Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertikaian dan Tangisan
Semuanya bermula pada sore hari ketika kami sudah kembali keposko untuk istirahat, ketika itu tiba-tiba saja Dani merasa aneh dengan tubuhnya. Dia merasakan panas pada seluruh tubuhnya sehingga kehilangan kendali seperti orang gila. Kami pun berusaha untuk menenangkanya tapi percuma, pemuda itu tidak lagi menjadi dirinya sendiri.
“Tenang lah” kata Putra dengan lantang memukul Dani hingga pingsan.
“Putra, apa yang kau lakukan” kata teman-teman ku terkejut
“Eh?” Putra juga terkejut karena tangannya bergerak sendiri
“A-aku gak bermaksud memukulnya” katanya
“Dani, kamu baik-baik saja” tanya Sri tapi pemuda itu sudah tak sadarkan diri
“Maaf kan aku Dan” Putra hendak minta maaf tapi Anwar menahannya
“Apa maksudmu memukul Dani begitu” bicara Anwar
“Nggak, aku—“
“Apa? Aku tidak terima” kata pemuda itu lalu memukul Putra juga
“Woi kordes, jangan begitu” celetuk Fatin lalu Ikon langsung menahan Anwar sementara itu aku menahan Putra agar tidak membalas.
“Kalian ini kenap sih?Kenapa jadi tiba-tiba bertengkar” ucap Fatin lagi
“ Dia yang mulai duluan, lihat Dani sampai pingsan” kata Anwar
“A-aku nggak sengaja” dalih Putra
“Apanya nggak sengaja pukulan keras begitu” bantah Anwar lalu memberontak untuk menyerang Putra lagi tapi Ikon berhasil menahannya dan membawanya pergi jauh. Beberapa teman-teman ku perempuan pun terpisah, ada yang ikut Anwar dan ada juga masih bersama Putra lalu sisanya Sri dan Zee membawa masuk Dani kedalam posko dengan cara menariknya
“Tenang, kordes” ucap Ikon
“Kamu kenapa sih kordes” tanya Nadin tapi Anwar sama sekali tidak membalas, wajahnya memerah karena masih emosi.
Sementara itu Putra lebih tenang, kami berdua duduk sambil berpikir mengenai apa yang terjadi. Dia menjelaskan kalau tangannya bergerak sendiri diluar kesadarannya.
“Jadi maksudnya kamu gak sadar sudah mukul Dani, tiba-tiba aja gitu tanganmu gerak” ucap Ruka mencoba memahami lalu Fatin mempraktekannya dengan memukul Eni
“Ihs jangan gitu” bicara Dila
“Heheh” Fatin cengir
“Nggak masuk di logika ku Put,bagaimana ceritanya kamu masih sadar tapi gak bisa ngandelin diri kamu” ungkap Ruka
“Iyah itu dia, aku juga nggak paham kenapa bisa gitu” dalih Putra bingung
“Terserah kalian mau percaya atau tidak” katanya
Kemudian tak lama datang lah Tian, “Bagaimana ini teman-teman, kita kan udah janji mau pergi kerumah pak desa untuk membantu bungkus hadiah disana—tapi kalau masalahnya gini nanti” tuturnya
“Tenang aja, tetap kita akan pergi tapi jangan beritahu apapun kepada ibu atau bapa mengenai masalah ini” bicara Zee
“Kamu bisa kan menahan diri saat disana” lanjut Zee bertanya pada Putra
“Kalau aku sih bisa, tapi kordes nggak tau” balas pemuda itu lalu Zee pun beranjak dan pergi menghampiri Anwar
“Anwar, kamu kordes kan disini” ucapnya dengan lantang tapi Anwar sama sekali tidak menggubrisnya
“Jawab aku, liat sini” kata Zee lagi dengan tegas lalu Anwar pun menjawab iya dan melihat kearahnya
“Jadi gini, malam ini kan kita udah janji mau kerumah bu desa untuk membungkus hadiah. Nah saat disana kamu bisa kan menahan diri dulu untuk gak emosi” tutur Zee tapi Anwar kembali tidak menjawabnya
“Dan satu lagi jangan sampai masalah ini bocor dan diketahui oleh mereka, semuanya bisa kan” tegas perempuan itu
“Siap bisa” jawab Anwar
“Nah begitu kordes, jawab dengan tegas” ucap Ikon mencoba untuk mencairkan suasana dengan candaanya
Malam itu kami pun berangkat menuju rumah ibu desa, sesampainya disana kami langsung disambut dengan beliau dan beberapa remaja yang juga akan membantu membungkus hadiah untuk kegiatan tujuh belasan agustus nanti. Saat itu aku sendiri duduk disamping Putra sambil terus memperhatikanya, sesekali dirinya merasa aneh tapi dia masih bisa mengendalikanya.
