NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Tak Terduga

Pradika menatap layar ponselnya dengan senyum yang tak bisa disembunyikan. Setelah pergulatan batin yang cukup panjang dan keyakinan yang kian mantap, ia akhirnya mengambil keputusan besar malam itu.

Ia membuka aplikasi maskapai penerbangan dan langsung mengubah jadwal penerbangannya mundur lima hari dari jadwal semula. Ia tidak peduli jika jatah liburnya bersama adiknya akan berkurang, karena baginya, ada satu urusan krusial yang harus ia selesaikan terlebih dahulu sebelum menyeberang kembali ke tanah kelahirannya.

Setelah urusan tiket selesai, Pradika segera mengirimkan pesan kepada Nahda.

Kak Pradika: Nahda, Kakak mengubah jadwal tiket pesawat mundur lima hari. Kakak mau menemui wanita pilihan Kakak lebih dulu. Doakan semuanya lancar.

Di seberang sana, Nahda yang memang dasarnya adalah tipe adik yang ekspresif dan sangat mendukung kakaknya untuk segera mengakhiri masa lajang, langsung membalas dengan rentetan emotikon bersorak dan kata-kata penyemangat yang berapi-api.

Nahda: Wahhh! Serius, Kak?! Gila, ini baru namanya laki-laki gentle! Oke, aku dukung 100 persen! Aku doakan semoga urusan Kakak lancar, mbaknya langsung luluh, dan pulang sudah bawa kabar baik. Semangat, Kakakku yang kaku! Jangan sampai memalukan di depan calon iparku ya!

Pradika hanya menggeleng-gelengkan kepalanya membaca balasan adiknya yang selalu saja ceplas-ceplos. Namun, dukungan dari satu-satunya saudara kandungnya itu setidaknya memberikan suntikan energi baru di dalam dadanya.

Keesokan harinya, perjalanan panjang pun dimulai. Pradika harus menempuh perjalanan darat menggunakan armada mobil travel dari Muarateweh, Kalimantan Tengah menuju ke Kota Batulicin yang terletak di wilayah Kalimantan Selatan. Perjalanan itu bukanlah hal yang mudah. Selama dua belas jam penuh, tubuhnya harus berguncang di atas kursi mobil travel, membelah jalanan trans-Kalimantan yang didominasi oleh aspal bergelombang, hamparan perkebunan kelapa sawit dan karet yang seolah tanpa ujung, serta debu merah yang beterbangan tertiup angin sore.

Ketika mobil travel akhirnya memasuki pusat Kota Batulicin menjelang malam, otot-otot di sekujur tubuh Pradika rasanya sudah kaku dan remuk redam, sisa-sisa gejala pasca sakit typusnya pun seolah kembali memicu rasa lelah yang amat sangat. Beruntung ia sudah meminta diturunkan di penginapan langganannya. Begitu turun, Pradika segera memesan sebuah kamar yang bersih untuk sekadar meluruskan punggung dan membersihkan diri. Ia baru akan bertolak naik menggunakan bus karyawan atau travel lanjutan menuju ke lokasi mess tempat Rana berada pada keesokan pagi harinya.

Setelah mandi dengan air hangat dan mengganti pakaiannya dengan kaos santai, Pradika merebahkan tubuh panjangnya di atas kasur hotel yang empuk. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas bantal, lalu mencari nomor Rana untuk memberikan kabar. Ia ingin mengabarkan posisi terkininya agar gadis itu tahu bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya.

Panggilan suara itu tersambung dengan cepat.

"Assalamu'alaikum, Rana," sapa Pradika dengan nada suara yang terdengar sedikit parau.

"Wa'alaikumussalam, Mas Pradika," sahut suara di ujung telepon.

Namun, ada yang aneh dari intonasi suara Rana malam ini. Suaranya terdengar sedikit bergetar, panik, dan ada riuh rendah suara deru mesin kendaraan besar serta embusan angin malam yang kencang masuk ke dalam pendengaran Pradika, menandakan bahwa gadis itu sedang tidak berada di dalam kamarnya yang tenang.

Pradika menegakkan posisi duduknya, instingnya mendadak waspada.

"Rana, aku baru saja ingin mengabarkan kalau posisiku saat ini sudah sampai di Batulicin. Aku menginap semalam di sini sebelum besok pagi menemuimu. Kamu sedang apa? Kenapa suasananya bising sekali?"

"Eh? Mas Pradika sudah ada di Batulicin?" tanya Rana di seberang sana, terdengar sangat terkejut sekaligus canggung.

