ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 30: Sajadah dan Sangkur di Bukit Berkabut.
Kabut tebal menyelimuti lereng perbukitan, seolah alam pun ingin menyembunyikan pertumpahan darah yang akan terjadi. Cahaya lampu dari deretan mobil hitam milik sisa-sisa dewan direksi membelah kegelapan, merayap perlahan menuju gerbang pesantren yang tenang.
Di dalam pesatren, Alaska berdiri di teras masjid kayu. Ia tidak mengenakan rompi antipeluru atau membawa senapan serbu. Ia hanya mengenakan koko hitam dan sorban yang tersampir di bahunya. Di pinggangnya, terselip sebuah sangkur tua—satu-satunya senjata yang ia simpan sebagai pengingat masa kelamnya, namun malam ini, ia berharap tidak perlu mencabutnya.
Strategi Perlindungan, Bukan Penyerangan.
Bara mendekat, suaranya berbisik namun tegas melalui earpiece.
"Tuan, mereka mengepung dari tiga titik. Dante berada di barisan paling depan. Dia terlihat... tidak waras. Ia membawa bahan peledak."
"Pastikan anak-anak dan Sania berada di ruang bawah tanah masjid," perintah Alaska tenang. "Instruksikan tim untuk menggunakan peluru pelumpuh. Jangan ada nyawa yang melayang di tanah suci ini jika tidak terpaksa."
"Tapi Tuan, mereka datang dengan niat membunuh!" protes Bara.
Alaska menatap Bara dengan tatapan yang dalam.
"Bara, jika kita membalas dengan kebencian yang sama, lalu apa bedanya kita dengan mereka yang dulu? Ini adalah ujian terakhir dari pertobatanku."
Badai di Depan Gerbang.
Pintu gerbang pesantren hancur ditabrak oleh SUV hitam. Dante melompat turun dengan tawa yang melengking, wajahnya tirus dan matanya merah penuh kegilaan. Di belakangnya, puluhan tentara bayaran bersenjata lengkap bergerak maju.
"Alaska! Keluar kau, Naga yang sudah ompong!" teriak Dante, suaranya menggema di antara pepohonan pinus. "Kau pikir dengan mencium lantai masjid kau bisa menghapus dosa-dosamu pada kami?"
Alaska berjalan turun ke halaman, sendirian. Ia berhenti tepat di bawah sorotan lampu mobil musuh.
"Dante," suara Alaska terdengar stabil, hampir seperti sebuah pelukan di tengah badai. "Duniaku sudah selesai. Aku tidak lagi memperebutkan takhta atau harta. Pulanglah. Masih ada pintu maaf jika kau memilih berhenti sekarang."
Dante tertawa histeris, mencabut sebuah granat dari rompinya.
"Maaf? Aku ingin kepalamu di atas nampan, Alaska!"
Pertempuran di Balik Kabut.
Sesaat setelah Dante memberi aba-aba, tembakan meletus. Namun, tim keamanan bentukan Bara yang sudah terlatih bertempur secara defensif menggunakan gas air mata dan granat kejut untuk memecah formasi lawan. Kabut alami yang bercampur dengan gas air mata membuat suasana menjadi kacau balau.
Alaska bergerak dengan tangkas. Meski tanpa senjata api, insting tempurnya masih tajam. Ia melumpuhkan lawan dengan gerakan bela diri jarak dekat, mematahkan serangan tanpa harus merenggut nyawa. Ia seperti bayangan di balik kabut, muncul dan menghilang dengan ketenangan yang mematikan.
Hingga akhirnya, ia berhadapan langsung dengan Dante di tepi tebing yang curam di belakang pesantren.
Puncak Konfrontasi.
Dante mengacungkan pistol ke arah dada Alaska. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena kebencian yang meluap-luap.
"Kenapa kau tidak mati saja di penjara?" geram Dante.
"Karena aku harus melihatmu sekali lagi, untuk mengatakan bahwa aku memaafkanmu, Dante. Atas semua pengkhianatanmu," jawab Alaska.
Dante melepaskan tembakan.
BANG!
Peluru itu menyerempet bahu Alaska, namun pria itu tidak goyah. Ia terus melangkah maju. Dante yang panik mencoba menembak lagi, namun senjatanya macet—terkena embun dan pasir dari kekacauan tadi.
Dalam satu gerakan cepat, Alaska menerjang. Bukan untuk menusuk dengan sangkur, melainkan untuk mengunci tangan Dante. Mereka bergulat di tanah yang basah. Dante yang kalap mencoba memicu bahan peledak di sabuknya.
"Kita mati bersama, Alaska!"
Pada detik yang krusial, Alaska berhasil memutus kabel pemicu dengan sangkur di pinggangnya, lalu dengan satu tendangan telak, ia menjauhkan Dante dari jurang. Dante terkapar, kehabisan napas dan kekuatan.
Akhir dari Kegelapan.
Saat fajar mulai menyingsing, polisi kehutanan dan bantuan tambahan yang dipanggil Bara tiba. Sisa-sisa penyerang menyerah. Dante dibawa dengan tangan terborgol, matanya masih menatap Alaska dengan penuh ketidakpercayaan.
Alaska berdiri tegak meski kemejanya bersimbah darah dari luka di bahunya. Sania muncul dari balik pintu masjid, matanya menatap Alaska dengan kelegaan yang tak terlukiskan.
"Badainya sudah lewat, Tuan?" tanya Sania lembut.
Alaska melihat ke arah matahari yang mulai terbit di ufuk timur, membiarkan cahayanya menyapu sisa-sisa kabut malam itu.
"Hanya untuk hari ini, Sania. Besok mungkin akan ada badai baru. Tapi kini aku tahu, aku tidak akan menghadapinya sendirian."
__Kemenangan sejati bukanlah saat senjata kita lebih tajam dari musuh, melainkan saat nurani kita lebih kuat dari amarah kita. Alaska telah menyelesaikan pertempuran fisiknya, namun perjalanan untuk menjaga hati tetap suci adalah pertempuran yang takkan pernah berakhir__
Bersambung ....