NovelToon NovelToon
BALAS DENDAM SANG IBLIS SURGAWI

BALAS DENDAM SANG IBLIS SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Timur / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zen Feng

Guang Lian, jenius fraksi ortodoks, dikhianati keluarganya sendiri dan dibunuh sebelum mencapai puncaknya. Di tempat lain, Mo Long hidup sebagai “sampah klan”—dirundung, dipukul, dan diperlakukan seperti tak bernilai. Saat keduanya kehilangan hidup… nasib menyatukan mereka. Arwah Guang Lian bangkit dalam tubuh Mo Long, memadukan kecerdasan iblis dan luka batin yang tak terhitung. Dari dua tragedi, lahirlah satu sosok: Iblis Surgawi—makhluk yang tak lagi mengenal belas kasihan. Dengan tiga inti kekuatan langka dan tekad membalas semua yang telah merampas hidupnya, ia akan menulis kembali Jianghu dengan darah pengkhianat. Mereka menghancurkan dua kehidupan. Kini satu iblis akan membalas semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zen Feng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: IKATAN ABADI

Qi Kematian.

Sisa Qi dari berbagai makhluk hidup yang mati. Sebagian menyebar di alam—menjadi bahan bakar bagi Tao untuk menggunakan jurus mereka. Sebagian lagi berkumpul menjadi satu, membentuk entitas.

Roh.

Ada lima tingkatan roh:

Roh Awal—roh lemah yang tak bisa mewujudkan diri. Hanya bisikan di angin malam.

Roh Tingkat Menengah—bisa mewujudkan diri jika dipanggil oleh Tao lewat kontrak. Seperti Kuchisake-onna dan Tengu yang dipanggil Yuto.

Roh Tingkat Tinggi—bisa mewujudkan diri tanpa dipanggil, meskipun dalam waktu singkat. Kappa dan Ryoken termasuk golongan ini.

Roh Legenda dan Roh Surgawi—dua ranah yang melampaui imajinasi dan akal manusia. Bahkan Tao level tinggi tidak berani mengontrak mereka.

Dan ada kalanya—jika banyak kematian berkumpul dalam satu tempat, dengan satu Qi kematian yang kuat penuh emosi negatif dan dendam—dapat memicu terbentuknya Roh Tingkat Tinggi secara spontan.

Seperti sekarang.

"I-ITU ROH TINGKAT TINGGI!" jerit Yuto, suaranya bergetar horor.

Mo Long menyeringai meskipun dicekik.

Tangannya terangkat—hendak membelai pipi sosok yang dia rindukan.

Tapi roh Yaohua mencekik semakin erat!

"GAAAKH!"

Mo Long ditekan ke bawah! Lutut menyentuh tanah batu dengan keras! Darah semakin deras mengalir dari lehernya yang tercakar kuku tajam!

"LEPASKAN TUAN MUDA!" teriak Hu Wei sambil menghunus pedang!

Gao Shan dan Gao Shui bersiap melesat—pedang terangkat, Qi Bayangan mulai mengalir!

"AAAAAAAAAAAHHHHH!"

Yaohua berteriak melengking!

Gelombang suara meledak dari mulutnya—berkali-kali lebih kuat dari Teknik Auman Harimau Iblis!

BOOOOM!

Semua orang terhempas!

Hu Wei jatuh berlutut! Pedangnya jatuh dari tangan!

Gao Shan dan Gao Shui terlempar ke belakang! Tubuh menghantam dinding gua!

Yuto tersungkur dengan wajah mencium tanah!

Darah mengalir dari telinga mereka semua!

Gendang telinga pecah! Kepala berdenyut! Rasa sakit menusuk sampai ke otak!

Yuto menyeringai menghadap tanah. Darah membasahi pipinya.

‘Bagus,’ pikirnya dalam hati. ‘Bunuhlah pria itu, Yaohua! Bebaskan aku dari kendalinya!’

