Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: DOKUMEN DI LACI AYAH
Bab 34: Dokumen di Laci Ayah
Malam semakin larut, membawa pekatnya kegelapan yang terasa merayap lambat di setiap sudut rumah keluarga Dirgantara. Jam dinding di ruang tengah berdetak monoton, menghasilkan gaung suara yang konstan di tengah keheningan yang mencekam. Setelah badai amukan Revan di depan kamar Arka mereda beberapa jam yang lalu, rumah itu benar-benar lumpuh oleh rasa sunyi. Miko sudah pamit pulang sejak pukul sembilan malam karena dipaksa oleh ibunya, sementara Ibu sudah mengurung diri di kamar utama dengan lampu yang sengaja dimatikan—mencoba menenggelamkan duka terdalamnya sendirian.
Revan duduk termenung di atas kursi kayu ruang tamu. Kedua matanya menatap kosong ke arah lantai tempat karpet beludru hijau tadi siang digelar. Pikiran cowok itu berputar liar, kacau, dan berantakan. Rasa bersalah atas ucapan dingin Ibunya tadi subuh masih terus menghantam batinnya, namun ego remajanya yang terluka tetap menolak untuk reda. Hatinya terasa begitu panas, gundah, dan tidak tenang.
Merasa tidak tahan dengan atmosfer mencekam di ruang tamu, Revan perlahan bangkit berdiri. Langkah kakinya yang tanpa alas berjalan pelan menyusuri lorong rumah yang temaram, menuju ke arah sebuah ruangan kecil yang terletak di bagian paling belakang koridor.
Kamar kerja Ayah.
Pintu kayu bercat cokelat tua itu tampak sedikit renggang. Revan mendorongnya pelan, membiarkan engsel pintu berdecit lirih membelah keheningan malam. Begitu kakinya melangkah masuk, aroma minyak kayu putih, kertas-kertas tua, dan sisa wangi kopi hitam—aroma khas yang selalu melekat pada tubuh Ayah semasa hidup—langsung menyergap indra penciumannya. Dada Revan seketika berdenyut nyeri. Di sudut ruangan, sebuah meja kerja kayu jati yang sudah berumur berdiri kokoh, lengkap dengan sebuah kursi putar usang yang busanya sudah mulai mengempis. Di atas meja itu, tumpukan berkas kantor, sebuah pulpen hitam yang tutupnya terbuka, dan kacamata baca Ayah masih tergeletak persis di posisi terakhir sebelum pria tua itu berangkat kerja kemarin lusa dan tidak pernah kembali lagi.
Revan berjalan mendekati meja tersebut. Ia mengusap pinggiran meja kayu yang berdebu dengan jemarinya. Di bawah pendaran lampu meja yang remang-remang, Revan merasa seperti sedang melanggar wilayah kekuasaan pria yang paling ia takuti sekaligus ia hormati itu. Dulu, Revan dilarang keras masuk ke ruangan ini karena Ayah selalu bilang Revan hanya akan mengacaukan berkas-berkas pentingnya.
"Sekarang Ayah udah gak ada..." bisik Revan parau, matanya mulai kembali berkaca-kaca menatap kursi kosong di hadapannya. "Gak ada lagi yang bakal bentak Revan kalau Revan masuk ke sini..."
Revan mendudukkan tubuhnya di atas kursi putar milik Ayah. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari sisa-sisa kehadiran sang Ayah di ruangan itu. Pandangan matanya kemudian turun, menatap deretan laci kayu di sisi kanan meja. Ada tiga tingkatan laci di sana. Didorong oleh rasa penasaran yang ganjil dan keinginan untuk mencari tahu apa saja yang sebenarnya dikerjakan Ayahnya hingga tega mengabaikannya selama berbulan-bulan, Revan mulai membuka laci pertama.
