Revan adalah pria tampan dan pengusaha muda yang sukses. Namun di balik pencapaiannya, hidup Revan selalu berada dalam kendali sang mama, termasuk urusan memilih pendamping hidup. Ketika hari pertunangan semakin dekat, calon tunangan pilihan mamanya justru menghilang tanpa jejak.
Untuk pertama kalinya, Revan melihat kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri. Bukan sekadar mencari pengganti, ia menginginkan seseorang yang benar-benar ingin ia perjuangkan.
Hingga ia teringat pada seorang gadis yang pernah ia lihat… sosok sederhana namun mencuri perhatiannya tanpa ia pahami alasannya.
Kini, Revan harus menemukan gadis itu. Namun mencari keberadaannya hanyalah langkah pertama. Yang lebih sulit adalah membuatnya percaya bahwa dirinya datang bukan sebagai lelaki yang membutuhkan pengganti, tetapi sebagai lelaki yang sungguh-sungguh ingin membangun masa depan.
Apa yang Revan lakukan untuk meyakinkan wanita pilihannya?Rahasia apa saja yang terkuak setelah bersatu nya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Bersatu
Malam kian larut. Setelah mengungkapkan perasaan dan menghabiskan waktu menikmati suasana pulau, Revan dan Eliana sepakat kembali ke penginapan.
Begitu tiba, mereka bergantian membersihkan diri, meski lelah keduanya tak lupa mengerjakan kewajiban yang sempat tertunda. Mengerjakan ibadah dalam keheningan, menutup hari dengan doa dan sujud.
Suasana kamar terasa lebih tenang.
Eliana merebahkan tubuhnya perlahan di sisi ranjang. Revan sudah lebih dulu berbaring, bersandar dengan satu tangan menopang kepala, menatap istrinya dengan sorot mata lembut.
“Kamu kenapa?” tanya Revan pelan.
“Kelihatannya gugup.”
“Tidak… tidak ada apa-apa,” elak Eliana cepat, meski suaranya tak sepenuhnya meyakinkan.
Revan mendekat, lalu mengecup keningnya singkat. Senyum hangat terukir di wajahnya.
Jantung Eliana berdegup semakin kencang.
Bagaimana kalau Revan meminta haknya sekarang? batinnya gelisah.
Namun jauh di dalam hatinya, Eliana sudah bertekad, jika saat itu tiba, ia tak ingin lari. Ia ingin percaya, ingin menyerahkan diri sepenuhnya pada ikatan yang telah halal.
“Tidurlah,” ucap Revan lembut.
“Hari sudah malam. Kamu pasti lelah setelah perjalanan panjang hari ini.”
Eliana terdiam. Ia sempat mengira Revan akan berkata lain.
“Kamu kenapa?” tanya Revan lagi ketika melihat Eliana masih terjaga.
“E-eh… tidak. Tidak apa-apa,” jawab Eliana cepat.
“Ayo tidur.”
Revan tersenyum, membaca kegugupan istrinya yang tak pandai disembunyikan.
Sebagai lelaki normal, tentu Revan begitu menginginkan. Terlebih kini nyaris tidak ada jarak di antara mereka . Namun ia menahan diri, bukan karena tak mampu, melainkan karena ingin Eliana merasa nyaman.
Entah sadar atau tidak, tiba-tiba Eliana merangkulkan sebelah tangannya ke leher Revan.
Revan menelan ludah dengan susah payah.
"Ini baru tangan…, apa lagi kalau yang lain gumamnya dalam hati." Revan tersenyum getir menahan gejolak.
Hening menyelimuti kamar. Hanya terdengar detik jam dinding dan napas mereka yang perlahan saling menyatu. Tatapan mereka bertemu tak ada kata, hanya perasaan yang mengalir.
Revan akhirnya memberanikan diri mengecup bibir istrinya, singkat dan ragu. Tidak ada penolakan. Ia mengulanginya, lebih lama, lebih hangat. Tanpa ia duga, rangkulan Eliana justru menguat, seolah memberi jawaban yang tak terucap.
Ciuman itu masih kaku, canggung, namun jujur. Dua hati yang sama-sama belajar, sama-sama bergetar, dan sama-sama ingin.
Revan menarik diri perlahan. Dahinya menempel di dahi Eliana.
“Boleh?” tanyanya lirih.