Tapi—

"Yuto..." suara Mo Long terdengar—tercekat, tersedak, tapi tetap jelas. "Ajari aku... kontrak roh."

Yuto terkejut.

Tubuhnya membeku. Parasit budak di otaknya bergetar—perintah mutlak yang tidak bisa dilawan.

‘Tidak! Jangan!’ teriaknya dalam hati.

Tapi mulutnya bergerak sendiri.

Dia bangkit dengan susah payah. Tangan gemetar membentuk segel mudra.

"Kontrak Roh Tingkat Tinggi..." ucapnya dengan suara lemah. "Memerlukan tiga hal. Pertama, kesediaan Qi spiritual. Kedua, ikatan emosional yang kuat. Ketiga..."

Tangannya berganti segel—cepat, kompleks, rumit.

"...pengorbanan sebagian jiwa."

Mo Long tersenyum—meskipun wajahnya pucat karena kehabisan darah.

‘Ikatan emosional yang kuat?’ pikirnya. ‘Aku punya itu.’

Dantian ketiganya—dantian di kening—mulai berdenyut. Mata kirinya yang baru—mata Haikun—bersinar merah samar.

Pengetahuan jiwa lamanya sebagai Guang Lian muncul. Dia pernah melihat ritual ini—di medan perang, saat Tao Fraksi Ortodoks mengontrak roh untuk pertempuran.

Tangannya membentuk segel mudra—mengikuti gerakan Yuto dengan presisi sempurna.

Segel pertama. Qi spiritual mengalir dari dantian pertama.

Segel kedua. Qi spiritual dari dantian kedua bergabung.

Segel ketiga. Dantian ketiga berdenyut—Qi spiritual yang lebih murni, lebih pekat, mengalir keluar.

Benang merah muncul dari dada Mo Long.

Bersinar terang—warna merah darah yang berkilau seperti ruby cair.

Benang itu meliuk di udara—mencari, merayap, menuju target.

Menuju dada roh Yaohua.

"TIDAK!" teriak Yaohua.

Mata merahnya membelalak. Dia merasakan benang itu—ikatan yang akan menjebaknya selamanya!

Cengkramannya di leher Mo Long semakin erat!

"MATI! MATI! MATI!"

Kuku tajamnya menusuk lebih dalam! Darah menyembur dari leher Mo Long!

Mo Long tersedak. Pandangan mulai kabur. Kesadarannya goyah.

Tapi tangannya—

GRAB!

Dia menggenggam tangan Yaohua yang mencekiknya!

Sangat erat!

Kuku Mo Long menancap di kulit pucat Yaohua!

KLEK!

Suara tulang patah!

"AAAAKH!" Yaohua menjerit.

Tangan kiri Mo Long bergerak—cepat seperti ular menyambar!

Meraih dagu Yaohua. Membelainya lembut—sentuhan yang kontras mengerikan dengan kekerasan berikutnya.

Lalu—

KREK!

Dia mencengkram leher roh cantik itu!

Erat! Brutal! Tidak ada belas kasihan!

Yaohua tercekat. Kakinya yang melayang turun—menyentuh tanah.

Mereka berdua berdiri berhadapan. Saling mencekik. Mata bertemu mata—merah bertemu merah.

Benang merah ikatan kontrak menembus dada Yaohua.

WHOOOOSH!

Cahaya merah lembut bersinar pada tubuh mereka berdua! Hangat namun mencekam! Lembut namun memaksa!

"TIDAAAK!" teriak Yaohua.

Tubuhnya bergetar. Dia meronta—mencoba melepaskan diri dari benang itu!

Tapi semakin dia melawan, semakin kuat benang itu mengikat!

Cahaya merah menjalar—dari dada Yaohua ke seluruh tubuhnya! Tangan, kaki, leher, wajah!

Roh Yaohua dipaksa tunduk pada ikatan kontrak!

"HAHAHA! HAHAHAHA! HAHAHAHAHAHA!"

Mo Long tertawa lepas!