Di laci paling atas, hanya ada tumpukan kuitansi pembayaran listrik, air, dan beberapa brosur asuransi yang sudah kedaluwarsa. Revan menutupnya kembali, lalu beralih membuka laci kedua. Laci itu berisi beberapa map plastik berwarna biru yang menyimpan dokumen resmi keluarga, seperti Kartu Keluarga, sertifikat rumah tanah, dan akta kelahiran dirinya serta Arka.
Saat Revan hendak menutup laci kedua, matanya tidak sengaja menangkap sebuah amplop cokelat berukuran besar yang terselip di bagian paling bawah laci ketiga, nyaris tersembunyi di balik tumpukan koran-koran bekas. Laci ketiga itu tampaknya sengaja tidak dikunci, namun posisinya yang tertutup koran membuat amplop itu seolah sengaja disembunyikan dari pandangan biasa.
Kerutan samar muncul di dahi Revan. Ia mengulurkan tangannya, menarik amplop cokelat tebal itu keluar dari persembunyiannya. Amplop itu terasa cukup berat. Di bagian depannya, tidak ada tulisan apa pun kecuali sebuah logo rumah sakit swasta terbesar di pusat kota yang tercetak kecil di sudut kiri atas.
Rumah sakit...? batin Revan heran. Buat apa Ayah nyimpen berkas rumah sakit segede ini? Apa Ayah sebenernya punya riwayat penyakit jantung dari lama tapi gak pernah cerita ke gua sama Ibu?
Dengan gerakan yang teramat hati-hati, Revan membuka perekat amplop cokelat tersebut. Ia mengeluarkan sebundel kertas putih tebal dari dalamnya. Namun, saat lembaran kertas itu terbuka di bawah sorot lampu meja, jantung Revan mendadak berdegup dua kali lebih cepat.
Kertas-kertas itu bukan dokumen medis milik Ayah.
Di bagian paling atas lembaran pertama, tertera sebuah nama pasien dengan huruf kapital yang sangat jelas mencetak nama abang kandungnya sendiri: ARKA DIRGANTARA.
Revan tertegun kaku. Tangannya yang memegang kertas itu mendadak bergetar halus. "Berkas medis si Arka? Buat apa Ayah nyimpen ginian di laci pribadinya?" Gumam Revan dengan nada sinis yang kembali merayap di suaranya. Filter salah paham di kepalanya langsung menyimpulkan skenario baru. Paling ini berkas-berkas check-up kesehatannya yang manja itu. Berkas rekam medis dari kecil yang sengaja dikumpulin Ayah buat dapet dispensasi di sekolah atau buat pendaftaran kuliah jalur khusus fisik lemah.
Revan mulai membalik lembaran kertas itu satu per satu dengan gerakan malas. Lembaran-lembaran awal dipenuhi oleh grafik-grafik laboratorium serum darah yang rumit, deretan angka-angka kimia medis, dan istilah-istilah biologi bahasa Latin yang sama sekali tidak dipahami oleh otak remaja remajanya yang biasa berurusan dengan mesin motor. Revan mendengus pelan, berniat memasukkan kembali berkas itu ke dalam amplop. Ia merasa tidak ada gunanya membaca riwayat kesehatan sang anak emas yang selalu diistimewakan itu.
Namun, tepat di lembaran ketiga, pandangan mata Revan terpaku pada sebuah surat keterangan resmi yang ditandatangani oleh seorang dokter spesialis penyakit dalam (Sp.PD-KGH). Di bagian tengah surat tersebut, ada beberapa kalimat yang sengaja diberi garis bawah menggunakan pulpen merah oleh Ayah semasa hidup—sebuah tanda bahwa Ayah sangat fokus pada bagian kalimat ini.
Revan mendekatkan kertas itu ke arah lampu meja, mencoba membaca kalimat bergaris merah tersebut dengan saksama.
