Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJELANG UJIAN DAN KONTRAK BARU
Tring!
Alarm berbunyi.
Eng Sok membuka mata. Dua jam berlalu. Sofa terasa nyaman — terlalu nyaman. Ia menghela napas, bangkit, meregangkan bahu yang pegal.
"Ti, waktu habis."
Ah Ti masih di meja belajar banyak soal gak diisi. Dia panik saat Eng Sok mendekat.
Eng Sok mengecek kerjaan Ah Ti. Banyak banget yang kosong.
Tema soal yang kosong: Sejarah, Revolusi, Gerilya, dan Industrialisasi Seratus tahun terakhir.
Ia menghela napas.
Ini bukan zamanku.
Tapi ia tidak menyerah. Ia membaca rangkuman di buku latihan — malas kalau harus baca lengkap dari buku teks Ah Ti. Lalu browsing sebentar di HP. Minum air. Menghela napas.
Lalu ia menjelaskan.
Pelan-pelan. Tidak terburu-buru.
Ah Ti mengangguk. Tidak bertanya. Tidak memotong. Lalu ia coba menjawab ulang soal yang salah tadi.
Benar.
Eng Sok lega.
---
Ia mengambil buku lain — yang dibelikan Ah Me. Buku latihan biasa, bukan "Chhian-chhin".
"Kerjakan ini," kata Eng Sok. "Setel alarm dua jam. Latihan kecepatan."
Ah Ti menerima. Tidak protes.
Eng Sok duduk di sofa. Memeriksa lengan kanannya. Perban cokelat terasa longgar. Tidak enak dipakai. Geser-geser.
Ia berdiri. Tanpa pamit — keluar.
---
Di apotek, ia antre sebentar. "Perban, Bang. Yang kayak ginian, Tiga."
Petugas mengambil satu gulung. Eng Sok mengamati rak di belakang. Matanya tertumbuk pada botol kecil — Antiseptik dari daun sirih.
Ia tersenyum.
Dulu, di istana, kami pakai daun sirih untuk membersihkan luka. Sekarang... sudah jadi botolan.
"Yang itu juga satu," katanya.
Bayar pakai QRIS. Cepat. Praktis.
Ia melangkah pulang — perban di tangan kiri, antiseptik di saku. Sambil iseng cek harga rumah kecil sekitar sini dan tarik semua saldo streaming dan kelas online gabut miliknya… “Hmmm… kok cukup?”, ia tertawa. Padahal konten dia sangat iseng tapi banyak yang beli. Bahkan Email-nya dipenuhi undangan dari Universitas fakultas sejarah dan historiography sampai 6 bulan ke depan. Alasannya? Karena tutorial dia terlalu realistis dan mirip hasil galian terbaru. Dia akhirnya hanya berani terima DP saja. Karena kalo full. Takut. Ga tau, takut aja.
Dia mencoba pake kalkulator di HP. Pas. Totalnya 150 juta. Bisalah beli rumah kecil. Dia ga pingin rumah besar. Pembantu juga siapa yang ngegaji. Sering nolak party. Sampai direndahkan artis lain tapi dilabel suami idaman sama gadis-gadis dan ibu-ibu.
Gak kerasa sampai rumah.
---
Di rumah, Ah Ti masih asyik mengerjakan soal. Eng Sok duduk di lantai. Melepas perban lama.
Kulit di lengan kanan — sedikit kemerahan, tapi tidak bengkak. Jahitan sudah mulai kering. Tangan kiri dan kanan hampir sama besar — bengkaknya benar-benar kempes.
Ah Ti menoleh. Melihat Eng Sok memegang perban baru.
"Ko, mau lepas?"
"Sudah longgar."
Eng Sok menarik ujung perban — melepaskan.
Ah Ti menjerit.
"KOKO! JANGAN!"
Ia berlari — panik — mencoba menarik tangan Eng Sok.
Tapi Eng Sok lebih cepat. Tangan kirinya menotok leher Ah Ti — pelan, tapi tepat.
Diam.
Ah Ti membeku. Matanya membulat. Mulut terbuka — tapi tidak ada suara. Tidak bisa gerak.
Ah Me yang keluar dari kamarnya. Padahal asyik nonton TV sambil membordir kalo iklan. Dia mau bertindak, mau memisahkan. Tapi begitu melihat Ah Ti kaku seperti patung — ia diam.
