laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Ramai Dan Hilang
Revan tiba di kafe itu lebih awal dari jam ramai. Tempatnya cukup strategis—berada di persimpangan jalan, selalu dipadati orang dengan tujuan berbeda. Ia memilih meja di dekat jendela, posisi yang memberinya pandangan luas tanpa harus terlihat mencolok.
Kemeja polos lengan digulung, celana gelap yang nyaman, sepatu bersih tapi biasa—semuanya membantunya menyatu dengan keramaian. Tas kecil di sampingnya menyimpan ponsel dan catatan, alat penting untuk observasi.
Di sakunya, tersimpan satu-satunya pegangan yang mereka miliki, foto pernikahan lama. Wajah seorang perempuan tersenyum di sana, tertangkap kamera bertahun-tahun lalu, dengan garis-garis yang mungkin telah berubah seiring waktu. Bagi Revan, foto itu bukan jawaban—hanya pemantik.
Anggota agensi telah disebar ke beberapa kafe lain di kota, masing-masing bekerja sendiri, menyatu dengan keramaian. Revan memilih tetap sendirian. Ia lebih nyaman begitu. Fokusnya tidak terpecah, dan setiap detail bisa ia tangkap tanpa distraksi.
Secangkir teh tawar diletakkan di hadapannya. Revan membiarkannya mendingin. Pandangannya menyapu ruangan, orang-orang yang datang dan pergi, pelayan yang bergerak cepat, beberapa wajah yang tampak akrab dengan tempat ini. Ia tidak mencari kesimpulan. Hari pertama selalu tentang membaca kebiasaan—ritme ruang, jam ramai, dan tipe pengunjung.
Sesekali, ia membuka ponsel, menatap foto itu sekilas, lalu kembali menyimpannya. Tidak ada yang ditanyakan. Belum. Observasi tahap awal tidak pernah memaksa ingatan orang. Ia menunggu momen yang tepat, jika memang ada.
Waktu berjalan pelan. Revan mencatat dalam benaknya—siapa yang sering duduk lama, siapa yang tampak mengenal staf, siapa yang terlihat seperti bagian dari rutinitas harian.
Sambil memerhatikan, ia membuka ponsel dan menyalakan aplikasi khusus tim agensi. Peta kota muncul di layar, menampilkan posisi anggota lain yang telah menyebar ke kafe-kafe berbeda. Sesekali, notifikasi singkat masuk:
“Pojok dekat pintu utama, pengunjung tua, tidak relevan”
“Bar tengah, terlihat perempuan membawa tas hitam, observasi”
Informasi ini cukup untuk memberinya gambaran keseluruhan, tanpa harus berinteraksi langsung. Revan tetap sendiri, menyamar, tapi selalu mengetahui pergerakan tim.
Di luar, kota bergerak seperti biasa. Di dalam kafe, Revan tetap diam, membiarkan pagi berlalu dengan sabar. Jika ada satu hal yang ia yakini, petunjuk tidak pernah muncul dari tergesa-gesa. Ia muncul dari perhatian yang konsisten.
Hari pertama observasi bukan tentang menemukan seseorang.
Melainkan memastikan ia berada di tempat yang tepat untuk mulai mencari.
Tak lama, ponsel Revan kembali berbunyi. Notifikasi pesan dari Zaskia.
"Kak Revan, Maaf mengganggu. Saya tahu ini baru hari pertama, tapi saya tidak bisa menahan diri, gimana prosesnya. Kalau butuh peran saya, secepatnya hubungin saya ya, Kak Revan."
Revan hanya membaca pesan itu, tapi justru melakukan panggilan pada Darrel. Saat sudah terhubung.
"Darrel, sampaikan pada Zaskia. Saya tidak bisa membalas pesan saat melakukan observasi. Katakan, kalau saya mengerti kecemasan dan harapan yang ia rasakan. Saya akan melibatkan dia jika diperlukan. Minta dia untuk lebih bersabar, saya dan tim akan berusaha yang terbaik."
Kembali ia menutup ponsel dan mulai mengamati lagi.
