NovelToon NovelToon
Silent Crack

Silent Crack

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Obsesi / Beda Usia / Romantis / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Penulismalam4

Romance psychological, domestic tension, obsessive love, slow-burn gelap

Lauren Hermasyah hidup dalam pernikahan yang perlahan kehilangan hangatnya. Suaminya semakin jauh, hingga sebuah sore mengungkapkan kebenaran yang mematahkan hatinya: ia telah digantikan oleh wanita lain.

Di saat Lauren goyah, Asher—tetangganya yang jauh lebih muda—selalu muncul. Terlalu tepat. Terlalu sering. Terlalu memperhatikan. Apa yang awalnya tampak seperti kepedulian berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih intens, lebih sulit dihindari.

Ketika rumah tangga Lauren runtuh, Asher menolak pergi.
Dan Lauren harus memilih: bertahan dalam kebohongan, atau menghadapi perhatian seseorang yang melihat semua retakan… dan ingin mengisinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulismalam4, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29_Undangan sang CEO

Kantor tidak pernah benar-benar sunyi.

Namun pagi itu, desas-desus bergerak lebih cepat dari biasanya—meluncur dari meja ke meja, dari pantry ke lorong printer, dari ruang rapat ke lift eksekutif.

“Dengar-dengar… Lauren lagi-lagi memukul mundur atasan.”

“Manajer Umum, katanya.”

“Di ruang rapat. Empat mata.”

“Gila… masih sama seperti dulu.”

Nama Lauren Hermansyah kembali menjadi gema.

Bagi karyawan lama, itu bukan kejutan—melainkan pengingat.

Bagi karyawan baru, itu terdengar seperti legenda yang hidup kembali.

Di lantai pemasaran, orang-orang bekerja dengan kepala sedikit lebih tegak. Beberapa mengetik lebih cepat. Beberapa menutup media sosial di layar mereka. Aura kantor berubah: bukan takut, tapi sadar.

Lauren berjalan melewati lorong dengan map tipis di tangannya. Ia tidak menoleh saat bisikan berdesir di belakang punggungnya. Langkahnya stabil, ritmenya sama seperti pagi-pagi sebelumnya.

Maya menyusulnya, berbisik cepat. “Kau sadar semua orang membicarakanmu?”

Lauren berhenti sejenak, menatap layar papan jadwal. “Mereka membicarakan pekerjaanku,” katanya tenang. “Itu urusan mereka.”

Maya tersenyum kecil. “Legenda memang tidak butuh klarifikasi.”

Lauren melanjutkan langkahnya.

Di lantai paling atas, di balik dinding kaca yang menghadap kota, seorang pria muda berdiri dengan tangan di saku celananya.

Arkan Pradipta.

Cucu pimpinan. CEO muda yang namanya lebih sering muncul di laporan finansial daripada di lantai kerja. Usianya belum genap tiga puluh, wajahnya tenang, sorot matanya tajam—jenis orang yang mendengarkan lebih banyak daripada berbicara.

Seorang asistennya berdiri tak jauh, tablet di tangan.

“Pak Arkan,” ucapnya hati-hati. “Ada insiden kecil pagi ini.”

Arkan tidak menoleh. “Insiden?”

“Asal pemasaran. Ketua pemasaran menolak rancangan yang sudah disetujui manajemen. Lalu terjadi konfrontasi dengan Manajer Umum.”

Arkan mengangkat alis tipis. “Dan?”

“Ketua pemasaran… menang,” lanjut sang asisten. “Manajer Umum mundur. Rancangan ditarik.”

Arkan akhirnya menoleh. “Nama?”

Asisten itu menelan ludah kecil. “Lauren Hermansyah.”

Hening sejenak.

Arkan tersenyum tipis—bukan senyum hiburan, melainkan ketertarikan yang jarang muncul. “Jadi rumor itu benar.”

“Rumor, Pak?”

“Bahwa ada satu orang di gedung ini,” kata Arkan pelan, “yang lebih takut pada data daripada jabatan.”

Ia berjalan menuju meja kerjanya, membuka sebuah berkas lama. Nama Lauren muncul beberapa kali—dalam laporan kinerja lama, grafik lonjakan penjualan, catatan konflik internal yang selalu berakhir dengan hasil positif.

“Kapan terakhir dia bekerja di sini?” tanya Arkan.

“Beberapa tahun lalu,” jawab asisten. “Mengundurkan diri setelah menikah.”

“Dan sekarang dia kembali,” gumam Arkan. “Dengan posisi lebih tinggi.”

Ia menutup berkas itu. “Jadwalkan pertemuan.”

“Dengan… Lauren?”

“Ya,” jawab Arkan singkat. “Aku ingin melihat sendiri.”

Asisten itu mengangguk cepat. “Hari ini?”

Arkan melirik jam di pergelangan tangannya. “Besok pagi.”

Ia kembali menatap jendela kaca. Kota berdenyut di bawah sana—sibuk, cepat, kejam bagi yang lengah.

“Orang seperti Lauren,” lanjut Arkan pelan, lebih pada dirinya sendiri, “tidak pernah datang hanya untuk bekerja.”

