Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Kehidupan Baru
Jakarta di malam hari ternyata punya pesona yang jauh berbeda dibandingkan saat siang yang gerah dan berisik. Setelah beberapa bulan menetap di sini, Alisa mulai terbiasa dengan ritme kota yang serba cepat, meskipun sesekali ia masih merindukan keheningan batalyon di tengah hutan. Satria kini sudah resmi pindah tugas ke markas besar, menempati posisi strategis di bagian pengembangan sistem komunikasi terpadu. Kepindahannya bukan hanya soal karir, tapi juga soal janji yang ia bisikkan pada Alisa di joglo waktu itu. Mayor Cakra pun tidak ketinggalan; ia kini menjabat sebagai salah satu perwira menengah di Mabes, sebuah posisi yang membuatnya lebih sering memakai seragam PDU yang rapi daripada loreng tempur yang penuh lumpur. Perubahan ini membawa angin segar bagi hubungan Alisa dan Satria yang kini sudah melangkah lebih jauh menjadi sepasang kekasih. Status "pacaran" itu tidak datang dengan ledakan kembang api, melainkan tumbuh secara organik dari rasa saling percaya yang sudah diuji oleh jarak dan badai.
Malam itu, Jakarta terasa sedikit lebih bersahabat. Satria menjemput Alisa dengan mobil pribadinya, bukan lagi jip dinas atau motor trail yang bising. Satria tampak santai dengan kaus polo putih dan celana jins, sementara Alisa terlihat manis dengan kemeja flanel yang ia ikat di pinggang, sisa-sisa gaya santainya di pangkalan yang tidak pernah hilang. Mereka berkeliling Jakarta tanpa tujuan yang pasti, hanya menikmati lampu-lampu jalanan yang berkelebat di balik jendela. "Jakarta kalau malam begini jadi kelihatan lebih cantik ya, Kak. Nggak seserem yang aku bayangin waktu pertama kali datang," ujar Alisa sambil menatap deretan gedung tinggi di sepanjang jalan Sudirman. Satria menoleh sebentar ke arah Alisa lalu tersenyum, tangan kirinya tetap di kemudi sementara tangan kanannya meraih jemari Alisa dengan lembut. "Kota ini emang punya cara buat bikin orang jatuh cinta, Alisa. Tapi tetep aja, pemandangan paling bagus itu waktu aku lihat kamu akhirnya bisa senyum lepas begini di tengah keramaian," balas Satria yang sukses membuat pipi Alisa merona merah.
Mereka akhirnya memutuskan untuk singgah di sebuah taman kota yang cukup tenang di daerah Menteng. Taman itu dikelilingi pohon-pohon besar yang seolah menjadi benteng dari kebisingan jalan raya di baliknya. Setelah memarkir mobil, mereka berjalan pelan menyusuri jalan setapak taman yang diterangi lampu-lampu taman berwarna kuning hangat. Udara malam yang sejuk membuat Alisa secara refleks merapatkan posisinya ke arah Satria. "Gimana kantor hari ini, Kak? Ayah nggak bikin Kakak pusing kan?" tanya Alisa dengan nada bercanda. Satria tertawa kecil, suara tawa yang selalu berhasil membuat hati Alisa merasa tenang. "Ayahmu itu tetap saja Mayor Cakra yang kita kenal, Lis. Di Mabes pun dia tetap disegani. Tadi siang dia sempat mampir ke ruanganku, cuma buat nanya apa aku sudah jemput kamu atau belum. Padahal jam kantor saja belum selesai. Beliau itu sekarang radar protektifnya pindah ke grup WhatsApp keluarga sepertinya."
Alisa tertawa mendengar cerita itu. Ia membayangkan Ayahnya yang kaku kini harus berurusan dengan emoji dan pesan teks singkat untuk memantau keberadaannya. "Ayah emang gitu, Kak. Sejak kita pindah ke sini, dia jadi lebih sering nanya hal-hal sepele. Mungkin dia masih belum biasa lihat aku punya kehidupan sendiri di kota sebesar ini. Tapi aku seneng, Kak Satria bisa sabar hadapin Ayah. Makasih ya sudah nggak menyerah waktu Ayah galak banget di pangkalan dulu," ucap Alisa tulus. Mereka berhenti di sebuah bangku kayu panjang yang menghadap ke kolam air mancur kecil di tengah taman. Satria duduk di samping Alisa, ia merangkul pundak gadis itu dan membiarkan kepala Alisa bersandar di bahunya. "Menyerah itu nggak ada di kamusku kalau soal kamu, Alisa. Waktu aku jemput kamu di tengah badai dulu, aku sadar kalau menjaga kamu itu adalah tugas paling mulia yang pernah aku terima, lebih dari sekadar tugas dari negara."