Tawanya menggema di seluruh gua—begitu mengerikan sampai Hu Wei, Gao Shan, Gao Shui, dan Yuto bergidik ngeri!

Bukan tawa kemenangan. Bukan tawa kegembiraan.

Tawa kegilaan.

Mo Long membelai rambut putih Yaohua dengan tangan bebas—lembut, penuh kasih sayang yang terdistorsi.

"Bukankah kau menyukai berada di dekatku?" bisiknya. Suaranya lembut—terlalu lembut untuk situasi brutal ini. "Mungkin kita memang ditakdirkan untuk bersama."

Dia tersenyum—senyum yang paling tulus yang pernah dia tunjukkan sejak reinkarnasi.

Mata kirinya yang merah bersinar. Mata kanannya yang normal berkaca-kaca—apakah itu air mata?

"Sekarang..." Mo Long menarik Yaohua lebih dekat. Dahi mereka hampir bersentuhan. "Kau akan selalu ada di sisiku. Selamanya."

Cahaya merah meledak!

WHOOOOOM!

Ikatan kontrak terbentuk sempurna!

Benang merah memasuki dada Yaohua sepenuhnya—menyatu dengan jiwanya, mengikat eksistensinya dengan Mo Long!

Yaohua menjerit—tapi jeritan itu perlahan melemah.

Tubuhnya berhenti meronta. Mata merahnya masih menyala dengan kebencian—tapi sekarang ada sesuatu yang lain di sana.

Ikatan yang tidak bisa diputus.

Dia menatap Mo Long. Mulut terbuka—hendak mengutuk, hendak memaki.

Tapi kata-kata tidak keluar.

Hanya tatapan kosong yang perlahan berubah menjadi... penerimaan?

Atau mungkin keputusasaan.

DUA HARI KEMUDIAN - KEDIAMAN JIN

Matahari siang bersinar cerah. Langit biru tanpa awan.

Mo Long berdiri di taman kediaman Jin, menghadap Jin Hayato yang tersenyum lebar.

"Terima kasih atas jasamu, Tuan Long," kata Jin Hayato sambil membungkuk hormat. "Tanpamu, putraku tidak akan terselamatkan."

Di sampingnya, Jin Yu—anak Jin Hayato—juga membungkuk. Wajahnya yang pucat sudah kembali segar. Mata bersinar dengan semangat.

"Sayang sekali aku tidak bisa melihat kehebatan Kakak Mo Long di ujian kelayakan pendekar," kata Jin Yu dengan nada kecewa namun penuh kekaguman. "Aku dengar Kakak menghancurkan arena dan mengalahkan Ketua Penguji!"

Dia tersenyum lebar. "Sampai jumpa di ujian masuk Akademi Kultus Iblis! Aku berharap kita bisa masuk bersama!"

Mo Long mengangguk singkat. Tidak ada kehangatan dalam gerakannya—hanya sopan santun formal.

Lalu dia menoleh ke Jin Hayato. Suaranya turun—serius dan dingin.

"Sepuluh hari dari sekarang," bisiknya, "pergilah ke Klan Naga Bayangan. Kita jalankan rencana kita."

Jin Hayato tersentak. Wajahnya berubah serius. Dia mengangguk pelan.

"Aku mengerti."

Mo Long beranjak pergi.

Hu Wei dan Yuto berjalan di belakangnya—keduanya diam, mengikuti tanpa pertanyaan.

Di gerbang kediaman Jin, Gao Shan dan Gao Shui menunggu.

Keduanya berdiri tegak. Pedang terpasang di pinggang. Wajah serius—sangat berbeda dari biasanya.

"Tuan Muda," panggil Gao Shui saat Mo Long mendekat.

Mo Long berhenti. Menatap dua saudara itu.

"Kurang dari seminggu kami mengawal Tuan Muda," lanjut Gao Shui. Suaranya bergetar sedikit—menahan emosi. "Tapi pengalaman itu... sungguh luar biasa."