Matahari mulai condong ke barat, dan kafe yang tadi sepi perlahan dipenuhi pengunjung sore. Revan menutup catatannya, menyimpan foto itu kembali ke saku, dan meneguk kopi yang sudah mendingin. Tidak ada kepuasan instan, hanya rasa lega kecil karena satu petunjuk telah diperoleh.
Ia menoleh ke ponselnya, melihat posisi anggota tim lain yang telah menyebar. Informasi mereka cukup untuk memetakan langkah berikutnya. Revan menarik napas dalam-dalam, menyesuaikan posisi di kursi, lalu berdiri perlahan.
Tanpa tergesa-gesa, ia meninggalkan kafe, tetap menyamar, tetap mengamati. Hari pertama mungkin tidak memberi jawaban lengkap, tapi cukup untuk memulai arah pencarian. Setiap langkah berikutnya akan lebih terukur, lebih dekat dengan apa yang ia cari.
Dan dari sini, perjalanan observasi baru benar-benar dimulai.
Sementara itu, di sisi lain...
Setelah Zaskia menerima pesan dari Darrel, ia sedikit tenang, juga ketidaksabaran untuk segera mendapatkan kabar baik. Fisiknya di luar, tapi fokusnya pada Revan yang berada khusus di pikiran Zaskia. Namun ia berusaha untuk selalu positif thinking.
Di keramaian jalan, ia berencana mencari ruko untuk toko kue yang direncanakan sejak awal. Saat itu pandangannya tertuju pada seorang ibu yang tengah duduk di trotoar terlihat murung. Zaskia melangkah, menghampiri.
"Ibu, ibu kenapa duduk di sini, banyak polusi. Ibu bisa cari tempat duduk yang nyaman." kata Zaskia, seraya jongkok di sampingnya.
Mata mereka beradu, wajah sedih itu nampak jelas di mata Zaskia, tak ada suara hanya ada keheningan. Saat ibu itu mengamati Zaskia dengan lekat, ia baru bertanya.
"Kamu siapa?" tanyanya, suaranya parau.
Tangannya menyentuh dada saat ia menyebutkan namanya.
"Aku Zaskia, Ibu ngapain duduk sendirian di sini, ayo kita ke situ." Zaskia menunjuk kursi panjang dekat mereka. Zaskia membantunya berdiri, menggandengnya melangkah, lalu mereka duduk.
"Kalau boleh tahu, ibu namanya siapa? ibu seperti sedang bingung."
"Saya Farah, saya juga tidak tahu kenapa ada di sini." jawabnya, matanya pun beredar sekeliling. "Saya mau pulang, tapi nggak tahu kemana."
Zaskia menatap dengan dahi sedikit berkerut, seolah ikut memikirkan kebingungan di hadapannya.
Matanya menyipit tipis, ada jeda sebelum ia bicara, mencoba memahami. "Ibu lupa alamat rumahnya dimana?"
Namun Farah hanya mengangguk dan tatapannya linglung.
Zaskia menghela napas dalam seraya berpikir, ia langsung menemukan ide untuk memeriksa identitasnya. "Boleh aku pinjam dompet ibu." ucap Zaskia, siapa tahu bisa menemukan alamat rumahnya. Farah memberikan dompetnya dan langsung diperiksa oleh Zaskia, ia mengambil KTP Farah, lalu melihat.
"Aku tahu alamat ini, Bu." Zaskia memberikan lagi dompet itu pada Bu Farah, dan menggandeng lengannya. "Aku antar pulang, Bu. Kita naik angkot saja nggak apa-apa kan? cuma setengah jam saja kok." ujarnya, lalu berjalan ke tempat menunggu angkot.
Saat mereka berjalan, tiba-tiba. Bugh...
Seorang laki-laki berjaket hitam, celana levis hitam yang bolong-bolong dibagian lututnya, berkalung rantai, telinganya banyak tindik. Persis seperti preman, menabrak Zaskia sampai ia terhuyung ke depan hingga tas nya jatuh dalam keadaan terbuka sampai isi tasnya keluar. Untungnya Bu Farah tidak kena.