Revan Ingin memastikan jika Eliana memberikan haknya atas kemauan dan keyakinan sendiri. Revan ingin segalanya terjadi dengan ridha, bukan paksaan.
Eliana mengangguk pelan. Wajahnya memerah, namun tatapannya penuh keyakinan.
“Aku adalah istrimu,” ucapnya hampir berbisik.
“Kamu berhak… atas diriku.”
Revan menutup mata sejenak, menghela napas panjang, ia tidak akan menahan nya lagi, Revan bersyukur karena Eliana telah memberikan haknya.
Malam ini , mereka saling mendekat bukan hanya sebagai dua tubuh, tetapi sebagai dua jiwa yang dipersatukan dalam ikatan suci. Tanpa tergesa, tanpa kata berlebihan, hanya rasa, kepercayaan, dan doa yang mengiringi.
---
Pagi masih belum menampakkan cahayanya ketika Eliana perlahan tersadar dari tidurnya. Kelopak matanya terbuka pelan, napasnya tertahan sesaat.
Seluruh tubuhnya terasa lelah, ada rasa nyeri yang terasa, yang membuatnya langsung mengingat apa yang telah mereka lewati tadi malam. Eliana memejamkan mata sejenak, wajah nya memanas mengingat apa yang telah mereka lakukan.
Ia melirik jam di meja kecil di samping ranjang.
"Astaghfirullah…"
Ternyata ia bangun lebih siang dari biasanya.
Dengan hati-hati, Eliana menggeser tubuhnya. Ia bangkit perlahan agar tidak mengganggu Revan yang masih terlelap. Kakinya menapak lantai dengan langkah tertatih, menahan rasa pegal yang belum sepenuhnya hilang.
Eliana segera menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan wajah yang lebih segar. Rambutnya terbalut handuk kecil, wajahnya bersih dan tenang, meski gurat kelelahan masih terlihat samar. Pandangannya langsung tertuju pada Revan yang masih tertidur pulas.
Eliana mendekat ke sisi ranjang.
“Re…” panggilnya pelan sambil menyentuh lengan suaminya.
“Bangun… waktu subuh hampir habis.”
Revan bergumam pelan, lalu membuka mata perlahan. Pandangannya yang masih buram langsung tertuju pada Eliana. Seketika, senyum kecil terbit di wajahnya.
“Kamu sudah bangun?” tanyanya dengan suara serak.
Eliana mengangguk kecil. “Iya. Kita hampir terlambat.”
Revan segera bangkit, lalu berdiri.
“Kamu tunggu sebentar. Aku ke kamar mandi dulu.”
“Baik,” jawab Eliana lembut.
Tak lama, Revan keluar dengan rambut yang masih sedikit basah. Ia meraih sajadah, lalu menoleh pada Eliana.
“Ayo.”
Mereka berdiri. Kembali melaksanakan kewajiban, subuh itu mereka lalui sebagai suami dan istri sepenuhnya. Tak ada kata berlebih, hanya keheningan yang terasa hangat. Bacaan shalat mengalun pelan, mengikat dua hati dalam ketenangan yang sulit dijelaskan.
Selesai shalat, Eliana menyalami tangan Revan dengan penuh hormat. Revan menahan tangannya sejenak, lalu mengecup punggungnya lembut.
“Terima kasih,” ucap Revan pelan.
Eliana mengangkat wajahnya. “Untuk apa?”
“Untuk tadi malam … dan untuk pagi ini,” jawab Revan jujur.
“Dan untuk semuanya.”
Eliana tersenyum malu, lalu menunduk.
“Aku juga berterima kasih.”
Revan kemudian berdiri dengan tangan masih menggenggam erat tangan istrinya, begitu tiba di ranjang ia menarik selimut.
“Masih terlalu pagi,” ujarnya lembut.
“Ayo tidur lagi. Kamu pasti masih lelah.”
Akhirnya Eliana mengangguk. Mereka kembali berbaring. Revan menarik selimut dengan hati-hati, lalu merangkul Eliana pelan.
Eliana menyandarkan kepala di dada Revan. Detak jantung itu terasa menenangkan. Mereka kembali terlelap dalam ketenangan.
---
Cahaya mentari merambat perlahan melalui celah tirai tipis vila. Sinar keemasan menyentuh lantai kayu, menciptakan bayangan lembut yang menari bersama semilir angin laut.
