Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku juga mencintai Sekar
Malam itu, sehari sebelum pernikahan Sekar, rumah Ratmini sudah ramai dipenuhi warga desa Wanasari. Tenda besar berdiri megah di halaman rumah dengan hiasan bunga dan lampu yang terlihat cantik dan mewah.
Semua biaya acara itu ditanggung oleh Pak Ramli, mulai dari dekorasi, makanan, hingga makeup pengantin untuk Sekar.
Orang-orang desa pun kagum melihat persiapan yang begitu meriah.
Di bagian belakang rumah, para perempuan sibuk memasak untuk acara besok.
Aroma gulai dan bawang goreng memenuhi udara malam. Suasana terasa hangat dengan obrolan dan tawa yang saling bersahutan.
"Nda sabar mau liat ijab kabul besok," ujar salah seorang ibu sambil mengaduk masakan di kuali besar.
"Biasanya, kalau dengar ijab kabul begitu jadi ingat saat menikah dulu." Sambut ibu yang lain sambil tersenyum malu.
"Iya, kenangan saat indahnya baru nikah langsung di ingatan." Sahut ibu lainnya yang langsung disambut gelak tawa para wanita di sana.
Sementara itu, para pria sibuk menyusun kursi. Anak-anak kecil berlarian sambil bermain di halaman. Malam itu, rumah Ratmini benar-benar dipenuhi kebahagiaan menjelang pernikahan Sekar dan Lindu.
"Besok kau sudah akan menjadi istri orang." Ujar Wulan malam itu di kamar Sekar sambil menatap sahabatnya dengan mata sendu.
"Entah kenapa aku jadi sedih." Katanya lagi pelan.
Sekar tersenyum kecil lalu menggenggam tangan Wulan.
"Wulan, aku itu hanya akan menikah, bukan pergi jauh dan tidak kembali."
"Iya, tapi tetap saja. Rasanya seperti kau diambil dariku." Ucap Wulan jujur. Dia menunduk, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Selama ini Sekar selalu ada untuknya, menemani suka dan duka sejak mereka kecil.
"Kau itu bersama Lindu sama pentingnya bagiku." Ujar Sekar lembut.
"Meskipun aku menikah dan besok menjadi istri Lindu, kau tetap sahabat terbaikku. Tidak akan ada yang berubah."
Wulan menatap Sekar lama sebelum akhirnya tersenyum tipis.
"Aku hanya takut kau sibuk dengan kehidupan barumu nanti."
Sekar menggeleng pelan.
"Tidak akan. Kau tetap bagian penting dalam hidupku."
Di tempat lain, suasana berbeda terlihat di sebuah pos ronda dekat ujung desa. Beberapa botol minuman berserakan di atas meja kayu yang mulai usang.
Malam semakin larut, namun Gaga masih duduk dengan wajah merah dan mata sayu akibat mabuk. Hatinya terasa hancur memikirkan bahwa besok Sekar, gadis yang selama ini dia cintai sepihak, akan resmi menjadi istri Lindu.
"Sudahlah, Ga. Bukan cuma kau yang patah hati karena pernikahan Sekar. Hampir setengah pemuda desa ini juga patah hati." Ujar Rahman sambil menepuk bahu Gaga pelan.
"Benar itu." Sahut Pandu sambil tertawa kecil, meski sebenarnya dia juga kecewa.
"Aku juga patah hati dibuatnya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia memang bukan jodoh kita." Ujarnya lagi.
Gaga mendongak dengan tatapan tajam. Tangannya menggenggam botol erat sebelum meneguk isinya lagi.
"Ahh! Diam kalian!" Bentaknya di tengah mabuk.
"Kalian itu cuma kagum karena Sekar kembang desa. Karena dia cantik, lembut, dan dipuja banyak orang. Sedangkan aku tidak!"
Rahman dan Pandu terdiam mendengar ucapan itu.
"Aku benar-benar mencintainya." Lanjut Gaga dengan suara melemah. "Sejak lama, bahkan sebelum dia bersama Lindu." Ucap Lindu.
