NovelToon NovelToon
TETANGGA GARIS KERAS

TETANGGA GARIS KERAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luar Biasa

Mobil hitam milik Gavin melaju dengan kecepatan konstan enam puluh kilometer per jam di jalan arteri, persis sesuai dengan rambu lalu lintas. Di dalam mobil, suasana terasa seperti laboratorium berjalan.

Saru jam perjalanan berlalu, Aruna mulai merasa lapar. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebungkus keripik kentang yang bumbunya sangat melimpah. Namun, baru saja tangannya hendak merobek plastik itu, Gavin berdehem.

"Runa, mohon perhatiannya," ujar Gavin tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Sesuai dengan SOP Perjalanan Jarak Jauh (SPJJ) yang saya susun semalam, aktivitas konsumsi makanan ringan yang menghasilkan remah,.di larang dilakukan di dalam mobil."

Aruna melongo, "Mas, ini keripik kentang, bukan granat. Cuma sedikit remahannya!"

Gavin merogoh laci dashboard dan mengeluarkan sebuah Vacuum cleaner portable mini. "Satu remah kentang yang jatuh ke sela kursi, akan mengundang koloni semut dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Jika kamu lapar, saya sudah menyiapkan energi bar yang dipotong kotak-kotak kecil agar sekali suap. Tidak ada remah, tidak ada residu bumbu di jari."

Aruna menghela napas, menyimpan kembali keripiknya. "Kamu benar-benar, ya Mas," kata Aruna.

"Bosan nih, Mas. Aku putar musik ya?" Aruna menyambungkan ponselnya ke head unit mobil. Ia baru saja hendak memutar lagu dangdut koplo yang sedang viral agar tidak mengantuk.

"Tunggu," potong Gavin. "Saya sudah melakukan riset bahwa musik dengan beats per menit di atas seratus dua puluh dapat meningkatkan denyut jantung pengemudi secara impulsif dan memicu perilaku mengemudi yang agresif. Saya sudah menyiapkan playlist khusus."

Gavin menekan tombol play. Alih-alih lagu pop, yang terdengar adalah suara gemericik air hutan, kilauan burung dan musik instrumental yang sangat meditatif.

"Mas, ini kita mau pulang kampung atau mau meditasi di padepokan?" tanya Aruna lemas.

"Ini adalah musik dengan frekuensi empat ratus tiga puluh dua Hz, Runa. Menenangkan sistem saraf dan mengoptimalkan fokus mata pada aspal."

Setelah empat jam, Aruna merasa perlu ke toilet. Gavin membelokkan mobil ke sebuah rest area. Namun, bukannya langsung parkir di tempat terdekat, Gavin berputar-putar selama sepuluh menit.

"Mas, kenapa muter-muter terus? itu banyak tempat kosong!" Aruna sudah mulai gelisah.

"Sabar, Runa. Saya sedang mencari posisi parkir yang memiliki koordinat bayangan maksimal dari pohon atau bangunan terdekat. Jika mobil terpapar sinar matahari lebih dari lima belas menit, suhu kabin akan meningkat dan degradasi material interior akan dipercepat sebesar nol koma dua persen."

Setelah menemukan posisi yang matematikanya pas, Gavin tidak langsung mematikan mesin. Ia mengeluarkan sebuah botol semprotan kecil.

"Tunggu, jangan keluar dulu. Kamu harus menyemprotkan telapak kaki sendalmu dengan antiseptik ini sebelum masuk kembali nanti. Kita tidak boleh membawa patogen dari toilet umum ke dalam ekosistem mobil ini."

Aruna hanya bisa pasrah. "Siap, Bapak Protokol."

Kemudian Aruna turun dengan tergesa-gesa menuju toilet umum yang ada di rest area tersebut, sambil ngedumel. "Ampun deh, Mas Gavin. Orang udah kebelet juga masih berlaku aturannya."

Setelah Aruna menyelesaikan urusannya di toilet, dia kembali berjalan menuju ke mobil dan sebelum dia masuk ke dalam mobil dia menyemprotkan cairan antiseptik itu di sendalnya.

Orang-orang yang melihatnya merasa heran. Tapi Aruna nggak ambil pusing. "Udah, Mas. Apa kita nggak makan? Aku udah laper banget lho, ini. Itu di dalam ada restoran, apa nggak makan di sini aja?"

Karena Gavin melihat wajah kelaparan Aruna, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali turun untuk makan di tempat itu.

Seperti biasa, Gavin akan menerapkan segala macam aturan higienis nya sebelum dan sesudah makan.

Selesai makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju kampung halaman Aruna.

Di tengah perjalanan Aruna melihat papan penunjuk jalan. "Wah, sebentar lagi sampai nih, Mas. Mungkin jam empat sore kita sudah duduk manis di ruang tamu."