"Maaf, Mbak." ucapnya seraya membantu mengambil tas Zaskia, sementara Zaskia mengibas telapak tangannya yang kotor, lalu berdiri.
Meski raut mukanya menyeramkan tapi dia baik sudah membantu. "Ini tasnya." kemudian laki-laki itu pergi dengan berlari.
Farah pun turut panik. "Nak Zaskia. Kamu nggak apa-apa?"
Zaskia menggeleng. "Ibu gimana, nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, Nak. Cuma kaget saja." sambil memegang dadanya. "Penampilannya seperti preman. Nak, coba periksa dulu barangmu, apa ada yang hilang?"
"Tapi tadi dia baik kok, bantu aku ambil tas aku yang jatuh. Mungkin cuma penampilannya saja, Bu."
"Nak, jaman sekarang copet itu makin lihai dan punya banyak trik licik untuk mencuri."
Zaskia tersenyum menuruti Bu Farah. "Baik, aku lihat dulu." Zaskia membuka tasnya dan memeriksa.
Namun saat dia merogoh lebih dalam, matanya melebar—lalu menyempit seolah tak percaya. Tangannya berhenti sejenak, lalu kembali bergerak, meraba saku dan lipatan tas berulang kali. Napasnya tertahan.
"Bu... Ini kok."
Tangannya semakin gelisah, memeriksa satu per satu isi tas dengan gerakan yang mulai tidak teratur.
"Kenapa, Nak?"
"Cek aku, Bu. Nggak... nggak ada." Suaranya gemetar, nyaris tak terdengar.
"Cek apa maksudnya?"
Zaskia menatap dompet itu lama, terlalu lama, seolah berharap isinya tiba-tiba kembali.
"Cek uang , Bu. Isinya lima puluh juta."
Wajah Bu Farah langsung berubah. Ia memegang dan mengelus tangan Zaskia lembut, berusaha menenangkan meski suaranya sendiri bergetar.
"Ya Allah, ini jelas preman tadi yang ambil. Astaghfirullah, terus gimana, Nak."
Zaskia mengusap wajahnya kasar. Rasa kesal bercampur panik memenuhi pikirannya.
"Uang itu sangat penting buat aku, Bu."
Air matanya langsung mengalir. Ia menutup wajahnya, isaknya pecah tanpa bisa ditahan.
Bu Farah mengelus pundaknya lembut dan memeluknya, membiarkan Zaskia menangis dalam pelukan hangat itu.
"Sabar, Nak."
Zaskia mengembuskan napas panjang. Dadanya terasa sesak. Tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menerima.
Dalam pelukan hangat itu, suara laki-laki mengejutkan keduanya. "Mama!"
Zaskia dan Farah melepas pelukan.
Farah terdiam sejenak, menatap lekat laki-laki yang memanggilnya mama tadi.
"Mama, ini Arka, mama kambuh lagi."
"Arka, anakku." Farah menangkup wajah Arka dan langsung memeluknya.
Sementara Zaskia membeku melihatnya tanpa ekspresi.
"Mama bikin Arka khawatir, dari tadi Arka muter-muter nyari, Mama. Arka kan sudah bilang jangan jauh-jauh dari Arka. Jantung Arka rasanya mau copot." omelnya, tapi itu bentuk rasa sayang. Dan Farah mengetahuinya.
"Iya, Mama. Minta maaf. Untungnya ada Zaskia yang nemenin Mama. Dia hampir mau antar mama pulang tadi."
Tatapan Arka beralih ke Zaskia, dan tersenyum. "Mbak Zaskia, terima kasih sudah membantu mama saya."
Zaskia mengangguk dan membalas senyum. "Sama-sama."
"Maaf merepotkan. Mama saya punya penyakit Amnesia Global Transien. Jadi beliau bisa mendadak lupa ingatan tapi hanya beberapa jam."
Zaskia mengerti. "Oh pantesan tadi lupa alamat rumahnya."
"Hehe, Iya mbak. Sekali lagi terima kasih."
Kemudian Arka pamit dengan Zaskia dan mengajak mamanya pulang.