Di lantai bawah, Lauren berdiri di depan papan strategi, memberi arahan singkat pada timnya. Nadira lewat di kejauhan, wajahnya kaku, langkahnya lebih cepat dari biasanya.

Lauren tidak menoleh.

Ia terlalu sibuk menata masa depan.

Dan tanpa ia sadari,

gaung langkahnya telah mencapai lantai tertinggi—

tempat keputusan besar menunggu orang yang tidak gentar menghadapi kekuasaan.

Undangan itu datang menjelang siang.

Bukan lewat email massal.

Bukan pula melalui sekretaris divisi.

Langsung dari kantor CEO.

Seorang staf eksekutif berdiri di depan kubikel Lauren, sikapnya sopan namun jelas membawa bobot kekuasaan. “Bu Lauren, Pak Arkan ingin bertemu besok pagi. Pukul sembilan.”

Lauren tidak langsung menjawab. Ia sedang menandai beberapa poin di proposal timnya, pulpen bergerak mantap seolah tidak ada suara barusan.

“Agenda?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.

“Pertemuan pribadi,” jawab staf itu. “Pak Arkan ingin mengenal langsung Ketua Pemasaran yang baru.”

Pulpen Lauren berhenti.

Ia mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja disebut-sebut seantero kantor.

“Pribadi?” ulangnya.

Staf itu mengangguk. “Kurang lebih begitu, Bu.”

Lauren menyandarkan punggung ke kursi. Ia menautkan jari-jarinya di atas meja, berpikir hanya sekejap—bukan ragu, melainkan menyusun batas.

“Kalau pertemuan itu,” katanya pelan namun tegas, “berkaitan dengan pekerjaan—evaluasi, strategi, target—aku akan datang.”

Staf itu menunggu.

“Jika alasannya pribadi,” lanjut Lauren, suaranya mengeras satu tingkat, “aku tidak tertarik.”

Ruangan kecil itu mendadak terasa lebih sunyi.

Staf tersebut berkedip. “Bu… ini CEO.”

“Aku tahu,” jawab Lauren. “Justru karena itu aku ingin jelas sejak awal.”

Ia berdiri, merapikan blazer-nya. “Sampaikan padanya. Aku bekerja untuk perusahaan ini, bukan untuk memenuhi rasa penasaran siapa pun.”

Staf itu tampak ragu, lalu mengangguk kaku. “Baik, Bu Lauren. Akan saya sampaikan.”

Begitu ia pergi, Maya yang sejak tadi berpura-pura mengetik di meja seberang langsung menoleh.

“Kau serius menolak CEO?” bisiknya setengah tidak percaya.

Lauren mengambil map lain. “Aku tidak menolak pekerjaanku.”

“Ini Arkan,” Maya menekan. “CEO muda. Cucu pemilik. Semua orang ingin—”

“Semua orang bukan aku,” potong Lauren tenang.

Maya terdiam, lalu tersenyum kecil. “Kau tidak berubah.”

Lauren menatap layar komputernya, ekspresinya tak bergeser. “Aku berubah,” katanya pelan. “Aku hanya tahu batas mana yang tidak boleh kulewati.”

Di lantai paling atas, Arkan mendengarkan laporan asistennya tanpa menyela.

“Beliau menyampaikan,” kata asisten itu hati-hati, “bahwa jika pertemuan berkaitan dengan pekerjaan, ia akan hadir. Jika alasan pribadi… beliau menolak.”

Hening.

Arkan tidak tampak marah. Tidak juga tersenyum. Ia justru menarik napas perlahan, seolah baru saja menemukan sesuatu yang langka.

“Dia mengatakannya begitu saja?” tanyanya.

“Iya, Pak. Tegas.”

Arkan bersandar di kursinya. “Menarik.”

“Apakah undangan tetap dilanjutkan, Pak?”

Arkan berpikir sejenak. “Ubah formatnya,” katanya akhirnya. “Resmi. Strategi pemasaran. Sertakan agenda.”

Asisten itu mengangguk. “Baik.”

Arkan menatap meja kaca di depannya. “Orang yang berani menolak sebelum mengenalku,” gumamnya, “biasanya bukan orang yang bisa dibeli dengan jabatan.”

Sementara itu, di lantai pemasaran, Lauren kembali tenggelam dalam pekerjaannya.

Tidak ada getaran di tangannya.

Tidak ada keraguan di langkahnya.

Ia telah menetapkan satu hal sejak hari pertama kembali ke gedung ini:

kekuasaan boleh mengundang,

namun harga diri tidak pernah datang untuk diminta.

Dan untuk pertama kalinya,

seorang CEO menyadari bahwa tidak semua orang ingin berada sedekat itu dengannya—

beberapa hanya ingin bekerja…

dan berdiri sejajar.

___

Lauren baru saja pulang kerja ketika langit mulai menggelap sempurna.

Ia membersihkan diri, mengganti pakaiannya dengan kaus rumah yang nyaman, rambutnya masih sedikit lembap saat ia melangkah ke balkon kamar. Udara malam menyentuh kulitnya, dingin tapi menenangkan. Di kejauhan, lampu jalan menyala satu per satu.

