kisah nyata seorang anak baik hati yang dipaksa menjalani hidup diluar keinginannya, hingga merubah nya menjadi anak yang introvert dengan beribu luka hati bahkan dendam yang hanya bisa dia simpan dan rasakan sendirian...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widhi Labonee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalian Jadian?
Tiwi hanya bisa memandangi kepergian Bayu yang naik Bis untuk pulang ke rumahnya itu dengan hati penuh tanda tanya. Benarkah apa yang telah dia ucapkan tadi? Ataukah hanya gurauan belaka? Lagian dia bukan seleraku, aku benci cowok yang sangat tenar dan bersikap seolah-olah semua cewek di sekolah ini memujanya. Hih, amit-amit….
Tiwi menepuk jidatnya sendiri.
—---------
Ujian kenaikan kelas sudah mereka lalui bersama. Kini saatnya memilih penjurusan. Tiwi menyadari jika kemampuan untuk masuk jurusan Fisika sepertinya tidak memenuhi syarat. Nilainya hanya mampu untuk menembus jurusan Biologi dan Bahasa. Dengan penuh semangat dia memilih jurusan Biologi, sesuai cita-cita nya menjadi ahli kehutanan.
Hari pertama dia masuk di kelas 2Bio2. Hatinya senang sekali meskipun di tidak begitu kenal dengan teman-teman barunya ini. Mereka diberi waktu maksimal satu minggu untuk memilih bertahan dengan pilihan nya atau mengajukan pindah ke jurusan lainnya asalkan nilainya memenuhi. Tiwi mendapati tak satupun dari teman sekelasnya dulu di kelas barunya ini. Justru mereka ada dikelas sebelahnya. Imran dan Epi serta Yayuk dan lainnya berkumpul di 2Bio1, sedang kan sebagian lainnya ada juga di 2bio3. Tiwi melihat Imran yang sedang asyik berbincang dan bergurau dengan banyak anak perempuan. Sebuah sikap yang tidak pernah didapatkannya selama setahun satu kelas dengannya. Tiwi begitu kecewa. Sebenarnya apa salah yang telah dilakukannya sehingga cowok yang sebenarnya selalu menjadi dambaan hatinya itu tidak pernah memperlakukan dirinya seperti teman lainnya? Sumpah! Sampai kepala Tiwi mau pecah pun dia tidak pernah menemukan jawaban nya. Setelah hampir seminggu ini, Tiwi mempertimbangkan, akhirnya dia memilih untuk mengajukan pindah jurusan ke kelas Bahasa saja. Dan setelah pengajuan itu disetujui oleh tata usaha, Tiwi pun memulai kelas pertama nya di jurusan Bahasa pagi ini.
Dengan langkah mantab dia mengetuk pintu kelas dan dipersilahkan masuk oleh seorang guru wanita yang ternyata adalah wali kelas nya. Setelah menjawab beberapa pertanyaan, maka Tiwi disuruh duduk dibangku yang masih kosong. Gadis itu melihat sekeliling kelas, dan ternyata yang masih kosong hanya ada satu bangku di belakang dan itu ada disebelah murid lelaki yang sedang menunduk. Tiwi melangkah mendekati bangku itu dan menaruh tas sekolahnya, mengambil buku kosong dan segera mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung. Tiwi tidak begitu memperhatikan siapa teman sebangkunya ini. Dia begitu terhanyut dengan pelajaran bahasa asing yang baru saja dia ketahui yaitu bahasa Jerman. Dengan penuh perhatian Tiwi mengikuti semua yang diterangkan oleh Bu guru Wali kelas nya yang ternyata mengajarkan pelajaran Bahasa Jerman itu. Tiwi yang memang sangat tertarik dengan banyak bahasa asing, merasa bahwa pilihan nya untuk pindah ke jurusan ini adalah pilihan yang sangat tepat.
Bel istirahat pertama berbunyi, tanda bahwa pelajaran sudah berakhir dan murid boleh keluar untuk makan atau membeli jajanan serta minuman di kantin atau di koperasi sekolah.
