Dhita selalu percaya bahwa pernikahan yang ia bangun dengan Reza adalah rumah yang kokoh—tempat ia menaruh seluruh harapan, kasih sayang, dan kesetiaannya. Namun semua runtuh ketika cinta pertama Reza kembali muncul, menghadirkan bayang-bayang masa lalu yang tak pernah benar-benar padam.
Dalam hitungan hari, Dhita yang selama ini berjuang mempertahankan rumah tangga justru dipaksa menerima kenyataan pahit: Reza menceraikannya demi perempuan yang pernah ia cintai bertahun-tahun lalu. Luka itu dalam, merembes sampai ke bagian hati yang Dhita pikir sudah kebal.
Di tengah serpihan hidup yang berantakan, Dhita harus belajar berdiri lagi—menata hidup tanpa sosok yang selama ini ia sayangi, menghadapi pandangan orang, dan menerima bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan berakhir. Namun Tuhan tak pernah meninggalkan hati yang hancur. Dalam perjalanan menyembuhkan diri, Dhita menemukan kekuatan yang tak pernah ia sadari, serta harapan baru yang perlahan mengetuk pintu hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Menghubungi Direktur Keuangan
Siang itu Reza menggandeng tangan Tari menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari gedung. Dengan sigap, dia membukakan pintu penumpang depan untuk Tari. Perempuan itu tersenyum kecil sebelum masuk, sementara Reza mengitari mobil dan duduk di balik kemudi.
Mesin dinyalakan, mobil melaju pelan meninggalkan area parkir.
"Siapa sih si item?” Tanya Reza sambil melirik sekilas ke arah Tari. “Rame banget teman-temanmu nggodain kamu, Tar.”
Tari terkekeh ringan. “Dulu ada teman, kulitnya item. Dia tergila-gila sama aku. Sejak itu aku selalu dikaitkan sama dia.” Jawabnya santai, seolah cerita itu bukan apa-apa.
"Oooh.” Reza mengangguk-angguk, senyum kecil tersungging di bibirnya.
Beberapa detik kemudian, Reza kembali bicara. "Oh ya, Tar. Minggu depan ibu mau mengalihkan semua perusahaan atas nama kita.”
Tari menoleh cepat. “Kita?”
"Iya. Kamu dan aku.”
"Wah, secepat itu, Za?” Nada suara Tari terdengar kaget, bercampur tak percaya.
"Iya,” Jawab Reza ringan. “Ibu kalau sudah suka dan percaya sama orang, ya gitu. Disyukuri aja lah, Tar.”
Tari mengangguk pelan. “Oh gitu? Alhamdulillah kalau dipercaya ibu.”
"Iya.” Reza tersenyum bangga. Ibu percaya banget sama kamu. Kamu itu pintar ngambil hati ibu.”
Tari menyipitkan mata, menggoda. “Hati kamu juga, kan?”
"Pastinyaaaa,” Jawab Reza tanpa ragu.
Dia lalu menoleh sekilas, tatapannya hangat. "Kamu itu super woman, Tar. Hebat di semua lini. Aku benar-benar bersyukur punya kamu.”
"Lini?” Tari tertawa kecil. “Kayak main bola aja.”
"Iya, kayak pemain bola,” Sahut Reza antusias. "Hebat ditempatkan di mana pun. Di atas, di bawah, di kanan, di kiri—semuanya oke.”
"Apaan sih, Za?” Tari memukul ringan lengan Reza. “Ih, aku jadi malu.”
"Yeeeyyy,” Reza tertawa ngakak. “Emang aku ngomong apaan?”
"Wah, tanpa harus capek-capek… ternyata ibu mertuaku sudah lebih dulu mengalihkan perusahaannya atas nama Reza dan aku.”
Tari tersenyum kecil. Ada kilau licik yang tak sepenuhnya bisa dia sembunyikan di balik sorot matanya.
Di balik senyum itu, pikirannya berlari jauh. Aku harus segera bergerak cepat. Menguasai semuanya sebelum terlambat. Sebelum ada yang berubah arah.
"Kok kamu senyum-senyum sendiri, Tar?” Reza menoleh, alisnya sedikit terangkat curiga.
Tari terkesiap kecil, lalu buru-buru menutup pikirannya dengan tawa ringan.
"Nggak,” sahutnya cepat. “Lucu aja. Tadi aku digodain abis sama temen-temen. Sampai nanya-nanya hal-hal pribadi. Untung kamu keburu dateng, kalau nggak, aku abis dikerjain mereka.
"Wah, ada-ada aja ya temen kamu? Pasti nanya-nanya malam pertama."
"Iya, gila nggak?" Tari tertawa ngakak.
"Di mana-mana sama aja, Tar. Teman kantorku juga gitu."
"O ya?"
"Heeh."
Tari memalingkan wajah ke arah jendela, menyembunyikan binar ambisi yang masih tertinggal di matanya.
Bibir Tari melengkung tipis. Senyum yang nyaris tak menyentuh matanya.
Di dalam kepalanya, perhitungan demi perhitungan tersusun rapi. Ini lebih cepat dari dugaanku. Bagus. Aku hanya perlu satu langkah lagi. Menguasai semuanya sebelum ada yang berani menghalangi.
Dia kembali tersenyum kecil, kali ini penuh kendali. Dalam benaknya, keputusan sudah diambil.