Eliana terbangun lebih dulu.
Ia membuka mata perlahan, masih berusaha menyesuaikan diri dengan kenyataan yang terasa begitu baru. Tubuhnya terasa hangat, bukan hanya oleh selimut, tetapi oleh lengan yang melingkar di pinggangnya.
Eliana menahan napas.
Revan.
Ia menoleh sedikit. Wajah suaminya terlihat begitu tenang dalam tidur. Alis tegas itu kini tak lagi mengeras, garis rahangnya terlihat lebih lembut. Untuk sesaat, Eliana hanya menatap, ada rasa malu, bahagia, sekaligus tak percaya bercampur menjadi satu.
Ini nyata, batinnya.
Aku istrinya.
Gerakan kecil Eliana rupanya terasa oleh Revan. Kelopak mata Revan bergetar, lalu terbuka perlahan. Pandangannya langsung bertemu dengan mata Eliana yang masih canggung.
Beberapa detik berlalu tanpa kata.
“Selamat pagi, istriku,” ucapnya pelan.
Eliana tersenyum malu, tapi matanya berbinar.
“Selamat pagi, suamiku.”
Di luar, laut Maladewa berkilau memantulkan cahaya mentari pagi. Dan di dalam vila itu, dua hati yang semula canggung mulai belajar ritme baru, pelan, hangat, dan penuh harap.
Hari pertama mereka sebagai pasangan seutuhnya baru saja dimulai.
Area sarapan berada di tepi pantai. Meja kayu berlapis taplak putih menghadap langsung ke laut biru yang berkilau diterpa cahaya pagi. Angin laut berembus pelan, membawa ketenangan yang menenangkan hati.
Eliana duduk berhadapan dengan Revan. Ia masih tampak sedikit canggung, jemarinya memainkan gagang sendok. Sesekali ia melirik suaminya, lalu cepat-cepat menunduk saat tatapan mereka bertemu.
Revan tersenyum kecil melihat tingkah istrinya.
“Kamu kenapa dari tadi kelihatan gugup?” tanyanya pelan.
Eliana terkejut, lalu menggeleng cepat.
“Tidak… aku hanya masih belum terbiasa,” jawabnya jujur.
Revan mengangguk, lalu mendorong piring berisi roti ke arah Eliana.
“Makan yang banyak. Kamu masih kelihatan lelah.”
Eliana menatap piring itu, lalu menoleh padanya.
“Terima kasih,” ucapnya lirih.
Ia mengambil sepotong roti, lalu tersenyum kecil.
“Kamu juga harus makan. Jangan cuma memperhatikanku.”
Revan terkekeh pelan.
“Tentu saja, aku harus makan banyak supaya tenaga semakin kuat.”
Eliana mengerling kan matanya,lalu mereka tertawa bersama.
Keheningan kembali menyelimuti mereka, tapi kali ini terasa hangat. Eliana menyesap tehnya, lalu memandang laut yang terbentang luas.
“Re…” panggilnya ragu.
“Hm?”
“Rasanya semua ini masih seperti mimpi,” ucap Eliana jujur.
“Kemarin kita masih sibuk dengan acara pernikahan, sekarang… kita di sini.”
Revan menatapnya dalam-dalam.
“Aku juga merasakannya. Tapi kalau ini mimpi, aku tidak ingin bangun.”
Ucapan itu membuat pipi Eliana memanas. Ia tersenyum malu, lalu menunduk.
Revan meraih tangannya di atas meja, menggenggamnya lembut.
“Kamu bahagia?” pertanyaan yang sudah beberapa kali Revan ucapkan.
Eliana mengangguk pelan.
“Iya. Aku bahagia… hanya saja masih belajar.”
“Kita sama-sama belajar,” jawab Revan tenang.
“Tidak perlu terburu-buru.”
Eliana mengangkat wajahnya.
“Terima kasih sudah selalu mengerti.”
Revan tersenyum, ibu jarinya mengusap punggung tangan Eliana dengan gerakan kecil yang penuh makna.
“Itu tugasku sekarang.”
emang sepaket y..
jafi pinisirain.. 😁😁😁
sprti ny Revan, hrs menyia jan pengawslbsysngsn deh buat Elliana.
jingga segitu nyenilsi dxn ketidak sukaan ny pada Elliana