Dia tersenyum tipis. "Kemampuan Tuan Muda—kepemimpinan, kecerdasan, keberanian dalam pertempuran—semuanya sungguh luar biasa."

Matanya menatap langsung ke mata Mo Long. "Kami berharap... Tuan Muda lah yang menjadi pemimpin Klan Naga Bayangan."

Di sampingnya, Gao Shan—yang biasanya berisik dan liar—hanya bisa terdiam.

Matanya berkaca-kaca. Bibir gemetar. Dia mencoba menahan tangis tapi gagal.

Air mata mulai mengalir.

"Dasar cengeng!" Hu Wei mengejek dari belakang. "Matamu berkaca-kaca seperti anak kecil!"

"D-Diamlah!" Gao Shan mengusap mata dengan kasar. "A-Aku hanya... debu masuk mata!"

Tapi tangisnya semakin keras.

Pengalaman pertempuran bersama Mo Long—menghadapi maut, hampir mati berkali-kali, tapi tetap hidup—begitu intens sampai membentuk ikatan yang tidak bisa dijelaskan.

Gao Shui menepuk pundak saudaranya. Lalu dia menoleh ke Mo Long lagi.

"Setahun lagi, kontrak kami dengan Rumah Dagang Jin akan berakhir," katanya. "Kami akan pulang ke klan. Dan kami akan menanti Tuan Muda mengambil alih klan."

Dia menoleh ke Gao Shan. Gao Shan mengangguk—masih terisak tapi tekad di matanya jelas.

Lalu keduanya berlutut bersamaan.

Tangan kanan di dada. Kepala menunduk.

"Kami, Gao Shui dan Gao Shan dari Klan Naga Bayangan," kata mereka berdua bersamaan, suara bersatu, "bersumpah setia pada Mo Long. Dari hari ini hingga napas terakhir kami, kami akan melayani Tuan Muda dengan sepenuh jiwa."

Keheningan.

Angin bertiup pelan, membawa aroma bunga dari taman.

Mo Long menatap dua saudara itu. Ekspresinya sulit dibaca—ada kehangatan, tapi juga sesuatu yang lebih gelap.

Lalu dia tersenyum—senyum tipis namun tulus.

"Bangkit," katanya lembut.

Gao Shui dan Gao Shan bangkit. Keduanya tersenyum lebar—meskipun air mata masih membasahi pipi Gao Shan.

"Sampai jumpa setahun lagi, Tuan Muda," kata Gao Shui.

"J-Jangan mati sebelum kami kembali, Tuan!" tambah Gao Shan sambil mengusap hidung.

Mo Long mengangguk. Lalu dia berbalik dan pergi.

Hu Wei dan Yuto mengikuti dari belakang.

Mereka berjalan di jalanan kota Long Ya.

Pedagang berjualan. Anak-anak berlarian. Kehidupan berjalan normal—tidak tahu kematian dan kegelapan yang baru saja terjadi di Gunung Mayat.

Lalu suara lembut—namun bernada pedas—terdengar di telinga Mo Long.

"Aku tidak akan memaafkanmu."

Mo Long tidak menoleh. Tapi senyum tipis muncul di bibirnya.

Di sampingnya—tidak terlihat oleh Hu Wei dan Yuto—Yaohua melayang.

Rambut putih peraknya melayang dalam angin yang tidak terlihat. Qipao merah indahnya berkibar lembut. Mata merahnya menatap Mo Long dengan tatapan tajam.

"Selamanya!" lanjut Yaohua dengan nada marah.

Tapi suara itu hanya terdengar oleh Mo Long. Karena Yaohua tidak sedang mewujudkan diri—hanya ada sebagai roh yang terikat kontrak.

Hanya Mo Long yang bisa melihatnya. Hanya Mo Long yang bisa mendengarnya.

Mo Long tersenyum lebih lebar. Dia berkata dalam hati—karena tidak perlu bicara keras untuk berkomunikasi dengan roh kontraknya.

