"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan dari Gracia
Yandra tersenyum mendengar celotehan Runi. Bahkan Yandra sempat memberi Runi pertanyaan untuk menguji kepintaran wanita itu. Benar saja, Runi bisa menjawab pertanyaan Yandra dengan baik.
"Ternyata memang benar, kamu cukup cerdas. Besok kalau udah lahiran, dan aku sudah menjadi dokter spesialis. Aku akan daftarkan kamu ke fakultas kedokteran," ujar Yandra membuat perasaan Runi mendadak meringis.
Runi terdiam menatap Yandra. Ia tidak menyangka Yandra akan berkata seperti itu. Ternyata dia cukup baik.
"Terimakasih atas niat baiknya, Mas. Tetapi aku sudah tak berminat lagi untuk menjadi dokter," ujar Runi membuat Yandra menatap tidak mengerti.
"Kenapa begitu? Bukankah cita-citamu ingin jadi dokter?" tanya Yandra.
Runi tersenyum getir. Andai saja ia tidak mengidap penyakit mematikan, maka ia adalah wanita yang sangat bahagia di dunia ini. Namun, kembali lagi ia tak bisa menyalahkan semua takdir dari Allah.
"Kenapa diam saja? Seharusnya kamu senang bisa kuliah. Lagian usia kamu masih cukup muda," imbuh Yandra.
"Iya, tapi aku sudah tidak mau kuliah. Aku hanya ingin menjadi pasien mas saja," jawab Runi mencoba untuk tetap tenang dan baik-baik saja.
Yandra hanya menggeleng sembari menatap aneh. "Terserah kamu saja." Yandra kembali fokus dengan pelajarannya.
Runi masih duduk anteng di samping lelaki itu. lama-lama terasa jenuh juga, karena ponselnya ada di nakas samping tempat tidurnya.
"Mas?" panggil Runi mengusik konsentrasi Yandra.
"Hmm?" jawab Yandra menggumam. Netranya masih fokus menatap layar laptopnya.
"Aku bosan," ujar Runi membuat Yandra menoleh.
"Mau balik ke atas ranjang?"
"Nggak mau."
"Terus, kamu mau apa?"
"Boleh minta tolong ambilin ponsel aku, mas?"
"Baiklah." Yandra berdiri dari duduknya untuk mengambil ponsel Runi.
"Ponsel kamu mati," ucap Yandra memang begitu.
"Yah, kok mati?" Runi merengek manja.
"Ya nggak tahu. kamu bawa cas?"
Runi menggeleng. "Kan casnya tinggal di rumah."
Yandra meletakkan benda pipih itu ke tempat semula. Ia kembali duduk di samping Runi.
"Pake ponsel aku saja." Yandra menyerahkan ponselnya pada Runi.
"Tapi, Mas?" Runi menatap ragu.
"Nggak pa-pa, kamu pake saja. Kamu cuma mau scroll media sosial 'kan?" ujar lelaki itu paham sekali hobinya wanita.
Runi mengangguk membenarkan. Memang itu hobynya saat sedang bosan. Karena banyak vidio yang bisa membuatnya tertawa di aplikasi hitam.
"Mas, ini benaran aku boleh buka media sosial kamu?" tanya Runi masih tidak percaya lelaki itu memberinya kepercayaan.
"Iya, asal jangan yang aneh-aneh saja. Kalau untuk scroll nggak pa-pa. Lagian aku nggak pernah update juga di sana," jawab Yandra memang begitu.
Runi tersenyum senang. Ia segera membuka akun media sosial lelaki itu. Tentunya Runi sangat penasaran dengan galery yang ada di akun tersebut. Apakah ada foto Yandra dengan wanita lain di sana?
Runi segera melihat profil akun tersebut. Tak ada unggahan video baru. Terlihat hanya video-video edukasi tentang penyakit anak yang bermasalah dengan syaraf. Sesuai dengan profesi yang tengah di geluti oleh suaminya.
Runi merasa cukup lega. Ternyata memang benar Yandra tidak terlalu suka dengan media sosial. Mungkin kegunaannya hanya untuk mencari wawasan tentang ilmu kedokteran.
Runi tak lagi mencari tahu. Ia mencari akun khusus yang biasanya ia tonton untuk drama cina dan Korea. Saat Runi sedang fokus dengan tontonannya. Sebuah pesan masuk dari kontak yang namanya sudah sangat ia kenal. Yaitu Gracia.
[Mas, kamu di RS mana?]
[Aku samperin kamu kesana ya]
Bersambung....