NovelToon NovelToon
Bola Kuning

Bola Kuning

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Paffpel

Kisah tentang para remaja yang membawa luka masing-masing.
Mereka bergerak dan berubah seperti bola kuning, bisa menjadi hijau, menuju kebaikan, atau merah, menuju arah yang lebih gelap.
Mungkin inilah perjalanan mencari jati diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paffpel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Pagi ini, Juan berdiri di depan rumah Arpa. Kadang-kadang dia menengok ke arah pintu rumah Arpa.

Arpa pun keluar dari rumahnya. Juan tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya. “Oi, Rap,” kata Juan.

Arpa menutup pintu rumahnya dan melambaikan tangannya. “Oi, Jun.”

Mereka pun berjalan bersama, menuju sekolah. Sepanjang jalan mereka tidak saling berbicara. Arpa tersenyum tipis, menyambut hari indah yang menantinya. Sedangkan Juan, dia memainkan jari-jarinya. Pandangannya berpindah-pindah.

Langkah Juan melambat. Dia menyenggol pelan Arpa. “Rap, lu akhir-akhir ini sering bareng Depa ya?” Juan berusaha memalingkan pandangannya.

Arpa diam sebentar. Dia memegang dagunya. “Emang iya ya? Nggak tau juga sih, tapi dia orangnya asik coy,” Arpa nyengir.

Alis Juan terangkat. Dia tersenyum canggung. “Oh… gitu ya… “

Mereka pun sampai di gerbang SMA Kuantama, lalu masuk. Mereka berdua melihat Rian di depan mereka. Arpa menghampiri Rian. “Oi, Yan,” Arpa memukul pelan Rian dari belakang.

Rian menengok ke belakang. “Oi, Rap, Jun.”

Arpa merangkul Rian sambil tersenyum lebar. Mereka mengobrol sambil bertukar senyuman.

Sedangkan Juan, di belakang mereka. Dia memperhatikan Arpa dan Rian dengan mata setengah kosong, bibirnya di tekan. Gerakannya semakin pelan.

Dari arah belakang, ada yang memanggil Arpa dan Rian. “Woi, Rap, Rian.”

Ternyata itu Depa. Arpa dan Rian menengok. Depa berlari ke arah Arpa dan Rian. Dia tidak sengaja menabrak Juan. “Eh, maaf ya,” Depa langsung melangkah lagi, menuju Arpa dan Rian.

Arpa pun merangkul Depa di sisi lain tangannya. Mereka bertiga ngobrol sambil ketawa-ketawa.

Juan yang melihat itu semua, tangannya mengepal dengan keras. Matanya menatap tajam ke arah Depa.

Tapi perlahan-lahan tangannya melunak, tatapannya melembut. Dia menurunkan pandangannya.

Mereka pun sampai di depan pintu kelas mereka. Depa membuka pintu, mereka masuk satu persatu, Juan… terakhir.

Mereka pun duduk di kursi masing-masing. Bahkan setelah mereka duduk, mereka masih saling bercanda dan tertawa. Mengabaikan Juan, yang berada di dekat mereka.

Juan yang melihat mereka, langsung memalingkan mukanya. Dia berbaring di atas mejanya. “Kenapa… jadi gini?” tanya Juan di dalam hatinya. Alisnya mengkerut halus.

Bel masuk pun berbunyi, tidak lama guru pun masuk. Dia mengajar seperti biasanya. Arpa memperhatikan pelajaran dengan senyum tipis yang masih terlihat di wajahnya. Sedangkan Juan… dia memperhatikan pelajaran dengan mata setengah kosong dan gerakan yang lebih pelan dari biasanya.

Waktu berjalan begitu cepat, Tidak terasa bel istirahat berbunyi. Depa mengajak Arpa seperti biasanya. Arpa mengiyakan, dan Rian mengikuti mereka.

Juan hanya diam. Dia pelan-pelan berbaring di atas mejanya. Matanya membuka-tutup, tapi lama-lama menutup. Dia… tertidur.

Di sisi kelas 10B, Susi mengeluarkan bekalnya dari tas. Dia membuka bekalnya dan bersiap-siap untuk makan.

Mutia melirik ke arah Susi. Kepalanya mundur sedikit dan dia tersenyum lebar. Dia mengeluarkan bekalnya juga dari dalam tasnya. Dia melirik Talita. “Lit, kamu bawa bekal kan?”

Talita menganggukkan kepalanya. Dia mengambil bekalnya dari tasnya. “Bawa, Mut.”

Mutia senyum, dia narik pelan tangan Talita. Mereka melangkah ke arah Susi.

Mutia berdiri di samping Susi. Dia menarik bangku di sekitarnya dan duduk di samping Susi. Talita pun sama, dia menarik bangku di sekitarnya dan duduk di samping Susi.

Tangan Susi terhenti seketika. Dia melirik Mutia dan Talita. “Kenapa?”

