Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.
Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.
Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.
Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.
Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog: Bara di Antara Kabut Langit
Hikayat Dewa Kujang: Era Sembilan Surya
Prolog:
Benua Arcapada tidak pernah benar-benar biru. Konon, ribuan tahun lalu, seekor makhluk purba bernama Hyang Garudeya pernah membakar angkasa dengan tujuh lapis api surgawi karena murka dikhianati oleh manusia.
Api itu padam hanya setelah sembilan pendekar tingkat Moksha Nirwana¹ mengorbankan jiwa mereka untuk menyegel sang raja burung ke dalam tubuh seorang bayi dari garis keturunan terkutuk.
Sejak hari itu, dunia memasuki era baru.
Era di mana kekuatan adalah hukum mutlak, dan nyawa orang lemah lebih murah daripada segenggam beras.
Di pelataran latihan Perguruan Lembah Kabut, ratusan murid sedang berlatih jurus dasar. Suara hentakan kaki dan teriakan semangat menggema, membelah udara pagi yang dingin. Mereka adalah tunas-tunas muda dari berbagai klan kecil yang bermimpi menembus tingkatan Adhikara².
Namun, di sudut terpencil pelataran itu, jauh dari keramaian, duduk seorang pemuda di atas batu besar yang berlumut.
Namanya Raden Bara Wirasena.
Tidak seperti murid lain yang bercucuran keringat melatih jurus pukulan, Bara hanya duduk diam. Di pangkuannya, tergeletak sepasang Kujang besi yang terlihat tua, berkarat, dan menyedihkan.
Jari-jarinya yang kasar mengusap bilah senjata itu dengan gerakan lambat, seolah sedang menenangkan binatang buas yang sedang tidur.
"Lihat si Pembawa Sial itu,"
bisik seorang murid dari Wangsa Agnimara³, sengaja mengeraskan suaranya.
"Dia bahkan tidak punya Prana⁴ untuk membersihkan karat di senjatanya sendiri. Kenapa Ketua Perguruan masih membiarkan sampah sepertinya tinggal di sini?"
Gelak tawa pecah di antara kelompok murid elit itu.
Bara mendengar semuanya. Namun, ekspresinya tetap datar. Tidak ada guratan kemarahan, tidak ada kerutan kening.
Wajahnya tenang seperti permukaan danau yang dalam—jenis ketenangan yang justru membuat orang yang peka merasa tidak nyaman.
"Mereka berisik sekali, Mitraku. Bolehkah aku membakar lidah mereka?"
Sebuah suara berat dan purba bergema di dalam kepala Bara. Suara itu bukan miliknya. Itu adalah suara yang membawa hawa panas, seolah berasal dari inti gunung berapi.
Bara menjawab dalam hati, nadanya dingin dan penuh wibawa. "Tidur saja, Garuda. Singa tidak menoleh ketika anjing menggonggong. Biarkan mereka menikmati masa kecil mereka."
Bara mengangkat salah satu Kujang berkarat itu sejajar dengan matanya. Orang lain hanya melihat besi rongsokan, tetapi mata Bara—yang sesekali berkilat keemasan—melihat sesuatu yang lain. Di balik lapisan karat itu, terdapat aliran energi merah menyala yang berdenyut, lapar akan darah.
Ia tahu, dunia ini dikuasai oleh Catur Wangsa. Empat keluarga besar yang memegang kendali atas kehidupan dan kematian. Mereka sombong, merasa sebagai pemilik langit dan bumi. Mereka tidak tahu bahwa di lembah terpencil ini, "wadah" yang menampung bencana terbesar dalam sejarah sedang menanti waktu yang tepat.
Bara berdiri. Gerakannya halus, tanpa suara. Saat ia menyarungkan Kujang ke pinggangnya, angin di sekitar pelataran tiba-tiba berhenti berhembus sesaat. Burung-burung di pohon terdiam.
Seorang instruktur senior yang sedang mengawasi latihan merasakan bulu kuduknya meremang. Ia menoleh cepat ke arah Bara, namun pemuda itu sudah berjalan menjauh, punggungnya tegap dan kokoh, menghilang ke dalam kabut hutan yang pekat.
Hari ini adalah hari ujian kenaikan tingkat. Dan Bara sudah lelah berpura-pura menjadi pecundang. Segel itu telah retak.
Catatan Kaki (Glosarium):
* Moksha Nirwana: Tingkatan tertinggi (ke-9) dalam dunia persilatan, setara dengan Dewa yang abadi.
Adhikara: Tingkatan pertama (dasar) bagi seorang pendekar, fase pembentukan fisik dan otot sebelum bisa menggunakan tenaga dalam.
Wangsa Agnimara: Salah satu dari Empat Keluarga Besar (Catur Wangsa) yang menguasai elemen api dan dikenal dengan sifat agresifnya.
Prana: Energi kehidupan atau tenaga dalam yang mengalir di tubuh pendekar dan alam semesta (mirip Qi atau Chakra).
Sistem Tingkatan Pendekar (The 9 Realms)
Setiap tingkatan dibagi menjadi 4 tahap: Dasar, Menengah, Tinggi, puncak.
Adhikara (Pemula/Pembentukan Fisik)
Prana Vayu (Pengolahan Energi/Napas)
Wira Sukma (Jiwa Pendekar)
Agni Yuda (Api Perang - Mulai memanipulasi elemen alam)
Bumi Pala (Pelindung Bumi - Bisa terbang/memijak udara)
Akasa Suksma (Roh Langit - Membuka Domain/Wilayah kekuasaan)
Surya Kencana (Matahari Emas - Setara pemimpin sekte besar)
Batara Indra (Setara Dewa/Sage)
Moksha Nirwana (Keabadian/Dewa Tertinggi)
Catatan Kaki (Footnote):
Adhikara: Berasal dari Sansekerta yang berarti otoritas atau penguasaan awal (fisik).
Vayu: Angin/Udara/Napas kehidupan.
Agni: Api.
Akasa: Angkasa/Ether/Ruang hampa.
Moksha: Kelepasan/Kebebasan abadi dari ikatan duniawi.