Felicia Mau tak mau harus menerima perjodohan dari Papanya. Meskipun sempat kabur dari rumah, pada akhirnya dia menyetujuinya. Awalnya dia mengira pria yang akan menjadi suaminya itu seorang pria tua dengan perut buncit. Namun Ketika dia mengetahui jika suaminya adalah pria yang sempat ia kagumi, Felicia pun mencoba untuk membuat Arion menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pria itu melangkah ke depan agar lebih dekat dengan Felicia. Namun, lagi-lagi Felicia menghindarinya dengan melangkah mundur.
"Aku menyesal, Felicia. Aku minta maaf. Sungguh Aku tidak ingin Kau seperti ini. Aku tidak ingin kehilanganmu." Arion berucap sedih.
Felicia menghela napas dengan rasa sesak di dada. Nyatanya rasa kecewanya masih begitu terasa hingga saat ini.
"Sebaiknya Anda pulang saja, Tuan Arion! Permisi!" Felicia hendak melangkahkan kakinya untuk pergi, namun Arion langsung memblokir jalannya.
Arion tidak ingin terus seperti ini. Arion ingin masalah ini segera selesai dan Dia kembali mendapatkan hati Felicia.
Arion terus saja memohon pada Felicia, namun gadis itu terus saja menolak dengan ketus.
Tidak ada jalan lain. Arion lantas langsung menggendong tubuh Felicia dan membawanya ke mobilnya.
"Akhhh, Arion! Kau mau apa?! Lepaskan Aku!" pekik Felicia terkejut dengan apa yang Arion lakukan. Arion tidak bergeming dengan teriakan Felicia.
Setelah berhasil memasukkan istrinya ke dalam mobil, pria itu langsung mengunci pintu mobil itu agar istrinya tidak lagi kabur.
"Apa yang Kau lakukan, Arion?! Cepat keluarkan Aku dari mobil mu!" teriak Felicia.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum Kita bicarakan semuanya!" ucap Arion tegas. Namun Felicia menatapnya sinis.
"Apa lagi yang harus di bicarakan?! Bukankah semua sudah jelas. Kau sudah memilihnya bukan? Jadi apa lagi? Sebaiknya Kau siapkan surat perceraian kita, Arion. Aku tidak bisa hidup dengan pria yang tidak akan pernah bisa lepas dari masa lalunya," ucap Felicia emosi. Dia kembali teringat dengan Arion yang meninggalkannya untuk menemui Celine.
Hatinya terluka mendengar Felicia menyebut kata perpisahan. Arion tidak akan pernah bisa untuk melepaskan Felicia dari hidupnya. Segera Arion memeluk Felicia agar gadis itu segera diam.
"Lepaskan, Arion! Aku tidak ingin Kau peluk! Asal Kau tahu, Arion. Aku sudah melepaskan seluruh cintaku padamu. Aku tidak ingin lagi mencintaimu. Aku sudah bukan lagi Felicia yang tergila-gila padamu. Aku sangat membencimu, Arion!" seru Felicia berusaha memberontak dalam pelukan Arion.
Arion benar-benar merasakan perih. Dia sedih Felicia mengatakan hal itu. Hatinya menjadi sangat rapuh. Ketakutan akan Felicia yang meninggalkannya membuatnya menahan sesak di dadanya.
"Jangan katakan itu, Sayang. Kumohon. Aku sangat mencintaimu. Aku... Aku merindukanmu, Sayang." Suara Arion begitu pelan. Pria itu terus saja menggumamkan kalimat rindu pada Felicia.
Arion terus saja memeluk Felicia dan tak memberikan kesempatan gadisnya untuk lepas lagi. Arion hampir gila saat ini. Rasa cinta, rindu bercampur jadi satu.
Felicia terdiam mendengar kalimat demi kalimat yang muncul dari mulut Arion. Hatinya ikut sedih merasakannya.
"Untuk apa Kau datang lagi, Arion?" Felicia berucap pelan. Dia tidak lagi memberontak seperti tadi. Namun air matanya luruh tanpa Ia minta.
"Karena Aku sangat merindukanmu, Sayang. Aku sangat mencintaimu...." Suara Arion terdengar sendu.