“Enal, tolong ambilkan guntung itu dong” bicara Ikon lalu aku pun memberinya gunting tersebut tapi hampir melukainya
“Ihs, pelan-pelan lah” kata Ikon berhasil menghindar
“Eh?” aku terkejut karena merasa tangan ku bergerak sendiri
“A-ada apa dengan ku” pikir ku diam sejenak
“Kenapa diam Nal?” tanya Eni yang duduk disamping ku
“Nggak kok” balas ku lalu lanjut membungkus hadiah lagi.Aku masih belum tenang karena memikirkan hal yang ku lakukan sebelumnya lalu aku jadi ingat ucapan Putra sebelumnya yang bilang kalau tanganya bergerak sendiri. Sepanjang malam itu aku pun terus memikirkanya, aku mulai merasakan ada sesuatu yang aneh lagi telah terjadi pada kami. Namun Putra mencoba untuk menenangkan ku, begitu juga dengan Eni walaupun dia gak tau apa-apa tapi dia memegang bahuku sambil mengucapkan kalimat-kalimat positif. Saat itu ada seseorang yang mengamati ku, penasaran dengan apa yang terjadi. Setelah selesai membungkus hadiah kami pun pamitan untuk pulang kembali keposko
“Ayo tenang lah diriku” gumam ku lalu kami beranjak dari rumah bu desa. Saat itu semuanya baik-baik saja, hingga sampai didalam posko tiba-tiba saja Anwar berlari dan memukul Putra. Semuanya pun terkejut, Ikon langsung menahan Anwar
“Berani juga yah kamu ini” kata Putra mulai marah, aku mencoba untuk menahannya tapi tak bisa karena kekuatannya lebih besar dari kekuatan ku. Pemuda itu pun melayangkan tendanganya kearah Anwar sehingga membuatnya terdorong kebalakang bersama Ikon.
“Aaak” desih Ikon lalu Nadin langsung memeluknya agar kekasihnya itu gak ikutan marah
“Tenang sayang, jangan marah” pintanya menangis
“Lepaskan aku—“ balas Ikon tapi Nadin terus memegangnya semakin kuat.
“Aku baik-baik saja, tapi Anwar—“
“Rasakan ini” ucap Putra yang kembali memukul Anwar hingga terjatuh ditanah
“Putra sudah, hentikan” Dila dan Ruka mencoba untuk menahannya
“Anwar...war, kamu tidak apa-apa” tanya Eni membantu Anwar bangun
“Pertanyaan apa itu, jelas-jelas tadi Putra memukulnya sangat keras. Gak mungkin dia gak sakit” kata Fatin
“Lepaskan aku, dia yang mukul duluan tadi” ucap Putra tapi Dila dan Ruka menahanya dengan kuat.
“Kalian ini kenapa sih” bicara Nadin sambil menangis lalu Eni pun jadi ikutan menangis juga.
“Cukup woi, cukup—apa sih yang terjadi sama kalian” ucapnya dengan lantang
“Bacot...sialan” kata Anwar lalu berlari menyerang Putra tapi Zee berhasil menahanya
“Lepaskan aku Zee” pekiknya
“Pak kordes sudah, hentikan—“ balas Zee menahan Anwar
“Sini kamu maju, kita habis-habisan malam ini” kata Putra mendekati Anwar.
“Biarkan saja mereka, gak usah ditahan” bicara Ikon
Sementara itu aku merasa kesakitan pada bagian dada dan kepala ku, “ Aarrgh”desih ku lalu Eni mencoba untuk menahan ku karena pikirnya aku juga akan emosi. Saat itu aku mendengar banyak sekali suara aneh dalam pikiran ku.