Arga belum pulang.

Lagi.

Lauren tidak lagi menghitung.

Pandangan Lauren turun ke halaman rumah di seberang. Tepat saat itu, pintu rumah Asher terbuka. Pemuda itu masuk dengan langkah yang tidak biasa—lebih lambat, sedikit oleng. Wajahnya tampak pucat bahkan dari jarak sejauh itu. Bahunya turun, seolah setiap tarikan napas membutuhkan usaha.

Lauren mengernyit.

Asher menghilang ke dalam rumah tanpa menoleh ke arah mana pun.

Lauren berdiri beberapa detik lebih lama, lalu menarik napas dan kembali masuk ke kamarnya.

Apa dia sakit?

Pikiran itu muncul begitu saja, lalu segera ditepis.

“Ah, aku tidak boleh mengurus kehidupan orang lain,” gumam Lauren pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Hidupku saja sudah berantakan.”

Ia mengatakannya dengan tegas. Meyakinkan.

Setidaknya, ia mencoba.

Namun tiga puluh menit berlalu dengan lambat.

Lauren duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya tanpa benar-benar membaca apa pun. Jantungnya berdetak tidak teratur, bukan karena cemas yang jelas—melainkan dorongan aneh yang terus mendesak dari dalam dada.

Akhirnya, ia berdiri.

Langkahnya membawanya keluar rumah, menyeberangi jarak yang selama ini terasa aman karena batas. Kini batas itu seperti memudar.

Pintu rumah Asher sedikit terbuka.

Lauren berhenti di depannya.

“Asher?” panggilnya pelan sambil mengetuk. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Tidak ada jawaban.

Keheningan terasa salah.

Lauren menelan ludah. Dorongan di dadanya menang. Dengan ragu, ia mendorong pintu itu sedikit lebih lebar.

“Asher?” ulangnya.

Rumah itu gelap dan sunyi. Lampu ruang tamu mati. Udara di dalam terasa pengap, hangat dengan cara yang tidak wajar.

Lauren melangkah masuk.

Dan saat matanya menangkap pintu kamar Asher yang terbuka—hatinya langsung jatuh.

Asher terbaring di lantai.

Tubuhnya meringkuk setengah, keringat membasahi pelipis dan lehernya. Kulitnya memerah, napasnya berat dan tidak teratur. Saat Lauren berlutut di sampingnya dan menyentuh lengannya, panas itu hampir membuatnya menarik tangan.

“Ya Tuhan…” bisiknya.

Lauren tidak berpikir lagi.

Dengan susah payah—tenaganya hampir tidak cukup—ia menopang tubuh Asher, menariknya perlahan ke atas tempat tidur. Bahunya pegal, napasnya memburu, tapi ia tidak berhenti sampai tubuh jangkung itu terbaring di atas kasur.

Ia hendak berdiri untuk mengambil air dan kompres.

Namun—

Tangan Asher tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya.

Cengkeramannya tidak kuat, tapi penuh kepanikan. Jari-jarinya gemetar.

“Jangan…” suaranya serak, hampir tidak terdengar. Matanya tetap terpejam. “Tolong… tetap di sini.”

Lauren membeku.

“A-Asher?” panggilnya pelan.

Napas Asher tersengal. Keningnya berkerut seolah sedang melawan sesuatu yang tak terlihat. “Aku takut,” gumamnya lirih. Seperti pengakuan yang terlepas tanpa penjagaan.

Kata-kata itu menusuk Lauren lebih dalam dari panas tubuh Asher.

Ia duduk kembali di sisi tempat tidur, ragu-ragu, lalu membiarkan tangannya tetap berada dalam genggaman Asher.

“Aku di sini,” katanya akhirnya, suaranya bergetar meski ia berusaha tenang. “Aku tidak pergi.”

Asher tidak menjawab. Tapi genggamannya sedikit mengendur—cukup untuk memberi tahu bahwa ia mendengar.

Lauren menatap wajah pemuda itu. Wajah yang biasanya dingin dan terkendali kini rapuh, tak berdaya. Ia mengusap rambut Asher perlahan, gerakan refleks yang bahkan tidak ia sadari.

1
july
kata- katanya indah banget👍
kalea rizuky
lanjut donk. g sabar liat Arga nangis darah
kalea rizuky
karma buat jalang dan Arga mana nih
kalea rizuky
nah gini donk tegas
Lili Inggrid
lanjut
Rynda Atmeilya
bahasamu Thor 😍😍
Agus Tina
Thor kenapa itu ada tulisan end? belum kan?
Agus Tina
Good job Lauren
Agus Tina
Kenapa Aega belum disinggung thor, menyesalkah ia?
Agus Tina
Baguus ....
Agus Tina
Bagus ... suka karakter kuat seperti Lauren
Mao Sama
Apa aku yang nggak terbiasa baca deskripsi panjang ya?🤭. Bagus ini. Cuman—pembaca novel aksi macam aku nggak bisa terlalu menghayati keindahan diksimu.

Anyway, semangat Kak.👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!