Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.
Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.
Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.
Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Situs Kawitan
"Alessa, sudah apa belum?" Sena bertanya dengan suara sedikit keras agar didengar oleh gadis itu.
"Sudah, bentar." sahutnya dengan suara yang lirih, ia merasakan nafasnya tersengal karena baru saja selesai melakukan pelepasan bersama makhluk tak berwujud.
Ternyata apa yang dikatakan oleh kuncen tersebut, jika larangan mengenakan pakaian yang tidak sopan, bertujuan untuk tidak memancing makhluk mesum bernama Genderuwo, sebab hutan Alas Purwo banyak dihuni oleh Genderuwo yang mendiami hutan bambu.
Sosok itu selalu tidak tahan jika melihat wanita berpakaian minim, dan membuatnya terpancing untuk melakukan pelecehan.
Baru saja perjalanan mereka dimulai, kini sudah mendapatkan teror yang tak lazim, dan membuat salah satu rekan mereka dirudal paksa oleh sang Genderuwo.
Alessa keluar dari balik rumpun bambu, wajahnya terlihat memerah, ia sangat malu untuk menceritakan apa yang terjadi, tetapi ia merasakan dengan jelas apa yang dilakukan oleh makhluk itu.
Tanpa sadar, Alessa lupa mematikan rekamannya.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, setelah menempuh medan yang cukup membuat nyali tertantang, mereka tiba di situs terpenting kota Banyuwangi, dan terletak di hutan Alas Purwo, yaitu situs Kawitan.
"Lihat, itu situsnya." Nathan menunjuk ke arah sebuah bangunan yang berbentuk gapura dengan empat anak tangga.
Situs Kawitan: Ditemukan pada tahun 1960-an, ini adalah reruntuhan bangunan kuno yang dianggap sebagai gapura dari Kerajaan Blambangan (Majapahit) pada abad ke-14. Kata "kawitan" berarti asal-usul, sesuai dengan kepercayaan Alas Purwo adalah tanah pertama Pulau Jawa.
Mereka bersorak riang, rasa lelah mereka yang melewati jalanan berlumpur sudah terbayar dengan melihat langsung situs bersejarah tersebut.
Kesepuluh kawula muda itu bergegas menuju gerbang yang menjadi kebanggan Banyuwangi.
Alessa kembali merekam, sedangkan yamg lainnya memotret dengan kamera masing-masing.
Aura mistis langsung terasa. Seolah ada banyak ribuan jin yang sedang memperhatikan mereka.
"Ijin rekam, ya--Mbah, kita gak ganggu," ucap Sena, sebelum merekam menggunakan ponsel canggihnya.
"Iya, Cu, silahkan," sahut Axel, dengan nada berkelakar, sesaat suasana mencair, setelah ketegangan yang terjadi.
Akan tetapi, Alessa seperti merasakan perubahan yang berbeda sejak peristiwa tersebut, ia lebih banyak diam.
Didepan situs Kawitan, ada terlihat beberapa umat Hindu yang sedang melakukan ibadah. Mereka tak ingin mengusik ketenangan, dan memilih masuk ke dalam gapura, sebab disana ada Pura Giri Salaka yang dibangun didalamnya setelah penemuan situs Kawitan, dan dikhususkan untuk umat Hindu yang ingin beribadah tanpa dipungut biaya masuk.
Saat memasuki gerbang, seolah mereka sedang berada didunia yang berbeda, aura mistis semakin kuat, dan membuat mereka tak ingin berhenti berjalan.
Tanpa sadar, satu sosok wanita cantik sedang memperhatikan Nathan yang berjalan dibarisan paling depan.
Sosok itu sudah ada sejak saat masuk pintu gerbang hutan Alas Purwo, dan ternyata ia mengikuti mereka, tetapi lebih tertuju pada Nathan.
Wajahnya cantik, rambutnya hitam dan disanggul. Ia mengenakan pakaian kebaya hitam yang terbuat dari beludru. Wajahnya cukup tenang, dan menebarkan aroma melati yang menenangkan.
Sosok wanita cantik itu bernama Gayatri, ia adalah puteri bangsawan pada masa kerajaan, dan kehadirannya bukan untuk mengganggu, hanya saja, ia tertarik pada pemuda itu.
Sosok itu terus saja mengikuti sang pemuda, seolah tak lepas menatap wajah tampan yang penuh pesona dan juga aura yang ditampilkan oleh sang pemuda cukup memikat hatinya.