“Berisik, berhenti—jangan mengganggu ku” pekik ku namun suara itu sama sekali tidak hilang malahan makin ribut dan berhasil menguasai ku. Setelah itu aku pun kehilangan kendari atas diri ku sendiri, aku seperti berada dalam ruangan yang sangat gelap.
“Kazen jangan” pekik Eni mencoba menahan tubuh ku yang menyerang Anwar dan Ikon, sementara itu kesadaran ku sebenarnya sudah tidak berada lagi dalam tubuh itu.
“Dimana ini?” ucap ku mencoba mencari jalan keluar tapi hanya kegelapan yang ada. Lalu aku pun putus asa dan terduduk dalam ruangan tersebut. Tatapan ku penuh dengan kekosongan, Eni terus memanggil-manggil namaku tapi aku tidak membalasnya. Hingga tiba-tiba satu suara yang sangat lantang berhasil menembus ruangan gelap tempat ku berada.
“Berhenti...kalian ini kenapa sih begini?” suara itu berhasil menggetarkan seisi ruangan. Suara itu tak lain berasal dari Ruka si gadis dengan kesadaran aneh.
“Kalian ini yah—kalian sadar gak sih dengan yang sudah kalian lakukan. Lihat kami perempuanya, semuanya menangis karena ulah kalian” ungkap Ruka yang juga meneteskan air mata.
“Kalian kenapa sih?Apa yang buat kalian sampai bertengkar gini. Baru beberapa hari kita KKN disini tapi sudah kacau begini”
“Kalau kalian begini terus, tidak mau berhenti maka sebaiknya kalian pergi aja deh. Tinggalkan kelompok ini, kami gak apa-apa gak ada laki-laki dikelompok ini” tutur Ruka
“Hikss..hiks” suara tangisanya begitu jelas lalu Dila pun mencoba untuk menenangkannya
“Aku itu datang kesini untuk KKN, bukan untuk melihat kejadian seperti ini” lanjutnya
“Yah, aku juga sama. Sudah cukup aku trauma pada masa laluku tapi malam ini kalian malah mengingatkan ku lagi pada hal itu” bicara juga Fatin
Saat itu dalam ruangan gelap tempat ku berada tiba-tiba munculah sebuah layar yang menampilkan wajah teman-teman ku
“Ruk-a..Fatin” gumam ku melihat mereka mereka menangis
“Terus kamu juga Ikon, kenapa kamu malah membiarkan mereka bertengkar” bicara juga Dila
“A-aku pikir dengan begitu mereka bisa menyelesaikan permasalahnya sehingga nanti gak akan ada dendam lagi’ dalih Ikon
“Salah itu, harusnya kamu menghentikan mereka supaya gak bertengkar lebih parah” tukas Dila dengan nada tinggi lalu tiba-tiba Tian menangis sangat keras
“Dil...Tian” ucap ku yang melihat mereka melalui layar lalu munculah Zee dengan menepuk-nepuk tanganya keras.
“Masih mau bertengkar lagi kalian ha?” ucapnya
“Dasar yah kalian ini, sikap kalian malam ini sama sekali gak mencerminkan seorang mahasiswa bahkan mungkin manusia. Kelakukan kalian lebih mirip hewan gila” kata Zee dengan lantang sehingga membuat suasana jadi hening.
“Aku kecewa pada kalian semua, ku pikir kalian adalah orang-orang yang berbeda tapi ternyata sama saja dengan teman-teman ku waktu magang bahkan lebih parah”
“Kalian semua kayak bocah, termakan oleh emosi sendiri kayak anjing gila. Buruk, kalian benar-benar manusia paling buruk malam ini” ungkap perempuan itu sangat marah lalu pergi.
“Jangan kalian muncul lagi dihadapan ku” kata Fatin
“Aku membenci kalian semua” ucap juga Tian lalu mereka semua pergi meninggalkan kami laki-lakinya. Saat itu aku pun juga mulai sadar dan kembali lagi pada tubuh ku, namun semuanya sudah terlambat. Suasana dalam posko pun jadi sepi dan hening karena hanya ada beberapa orang perempuanya kecuali kami laki-lakinya didalam semua. Aku melihat Putra yang duduk melipat tubuhnya sambil termenung lalu Anwar tertunduk lesu bersama Dani disampingnya. Hanya Ikon yang masih terlihat senyum tapi Nadin langsung memukulnya sehingga dia jadi ikutan merenung.