NovelToon NovelToon
CINTA TAK TERDUGA DARI BERONDONG MANIS

CINTA TAK TERDUGA DARI BERONDONG MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Berondong
Popularitas:668
Nilai: 5
Nama Author: intan_fa

Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Villa

Semakin lama Naya merasakan dinginnya malam, tapi jaket Mahen cukup membuatnya merasa sedikit hangat. Lalu ia baru sadar kalau Mahen hanya menggunakan t-shirt, pasti lebih kedinginan.

"Mahen, udaranya semakin dingin. Apa kau mau memakai jaketmu kembali?" tanya Naya sedikit berteriak.

"Tidak perlu. Pakai saja olehmu ..." sahut Mahen.

Merasa tidak enak, Naya kemudian memeluk Mahen dengan begitu erat untuk mengurangi easa dingin dan itu membuat Mahen tidak hentinya tersenyum.

Bersandar pada punggung Mahen dan ia merasakan nyaman, tenang. Hal yang sederhana yang tidak bisa di beli oleh uang sekali pun.

Perjalanan hampir tiga puluh menit, mereka sampai di depan rumah Naya dan dengan cepat ia turun melepaskan helm dan jaketnya.

"Makasih, ya ..." ucap Naya.

"Sama-sama."

"Pakai lagi jaketnya, dingin," titah Naya.

Kemudian Mahen mengenakan kembali jaket bekas Naya itu dan wanginya seperti menempel tercium sangat menenangkan.

"Hati-hati di jalan." Naya berpesan.

"Iya, aku duluan. Bye ..." Mahen pamit dan berlalu pergi.

Naya masih berdiri mematung menatap kepergian Mahen lalu senyuman tersungging di bibirnya itu.

"Aku tidak pernah merasa sebahagia ini saat masih pacaran dengan Miko!" gumamnya tanpa sadar.

"Astaga ... Kenapa aku jadi baper sih sama Mahen? Jangan ... Gak boleh terjadi. gak boleh! Lupakan Naya!" Ia menepuk-nepuk kepalanya seraya berjalan masuk ke dalam rumah.

"Ada apa sayang?" Suci menyambutnya dengan khawatir.

"Eh gak apa-apa kok, Ma. Cuman sedikit pusing aja," jawab Naya asal.

"Hmmm sudah sana bersih-bersih terus istirahat. Sudah makan belum?"

"Udah kok, Ma." Lalu Naya menaiki anak tangga pergi ke kamarnya.

Selesai mandi Naya menjatuhkan diri di tempat tidur, mengingat moment romantis tadi. Membuatnya senyum-senyum sendiri sampai pada akhirnya ia menyadarkan diri.

"Nayaaaa ... Jangan baper!!!" Lalu menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya.

Sementara itu Mahen sampai di rumah kontrakannya dan setelah selesai mandi ia bersin-bersin, badannya terasa tidak enak.

"Aghhh aku kenapa?"

Kemudian menghubungi Andro dan memintanya untuk datang membawakan obat. Tanpa menunggu lama, Andro datang dan mendapati Mahen sedang meringkuk di tempat tidur.

"Tuan, ada apa?" Andro khawatir.

"Kayaknya sakit nih!"

Lalu Andro mengecek dahi Mahen yang ternyata memang panas. Untung saja ia membawa obat penurun panas dan memberikannya pada Mahen.

"Memangnya Tuan habis darimana? Ini kayaknya masuk angin," ujar Andro.

"Habis jalan-jalan sama Naya dari pantai makan seafood naik motor. Jaketku di pakai Naya, makanya aku begini," tutur Mahen.

"Ciee cieee ... Aghhh abis ngedate ternyata," goda Andro.

"Aku sama Naya jadi nikah, tapi bagaimana aku bilang sama mama papa?" tanya Mahen.

"Ya tinggal ngomong aja gak gimana-gimana," sahut Andro.

"Naya itu trauma dengan pria kaya, dia pasti mundur kalau tau sebenarnya aku orang kaya!" cetus Mahen asal tanpa tahu kebenarannya.

"Kalau begitu, ajak saja tuan dan Nyonya besar pura-pura miskin, gimana?" saran Andro terdengar ngawur.

Mahen berpikir sejenak apa yang Andro katakan tidaklah salah. Itu bisa di coba.

"Idemu boleh juga. Yasudah, besok aku akan menemui mereka dan meminta mereka untuk menemui Naya dan menjadi pura-pura miskin," ujar Mahen.

"Sayang sekali, tuan dan Nyonya besar sedang pergi keluar kota untuk tiga hari ke depan. Jadi Tuan tidak bisa menemui secepatnya," jawab Andro.

Di karenakan Naya mengajak bertemu orangtuanya hari senin, otomatis Mahen harus menemui mereka besok atau lusa. Tidak ada pilihan lain selain harus menyusul mereka.

"Mungkin hari senin paling cepat," ujar Andro.

"Jangan. Biar besok aku menemui mereka menyusul kesana," ucap Mahen.

Keesokan harinya ....

Badan Mahen sudah terasa lebih enak, ia sudah siap untuk pergi tinggal menunggu Andro menjemputnya dengan mobil.

Tidak lama kemudian Andro datang dan mereka ke tempat dimana orangtua Mahen berada yaitu di kota B. Mereka kesana menghadiri pembukaan wisata taman buah.