‘Tidak masalah. Selama kau selalu ada di sisiku... itu sudah cukup.’

"Cih!" Yaohua mendecak lidah. Dia berpaling—melayang lebih jauh ke samping, seolah menjaga jarak.

Tapi tanpa dia sadari—

Senyum tipis terukir di wajah pucatnya.

Senyum yang tidak sepenuhnya marah. Tidak sepenuhnya benci.

Mungkin... ada sesuatu yang lain di sana.

Sesuatu yang belum dia pahami sendiri.

Mereka berjalan keluar dari gerbang kota Long Ya.

Jalan panjang membentang di depan—jalan yang akan membawa mereka kembali ke Klan Naga Bayangan.

Di kejauhan, gunung-gunung menjulang tinggi. Langit biru membentang luas.

Mo Long berjalan dengan mantap. Mata kirinya yang merah sesekali berkedip—mengingatkannya pada kekuatan baru yang dia miliki.

Parasit induk di otaknya tidur—menunggu perintah untuk mengendalikan budak-budaknya.

Mata Haikun di mata kirinya berdenyut—kekuatan ilusi yang mengerikan, tapi dengan harga yang belum sepenuhnya dia pahami.

Dan Yaohua—roh tingkat tinggi yang terikat kontrak—melayang di sampingnya. Marah, benci, tapi tetap ada.

‘Sepuluh hari lagi,’ pikir Mo Long. ‘Sepuluh hari hingga rencana dimulai.’

Wajah Mo Han—ayahnya—muncul di benaknya. Wajah Mo Feng—kakaknya yang arogan. Wajah para Tetua Klan Naga Bayangan.

Dan di kedalaman pikirannya—jauh di dalam—wajah Guang Wei muncul. Seringai saat mengkhianati. Pedang pusaka yang menebas lehernya di altar.

‘Tunggu aku,’ bisik jiwa Guang Lian dalam diri Mo Long. ‘Dendam ini... baru saja dimulai.’

Matahari mulai condong ke barat.

Bayangan panjang terbentuk di jalan.

Empat sosok—tiga manusia dan satu roh—berjalan menuju cakrawala.

Menuju masa depan yang gelap.

Menuju balas dendam sang Iblis Surgawi.

1
Dina Li
Mantab mo feng nerima ganjarannya
Abil Amar
bukan hot tp soplakkkk krna g up psti ujung2ny berhenti alias g dlnjutkan
Zen Feng: Sabae broo pasti lanjut kok, ini lagi sibuk kerjaan aja 😌
total 1 replies
AELION
saran bang zeng , ini lebih keren lagi kalau kata menjerit di rubah jadi meraung bang 👍. Meraung itu untuk amarah yg menggebu. dan jujur menurutku pribadi kata meraung lebih tepat. untuk setelahnya, ku serahkan balik ke bang zen 👍
AELION: /Smile/
total 3 replies
Ren
Lucunyeee wkwkwk
Santos
Makin hot 🥵
Subasa
Wahhh yaohua cantik
Zen Feng
Silahkan tinggalkan komentar kritik dan saran untuk novel ini agar saya semakin semangat menulis, wahai para pembaca 😁
Abil Amar
ah kyak cerita naruto waktu kekashi dsalip am uchiha itachi am mata sharinggan
Zen Feng: Ah iya bang terinspirasi dari itu emang 😅
total 1 replies
Ragil Prasetyo
bagus tidak membosankan
Zen Feng: Terimakasih atas komentarnya mas ragil 🫡
total 1 replies
Meliana Azalia
Pahlawan berhati iblis 😭
Meliana Azalia
Jadi orang songong banget siy
Nanik S
Ternyata Hiroshi penegak Hukum malah lebih jahat
Santos
Gara” cewek sampe perang 😭
Ren
Gara-gara cewek 😭
Ren
Emang udah jodoh wkkwkw
Ren
Sadees bener bener iblis
Ren
Uhuuy
Nanik S
Anak buah Haikun
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Lanjutkan Tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!