Gavin melirik jam tangannya yang memiliki presisi atom. "Berdasarkan kecepatan rata-rata kita, kepadatan arus lalu lintas yang saya pantau lewat satelit, dan hambatan angin dari arah timur, kita akan sampai di titik koordinat gerbang rumah orang tuamu tepat pukul 16.12.05 WIB."

"Ck ck ck ck... sampai detilnya dihitung juga sih, Mas," Aruna menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.

"Ketepatan waktu adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap tuan rumah, Runa."

Benar saja, saat mobil Gavin berhenti tepat di depan rumah kayu milik orang tua Aruna menunjukkan angka 16.12. Aruna turun dari mobil dengan perasaan takjub sekaligus lelah mental, sementara Gavin turun dengan kemeja yang masih licin tanpa kerutan sedikitpun, seolah-olah dia baru saja keluar dari lemari setrika.

Bapak Aruna yang sedang menyapu halaman melihat mobil itu dan tersenyum. "Wah, pas banget! Bapak baru saja mau menyalakan lampu teras. Mas Gavin ini nyetirnya pakai jam beker ya? tepat waktu sekali!"

Gavin bersalaman dengan Bapak Aruna sambil membungkuk sopan. "Selamat sore, Bapak. Mohon maaf atas keterlambatan lima detik karena ada kucing menyeberang di tikungan terakhir."

Bapak Aruna tertawa terbahak-bahak, sementara Aruna membatin, "Untung Sayang, kalau nggak sudah aku audit kamu dari hidupku, Mas!"

Ibu Aruna muncul dari balik pintu kayu jati dengan senyum yang lebar, menyeka tangannya pada celemek motif bunga sebelum menyambut tamunya.

"Aduh, sudah sampai ya? Aruna, Bapak, kok tamunya nggak dipersilahkan masuk sih? Mari, mari masuk Nak Gavin." sambut Ibu Aruna hangat.

Havin melangkah maju, membungkuk sangat sopan, lalu menyalami tangan Ibu Aruna. Tidak hanya bersalaman, Gavin mencium tangan Ibu Aruna dengan takzim, sebuah gestur "Protokol kesopanan" yang membuat Ibu Aruna langsung memberikan nilai A+ dalam buku penilaian calon mantunya.

"Terima kasih atas sambutannya, Bu. Mohon maaf jika kedatangan kami mengganggu jadwal aktivitas sore Ibu," ujar Gavin dengan bahasa yang sangat formal.

Ibu Aruna terkekeh. "Aduh, bicaranya sopan sekali. Mari duduk, sudah ibu siapkan teh melati sama singkong goreng.

Aruna memeluk Ibunya. "Ibu, Runa kangen banget sama Ibu dan Bapak," kata Runa kemudian berbalik memeluk Bapaknya.

"Bapak sama Ibu juga kangen sama kamu, Nak. Gimana usahamu? Lancar?" tanya Ibu Aruna.

"Lancar, Bu. Semuanya berkata dari Bapak dan Ibu." kata Aruna.

Di ruang tamu yang asri, Gavin duduk dengan punggung yang tegak seimbang. Di depannya tersedia secangkir teh panas dan sepiring singkong goreng merekah yang masih mengepulkan asap.

Gavin mengamati cangkir tehnya. Ia melihat kepekatan teh melati tersebut. "Warnanya sangat ideal, Bu. Ekstraksi daun tehnya tampaknya di lakukan pada suhu yang tepat," gumamnya pelan.

Saat mencicipi singkong goreng, mata Gavin sedikit membelalak. "Bu, tekstur krispi di luar dan lembut di dalam ini menunjukkan proses penggorengan dengan thermal yang sangat stabil. Ini... sangat enak."

Aruna menyikut lengan Gavin. "Mas, dimakan aja, nggak usah di analisis."

Ibu Aruna senang bukan main. "Nak Gavin ini pinter banget memuji, ayo di habiskan, ya."

Setelah bercengkerama, Aruna mengantarkan Gavin ke kamar tamu yang sudah disiapkan. "Ayo, Mas. Aku antarkan Mas ke kamar, biar Mas bisa beristirahat." Kata Aruna. Aruna berjalan menuju sebuah kamar yang letaknya tak jauh dari ruang tamu. Gavin mengekorinya di belakang

Begitu pintu di buka, Gavin mematung di ambang pintu.

Kamarnya sangat sederhana. Sebuah tempat tidur besi tua, sprei putih bersih yang disetrika kencang hingga tak ada satupun kerutan, dan sebuah meja kayu kecil dengan vas berisi bunga sedap malam.

Gavin masuk dan langsung mengeluarkan sebuah kartu plastik kecil dari dompetnya. Ia mencoba menyelipkan kartu itudi sela lipatan sprei. Kartunya tidak bisa masuk karena tarikan spreinya terlalu kencang.

"Luar biasa," bisik Gavin takjub. "Tingkat ketegangan sprei ini mencapai standar hotel bintang lima. Dan sudut lipatan selimutnya... tepat empat puluh lima derajat."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!