Setelah jeda beberapa detik, Rana akhirnya mengembuskan napas pasrah dan berkata jujur.

"Sebenarnya... saya juga sedang berada di Batulicin sekarang, Mas. Ini... saya sedang kebingungan mencari hotel atau tempat singgah sementara, karena saya baru saja ketinggalan bus karyawan terakhir yang mengarah ke area mess karyawan."

"Apa?! Kamu di Batulicin juga?!" Pradika seketika langsung berdiri tegak dari tempat tidurnya, rasa lelah dan pening di kepalanya menguap entah ke mana, digantikan oleh rasa cemas yang teramat besar.

"Bagaimana bisa kamu sampai ketinggalan bus malam, Rana? Kamu sendirian di sana?"

"Iya, Mas, sendirian. Tadi urusan administrasi saya di kantor area Batulicin selesai terlalu malam, dan saat saya sampai di halte, bus terakhirnya sudah berangkat sepuluh menit yang lalu," jawab Rana lirih, menyembunyikan rasa takutnya berada di kota orang sendirian di waktu malam.

"Kamu di mana sekarang? Sebutkan posisi persis-mu!" tanya Pradika tegas, langkah kakinya dengan cepat bergerak mencari dompet dan kunci kamar di atas meja.

"Saya ada di halte bus karyawan yang letaknya dekat dengan kompleks masjid besar di pinggir jalan utama, Mas," jawab Rana.

Mendengar kata 'masjid besar', otak Pradika langsung memetakan lokasi sekitar hotel tempatnya menginap. Ia yang sudah dua tahun tinggal di Batulicin sedikit banyak sudah hafal kawasan kota, sehingga tahu letaknya kini teramat dekat dengan keberadaan Rana sekarang; hanya berjarak sekitar dua blok saja jika memotong jalur gang.

"Tunggu aku di sana! Jangan ke mana-mana, Rana!" perintah Pradika cepat. Tanpa mematikan sambungan telepon yang masih berjalan, pria itu langsung menyambar jaket hitamnya yang tergantung di balik pintu, memasang alas kaki seadanya, lalu berlari keluar kamar hotel.

Pradika tidak memedulikan tatapan heran dari petugas keamanan hotel saat melihatnya berlari kencang membelah dinginnya angin malam kota Batulicin. Langkah kakinya bergerak cepat, dipacu oleh rasa takut jika terjadi hal-hal buruk pada gadis yang selalu memenuhi ruang pikirannya akhir-akhir ini. Ia memotong jalur melewati beberapa gang kecil yang minim penerangan, hingga akhirnya pandangannya menangkap bentangan jalan raya utama yang masih ramai.

Di seberang jalan raya tersebut, berdiri sebuah halte bus dari beton yang tampak sunyi. Di bawah pancaran cahaya lampu merkuri kuning yang temaram dan sedikit berkedip, Pradika menangkap sesosok siluet wanita yang sangat familiar sedang duduk menyendiri di atas bangku besi panjang. Wanita itu mengenakan jilbab senada dengan warna pakaian kerjanya, sedang memeluk erat tas ransel hitamnya di atas pangkuan untuk menghalau dingin. Itu Rana.

Pradika menghentikan langkah larinya di tepi trotoar jalan seberang, napasnya memburu naik-turun dengan tidak beraturan. Ia kembali mendekatkan ponsel pintarnya yang masih tersambung ke telinga.

"Rana... coba lihat ke depan. Aku ada di seberang jalan," ucap Pradika pelan melalui sambungan telepon, suaranya terengah-engah.

Rana yang mendengar instruksi tersebut dari suara ponselnya segera mendongak, menegakkan pandangannya yang semula tertuju pada ujung sepatunya. Sepasang manik matanya membelalak lebar saat menangkap sosok pria bertubuh jangkung mengenakan jaket hitam sedang berdiri tegak melambaikan tangan kanannya tepat di bawah lampu jalan seberang.

Rana menurunkan ponselnya dengan perlahan, menatap tidak percaya pada pemandangan di depannya. Di tengah keputusasaan dan rasa takutnya yang mendalam karena terdampar sendirian di kota orang pada jam delapan malam, pria itu mendadak muncul layaknya jawaban instan atas doa-doa keselamatan yang baru saja ia rapalkan di dalam hati.

Pradika memperhatikan situasi lalu lintas sejenak. Setelah memastikan kondisi jalan raya benar-benar aman dari laju kendaraan, pria itu melangkah lebar membelah jalan, berjalan cepat menyeberangi aspal menuju ke arah halte tempat Rana berada.