“Hai, akhirnya kita sekelas bahkan sebangku. Senang bertemu kembali dengan pujaan hatiku,Tiwi Rastuti…” ucap seorang cowok yang duduk disebelahnya ini.
Tiwi menoleh. Betapa kagetnya dia, saat melihat jikalau teman sebangkunya tidak lain dan tidak bukan adalah Bayu Sumantri. Cowok yang sangat dibencinya itu.
“Kamu?!” Seru Tiwi tertahan.
Bayu tersenyum nakal, lalu tertawa kecil.
“Taraaaa…. akhirnya cita-cita ku untuk sekelas dan sebangku denganmu terkabul. Doa seorang anak piatu memang selalu dikabulkan oleh Allah..” ujarnya sembari mengusap wajahnya dengan lembut.
Tiwi hanya bisa menghela nafas panjang. Mengapa harus sebangku dengan manusia tengil satu ini sih???
Dengan kasar Tiwi mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas, berharap ada yang dikenalnya, dan bisa diajak bertukar tempat duduk.
“Kamu berharap ada yang bisa kamu ajak tukar tempat duduk ya? Kayaknya nggak ada deh .. semua udah punya pasangannya sendiri-sendiri. Sudahlah, kamu itu memang tercipta untukku, jadi tetaplah disini, di sisiku, wahai kekasih hati ku yang cantik…” ujar Bayu lagi.
Tiwi segera melangkahkan kakinya keluar kelas, dia ingin membeli minuman dingin untuk mendinginkan kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit ini. Duh, mengapa harus sebangku dengan manusia tengil satu itu sih … gerutunya lagi.
Dilihatnya jauh di seberang lapangan basket ini, sesosok tubuh yang sedang bersandar di tiang depan kelasnya dan tertawa lepas bersama banyak anak lain..Imran.. cowok yang membuatnya bersikap pengecut dengan memilih menjauh daripada menghadapi.
Tiwi diam terpaku di depan kelasnya dengan tangan kanannya memegang botol minuman dingin itu, pikirannya melayang entah kemana sampai tidak disadarinya botol minuman nanya sudah berpindah ke tangan cowok tengil teman sebangkunya ini yang menghabiskan minumannya itu.
“Hm, seger juga… makasih ya sayang…” ucapan Bayu membuyarkan lamunan panjang Tiwi.
“Lho? Siapa yang mengijinkan kamu menghabiskan minuman ku?! Huh! Kamu…!!!” Tiwi menghentakkan kakinya lalu membuang botol bekas minumannya ke tempat sampah. Hatinya kesel banget dengan kelakuan Bayu yang lancang meminum minumannya itu. Tiwi pun segera masuk kembali ke kelas dan duduk dibangku nya dengan memasang wajah marah.
Bel masuk berbunyi, semua teman sekelasnya sudah kembali duduk dibangku masing-masing. Termasuk Bayu. Cowok itu duduk dengan tenang disamping Tiwi.
“Teman-teman, kali ini adalah jam kosong, bapak pengajar mata pelajaran Sejarah Budaya sedang ada keperluan, beliau memberikan dua jam pelajaran ini untuk kita gunakan melakukan pemilihan pengurus kelas. Jadi, mari kita pergunakan kesempatan ini dengan baik,” ujar seorang cewek bertubuh mungil yang bernama Farida yang memiliki aura tegas itu. Dan akhirnya mereka pun memilih pengurus kelas dengan melakukan voting kepada beberapa calon yang diajukan termasuk ada nama Bayu di dalamnya.
—---------
Tiwi tidak menyangka jika namanya dimasukkan dalam kepengurusan OSIS di sekolah ini. Entah siapa yang membocorkan jika dia adalah bekas ketua OSIS di sekolahnya dulu selama tiga tahun berturut-turut. Sehingga dia dimasukkan sebagai salah satu pengurus inti, yaitu menjadi Sekretaris Dua alias wakil dari Reni sang Sekretaris Satu. Teman sekamarnya itu memilih untuk masuk jurusan Fisika. Kesibukan dalam kepengurusan OSIS membuat Tiwi menjadi agak jauh dengan Bayu sang teman sebangkunya itu.