"Aku itu sudah sangat lama menyukainya." Ujar Gaga dengan suara berat dan kacau karena pengaruh alkohol. Dia memukul meja kayu di depannya hingga botol-botol di atasnya bergetar.
"Tapi kenapa malah Lindu brengsek itu yang dipilihnya?"
Rahman menghela napas panjang. Dia paham perasaan sahabatnya itu, meski tetap merasa Gaga terlalu berlebihan.
"Ya jelas saja Sekar memilih Lindu." Ujar Pandu santai sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi bambu.
"Lindu itu punya segalanya. Kaya, tampan, sopan, pekerja keras, disukai orang tua pula."
Pandu terkekeh pahit sebelum melanjutkan ucapannya.
"Sedangkan kita?" Katanya sambil menunjuk dirinya sendiri, Rahman, dan Gaga bergantian.
"Kelebihan kita cuma satu, mabuk."
Rahman sampai tertawa kecil mendengar ucapan itu. Bahkan Gaga yang sedang kesal pun sempat terdiam.
"Kalau dipikir-pikir, benar juga." Gumam Rahman.
"Mana ada orang tua yang rela menyerahkan anak gadisnya ke pemabuk seperti kita."
"Diam kau!" Sahut Gaga kesal, meski nada suaranya mulai melemah. Dia menunduk dengan mata kosong.
"Aku mungkin berantakan begini, tapi perasaanku ke Sekar sungguh serius."
"Jika Sekar menerimaku." Ujar Gaga lirih dengan tatapan kosong menembus gelap malam.
"Jangankan berhenti mabuk. Bekerja siang malam demi membuat dia hidup kaya, walaupun tanpa tidur, aku sanggup."
Tangannya mengepal kuat di atas meja. Untuk pertama kalinya, Rahman dan Pandu mendengar kesungguhan sebesar itu dari mulut Gaga.
Biasanya pria itu hanya bercanda, membuat keributan, atau menghabiskan malam dengan minuman. Namun malam ini berbeda. Semua rasa kecewa dan cinta yang selama ini dipendam akhirnya keluar begitu saja.
"Aku bisa berubah demi dia." Lanjutnya pelan.
"Aku bisa jadi laki-laki yang lebih baik."
Pandu dan Rahman saling pandang. Mereka tahu Gaga tidak sedang bercanda.
"Tapi…" Suara Gaga melemah. Dia tertawa kecil, namun terdengar begitu pahit.
"Dia bahkan tidak pernah memberiku kesempatan untuk membuktikan diri."
Suasana di pos ronda mendadak hening. Rahman dan Pandu saling berpandangan, bingung harus berkata apa lagi.
"Sekar mungkin memang tidak pernah melihatmu seperti itu, Ga." Ujar Rahman hati-hati. Dia tidak ingin memperkeruh keadaan, namun juga tidak ingin memberi harapan palsu pada sahabatnya itu.
Gaga terdiam beberapa saat. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Angin malam berembus pelan menerbangkan asap rokok yang mengepul di udara.
"Aku tahu." Gumamnya lirih.
"Dari dulu, dia tidak pernah melihatku sebagai pria. Mungkin bahkan tidak lebih dari pemuda desa yang kerjanya bikin keributan."
"Jangan bicara begitu." Sahut Pandu pelan.
"Tapi itu kenyataannya." Gaga tersenyum miris.
"Kalau aku jadi Sekar pun, aku pasti memilih Lindu."
Rahman menghela napas panjang. "Lindu memang sulit dikalahkan. Dia baik, pekerja keras, keluarganya terpandang. Semua orang desa juga menyukainya."
"Itulah yang paling membuatku kesal." ujar Gaga sambil menggertakkan rahang.
"Aku bahkan tidak bisa membenci dia sepenuhnya, karena dia memang lelaki yang pantas untuk Sekar." Ucap Gaga akhirnya. Dia sadar, dia tetap harus melepaskan Sekar.
Setelah mengatakan itu, dia menyandarkan tubuhnya ke kursi bambu tua di belakangnya. Pasrah dengan pernikahan perempuan yang di cintainya.
Rahman dan Pandu hanya diam. Mereka tahu, menerima kenyataan terkadang jauh lebih sulit dibanding mempertahankan perasaan.