Begitu langkah kakinya menapak di lantai semen halte, Pradika berdiri tepat di depan Rana. Jarak mereka kini hanya terpisah beberapa jengkal. Pradika menatap lekat-lekat wajah gadis di depannya yang tampak sedikit pucat karena terpaan angin malam, ada gurat kelegaan yang luar biasa besar terpancar dari sepasang mata elang milik sang koordinator lapangan.

"Kenapa bisa seceroboh ini, Rana?" tegur Pradika lembut, tidak ada nada marah, melainkan murni sebuah getaran rasa khawatir yang mendalam.

"Kalau terjadi apa-apa denganmu bagaimana? Meski Kalimantan tergolong aman dari begal atau preman, tetap saja berbahaya bagi perempuan sendirian sepertimu."

Rana menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas tali tas ranselnya untuk menutupi rasa gugup dan haru yang mendadak menyerang pertahanannya.

"Maaf, Mas Pradika... saya tidak bermaksud menyusahkan Mas seperti ini. Tadi... tadi saya benar-benar salah menghitung estimasi waktu pengerjaan dokumen di kantor area."

Pradika menghela napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih berpacu cepat akibat berlari. Ia perlahan duduk di ujung bangku besi halte yang sama, memberikan jarak yang sopan agar Rana tidak merasa terintimidasi oleh kehadirannya.

"Sudah, tidak usah dipikirkan lagi. Yang penting sekarang kamu aman," kata Pradika hangat, melirik ke arah tas besar yang dibawa Rana.

"Hotel tempatku menginap ada di seberang jalan, tidak jauh dari gang di depan itu. Kamarnya bersih dan aman. Malam ini, kamu gunakan saja untuk beristirahat dengan tenang. Apa besok masih masuk?"

Rana menggeleng, lalu mendongak dengan mata terbelalak panik setelah sadar dengan kalimat Pradika.

"Lalu... lalu kalau saya pakai kamar itu, Mas Pradika sendiri malam ini tidur di mana?"

Pradika terkekeh pelan melihat kepanikan polos Rana, sebuah tawa tulus yang seketika mencairkan atmosfer kaku di antara mereka berdua di bawah lampu halte.

"Jangan berpikir yang macam-macam. Maksudku, kamu yang tidur di dalam kamar hotel itu secara penuh, biar aku yang menyewa kamar baru lagi di resepsionis, Intinya, malam ini kamu harus istirahat di tempat yang layak dan terkunci rapat. Paham?"

Mendengar penjelasan logis dan sikap Pradika yang sangat menjaga jarak serta kehormatannya sebagai seorang wanita, benteng keraguan di dalam hati Rana perlahan-lahan mulai runtuh. Laki-laki di depannya ini terbukti tidak memanfaatkan situasi sulitnya untuk mengambil kesempatan, melainkan murni bertindak sebagai pelindung yang tulus. Rasa aman yang ditawarkan Pradika terasa nyata, sangat kontras dengan bayang-bayang trauma masa lalu yang sempat membuatnya takut setengah mati.

"Terima kasih banyak, Mas Pradika..." bisik Rana tulus, matanya tampak sedikit berkaca-kaca menahan haru.

"Sama-sama, Rana. Ayo, kita ke hotel sekarang sebelum malam semakin larut. Biar aku yang bawakan tas ranselmu," ajak Pradika seraya mengulurkan tangan.

Rana tersenyum tipis, menggelengkan kepala sopan sambil berdiri tegak.

"Tidak usah, Mas. Biar saya bawa sendiri saja, tidak berat kok."

Kedua insan itu akhirnya berjalan beriringan melangkah keluar dari halte bus, menyeberangi jalan raya yang mulai sepi di bawah naungan langit Batulicin. Di sepanjang langkah kaki yang sunyi itu, ada sebuah kedekatan baru yang tak kasat mata mulai terajut di antara mereka; sebuah awal dari babak baru yang akan membawa mereka pada obrolan kejujuran yang sesungguhnya di keesokan hari.

1
indy
Kasihan juga Veri dijebak bu retno. semoga kondisi rani terbuka sebelum ijab kabul.
indy
Walah jadi bukan Veri pelakunya
indy
Betul Rana, jangan pulang ke Bojonegoro
Wiwik Susilowati
lanjut kk
indy
Semangat Rana...
Meymei
sama kak 🥹
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!