Vira, terkejut ketika kartu undangan pernikahan kekasihnya Alby (rekan kerja) tersebar di kantor. Setelah 4 tahun hubungan, Alby akan menikahi wanita lain—membuatnya tertekan, apalagi dengan tuntutan kerja ketat dari William, Art Director yang dijuluki "Duda Killer".
Vira membawa surat pengunduran diri ke ruangan William, tapi bosnya malah merobeknya dan tiba-tiba melamar, "Kita menikah."
Bos-nya yang mendesaknya untuk menerima lamarannya dan Alby yang meminta hubungan mereka kembali setelah di khianati istrinya. Membuat Vira terjebak dalam dua obsesi pria yang menginginkannya.
Lalu apakah Vira mau menerima lamaran William pada akhirnya? Ataukah ia akan kembali dengan Alby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian
Penggeledahan di apartemen masih berlangsung. William dengan teliti memeriksa setiap barang, yakin bahwa ada lebih dari satu kamera tersembunyi di kamar Vira.
Speaker mini di atas lemari wanitanya menjadi pusat perhatian. William segera membuka kisi-kisi pada speaker, dan benar... kamera tersembunyi itu berada di dalam enklosur speaker. Lensa kecil itu mengintip dari balik kabel dan komponen elektronik, sebuah mata tersembunyi yang telah merekam tanpa sepengetahuan siapa pun. “Sial!” desisnya.
William segera menghubungi seorang detektif kenalannya untuk segera datang ke apartemen. Ia ingin penyelidikan ini dilakukan hati-hati demi menjaga mental Vira.
“Hallo, David,” sapa William pada rekannya di balik telepon.
“Iya, Pak,” sahut pria di balik telepon.
“Datang ke lokasi yang telah aku kirimkan alamatnya, bawa dua anak buahmu sekalian,” ujar William, sebelum mengakhiri percakapan.
Usai hampir dua jam menggeledah, dan hanya menemukan dua bukti kamera. William meminta Vira kembali masuk kedalam kamar. Wanitanya tampak lemah, kedua bahunya gemetar karena isakan tangis yang belum reda.
William membuat secangkir teh hangat, meletakkannya di meja. Ia menyingkap rambut Vira yang menutupi wajah. Dengan gerakan lembut memberikan pelukan.
“Aku akan mengurusnya sayang, akan aku cari siapa pelakunya,” kata William, mengusap lembut punggung Vira.
Vira dengan wajah memerah dan pipi yang basah karena air mata, menatap sang kekasih. Bibirnya bergetar, “Aku takut … bagaimana jika kamera itu berhasil menangkap … saat aku …” Vira tak kuasa melanjutkan kalimat.
“Itu pasti, aku yakin ia sudah mendapat apa yang diinginkan. Tapi, aku tak akan membiarkan bedebah itu lepas begitu saja,” kata William, suaranya rendah mencoba menenangkan. “Akan aku habisi dia…” lanjutnya dengan monolog.
Beberapa saat kemudian, tiga orang pria dengan potongan rambut buzz cut—stelan jas abu-abu dipadukan dengan kemeja rapi telah tiba di luar unit apartemen.
Sebuah pesan masuk dari David. “Pak saya sudah tiba di lokasi.”
William melepas pelukannya, ia menyentuh pipi Vira lembut dengan ibu jarinya. Menghapus perlahan sisa air mata di pipi wanitanya. “Aku keluar sebentar, aku akan mengecek cctv dan mencari jejak pelaku itu,” ucapnya, memberikan kecupan singkat di kening Vira.
Saat William akan bangun, Vira dengan tangan yang gemetar menahan—menarik kemejanya. Wajahnya mendongak menatap kekasihnya penuh dengan harapan. Vira tidak ingin kejadian lima tahun silam terjadi lagi. Ayahnya akan marah besar jika tahu, ia tak akan bisa mengelak lagi dari perjodohan.
William kembali duduk, “Akan aku temukan video itu, jangan cemas,” katanya.
Vira membenamkan wajahnya di dada William, membuat dada pria itu kembali basah dengan air mata. Dengan gerakan lembut William meraih dagu wanitanya, mencium bibir Vira singkat.
“Jangan menangis, kamu pulang ke Bandung. Aku akan mengurus semua. Minta ayahmu menunggu 1 Minggu. Aku akan datang lagi kerumah,” pesannya. Vira mengangguk, dan melepas kepergian William.
Di luar unit apartemen, William menemui ketiga rekannya. Dengan langkah lebar mereka menuju Master Control Room—ruang kendali keamanan, di mana petugas menyimpan rekaman kamera yang tersebar di seluruh gedung apartemen.
Setelah mendapatkan ijin dari pihak manajemen apartemen. Mereka mengamati setiap gerakan di monitor cctv mulai dari kepindahan Vira di apartemen.
Tidak membutuhkan banyak waktu, mereka menangkap sosok pria yang terlihat jelas saat memasuki unit apartemen Vira.
“Alby,” gumamnya geram. William dengan mata membesar memastikannya sekali lagi.
“Sial, pria itu!” tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras.
William meminta salinan bukti cctv, kemudian ia dan rekannya segera keluar dari ruang control.
“Cari dia sampai dapat,” titah William dengan suara rendah namun tegas kepada detektif yang memimpin pencarian.
“Baik, Pak,”jawab David
“Aku juga ingin kamu mencari informasi tentang pria bernama Jonatan. Dia anggota berseragam hijau, berpangkat satu melati emas di pundaknya.” William menunjukkan wajah Jonatan pada ketiga rekannya melalui ponselnya.
Sebelumnya, ia telah meminta rekannya dari kesatuan yang sama untuk mencari jejak Jonatan di situs web, namun informasi yang didapat minim, hanya sebatas latar belakang personal. William membutuhkan lebih dari itu, agar bisa mencari celah dan meyakinkan Suryono, ayahnya Vira, untuk membatalkan perjodohan.
“Ini akan terlalu sulit,” ujar David menyadari posisi Jonatan.
“Selidiki seluruh latar belakangnya, tapi lakukan dengan hati-hati. Aku hanya butuh informasi, selanjutnya itu urusanku.”
Bersambung...
Kira-kira apa yang akan di lakukan Bang William setelah berhasil menemukan Alby? Dan apakah Babang Duda juga berhasil menemukan data Jonatan?
Othor takut babang William berbuat hal lebih gila karena obsesinya ingin memiliki Vira. 🤔
💗 Hari ini othor up bab sedikit. Karena lagi nggak enak body. Sehat-sehat ya kalian semua. Tolong jangan lupa tinggalin jejak, untuk like dan komentar. Kasihan othornya. 🥲