Suasana taman yang sepi membuat obrolan mereka terasa lebih dalam. Alisa mulai bercerita tentang progres novel ketiganya yang kali ini mengambil latar kehidupan kota besar. Ia merasa Jakarta memberinya banyak perspektif baru tentang perjuangan dan harapan. "Kadang aku mikir, Kak. Kalau waktu itu Kakak nggak yakinin aku buat ambil beasiswa ini, mungkin sekarang aku masih duduk di joglo sambil mikirin apa yang ada di balik bukit itu. Makasih sudah jadi angin buat layarku, Kak," bisik Alisa. Satria mengecup puncak kepala Alisa dengan penuh kasih sayang. "Kamu itu memang ditakdirkan buat jadi besar, Alisa. Aku cuma kebetulan jadi orang yang bukain pintunya. Aku bangga lihat kamu sekarang, sudah jadi penulis yang makin dikenal, makin mandiri, tapi tetap jadi Alisa yang aku kenal di hutan dulu."
Tiba-tiba ponsel Satria bergetar, sebuah pesan masuk dari Mayor Cakra. Satria hanya tersenyum tipis setelah membacanya, tidak berniat membalasnya segera. "Ada apa, Kak? Dari Ayah?" tanya Alisa penasaran. Satria menunjukkan layar ponselnya yang berisi pesan singkat: "Satria, sudah jam sepuluh. Alisa jangan diajak keliling terus, Jakarta tidak seaman pangkalan. Segera antar pulang." Alisa tertawa terbahak-bahak sampai matanya sedikit berair. "Tuh kan, radarnya bunyi lagi! Ayah emang nggak berubah ya, Kak. Walaupun sekarang sudah di Mabes, dia tetap merasa kita masih di tengah hutan." Satria ikut tertawa, ia memasukkan kembali ponselnya ke saku celana. "Nggak apa-apa, Lis. Itu tandanya beliau sayang banget sama kamu. Dan sejujurnya, itu juga pengingat buat aku supaya selalu jaga kepercayaan yang dia kasih. Ayo, kita jalan sebentar lagi sebelum aku anter kamu pulang, nanti Ayahmu beneran kirim tim patroli ke sini."
Mereka bangkit dari bangku taman dan kembali berjalan pelan, kali ini tangan mereka saling bertautan erat. Jakarta yang biasanya terasa asing kini terasa seperti rumah kedua bagi mereka. Di antara gedung-gedung beton dan lampu-lampu kota, Alisa menemukan bahwa cinta tidak butuh tempat yang sempurna untuk tumbuh; cinta hanya butuh dua orang yang bersedia terus berjuang di frekuensi yang sama. Satria menatap Alisa dengan penuh arti, seolah ingin merekam momen ini dalam ingatannya selamanya. "Aku nggak pernah bayangin hidupku bakal seberwarna ini, Lis. Dulu aku pikir hidup tentara itu cuma soal disiplin dan tugas. Tapi kamu datang dan kasih fiksi di hidupku yang terlalu nyata ini," ujar Satria lembut. Alisa mengeratkan genggamannya. "Dan Kakak kasih realitas yang indah buat ceritaku yang terlalu penuh mimpi. Kita impas kan, Kak?"
Malam itu berakhir dengan perjalanan pulang yang tenang. Satria mengantar Alisa sampai ke depan depan rumah dinas barunya di kompleks perwira. Sebelum Alisa turun, Satria sempat menahan tangan gadis itu sebentar. "Alisa, minggu depan ada acara makan malam resmi di Mabes. Ayahmu minta aku buat dampingi kamu. Kamu mau kan?" Alisa tersenyum manis, sebuah senyum yang selalu berhasil membuat Satria merasa seperti ksatria paling beruntung di dunia. "Tentu saja, Kak. Asal Kak Satria janji nggak bakal kaku lagi kalau di depan Ayah nanti." Satria tertawa kecil dan mengangguk. Saat Alisa masuk ke dalam rumah dan melambai dari pintu, Satria masih berdiri di samping mobilnya, menatap kepergian Alisa dengan hati yang penuh. Ia tahu perjalanan mereka masih panjang, namun di bawah langit Jakarta yang kini tidak lagi terasa kelabu, Satria yakin bahwa pangkalan cintanya telah menemukan tempat berlabuh yang paling kokoh.
Jakarta terus berputar dengan segala hiruk pikuknya, namun bagi Alisa dan Satria, mereka telah membangun dunia mereka sendiri. Sebuah dunia yang bermula dari sebuah pangkalan di tengah hutan, diuji oleh badai dan jarak, dan kini mekar di tengah pusat peradaban. Alisa kembali ke mejanya, membuka laptop, dan mulai menuliskan kalimat pertama untuk bab barunya malam itu: "Ternyata, rumah bukan lagi soal tempat, tapi soal siapa yang memegang tanganmu saat kamu mulai merasa tersesat di tengah kota." Sinyal cinta mereka kini memancar lebih kuat dari tower mana pun yang pernah dibangun Satria, menghubungkan dua jiwa yang akhirnya menyadari bahwa mereka adalah satu frekuensi yang tidak akan pernah putus oleh apa pun.