NovelToon NovelToon
Merawat Majikan Lumpuh

Merawat Majikan Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dirumah sakit...

​Bunyi sirene ambulan memecah keheningan jalan raya yang panas.

​Tubuh kekar Arjuna yang kini terkulai lemah dan bersimbah darah segera dievakuasi oleh tim medis yang datang bersamaan dengan para pengawal pribadinya. Rupanya, sistem keamanan di mobil mewah Arjuna mengirimkan sinyal darurat otomatis ke pusat keamanan keluarga Pratama Wijaya begitu benturan keras terjadi.

​Di rumah sakit elite milik keluarga, suasana berubah menjadi neraka.

​Nyonya Hamidah menangis histeris di lorong VIP, ditenangkan oleh suaminya, Tuan Wijaya, yang wajahnya mengeras menahan amarah dan kekhawatiran.

​"Bagaimana ini bisa terjadi? Siapa yang berani mencelakai putraku!" jerit Hamidah.

"Sudah sayang,tenangkan dirimu,,Papa akan mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini." Pratama mengelus elus pundak istrinya dengan lembut.

"Papa,,putra kita..! bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Arjuna? mama lebih baik mati kalau sampai Arjuna kenapa napa.." isak Hamidah histeris.

"Arjuna tidak akan kenapa napa sayang,putra kita sangat kuat dan tangguh." lagi lagi Pratama meyakinkan istrinya,meskipun dia sendiri tidak yakin akan ucapannya.

​Dokter kepala keluar dari ruang IGD dengan wajah tegang. "Tuan, Nyonya... Luka fisik Tuan Arjuna cukup parah, ada patah tulang di bagian kaki,, tapi yang paling utama adalah ..." Dokter itu menggantung kalimatnya, membuat jantung Hamidah seakan berhenti.

​"Apa, Dok?! Bicara yang jelas!" bentak Tuan Wijaya tidak sabar.

​"Kecelakaan ini memicu stres berat pada tubuhnya. Metabolisme Tuan Arjuna collapse. Kondisi kelainannya kambuh lebih cepat dari jadwal. Tubuhnya menolak infus biasa, dia membutuhkan 'asupan khusus' itu sekarang juga untuk merangsang penyembuhan sel-selnya. Jika tidak, organ dalamnya akan mulai gagal fungsi dalam waktu 2 jam."

​Wajah Hamidah memucat. Stok ASI donor yang biasa dikirim sedang dalam perjalanan dari luar kota dan baru akan tiba besok pagi. Stok yang ada di mobil Arjuna hancur bersamaan dengan kecelakaan tadi.

​"Cari! Cari pendonor di kota ini sekarang juga! Bayar berapa saja!" perintah Tuan Wijaya pada asistennya. Namun, mencari donor ASI yang higienis dan sesuai standar kesehatan Arjuna dalam waktu 2 jam bukanlah hal mudah.

Kemana mereka mencari pendonor secepat itu?

Abak buah Pratama berpencar mencari asi yang di donor kan.

Ada yang ke rumah sakit lain,ada yang ke panti asuhan,bahkan ada yang mencari di internet.

Semua hasilnya nihil.

Ada yang dapat,tapi sudah terlanjur di bawa orang.

Sementara waktu terus berjalan.

Asi belum ada ditangan.

kondisi Arjuna semakin kritis.

Saat ini Arjuna sudah sadar,tapi dia membutuhkan asi itu sekarang juga,agar kerongkongan nya yang serasa terbakar langsung reda jika sudah meminum cairan tersebut..

"Sakit,," rintihnya lirih.

Meskipun Arjuna sudah sadar,namun untuk benar benar sadar dia belum sama sekali.

"Nyonya,tuan,sebaiknya asinya segera dibawa,takutnya Arjuna kembali collaps dan semakin parah.

Sementara kalau Arjuna mendapat asupan asi segera,mungkin pemulihan nya akan cepat." jelas sang dokter.

Hamidah maupun Pratama semakin takut.

takut kalau sampai anak buahnya gagal mendapatkan asi tersebut.

***

​Sementara itu, di paviliun belakang.

​Darsih berlari tergopoh-gopoh masuk ke kamar Indira.

Wajahnya basah oleh air mata, membuat Indira yang sedang meringkuk menahan nyeri di dadanya menjadi panik.

​"Bu? Ibu kenapa? Ada apa?" tanya Indira, mencoba bangun meski tubuhnya terasa berat dan panas dingin.

​"Den Arjuna, Nduk... Den Arjuna kecelakaan parah," isak Darsih. "Ibu harus ke rumah sakit sekarang, Nyonya Hamidah sendirian di sana, Ibu tidak tega. Kamu tidak apa-apa Ibu tinggal sebentar?"

​Indira terkejut. Meski dia jarang berinteraksi dengan Arjuna karena perbedaan status yang bagaikan bumi dan langit, dia tahu majikan ibunya itu orang baik.

