tiba-tiba saja memeluk tubuhnya dari belakang.
"Kangen.... "
Calista yang tengah melamun, sontak tersentak kaget saat merasakan pelukan erat di perutnya dan hembusan napas panas di leher jenjangnya.
"Damar....?"
"Hm, aku kangen sekali dengan mu, istriku. Tidak bertemu dengan mu beberapa hari ini membuatku sedikit frustasi. " Damar semakin mengeratkan pelukan, perut Calista ia elus pelan.
Calista membalikkan badannya, dan membalas pelukan. "Aku juga kangen kamu, kangen sekali. "
Keduanya hanyut dalam pelukan erat menyalurkan rasa rindu membara di hati.
Ting!
Suara oven listrik yang berbunyi membuyarkan kesunyian, Calista sontak melepaskan pelukannya. Walau rindu berat, brownies coklat buatannya tidak boleh di lepas begitu saja.
"Lepas dulu, Damar. Brownies ku udah matang, " Calista melepas paksa pelukan erat Damar yang membuat tubuhnya susah sekali untuk bergerak.
Damar terpaksa melepaskan pelukannya, apalagi Calista sampai mencubit pinggangnya.
"Kamu buat kue? " tanya Damar, ia mengikuti Calista dari belakang.
Hidungnya mencium bau harum manis coklat saat oven listrik itu dibuka dan Calista mengeluarkan seloyang besar brownies coklat.
"Iya, kamu mau? Aku juga ada buat red velvet cookies, rasanya gak begitu manis karena ada sedikit bercampur asam. " Calista mengambil setengah potongan kecil cookies dan menyuapinya pada Damar yang menerimanya dengan senang hati.
"Bagaimana? "
"Mmm. Untuk aku yang gak suka makanan manis, ini lumayan menurutku, kamu belajar di mana bisa masak cookies seenak ini? " Damar dengan suka rela kembali membuka mulutnya menerima suapan kedua cookies dengan potongan sedikit besar dari Calista.
"Dari video online, aku hanya ingin mencari kesibukan saat aku tengah merasakan kesepian beberapa hari ini. " ujar Calista jujur dan setengah tak jujur.
Senyumnya tak pernah pudar melihat kehadiran Damar dihadapannya sekarang, rasa kosong yang beberapa hari ini ia rasakan langsung hilang entah kemana.
"Maaf karena aku tidak pulang dan tidak memberikan kabar beberapa hari ini. " kata Damar penuh sesal, dia mengelus pelan pinggang ramping Calista.
"Tidak perlu minta maaf, aku mengerti bagaimana sibuknya kamu kemarin. Lalu bagaimana dengan karyawan kantor kamu yang korupsi dan kabur itu?" Calista mengelus lembut bawah mata Damar yang terlihat lebih gelap dari biasanya, pasti suaminya itu tak tidur karena memikirkan masalah yang menimpa di perusahaannya.
"Sudah ditemukan, sekarang sudah diproses hukum dengan bukti yang sudah dikumpulkan. " jawab Damar. "Arkana, dia sudah selesai dengan urusannya? "
"Belum, masih banyak beberapa urusan kantor keluarganya yang harus dia selesaikan. " Ujar Calista dengan menghela napas panjang, ia kini sudah memikirkan bagaimana kondisi Arkana karena terlalu sibuk dengan urusan perbaiki perusahaan keluarganya yang sudah diambang bangkrut.
"Baguslah berarti malam ini kamu milikku. " bisik Damar dengan senyum miring.
"M-maksud kamu...? " Calista terlihat gelagapan, apalagi melihat tatapan Damar padanya. "Kamu jangan aneh aneh, masih pagi sekarang. "
"Memangnya kenapa kalau pagi? Apa ada aturannya, mau pagi, siang, sore, atau malam? " Damar menaik turunkan alisnya.
Calista hendak menjawab, namun Damar dengan cepat menggendong tubuhnya ala bridal style meninggalkan brownies coklat yang baru matang masih di dalam loyang.
"DAMAR! " Calista memekik kencang, ia memukul pelan dada bidang Damar.
"Aku lagi pengen, sayang. Memangnya kamu gak mau? "
Calista hanya menampilkan wajah malu malunya.
*******
“Bagaimana? Apakah kalian sudah melakukan apa yang diminta Tuan Damar?” tanya sekretaris itu dengan nada tegas. Tatapannya menyapu satu per satu orang yang duduk di hadapannya.
“Sudah, Pak Willian. Tinggal beberapa persen lagi, maka semuanya akan sepenuhnya jatuh ke tangan Tuan Damar,” jawab salah satu anak buah dengan penuh keyakinan.
“Bagus,” ujar Willian singkat, namun sarat tekanan. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, jemarinya saling bertaut di atas meja. “Teruslah bekerja dalam diam. Jangan gegabah. Sedikit saja kesalahan, semuanya bisa hancur.”
“Baik, Pak.”
Ruangan itu kembali hening. Hanya terdengar suara detak jam di dinding yang seolah menegaskan betapa waktu semakin sempit.
Willian kemudian berdiri, merapikan jasnya. “Ingat, pihak sana bukan orang bodoh. Mereka pasti sudah mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Jadi, sebelum mereka benar-benar sadar… kita harus sudah selangkah lebih maju.”
Salah satu pria mengangguk pelan. “Kami sudah menutup semua jejak, Pak. Bahkan jika mereka mulai menyelidiki, akan sulit menemukan keterlibatan kita.”
Willian tersenyum tipis, namun tidak benar-benar menunjukkan rasa puas. “Sulit bukan berarti tidak mungkin. Jangan pernah meremehkan lawan.”
Ia berjalan mendekati jendela besar di sisi ruangan, menatap ke luar dengan sorot mata yang dalam.
“Ini bukan hanya soal mengambil alih,” lanjutnya pelan, “ini soal memastikan mereka tidak punya kesempatan untuk bangkit kembali.”
Di tempat lain, Damar berdiri di balkon kamar setelah memastikan Calista sudah tertidur nyenyak di atas kasurnya, memandangi langit sore yang mulai meredup. Ponselnya bergetar pelan di tangannya.
“Ya?” ucapnya singkat saat mengangkat panggilan.
“Semua berjalan sesuai rencana, Tuan,” suara Willian terdengar dari seberang. “Hanya tinggal tahap akhir.”
Damar terdiam sejenak, sudut bibirnya perlahan terangkat. “Bagus. Pastikan tidak ada yang bocor.”
“Tentu, Tuan. Tapi… ada kemungkinan mereka mulai curiga.”
Damar terkekeh pelan, dingin. “Biarkan saja. Curiga tanpa bukti tidak akan berarti apa-apa.”
Ia menatap jauh ke depan, matanya menyipit. “Dan saat mereka akhirnya menyadari semuanya…” lanjutnya lirih, “sudah terlambat.”
Panggilan itu terputus.
Angin sore berhembus pelan, mengibaskan ujung kemeja Damar. Namun tatapannya tetap tajam, penuh perhitungan.
Permainan ini… hampir selesai.
Dan dia berniat untuk menang sepenuhnya.
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