Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Jam sembilan mereka sudah berkumpul diwarung yu War, nampak pelanggan warung juga silih berganti datang dan pergi, Peno dan ketiga temannya memesan kopi dan sambil menawarkan rokok hasil dari Peno bermain catur tadi.
"yu, kami pesan kopi empat, sama mau nawarin rokok barang kali yu War mau beli!?" ucap Maman pada yu War.
"rokok apa Man, sekarang kamu jadi sales rokok?" tanya yu War.
"iya yu, sales dadakan, ya rokok macem macem yu, tadi si Peno main catur hadiahnya rokok, makanya sekarang kami mau jual!" jawab Maman.
"coba sini ada berapa bungkus, tapi aku belinya dibawah harga pasaran ya!?" kata yu War lagi.
"nih yu, ada tiga puluh bungkus, macem macem merknya, satu bungkusnya dibayar lima belas ribu saja gapapa!" ucap Maman sambil memperlihatkan bungkusan rokok yang dari tadi ia bawa.
"ooh ya wis aku bayar, tapi apa kalian ga mau ambil satu anak satu bungkus!?" ucap yu War yang berminat membayar rokok mereka.
"ya wis yu, yang kami jual dua puluh lima bungkus saja, nanti yang lima kami bagi!" kata Eko.
"kok lima Ko, kan kita cuma berempat?" tanya Peno.
"khusus kamu dua bungkus No, kan kamu yang modal otak buat mendapatkan rokok rokok ini, he he he......,!" ucap Dimin menjelasakan maksud Eko.
"ooh gitu, ya wis, kami bayar kopinya pakai uang rokok ya yu, sekarang bikinin kopi dulu buat kami, bayar rokoknya nanti saja!" ucap Peno lalu melangkah mencari kursi yang masih kosong.
"oke, siap, ditunggu saja, kopi segera hadir!" jawab Yu War langsung membuatkan kopi untuk Peno cs.
Tak berselang lama pak Supri datang dengan salah satu temannya yang sama sama satu kantor, mereka sengaja datang untung membicarakan program dari kantor tempat mereka dinas, yaitu di kantor dinas pemuda dan olahraga.
"weh ada atlit disini, sudah lama kalian!?" tanya pak Supri saat melihat Peno dan teman temannya diwarung dan malah ikut bergabung duduk dengan mereka.
"belum pak, nih kopinya masih banyak, he he he he.....!" jawab Eko.
"kopinya ga ada temannya?" tanya pak Supri lagi.
"belum pak, lagi nunggu ditraktir, ha ha ha ha.....!" ucap Dimin sedikit bercanda.
"ya wis pesan saja, sekalian aku pesankan kopi dua!" kata pak Supri.
"gorengannya berapa pak?" tanya Dimin lagi.
"gorengannya satu porsi, gampang nanti kalau kurang, kebetulan aku ketemu kamu disini No, ada yang mau aku sampaikan!" ucap pak Supri pada Peno sambil menunggu pesanan kopinya datang.
"memangnya ada apa pak?" tanya Peno.
"dua minggu lagi dikabupaten akan diasakan kejuaran catur tingkat kabupaten, dan nanti yang menang akan dikirim ketingkat propinsi, jika menang lagi ya ketingkat nasional, kebetulan aku sama pak Basuki ini ditunjuk jadi panitia kejuaraan tersebut, nah aku ingin kamu ikut dalam kejuaraan itu!" ucap Pak Supri menjelaskan maksudnya pada Peno.
"hadiahnya ada uangnya ga pak?" tanya Dimin yang sudah kembali dari memesan kopi untuk pak Supri dan pak Basuki.
"ada, kalau ditingkat kabupaten hadiahnya uang pembinaan sebesar lima juta!" kali ini pak Basuki yang menjawabnya.
"wiih mantap, ikut No, lumayan itu hadiahnya bisa buat beli motor bekas!" kata Eko meminta Peno untuk ikut kejuaraan catur.
"itu pesertanya umum pak?" tanya Peno, ia ingin tahu secara detail aturan dari kejuaraan catur tingkat kabupaten itu.
"pesertanya wakil dari setiap kecamatan No, makanya kamu nanti bertanding dulu ditingkat kecamatan yang jadwalnya diadakan minggu depan dimasing masing kantor kecamatan!" jawab pak Supri menjelaskan.