​"Pergilah, Bu. Aku bisa jaga diri." Indira meringis, memegang dadanya yang semakin membengkak dan keras. Cairan putih itu kembali merembes, membasahi kaos tidurnya yang tipis. Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi, seolah ada yang mendesak ingin dikeluarkan.

​Darsih terdiam menatap putrinya. Otaknya yang sederhana tiba-tiba berputar cepat.

​Di satu sisi, putra majikannya sedang sekarat karena butuh ASI.

Di sisi lain, putrinya sedang kesakitan karena memproduksi ASI berlebih tanpa sebab yang jelas.

​Sebuah ide gila, tidak masuk akal, namun mungkin menjadi satu-satunya jalan keluar, melintas di benak Darsih.

​"Nduk..." suara Darsih bergetar, dia memegang bahu Indira erat. "Dada kamu... masih sakit sekali? Masih keluar air susunya?"

​Indira mengangguk lemah, bingung dengan tatapan ibunya yang tajam namun penuh permohonan. "Sakit banget, Bu. Rasanya mau pecah..."

​Darsih menelan ludah. Ini berisiko. Indira masih 16 tahun, masih sekolah. Tapi nyawa Arjuna di ujung tanduk, dan Darsih berhutang budi terlalu banyak pada keluarga itu.

​"Indira, dengarkan Ibu. Kamu harus ikut Ibu ke rumah sakit. Sekarang."

​"Tapi aku sakit, Bu—"

​"Justru itu!" potong Darsih cepat, menyeka air matanya. "Ibu... Ibu mungkin tahu cara menyembuhkan sakitmu, sekaligus menolong Den Arjuna. Ayo, ganti bajumu. Pakai jaket yang tebal."

meski bingung,Indira tetap menuruti ucapan ibunya.

dia memakai jaket untuk menutupi dadanya yang merembes.

​Sesampainya di Rumah Sakit.

​Kekacauan semakin menjadi. Asisten Tuan Wijaya melapor bahwa mereka belum mendapatkan donor yang sehat. Nyonya Hamidah sudah lemas hampir pingsan di kursi tunggu.

​Saat itulah Darsih datang, menggandeng Indira yang berjalan tertunduk dan menahan nyeri.

​"Nyonya..." panggil Darsih lirih.

​Hamidah menoleh, matanya bengkak. "Darsih... Arjuna, Darsih... putraku..." Hamidah memeluk Darsih, melupakan status sosial mereka.

​Darsih berlutut, mensejajarkan dirinya. Dengan suara bergetar dan penuh keberanian, ia berkata, "Nyonya, maaf kalau saya lancang. Tapi... putri saya, Indira... dia sedang mengalami kondisi aneh seminggu ini."

​Hamidah mengernyit, tidak paham. "Apa maksudmu?"

​"Indira... dia mengeluarkan ASI, Nyonya. Banyak sekali. Dia kesakitan karena tidak dikeluarkan. Jika... jika Nyonya mengizinkan dan dokter memperbolehkan, mungkin Indira bisa..."

​Mata Hamidah membelalak lebar. Dia menatap Indira yang berdiri canggung di belakang ibunya. Gadis itu terlihat pucat, namun dadanya memang terlihat penuh dan sesak di balik jaketnya.

​Tanpa pikir panjang, Hamidah langsung berdiri dan mencengkeram tangan Indira.

​"Dokter! Periksa gadis ini! Cek darahnya, cek kesehatannya sekarang juga! Jika dia bersih, bawa dia ke ruangan Arjuna!"

​Indira gemetar ketakutan. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Mengapa dia harus diperiksa? Dan apa hubungannya dengan Den Arjuna?

​"Ibu..." cicit Indira ketakutan.

​"Tidak apa-apa, Sayang. Lakukan saja demi Ibu, ya? Demi Den Arjuna," bisik Darsih menenangkan, meski hatinya sendiri bergemuruh takut.

​Lima belas menit kemudian, hasil tes keluar. Indira dinyatakan sehat, steril, dan ASI yang diproduksinya memiliki kualitas grade A, sangat kaya nutrisi, seolah-olah tubuhnya memang dirancang khusus untuk memproduksi itu.

​Indira didorong masuk ke ruang rawat VVIP yang dingin dan beraroma obat.

​Di sana, di atas ranjang besar, terbaring Arjuna. Wajah tampannya pucat pasi, bibirnya kering pecah-pecah, dan napasnya terdengar satu-satu. Kabel-kabel medis menempel di tubuh kekarnya yang penuh perban.

​Dokter menatap Indira. "Nona, Tuan Arjuna terlalu lemah untuk minum dari botol atau sendok. Refleks hisapnya adalah satu-satunya insting bertahan hidup yang tersisa saat ini. Kamu harus memberikannya secara... langsung."

​Mata Indira membulat sempurna. Wajahnya memerah padam hingga ke telinga.

"M-maksud Dokter... menyusui?"

Indira hampir pingsan melihat dokter itu mengangguk.

bersambung

bersambung..n

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!