Mutia menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Nggak ada apa-apa, cuman pengen makan bareng aja, hehe,” Mutia tersenyum.

Mata Susi membesar sedikit. Dia tersenyum tipis sambil ngangguk kecil.

Mereka bertiga pun memakan bekal mereka bersama-sama. Kadang mereka meminta bekal masing-masing. Mutia dan Talita sering tersenyum dan tertawa, dan Susi… kali ini dia sering tertawa kecil.

Di taman sekolah. Ada Dipa dan Rinaya, mereka sedang memakan makanan yang mereka beli dari kantin sekolah.

Saat memakan makanan mereka, mereka tidak bersuara, hanya diam.

Mereka pun selesai makan. Rinaya menyenggol pelan Dipa. “Dip.”

Dipa menengok ke arah Rinaya. “Kenapa Rin?”

Rinaya menundukkan kepalanya. Dia meremas jari-jarinya. “Kok… lukisan gua masih jelek ya?”

Dipa tersenyum tipis. Dia menatap lembut Rinaya. “Rin, sabar, namanya juga proses. Kalau bosen melukis, kita bisa nyoba menggambar kok.”

Rinaya memiringkan kepalanya. “Menggambar? Apa bedanya?”

“Ya beda dong, menggambar itu kayak mengenal bentuknya, sedangkan melukis itu kayak memberikan rasa,” kata Dipa.

Mata Rinaya berbinar. “Woah, kayaknya seru, gua mau menggambar!”

Dipa tersenyum. “Iya, nanti kita menggambar ya.”

Rinaya ngangguk-ngangguk.

Sedangkan di kantin, ada Arpa, Depa dan Rian. Mereka baru saja menyelesaikan makan mereka.

Depa nguap. Dia ngelirik Arpa dan Rian. “Rap, Rian, ke ruangan ekskul seni rupa yo, bosen gua.”

Arpa nengok ke Depa. “Gas lah, seru juga di sana.”

“Ya… gua mah ngikut aja,” kata Rian.

Depa ngasih jempolnya. “Oke, sip, gas kita kesana.”

Mereka pun pergi menuju ruangan ekskul seni rupa. Nggak lama, mereka pun sampai di depan pintu ruangan ekskul seni rupa.

Depa mengintip ke dalam. Dia menatap Arpa dan Rian. Dia menghela napasnya. “Cuman ada si tua.”

Tiba-tiba Depa melirik ke arah botol minuman yang dibawa Rian. Dia nyengir. “Rian, gua minjem ya,” dia mengambil botol minuman itu.

Dia membuka pintu dengan cepat dan melemparkan botol minuman itu ke arah kepala Aran. Botol itu tepat sasaran, mengenai kepala Aran.

Depa dengan cepat langsung menutup pintu dan langsung lari. “Kabur coy, kabur, bahahaha.”

Arpa dan Rian langsung ketawa dan lari menyusul Depa. “Bahahaha, lu ngapain, Dep, Bahaha,” kata Arpa.

“Hahaha, kocak amat dah lu,” kata Rian.

Dari belakang mereka terdengar suara pintu yang dibuka dengan keras. Ternyata itu Aran. Dia menatap tajam ke arah Depa. Dia mengepalkan tangannya. “Wah, bener-bener ni bocah,” Aran berlari dengan cepat ke arah Depa, Arpa dan Rian.

1
cacelia_chan~
Arpa lari pagi, lupa pamit, lupa pintu… paket lengkap 😭
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
hayoloh lupa kan jadinya....
Alyaaa_Lryyy.
org pendiam klw mrh gk main2 yah , pliss klian shabtan aj🤗
Greta Ela🦋🌺
Yeayy jadi Arpa, Juan, dan Rian🤭
Greta Ela🦋🌺
Wahh Rian udah baik kah?🤭
Greta Ela🦋🌺
Awas nanti sakit
Queen Naom
kasihan Rian🥺
Tina
Ada rasa bombay dan haru di bab ini 😊
Tina
kayak bocil malah asik maen, lupa tujuan awal 🤣
Tina
patahin jarinya rap 😆
Greta Ela🦋🌺
Lah, jadi Rian ini anak broken home?😭
Greta Ela🦋🌺
Lah, gimana sih Rian, gak jelas amat
Greta Ela🦋🌺
Iya bener yang kamu lakuin ini Arpa. Jangan mau diam terus kalau dihina. Sekeali tonjok juga udah bagut itu
Queen Naom
arpa jangan baper ya😄
Queen Naom
beliau ini terlalu jujur
Queen Naom
kalau di real life udah di katain pacaran tuh🤣
Queen Naom
kasihan arpa🤣
Alexander BoniSamudra
ajak pelukan bang👍
Alexander BoniSamudra
ternyata di semua sekolah sama aja
Alexander BoniSamudra
Parah si susi mah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!