"lha car mendaftarnya gimana pak, apa itu tunjukan dari desa?" tanya Peno lagi.
"satu desa mengirim perwakilannya satu orang, kemarin pak kades sudah menghubungi aku, meminta aku yang mewakili desa kita ini, tapi karena aku panitia dan juga kemarin aku kalah sama kamu jadi aku sudah mengusulkan namamu sama pak kades biar kamu saja yang mewakili desa kita ini No!" jawab pak Supri lagi.
"lah kok saya belum diberi tahu apa apa ya pak, ga ada surat juga dari desa!?" ucap Peno.
"yang bener No!" kata pak Supri kaget.
"iya bener pak, tahu ada kejuaraan saja baru malam ini dan pak Supri yang ngasih tahu!" jawab Peno.
"wah tidak beres ini, padahal harusnya surat undangan sudah sampai kepeserta hari ini, coba aku tanya pak kades!" kata pak Supri sambil mengambil ponselnya untuk menelpon pak kades.
Pak Supri pun menelpon pak kades dengan agak menjauh dari meja tempat mereka duduk, bahkan sekarang pak Supri sudah keluar dari warung, raut wajahnya terlihat marah dan kecewa, setelah sambungan telpon selesai pak Supri pun kembali kemeja tempat Peno dan teman temannya serta pak Basuki duduk.
"ini kurang ajar No, kamu disabotase, ternyata pak kades malah menunjuk adiknya sendiri untuk mewakili desa kita ini, padahal aku tahu kalau si Agus itu lawan aku saja selalu kalah!" ucap pak Supri sedikit emosi.
"ha ha ha ha....., ya biar saja pak, berarti belum rejeki saya untuk ikut kejuaraan itu, mudah mudahan pak Agus nanti bisa sampai ketingkat kabupaten!" jawab Peno dengan entengnya sambil tertawa.
"wah, ini tidak boleh dibiarkan, masa desa kita mau diwakili sama pak Agus yang sama pak Supri saja kalah, gimana nanti melawan para peserta dari desa yang lain!" ucap Eko yang juga ikut kecewa sebab Peno tak jadi ikut dalam turnamen itu.
"iya benar Ek, kita harus protes sama tuh kades, apa apa yang dilibatkan selalu keluarganya, ada bantuan keluarganya yang menerima, ada program dari pemerintah kabupaten keluarganya yang diikutsertakan, kita demo saja biar turun!" kata Dimin yang juga emosi Peno tidak jadi ikut ditambah dengan keluarganya yang hidup pas pasan sama sekali tidak pernah dapat bantuan.
"ada cara lain ga pak biar Peno bisa ikut diturnamen ini?" tanya Maman yang sifatnya memang sedikit tenang.
"ada Man, tapi lewat jalur umum dan harus banyar uang pendaftaran yang sedikit mahal, biasanya yang lewat jalur umum itu orang orang yang memang hobi main catur dan sudah kalah ditingkat kecamatan, kalau lewat jalur seleksi kan gratis tanpa biaya!" jawab pak Supri.
"memang berapa biayanya pak kalau yang daftar lewat jalur umum?" tanya Maman, sedangkan Peno hanya diam saja menyimak sambil ngemil gorengan pisang.
"kalau untuk umum biayanya empat ratus ribu, karena uang dari pendaftaran itu nanti sebagian untuk hadiah dan juga nanti ada konsumsi dari panitia!" kali ini pak Basuki yang menjawab.
"ya wis pak, Peno ikut daftar dari jalur umum!" ucap Maman mantap.
"uang dari mana Man buat daftar, wis ga usah dipaksakan, ga ikut juga gapapa kok, kita nonton saja nanti kalau pas tingkat kabupaten!" ucap Peno yang merasa bingung saat Maman mendaftarkan dirinya.
"kamu tenang saja No, urusan uang pendaftaran biar aku yang cari, itu tadi uang bayaran rokok kan juga belum diambil, lumayan ada tiga ratus ribu, nah sisanya nanti kita cari atau patungan satu anak duapuluh lima ribu!" ucap Maman.
"sisanya aku saja Man yang nutup seratus ribu!" kata pak Supri ikut nimbrung.
"deal, kamu ikut turnamen No, jangan kecewakan kami, main yang sungguh sungguh, kami percaya kamu bisa!" kata Maman sambil menepuk bahu Peno.