NovelToon NovelToon
Cinta Mahal Untuk Hati Yang Mahal

Cinta Mahal Untuk Hati Yang Mahal

Status: sedang berlangsung
Genre:MLBB / Cinta pada Pandangan Pertama / Trauma masa lalu / Diam-Diam Cinta / Game
Popularitas:982
Nilai: 5
Nama Author: DUOELFA

Xeline pergi hanya meninggalkan sebuah pesan di WA

Bhima
Terimalah perjodohan dari orang tuamu.
Benar kata ibuku
aku tidak se worth it itu untuk dimiliki oleh seseorang
Semoga selalu bahagia bersama seseorang yang mencintaimu.
by Xeline NH

Trauma masa lalu Xeline membuat ia begitu yakin hal itu akan menarik Bhima pada kehidupan yang begitu gelap dan berantakan. Xeline memutuskan menjauh dari Bhima sejauh mungkin dari segala kenangan yang pernah membuatnya merasa hidup sekaligus hancur.

Bhima tetap disana. Menunggu dalam diam. Bertahun-tahun. Ia mencintai Xeline bukan dalam waktu sebentar. Ia juga tidak memberikan setengah. Cintanya utuh, meski ia ditinggalkan karena keinsecuran Xeline.

"Aku butuh kamu Xeline. Bukan kamu yang sempurna. Tapi kamu yang beserta pecahanmu yang berantakan. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku. Selamanya bersamamu. Itulah janjiku padamu."

Akankah takdir bisa menyatukan kembali cinta mereka?

Happy Reading

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DUOELFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

"Are you okeyy Bhimantara?" Selidik Arga.

Bhima menatap ke arah Arga, kemudian melihat ke arah lain.

"Menurutmu?" Bhima balik bertanya pada sahabatnya.

Arga menatap lekat sahabatnya.

"Menurutku, kamu nggak baik-baik saja saat ini."

Bhima terdiam sesaat sebelum melanjutkan perkataannya.

"Aku ... Putus," jelas Bhima pada Arga dengan suara lemah nyaris tak terdengar.

Arga mendengar itu dengan kaget.

"Kamu putus? Benarkah? Aku tak percaya kamu memutuskan hubungan dengan perempuan yang telah lama kamu sukai," balas Arga dengan tidak percaya.

Bhima menatap Arga dengan lemah.

"Bukan aku yang minta putus,"Jelas Bhima.

"Terus siapa yang menyuruhmu putus?" cecar Arga.

"Ibunya yang menyuruhku putus sama Xeline."

Arga terperangah kaget.

"Ibunya Xeline? Dan kamu menuruti saja permintaan ibunya itu?"

Bhima terdiam sesaat sebelum melanjutkan perkataannya.

"Aku nggak berani membantah permintaan ibu Xeline. Bila nggak menurut, aku takut Beliau nggak merestui hubunganku sama Xeline,"Jelas Bhima.

Arga tersenyum kecil.

"Astaga Bhima. Kamu lucu dan konyol banget. Putus cuma karena menuruti keinginan ibunya Xeline. Lawan kek," ucap Arga penuh gemas dengan sahabatnya yang satu ini.

"Aku nggak mau melawan orang tua. Menurutku ini berat karena menyangkut dengan restu orang tua."

Arga semakin tersenyum.

"Lucunya kalian berdua. Hanya pacaran, tapi sudah harus ada restu dari kedua orang tua. Kayak orang mau lamaran aja. Ini restu apaan? Kalian masih pacaran. Kalau mau pacaran itu nggak perlu restu dari orang tua. Aku aja pacaran hingga tiga kali saja nggak perlu ada restu orang tua," jelas Arga.

"Aku merasa nggak tenang menjalin sebuah hubungan bila nggak ada restu dari orang tua."

Arga tersenyum semakin lebar.

"Bila sudah menyangkut restu orang tua, menurutku, hubungan yang kalian jalani saat ini bukan pada level pacaran lagi namanya. Ini sudah masuk ke ranah tunangan. Kalau aku jadi kamu, meski disuruh putus berulang kali sekalipun, kalau bukan pacarku yang minta putus, aku ogah banget. Meski itu yang menyuruh putus adalah orang tuanya, aku akan bodo amat. Aku tetap akan melanjutkan hubunganku. Emang cinta yang kita miliki ini dianggap apa?" ucap Arga penuh semangat.

Bhima menghela nafas panjang.

"Sebenarnya, bukan kali ini saja ibu Xeline memintaku putus hubungan dengan Xeline. Ini sudah yang kedua kali beliau memintaku untuk memutuskan hubungan kembali. Aku sudah berusaha untuk mempertahankan hubungan ini, tapi ... Aku tak bisa menolak keinginan beliau yang memintaku berteman saja dengan Xeline. Jujurly, dari awal bertemu, aku nggak pernah bisa menganggap Xeline seorang teman," jelas Bhima.

Arga kaget mendengar perkataan Bhima barusan.

"Benarkah? Kalian saling mencintai malah disuruh putus? Ini pasti ada yang nggak beres Bhim," selidik Arga.

Bhima menggangguk pelan.

"Memang," kata Bhima dengan singkat.

Suasana hening.

"Bhim, apa kamu nggak pernah tanya tentang apa alasanya ibu Xeline meminta kalian untuk putus?" selidik Arga.

"Xeline masih memiliki trauma bullying dan masih punya trauma lain yang maaf belum bisa kuceritakan sama kamu. Tapi entah mengapa aku merasa, ini bukan hanya tentang bullying. Tapi ada sebuah masalah besar yang lebih dari itu. Tapi aku nggak tahu sama sekali hal itu apa?" terang Bhima.