"Ck... Jangan mencoba untuk membodohi ku, Arion." Felicia berkata sinis. Arion perlahan melepaskan pelukannya dan menatap lembut gadis yang sangat di rindukannya.
"Please! Kumohon Kita bicarakan semuanya baik-baik, Sayang," bujuk Arion dengan tatapan memohon.
Felicia menghela napas panjang sebelum mengangguk setuju. Bukankah lebih cepat permasalahan selesai akan lebih baik? Felicia ingin semuanya segera selesai.
"Apa yang ingin Kau katakan, Arion? Cepat katakan! Aku tidak ingin berlama-lama," ucap Felicia dengan dingin.
Arion begitu sedih melihat tatapan kekecewaan dari sang istri. Ini memang kesalahannya. Namun dia sangat menyesalinya.
Pelan, tangan Arion mengulur dan menggenggam tangan Felicia dengan hangat. Felicia ingin melepaskan, tapi Arion tak membiarkannya.
"Sayang, ku mohon maafkan Aku! Aku sangat menyesal," ucap Arion menatap dalam Felicia. Tatapannya begitu tulus.
Felicia melihat ketulusan itu. Namun rasa kecewanya masih tetap ada. "Minta maaf untuk apa, Arion? Kau tidak salah. Aku yang salah Arion. Seharusnya Aku tidak pernah mencintaimu. Seharusnya Aku tak berusaha untuk membuatmu mencintaiku. Dari awal Kau memang bukan milikku, Arion." Felicia berucap pelan. Ada rasa sakit yang terpancar dari tatapannya.
Arion menggeleng. "Sayang, ku mohon jangan berkata seperti itu! Kau tidak salah. Kau memang seharusnya mencintaiku. Aku yang salah karena dari awal telah menyiagakan cintamu. Aku... Aku sangat mencintaimu, Sayang. Kumohon jangan pernah ucapkan kata perpisahan, karena itu membuatku mau mati saja. Kau boleh menghukum ku dengan apapun asalkan jangan pernah meninggalkan ku. Aku tidak akan pernah bisa hidup tanpamu, Sayang." Arion kembali memeluk Felicia. Dia sangat takut jika sang istri akan meninggalkannya.
Tubuh Arion bergetar, dan itu dapat Felicia rasakan. Suara isakan kecil terdengar dari mulut Arion. Membuat Felicia terkejut. 'apakah Dia menangis?'
Ego-nya tiba-tiba meluntur merasakan tangisan Arion yang kian terdengar. Pelukan yang begitu erat membuat Felicia merasa begitu bimbang.
"Sayang, Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Aku berjanji tidak akan ada siapapun selain dirimu. Maafkan Aku yang terus menyakitimu. Sayang, ku mohon maafkan Aku. Jangan tinggalkan Aku...."
Felicia memejamkan matanya sejenak. "Apa Aku bisa memegang semua janjimu, Arion?" tanya Felicia dengan suara seraknya.
Felicia memang sangat kecewa dengan Arion, namun rasa cintanya begitu besar untuknya. Dia terus berusaha untuk menghilangkan cinta itu, namun dengan tak tahu dirinya, cinta itu malah semakin membesar, sehingga Felicia tidak dapat menghindarinya.
"Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakanmu, Sayang. Kau bisa melakukan apa saja padaku jika sampai aku melanggarnya," ucap Arion pasti.
"Termasuk dengan membunuhmu?"
"Ya, Kau boleh membunuh ku jika sampai Aku melanggarnya." Arion berkata yakin.
Felicia langsung memukul lengan Arion. "Apa Kau bodoh! Jika Aku membunuhmu, lalu siapa nanti yang akan mencintaiku?" Felicia berkata dengan kesal. Air matanya ikut keluar saat ini.
Arion langsung menatap Felicia dengan berbinar. Akhirnya sang istri memaafkannya. Rasa bahagia tak terkira menyelimuti hatinya.
Tanpa aba-aba, Arion langsung mencium bibir Felicia dan menyalurkan rasa rindu yang membuatnya benar-benar gila.
Arion berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi membuat sang istri kecewa. Dia benar-benar ketakutan jika harus kehilangan Felicia.
---