Matanya beralih ke TV dalam kamar, Film Kang Ouw — dunia persilatan — sedang adegan totokan.
Ternyata… Film gituan tidak bercanda, batin Ah Me.
Ah Me tidak bergerak. Hati-hati.
Eng Sok tidak peduli. Ia mencuci tangan — sabun natural, dikeringkan. Semprot antiseptik daun sirih — dingin, wangi khas.
Tunggu kering.
Lalu pasang perban baru. Ketat — tapi tidak menekan pembuluh darah. Ah Me membantu mengetatkan — karena tangan Eng Sok masih gemetar sedikit.
"Longgar soalnya, Ah Me." Eng Sok menghela napas. "Kayaknya besok waktunya kontrol. Sekalian cabut jahitan. Udah semingguan."
Ah Me mengangguk. Tidak banyak komentar.
---
Eng Sok melepas totokan Ah Ti.
Plak — tepukan pelan di bahu.
Ah Ti menghela napas — leg.
"KOKO GILA!" teriaknya.
Eng Sok cuma tersenyum. "Biar ga infeksi. Udah berapa lama nempel sampe dekil. Cium aja baunya."
Ah Ti tidak bisa membantah. Bau perban itu sangat… susah dijelaskan. Eng Sok merendamnya dengan air sabun.
---
Ah Me membuka omongan,"Kalo Matematika... nanti diurus Koh Liam. Sore nanti ke sini dianya. Guru les matematikanya Ah Ti. Dicicilkan dua hari."
Eng Sok mengerjap. "Kenapa?"
Ah Me menatap Eng Sok — bergantian ke wajah, ke tangan, ke mata.
"Kamu mentok di pecahan."
Eng Sok diam.
"Bukan bodoh," lanjut Ah Me. "Tapi... ya... emang ga pernah memahami itu di zaman dia."
Ia tersenyum tipis.
"Bahkan konsep angka nol aja... nol. Masih lebih pintar Sioh Bu — karena zaman.", jelas Ah Me.
Eng Sok memang sudah berusaha memahami pecahan tapi belum paham juga walaupun sudah bisa penjumlahan pecahan tapi gak cukup.
Sioh Bu melayang di atas. Dadanya membusung. "Nah... itu baru pujian!"
Eng Sok cek jadwal di HP. Cekatan — kayak bapak-bapak duda yang sudah punya anak.
Sioh Bu melihat. Matanya sayu.
"Koh... kok bisa kayak bapak-bapak duda?" bisiknya.
Eng Sok tidak menoleh. "Lah, gua duda beneran. Anak satu, laki, tapi meninggal. Kasian elu... bujang lapuk."
Sioh Bu menatap kosong. Mulut terbuka — tertutup — terbuka lagi. Tangan mengepal — diacungkan ke Eng Sok.
Tapi tidak bisa memukul. Arwah. Tidak bisa menyentuh.
Realita. Pahit.
---
Eng Sok membaca grup sekolah. Besok Senin — upacara dan festival setengah hari. Selasa UTS dimulai — Ah Ti pulang cepat.
Setidaknya itu yang ia pahami.
Lalu — notifikasi WA.
Dari Ah Chio.
"Koh, gimana?"
Eng Sok berpikir sebentar. Lalu mengetik:
"Tanganku ini tadi aku bersihkan, lepas perban karena mengecil. Mungkin bengkaknya kempes — ukuran tangan kiri kanan sudah hampir sama."
Ah Chio membalas cepat.
"Koh, aku ada tawaran dari studio Ko Ah Guan. Foto baju wedding Barat Jauh. Aku bilang mau kalo pasangannya Ko Sioh Bu. Soalnya kalo sama yang lain aku masih bingung bangun chemistry. Aku baru keluar perawatan psikiatri juga. Masih cek up sana sini.”
Foto-foto dikirim. Gaun putih. Setelan hitam. Bunga. Cincin. Baju wanita hanya seperti Bohiong (kemben) dan Lukun (rok panjang tradisional) tanpa baju luaran…di mata Eng Sok ini seperti wanita gaknpakai baju.
Eng Sok menatap layar mau membalas
Ah Me — yang dari tadi di belakang — menyita HP paksa lalu menyumpal mulut Eng Sok dengan Pao babi.
"Muummm?!"