Nathan mengendus aroma melati yang ia rasa sejak dari gerbang loket sudah terus tercium, tetapi ia tak menghiraukannya, sebab merasa jika itu hal yang wajar, karena mereka berada ditempat yang dikatakan sebagai gerbang menuju alam ghaib.
Mereka tiba disebuah pura, bangunan tersebut terdapat tiga buah Candi yang cukup menarik dan terawat.
Dicandi tersebut, juga banyak para wisatawan lain berfoto dan juga beribadah, membuat suasana semakin terasa berbeda.
"Ayo, kita harus meneruskan perjalanan, sebab ke Goa Istana sudah hampir dekat, tujuan kita kan kesana," Kael terlhat tak sabar, sejak tadi ia merangkul pinggang Naura, seolah dunia milik mereka berdua.
Begitu juga dengan Manda dan juga Jhony, mereka seperti pasangan kekasih yang tak dapat dilepaskan.
Sedangkan Axel mendekati Alessa, namun sejak kejadian pelecehan oleh sosok astral tersebut, Alessa merasa seperti uring-uringan.
Tubuhnya seperti selalu merasa panas, dan bergelora.
"Lessa, kamu kenapa? Wajahmu kek merah terus?" tanya pemuda berambut panjang sebahu itu. Ia melirik pakaian sang gadis yang cukup menggoda, sepertinya gadis itu memiliki aura yang menarik lawan jenisnya.
"Gak apa-apa, kok. Hanya capek dikit aja," jawabnya berbohong.
"Tapi kamu cantik banget hari ini, emmm, salahnya dihutan," celoteh pemuda itu dengan senyum genit.
"Emangnya kenapa dihutan?" balas Alesaa tak mau kalah, sepertinya ada dorongan lain dari dirinya untuk menyahuti ocehan pemuda tersebut.
"Kalau bukan dihutan, udah habis kamu aku buat," jawab Axel dengan terkekeh," Alessa yang mendengar ucapan pemuda itu menanggapinya dengan gelisah, sebab ia seperti terjebak dalam perangkap yang tak dapat dijelaskan.
"Eh, jangan mesum." Sena yang berada dibelakang Axel menjewer telinganya. "Gak ingat tadi apa pesan si Kuncen, jangan berbuat tidak sopan, emangnya kalian mau kita kena sial?" Sena mengingatkan dengan mata melotot, dan Axel mengusap telinganya yanh panas akibat cubitan dari gadis bergaya tomboy tersebut.
"Bawel, sejak kapan pula kamu ada dibelakang?" Axel terlihat kesal, sebab tak menyadari jika mereka berangkat bukan berdua tetapi bersepuluh orang.
Sena tak menjawab, ia hanya mencebikkan bibirnya, kemudian berlalu.
Sedangkan rekan mereka yang lainnya, sibuk merekam pura yang dibangun cukup indah.
"Ayo, kita lanjutkan lagi, kita harus pulang sebelum senja," ajak Nathan dengan nada komando kepada para rekannya.
Ketika pemuda itu beranjak pergi meninggalkan Pura Giri Selaka, sosok wanita cantik itu terus mengikuti Nathan, seolah ia merasa jika harus mengawasi sang pemuda, dan tak ingin membiarkannya mendapatkan masalah, sebab diantara rekan-rekannya, ada yang menampilkan aura kegelapan.
Mereka meninggalkan Pura, lalu keluar dari gerbang Situs Kawitan menuju goa Istana, dan disana adalah tempat terakhir yang akan mereka kunjungi.
Sepanjang perjalanan, Axel dan Alessa selalu berduaan, Jhony bersama Manda, Kael dengan Naura, sedangkan Kenny berusaha mendekati Gita, meskipun ia tahu jika gadis itu sedang mengincar Nathan, tetapi ia tak menghiraukannya, sebab Nathan lebih condong kepada Sena.
Tiga pasangan yang memilih berjalan dibagian belakang terlihat saling bergandengan, bahkan Axel tak segan untuk merangkul pinggang ramping Alessa, dan sialnya, gadis itu hanya diam, seolah memberi celah pada pemuda untuk berbuat lebih, sepertinya makhluk ghaib yang tadi menggahinya memiliki aura mesum yang cukup kuat.
Pura Luhur Giri Salaka: Dibangun di atas Situs Kawitan setelah ditemukan, menjadi tempat ibadah umat Hindu untuk ritual dan semedi, seperti upacara Pagerwesi
kasihan yaa para keluarga nya yg kebingungan mencari keberadaan mereka semuanya 😔
Semoga Naura dan Kael serta Nathan bisa menemukan kitab kuno itu, sehingga mereka bisa bebas dari hutan Alas Purwo.. 🙏