Dia menyandarkan kepala, terlihat tenang. Tak ada yang tahu, pikirannya sedang menyiapkan langkah berikutnya—rapi, tanpa suara.
Mobil melaju tenang membelah jalan. Reza fokus menyetir, sesekali bersenandung kecil, sama sekali tak menyadari badai kecil yang baru saja lahir di kursi sebelahnya.
Tari menarik napas panjang. Jemarinya bergerak membuka ponsel, lalu berhenti sejenak di layar kontak. Dia memilih nama yang sudah lama tersimpan, namun jarang dia sentuh.
Sekarang waktunya.
"Mas,” Ucapnya lembut, suaranya dibuat senatural mungkin, “Besok aku sudah masuk ke kantor ya. Pengen tahu aja, dan pengen kenalan dengan orang-orang kantor di sana. Kan sekarang… aku juga sudah ikut tanggung jawab.”
Reza melirik sekilas, tersenyum bangga.
"Boleh banget. Justru bagus. Biar kamu makin ngerti alurnya.”
Tari mengangguk, senyumnya hangat.
"Ya kan? Biar nggak salah langkah.”
Padahal di kepalanya, kalimat itu berarti lain. Biar aku tahu celahnya. Biar aku tahu siapa yang bisa dipakai… dan siapa yang harus disingkirkan.
Ponselnya kembali menyala. Dia mengetik pesan singkat.
"Pak Arman, saya Tari. Istri Pak Reza. Besok saya ingin bertemu sebentar. Ada hal penting soal perusahaan yang ingin saya pelajari langsung dari Bapak."
Pesan terkirim. Tari mematikan layar, lalu kembali menatap ke depan seolah tak terjadi apa-apa.
"Kenapa?” Tanya Reza.
"Nggak apa-apa,” jawabnya ringan. “Cuma pengin lebih serius sama masa depan kita.”
Reza tersenyum makin lebar.
Tari ikut tersenyum.
Namun kali ini, senyum itu tak lagi sekadar ekspresi.
Itu adalah keputusan.
***
Pak Arman, direktur keuangan itu, terkesiap begitu layar ponselnya menyala. Nama Tari terpampang jelas di layar, membuat jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
"Waduh… ada apa ya Bu Bos tiba-tiba nge-chat?” Gumamnya sambil menelan ludah. Jarinya gemetar, ragu membuka pesan itu.
"Jangan-jangan… dia sudah tahu semua kecuranganku selama ini?”
Wajahnya menegang. Keringat dingin mulai merembes di pelipis.
"Gilaaa…” Desisnya lirih.“Kenapa juga Bu Lastri melimpahkan perusahaan ke Reza, sih?”
Pikirannya berputar kacau. Jika sekarang kendali ada di tangan Reza dan Tari, artinya ruang geraknya semakin sempit. Tidak ada lagi celah aman untuk bermain angka, tidak ada lagi kenyamanan mengutak-atik uang perusahaan seperti dulu.
"Berarti… aku sudah nggak aman lagi.” Gumamnya panik.
Pak Arman menggerutu panjang-pendek, dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar merasa terpojok—dan pesan singkat itu berubah menjadi ancaman yang menggetarkan seluruh keberaniannya.
Suara ketukan pintu memecah lamunan Pak Arman.
"Masuk!” Ucapnya pelan, berusaha menenangkan diri.
Pintu terbuka, Linda, sang sekretaris, melangkah masuk sambil membawa beberapa map tebal. Wajahnya tetap profesional, tak menyadari kegelisahan yang masih membelit atasannya.
"Ini berkas yang perlu ditandatangani, Pak,” Ujar Linda sembari meletakkannya di atas meja.
Pak Arman mengangguk singkat. Matanya menyapu dokumen-dokumen itu tanpa benar-benar membaca isinya. Setelah menarik napas dalam, dia mendongak..
"Lin,” katanya dengan nada sedikit lebih serius, "besok istrinya Pak Reza sudah mulai masuk kerja. Siapkan semua berkas yang kira-kira akan diperiksa.”
Linda terdiam sejenak, lalu mengangguk patuh. "Baik, Pak. Saya siapkan semuanya.”
"Cek lagi semuanya ya Lin. Jangan bikin kesalahan sekecil apapun. Yang kita hadapi bukan Bu Lastri, tapi Bu Tari. Sepertinya dia gak mudah dibodohi seperti mertuanya.
"Iya, Pak."
Pintu kembali tertutup setelah Linda keluar. Pak Arman bersandar di kursinya, menatap langit-langit. Dadanya kembali terasa sesak.
Besok. Terlalu cepat.
Dan kali ini, dia sadar betul—tak ada lagi tempat bersembunyi.
Pak Arman mengusap wajahnya kasar, mencoba menenangkan detak jantung yang kembali tak beraturan.
"Eh, tapi… dia tahu dari siapa?” Gumamnya pelan. Alisnya berkerut, pikirannya berlari ke mana-mana. “Iya-iya, nggak mungkin Bu Tari tahu kecuranganku.”
Dia mengangguk kecil, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
"Dia baru ketemu aku beberapa kali. Lagian, dia nggak pernah mengaudit keuangan, kan? Mana mungkin dia tahu.”
Kalimat itu diulang-ulang dalam kepalanya, seperti mantra penghibur diri. Pak Arman menghela napas panjang, berusaha percaya bahwa ketakutannya hanyalah prasangka berlebihan—meski jauh di lubuk hatinya, rasa was was itu belum juga benar-benar pergi.