Tapi di jam terakhir hari ini, tiba-tiba si tengil ini bersikap aneh. Dia yang biasanya banyak tertawa dan suka berteriak memanggil nama teman sekelasnya atau sering melontarkan guyonan yang menyebabkan teman sekelasnya tertawa itu menjadi pendiam. Tiwi mengira jika Bayu sakit gigi, makanya dia berubah seperti itu. Disaat dia sedang serius menyimak pak Huda yang sedang menjelaskan pelajaran Sastra Indonesia itu, tiba-tiba tangannya ditarik lembut oleh Bayu dan digenggamnya dengan sedikit mengusap ibu jarinya. Perlakuan itu sangat mengagetkan Tiwi, dia ingin menarik tangannya dari genggaman Bayu. Namun sorot mata cowok itu yang memandangnya dengan begitu lembut membuat Tiwi mengurungkan niatnya. Selama pelajaran berlangsung Bayu menggenggam jemari Tiwi dengan lembut. Bahkan dia rela untuk tidak menulis hanya karena tidak mau melepaskan jemari gadis disebelah kanannya itu. Seluruh tubuh Tiwi seperti tersengat listrik. Hatinya berdebar kencang, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Satu-satunya cowok yang pernah menyentuh wajahnya hanya Imran, itupun karena dia meminta jika ada adegan dewasa untuk menutupi matanya saat di bioskop lalu. Tapi sekarang ini, dengan sengaja jemari tangannya digenggam penuh kelembutan oleh seorang cowok yang sebenarnya sangat dia benci itu. Beberapa saat sebelum bel tanda pulang berbunyi, dengan berbisik Bayu berkata,
“Ich liebe Dich Tiwi.. “
Sebuah kalimat yang membuat bulu kuduk Tiwi meremang, dan wajahnya berubah merona merah.
Bersamaan dengan bunyi Bel pulang, Tiwi kembali tersadar. Dan segera dia tarik tangannya, untuk kemudian merapikan meja dan memasukkan bukunya kedalam tas sekolahnya. Dengan wajah masih memerah, Tiwi segera berlari keluar kelas untuk segera menuju ke ruang OSIS. Ada rapat penetapan anggota Majelis Perwakilan Kelas yang harus Tiwi ikuti.
“Kamu kenapa Wi? Kok mukamu merah begitu? Apa kamu demam?” Tanya Reni sembari mengulurkan tangannya menempelkannya di dahi Tiwi.
“Agak hangat, ya sudah kalau kamu sakit, kamu pulang dulu, nanti kamu rapikan saja notulen yang akan aku catat di rapat,” kata Reni pada teman sekamarnya ini.
“Aku nggak apa-apa mbak Ren, aku akan tetap mengikuti rapat ini, aku kuat kok,” jawab Tiwi kemudian
Akhirnya mereka memasuki aula dan mengikuti rapat yang juga dihadiri oleh bapak Wakasek Kesiswaan itu. Sekali lagi Tiwi harus menghela nafas panjang, bagaimana tidak? Ada Bayu diantara teman-teman yang sedang dikukuhkan sebagai anggota MPK itu. Duh.. dia lagi dia lagi…
—-------
Setelah merapikan laporan hasil rapat sore ini, Tiwi keluar dari ruang OSIS. Dia hendak pulang ke kostnya. Tapi betapa kagetnya dia saat mendapati Bayu sedang menunggu dirinya dan kemudian melangkah membersamainya. Semua anak jadi tau jika Bayu sengaja menunggu Tiwi pulang bersama. Apalagi gestur tubuhnya yang seolah menandakan jika dia adalah pemilik gadis berkepang satu yang sangat manis itu.
“Loh, Kalian Jadian?” tanya Reni yang berjalan di belakang mereka berdua.
Tiwi menggeleng cepat sedangkan Bayu mengangguk mengiyakan.
Reni yang sedang berjalan dengan cowoknya si Baskara sang ketua dua OSIS itu pun tertawa…
“Lucunya kalian berdua ini..sudahlah, cocok kok, yakan Yang?” tanyanya pada sang pacar.
Dan Baskara memberikan dua jempol ke arah Tiwi dan Bayu yang saling bertatapan itu.
********