"...Pasien atas nama Arka Dirgantara menunjukkan penurunan fungsi organ yang signifikan secara konstan. Berdasarkan hasil laboratorium klirens kreatinin terakhir, pasien diwajibkan untuk menjaga pola istirahat total dan dilarang keras melakukan aktivitas fisik berat yang dapat memicu komplikasi fatal pada sistem sirkulasi darah..."
Revan terdiam sejenak membaca kalimat itu. Alih-alih merasa kasihan, rasa muak di dalam dadanya justru semakin bergejolak gila-gilaan. Ia meremas pinggiran kertas itu dengan geram hingga kertas putih tersebut sedikit kusut.
Tuh, bener kan dugaan gua! batin Revan bersorak sinis di dalam hati, matanya berkilat penuh kemarahan yang membara. Ini dia bukti otentiknya! Surat sakti sialan yang selama ini dipake Arka buat dapet hak istimewa! Pantesan aja di sekolah dia bebas gak ikut jam olahraga, bebas gak ikut upacara kalau panas, dan bebas tugas-tugas berat dari guru! Ternyata dia sengaja minta surat keterangan dilarang aktivitas fisik ini dari dokter biar bisa leha-leha, sementara gua harus dihukum lari keliling lapangan tiap kali telat!
Revan membalik lembaran berikutnya dengan kasar, dadanya naik-turun memburu akibat emosi salah paham yang kian meracuni logikanya. Matanya menyapu lembaran kuitansi pembayaran yang terselip di bagian belakang map. Di sana tertera nominal-nominal angka yang sangat fantastis, angka jutaan rupiah yang tercetak berulang-ulang dengan tanggal yang sangat berdekatan di setiap bulannya.
Melihat nominal angka-angka tersebut, kepala Revan serasa mau pecah. Seluruh tubuhnya bergetar hebat menahan amarah yang luar biasa masif.
Gila... Revan mencengkeram kepalanya sendiri dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang kuitansi tersebut dengan erat. Jadi selama ini... uang tabungan rumah tangga yang hilang, uang yang harusnya bisa buat gua bayar SPP sekolah tepat waktu, dan alasan kenapa Ayah harus kerja lembur bagai budak tiap malam sampai jantungnya copot... itu semua murni abis gara-gara ngebiayain check-up rutin dan obat-obatan mahal si anak emas ini?! Ayah mati murni karena meras keringat buat bayar semua kuitansi sialan ini demi memanjakan tubuh lemah Arka yang sok sakit ini?!
Revan tidak membaca istilah "Chronic Kidney Disease Stage 5" atau catatan tentang "Hemodialisis" yang tertulis dengan font kecil di lembaran paling belakang berkas laboratorium tersebut. Pikirannya yang sudah terlanjur dipenuhi oleh kabut kebencian dan filter salah paham menolak untuk meneliti lebih jauh. Baginya, lembaran dokumen di dalam laci Ayah ini adalah sebuah bukti kejahatan mutlak—bukti bahwa Arka adalah parasit nyata yang telah menghisap seluruh energi, uang, dan nyawa Ayah hingga pria tua itu berakhir di dalam tanah merah.
"Lo bener-bener keterlaluan, Arka..." bisik Revan dengan suara yang teramat sangat dingin, sepasang netranya menatap tajam ke arah dinding kamar kerja Ayah yang berbatasan langsung dengan kamar Arka. "Ayah mati demi kuitansi-kuitansi manja lo ini. Dan lo... lo masih bisa tidur nyenyak di balik pintu yang lo kunci itu?!"
Dengan kasar, Revan memasukkan kembali bundelan kertas tersebut ke dalam amplop cokelat, lalu membanting amplop itu di atas meja kerja Ayah hingga menimbulkan suara debuman keras di tengah keheningan malam. Rasa benci di dalam dada Revan kini sudah mencapai titik puncaknya, mengkristal menjadi sebuah dendam murni yang siap ia tumpahkan sepenuhnya di esok hari.
Bersambung....
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...