Mahen dan Naya sudah berada di mobil masing-masing, saling berbalas pesan saling bertukar kabar seperti sepasang kekasih pada umumnya.

Ternyata mereka ada di lampu merah yang sama, bahkan mobil mereka saling berdampingan. Akan tetapi, mereka tidak saling melihat sampai akhirnya mobil melaju kembali.

"Bu Naya lagi happy banget, ya?" tebak Rossi yang duduk di kursi samping kemudi.

"Kepo banget sih!"

"Penasaran aja soalnya dari tadi Bu Naya main ponsel sambil senyum-senyum," cetus Rossi.

Kemudian Naya menurunkan senyumnya lalu menatap Rossi yang masih menanti jawaban dengan berbinar. "Rossi ...."

"Ma–maaf, saya tidak akan bertanya-tanya lagi!" Rossi menutup rapat mulutnya dan berbalik badan.

"Apaan sih Naya? Gak usah senyum-senyum gak jelas deh!" gerutunya merutuki diri sendiri.

"Aku ingin tidur sebentar, bangunkan aku kalau sampai!" cetus Naya kemudian bersandar pada jok. Ia duduk di kursi belakang karena malas untuk nyetir sendiri dengan jarak jauh.

Perjalanan hampir tiga jam karena jalanan cukup padat. Sampai di Villa yang baru saja Naya beli, ia di sambut oleh penjaga yang sudah Naya suruh datang kemarin.

"Selamat datang, Nona."

"Semuanya sudah di bereskan, kan? Dan barang-barang sudah di rapikan?" tanya Naya.

Selain menyuruh bawahannya untuk mengirim orang untuk membersihkan dan menjaga Villa, ia juga membeli beberapa barang untuk mengisi villa tersebut.

"Sudah Nona. Semuanya sudah rapi, Nona bisa langsung istirahat ..." jawabnya.

"Makasih pak—"

"Oh, perkenalkan nama saya pak Ibrahim. Saya yang di tunjuk pak Surya untuk menjaga villa ini," jawabnya.

"Oke. Makasih pak Ibrahim ... Semoga bapak bisa bekerja dengan baik dan jujur. Saya akan sangat menghormati orang yang jujur ..." tutur Naya.

"Tentu saja, Nona. Mari masuk ..." Kemudian pak Ibrahim membawakan koper-koper mereka ke kamarnya lalu Naya dan Rossi berkeliling Villa itu. Menikmati pemandangan diluar villa yang indah, hijau dengan udara sejuk.

"Aghhh Nona beruntung banget beli villa ini. Ini strategis bangetttt ... Selain pemadangannya bagus, udaranya juga sejuk dan yang paling penting Villa ini sangat mewah ..." ungkap Rossi begitu semringah.

"Ya lumayan!"

"Eh iya, nanti sore ada meeting dengan client untuk mengecek perkebunan kapas," jelas Rossi.

"Oke atur saja. Aku mau duduk di bangku itu." tunjuknya pada bangku di bawah pohon samping villa. "Tolong bawakan kopi hangat." titahnya kemudian ia berlalu pergi.

Naya benar-benar menikmatinya apalagi suasana villa yang membuatnya begitu tenang. Bunga-bunga cantik yang di tanam di sekitaran villa juga begitu menyegarkan mata.

"Hmmm aku suka tempat ini, cocok buat healing ..." gumam Naya.

Rossi menghampiri Naya seraya membawakan kopi yang di minta. "Eh bu, kata pak Ibrahim di deket sini lagi ada pembukaan wisata taman buah. Kayaknya masih seperusahaan dengan villa ini deh. Apa bu Naya mau pergi kesana? Ya sambil nunggu waktu bertemu dengan client," ujar Rossi.

Naya melihat jam yang melingkar di tangannya dan waktu masih lama. Akan sangat membosankan jika hanya di villa.

"Baiklah, kita pergi kesana ayo ...."

"Asyikkkk ..." Rossi excited.

Setelah istirahat sebentar dan berganti pakaian, Naya dan Rossi pergi ke taman buah di antar oleh pak Ibrahim sebagai penunjuk jalan. Tidak sampai lima menit, mereka sampai.

Cukup ramai pengunjung, tapi tidak terlalu penuh.

"Sebenarnya pembukaan resminya besok, tapi hari ini boleh datang ..." jelas pak Ibrahim.

"Terima kasih, pak," ujar Naya.

Mereka di sambut ramah oleh penjaga taman dan di perbolehkan masuk. Mereka juga bebas memetik buah yang sudah siap di panen, itu sangat menyenangkan dan Rossi kalap memetik berbagai buah mencicipinya satu persatu.

Sementara Naya hanya memetik satu buah jeruk. memakannya sembari menikmati suasana disana.

Dari kejauhan, seseorang memanggil dan menghampiri Naya.

"Nona ... Eh ketemu disini. Ya ampun, kayaknya jodoh deh ..." ucapnya. Ternyata itu adalah Rina. Dengan penampilan yang berbeda dari pertemuan sebelumnya, begitu glamour dengan tas mahal yang di tentengnya.

"Bukannya ini ibu-ibu sales waktu itu, ya?" bisik Rossi.

1
Kaira
sejauh ini sih seru
Kaira
Harus jodoh Naya sama Mahen dong
Aruna
Naya cocoklah sama Mahen
Intan Diamond: penasaran, kan???
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!