"Diam. Belum waktunya jawab," bisik Ah Me.
Ia menutup pintu rumah. Jendela. Menarik Eng Sok ke ruang tamu. Membuka album foto — foto perkawinan keluarga Sioh. Termasuk foto Ah Me dan Ah Pa.
"Zaman udah berubah seratus tahunan ini," kata Ah Me. "Kena budaya Barat Jauh dan negara Bintang."
Ia menunjuk foto. "Baju perkawinan sekarang putih dan hitam. Cenderung terbuka dan press body. Seperti adat sana."
Eng Sok melongo.
"Orang sekarang kalo menikah agak sembarangan. Hanya kawin sipil — bukan kawin adat atau kawin masuk keluarga. Lebih individual. Ada juga yang kawin adat tapi... ya gitu, paling di desa atau yang keluarganya ketat... Bisa dihitung jari. Dan ada KB — pembatasan jumlah penduduk."
Awalnya dia shock karena untuk baju pria wedding ya buat dia aneh tapi masih gak mengganggu. Baju wanita? Kayak pakai baju dalam aja: Bohiong dan Lukun (rok panjang tradisional) … baju nakal bagi pria zamannya. Tapi, zaman berubah kan? Biar aja!
Eng Sok tidak menjawab. Tangannya menggenggam ujung baju. Minum air. Mencoba mencerna. Air matanya mengalir sedikit di pipinya.
---
Tring!
Alarm berbunyi.
Eng Sok melepas totokan Ah Ti — yang sedari tadi diam membeku.
Ah Ti menarik napas panjang.
"KO—"
"Maaf lupa, nih makan dulu." Eng Sok menyodorkan Pao babi di piring yang disiapkan Ah Me.
Ah Ti menerima. Menggigit. Marah — tapi lapar.
"Kerja lagi," kata Eng Sok. Alarm disetel ulang — satu setengah jam.
Ah Ti menghela napas. Jakunnya naik turun.
Ia melihat foto-foto wedding di WA — gaun putih, setelan hitam. Lalu menatap Eng Sok. Pipinya merah. Jakunnya naik turun.
Ah Ti berdehem-dehem sambil ngerjain soal. Tapi Eng Sok gak mendengar itu.
---
Tring!
Alarm berbunyi lagi.
Eng Sok mengerutkan muka.
"Alarm sialan! Lagi enak..." omelnya dalam hati.
Ah Ti menyipitkan mata. Berdehem-dehem manja. Melihat WA Eng Sok — foto-foto wedding.
Ia tersenyum — nakal.
"Ko, mikir…?" Kata Ah Ti sambil menaik turunkan alisnya.
"Kerja!" Eng Sok membuang muka. Memeriksa kerjaan Ah Ti.
Aman. Semua lancar.
"Mainlah!"
Ah Ti menggeleng. "Gua mau latihan pianika. UTS suruh main lagu Hou Lan."
Eng Sok mengangguk. Rumah jadi berisik. Tapi ia tidak peduli.
---
Ia membaca WA dari Ah Guan — detail tawaran foto wedding.
Cek Google Calendar. Cocok.
Kontrak dicetak — printer Sioh Bu berdengung pelan. Kertas keluar. Dimasukkan ke map. Lalu buku agenda — Eng Sok menulis.
Bukan mengetik.
Menulis.
Sioh Bu melayang di atas. "Masih zaman... masih aja tulis tangan..."
Tapi ia tersenyum.
---
Eng Sok cek jadwal Senin:
· Pagi: syuting — satu set dengan Ah Chio, jadi pemeran utama
· Siang: figuran
· Sore: kelas online berbayar — tutorial jadi pria bangsawan jadul
Kelas online itu baru tiga hari. Tiga video. Sudah berbayar — sistem langganan. Request dari peserta live waktu dia tidak sengaja live pas make up.
Video 1: Cara mandi bangsawan jadul — rempah-rempah, cara merebus, menuang ke bak mandi.
Video 2: Cara menyanggul ala pria jadul.
Video 3: Cara bikin bedak bulat-bulat.
Video 4: Cara make up keluar rumah.
Ia mau bikin Video 5. Tapi sudah janji istirahat seharian.
Besok. Lusa. Selasa.
---
Ia menghubungi pemilik kontrakan.