Arga terperanjat kaget.

"Bullying? Ternyata Xeline punya masa lalu seberat itu. Semua diluar perkiraanku," ucap Arga.

"Menurutku, sepertinya banyak sekali rahasia yang disembunyikan oleh ibu Xeline, tapi aku tak tahu itu apa. Suatu saat, bila aku sudah tahu dan aku sudah siap, aku akan menceritakan semuanya padamu secara detail. Kamu nggak perlu buka hp ku, atau stalking medsosku ya. Itu sama sekali nggak perlu bro."

"Takut banget. Okeyy. Aku nggak akan mengulangi stalking lagi. Tapi kamu tahu nggak? Aku gemes banget liat hubungan kalian itu. Nggak ada bucin, nggak ada acara ngobrol bareng saat di kelas. Apalagi sampai duduk barsng berdua. Hubungan kalian itu terlihat tenang sekali. Kadang aku sampai mikir, kalian beneran pacaran atau nggak sih? Aku selalu penasaran banget dengan hubungan kalian. Lanjut."

"Beliau ingin Xeline sembuh dulu dengan semua trauma yang ia miliki. Bila Xeline telah selesai dengan semua traumanya, kami baru boleh menjalin hubungan kembali," ucap Bhima.

"Benarkah? Ibu Xeline begitu memperhatikan dan sangat menjaga anaknya," balas Arga tak percaya

"Iya. Aku merasa ibu Xeline sangat memperhatikan dan menjaga anaknya. Malah menurutku beliau sangat over protective pada Xeline yang masih belum selesai dengan traumanya. Beliau memintaku untuk memutuskan hubungan agar kami tidak memiliki hubungan sama sekali selama proses healing Xeline. Padahal aku ingin sekali menemani perempuan itu bagaimana pun keadaannya hingga ia sembuh seperti sedia kala. Seberapa lama pun itu, bagiku tak apa."

Arga mengangguk pelan.

"Bila aku boleh berkomentar, Ibu Xeline adalah orang yang sangat secure dengan dirinya sendiri. Beliau memiliki rasa tanggungjawab tinggi pada sesuatu yang telah menjadu tanggungannya dan merasa memiliki kewajiban pada anak. Menurutku, bila ibu Xeline menyuruh kalian putus, itu memang ada benarnya. Kesembuhan Xeline adalah tanggungjawab orang tuanya. Ini semua bukan tanggungjawabmu sebagai pacarnya. Selain itu, kamu juga seorang anak. Kamu adalah masa depan orang tuamu. Mereka berharap kamu bisa meraih mimpi dan citamu dulu dan tidak terfokus pada Xeline saja. Beliau berarti ingin kamu mencapai citamu dulu, baru kemudian bertemu kembali dengan Xeline saat posisinya sudah baik. Selesai dengan traumanya, sudah menyelesaikan masa kuliah, punya memiliki masa depan cerah dan lain sebagainya."

"Tapi aku nggak mau Ar. Aku mau bersama Xeline saat ini, atau di masa yang akan datang. Aku ingin menemaninya saat dia berada di posisi berantakan dan saat semua telah tertata dengan baik."

Xeline terlihat memasuki gerbang sekolah. Bhima menatap perempuan yang dicintainya dengan seksama. Xeline juga melihatnya. Mereka saling memandang cukup lama.

Saat berjalan di depan Bhima, Xeline menundukkan wajah dan segera berlalu. Pandangan Bhima tetap ke arah Xeline hingga perempuan itu terlihat masuk ke ruang kelas. Arga melihat itu semua.

"Pesanku, kalau masih cinta, cobalah untuk menahannya agar ia tidak pergi darimu. Coba ungkapkan juga perasaanmu bahwa kamu sangat mencintai dan tidak ingin kehilangan dia. Jangan lepaskan dia apapun yang akan terjadi. Genggam dia hingga tanganmu sakit sekalipun, tak apa. Bila dia belum cinta pun, tetap genggamlah dia. Bila sudah pergi jauh darimu, menyesal pun tak akan pernah ada gunanya," ucap Arga sambil menepuk pundak sahabatnya.

"Makasih sarannya Ar. Aku akan selalu berusaha. Makasih sudah mau mendengarkan curhatku pagi ini," balas Bhima.

"Sama-sama."

Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang kelas mereka yang saling bersebelahan yang berada ujung sekolah.

Saat berada di kelas, Bhima menghampiri bangku Xeline.

"Xel," Sapa Bhima.

"Iya," jawab Xeline.

"Sepulang sekolah, aku ingin ngobrol sebentar sama kamu," tegas Bhima.

"Iya. Lama?"

"Nggak kok. Tenang saja."

"Iya."

"Makasih."

"Iya."

Jawaban Xeline seperti biasa. Template banget. Setelah berbicara, Bhima kembali ke bangkunya, sementara Xeline semakin merasa tidak tenang. Ia memikirkan Bhima akan membicarakan apa setelah pulang sekolah? Xeline merasa penasaran.

1
MIROI
next
MIROI
lanjut
MIROI
next
Fatur
lanjut
Fatur
next
MIROI
keren
MIROI
next
MIROI
lanjut
MIROI
next
MIROI
lanjut
Fatur
next
Fatur
lanjut
Fatur
next
Fatur
lanjut
Fatur
next
MIROI
lanjut
MIROI
next
MIROI
lanjut
MIROI
next
Fatur
keren
Fatur: luar biasa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!