Pria paruh baya datang — perut buncit, kemeja lusuh, sandal jepit. Matanya menyipit melihat Eng Sok.
"Kok lu beda?"
Eng Sok tidak menjawab. Ia membuka kontrak lama — membandingkan dengan kontrak baru yang sudah disiapkan.
"Gua udah jadi artis," kata Eng Sok. Suaranya dingin. "Dan gua ga mau kontrak becek-becek — gak cuan. Paham?"
Pemilik kontrakan diam.
Biasanya, dialah yang mengancam usir. Tapi kali ini — kontrak baru sudah di atas meja. Penghuni lebih tegas. Tidak takut.
Ia tidak bisa membantah.
Ditandatangani — dua eksemplar, dengan materai. Biasanya tanpa materai. Biasanya pemilik agak curang — membebankan ini itu. Kali ini — diam.
Karena saat ia cari perkara, Eng Sok punya bukti. Foto. Argumen.
Ah Me heran. Kontrak cuma tiga bulan. Biasanya setahun.
Ia curhat ke Ah Ti sorenya. Mereka berdua — pasrah. Sepasrah mungkin.
Takut diusir Eng Sok.
Apalagi ada Ah Chio.
Seenaknya dengan bilang "balas budi" — tidak bisa. Bukan Sioh Bu.
---
Padahal — Eng Sok dari streaming tiap make up, dari kelas online "Menjadi Pria Bangsawan Jadul" — sudah cukup. Tidak disangka-sangka itu seperti sihir pesugihan modern. Sampai cukup beli rumah kecil.
Sejak di sini dia gak pernah minum arak, jalan bahkan jarang jajan. Padahal waktu jadi Pangeran, dia biasa minum arak beberapa gentong. Sioh Bu juga mirip. Tapi Eng Sok di sini emang sejak liat Ah Ti dan Ah Me sakit dia terbayang-bayang. Kalo dia mabuk, ngomong sembarangan, ditangkap… Bagaimana? Akhirnya dia lebih fokus Tawaran film, syuting, endorse. Diajak temannya buat operasi kecantikan juga dia ogah. Dia cek di internet kalo gak di dokter biasanya abal-abal. Mending jadikan sekalian. Toh kemampuan MUA sudah bagus.
Belum lagi sering pulang on time gara-gara ngajar adiknya. Dia dikatain pria kurang gaul. Tapi entah kenapa dia memanfaatkan kejadulan dia untuk jokes tapi berakhir cuan.
Terus sering bawa bekal sendiri. Isinya? Sayur kukus, telur rebus, daging kukus, jagung kukus. Ada bumbu irisan jahe atau bawang putih. Minim lemak dan minyak kayak petunjuk buku di perpustakaan. Juga Kalistenik seminggu sekali. Itu juga terbatas karena lengannya masih pemulihan.
Walhasil dia jadi sering diendors produk dari desa atau produk old money aliran natural. Sampai dijuluki netizen “Cia’s Natural Prince”. Kalo di rumah ya seadanya tapi paling enggak. Sehari sekali dia makan menu sehat. Kadang Ah Ti minta juga.
Ia sendiri sampai terpingkal-pingkal. Ada banget ya... orang terinspirasi film sampe segitunya.
Besok, ia akan cek rumah. Tiga-empat lokasi. Dipikirkan — lokasi, hongsui, akses.
Tapi ia tidak bilang-bilang.
Kebiasaan pangeran.
Dia ingin rumah kecil, dua lantai. Seratus jutaan. Yang gak berat dirawat. Pokoknya gak perlu berantem sama pemilik kalo kontrak habis. Dan bisa pindah ke lantai 2 kalo banjir.
---
Ah Me menguatkan hatinya.
Ia sudah remisi. Siap kerja lagi. Berharap tidak terlalu mengandalkan Eng Sok — karena Eng Sok bukan Sioh Bu.
Ia minta Ah Ti membungkus hasil bordir — mengantar ke pengiriman. Di kamar, Ah Me beli printer Bluetooth online — sama Ah Ti, beli stiker termal untuk cetak resi.
Bisnis kecil.
Bukan untuk kaya.
Tapi untuk... tidak menjadi beban.
---
BERSAMBUNG
---
Kontrak tiga bulan.
Bisnis bordir Ah Me.
Kelas online Eng Sok.
Dan foto wedding — yang belum dijawab.
💐🪷