Flora, seorang gadis cantik yang mengalami kejadian di luar nalar. Ia kembali ke masa lalu! Flora yakin kalau sebelumnya dia benar-benar sudah mati, bahkan ia sendiri masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat terbakar api yang melahap dirinya di malam itu.
Meskipun berat dan sulit untuk di percaya akan situasi tersebut, Flora menganggap kalau tuhan telah memberikan kesempatan kedua padanya, semata-mata untuk membuat Flora memperbaiki semua kesalahan yang telah dia perbuat di kehidupan sebelumnya.
Dan yang paling penting adalah, ia kembali bertemu Daniel, laki-laki yang sangat dia benci di kehidupan sebelumnya, Daniel adalah sosok pria tampan namun lumpuh yang di jodohkan oleh sang papa dengan Flora.
"Terlahir Kembali! Kali ini aku tidak akan salah pilih lagi!" ucap Flora penuh tekad.
Kesalahan apa yang telah di lakukan Flora di kehidupan sebelumnya? Dan apa penyebab kematiannya? Penasaran bukan? Ayo ikuti kisahnya di sini bersama author.
"Terlahir Kembali, Menikahi CEO Lump
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Dua jam setelah nya ...
Sebuah ruangan gelap gulita kini terdapat tiga orang yang di sandera juga di ikat dengan tali, ketiga orang tersebut penuh luka di sekujur tubuh mereka.
"Di mana ini?" ucap salah satu dari mereka merasa gelisah dengan beberapa bagian tubuh yang terasa sakit.
"Kalian? Kenapa kalian juga ada di sini?" ucap yang lainnya.
"Aku tidak tau, setelah keluar dari restoran itu seseorang memukul ku dari belakang dan aku jatuh pingsan," jawab salah satu dari mereka.
"A-aku juga di pukul bdari belakang," ucap yang lainnya.
"Aku juga," ucap mereka bertiga.
Ketiganya di pukul seseorang setelah keluar dari restoran dan di bawa ke tempat tersebut, meskipun begitu gelap namun mereka bisa mengenali satu sama lain melalui suara.
"Jangan-jangan, kita di culik?" ucap mereka seketika semakin takut.
Namun tak selesai dengan rasa takut itu, kini dua orang kembali masuk ke ruangan tersebut.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" ucap seorang wanita yang tak lain adalah Tara.
"Siapa kalian sebenarnya? Kenapa kalian membawa kami ke sini?" ucap Liam.
"Banyak bicara," ucap sosok tinggi bertubuh kekar itu yang kemudian mendorong Liam ke ketiga orang yang sudah di tahan lebih dulu dari mereka.
Begitu juga dengan Tara.
Ctak ...
Terdengar suara sakelar yang di tekan dan ruangan yang gelap itu seketika jadi terang.
Mereka semua saling pandang dengan tangan yang terikat dan wajah babak-belur.
"Kalian? Kenapa kalian juga di sini?" ucap Tara.
"Kami juga tidak tau, kalian di bawa ke sini dalam keadaan sadar, sedangkan kami baru sadar," ucap salah satu dari tiga temannya.
Ya, mereka bertiga adalah teman-teman Liam dan Tara yang tadinya makan bersama mereka di restoran Wenda.
Tap ...
Tap ...
Tap ...
Terdengar suara langkah kaki seseorang yang mengema di ruangan itu membuat mereka berhenti bicara.
Dua orang laki-laki bertubuh kekar dan tinggi itu segera mundur dari hadapan mereka berlima seolah-olah membuka jalan untuk pemilik suara langkah kaki yang baru saja mereka dengar.
Mata semua orang kini tertuju kepada sesosok laki-laki bertubuh tinggi memakai jas hitam, mantel hitam dan juga sarung tangan kulit berwarna hitam.
Sosok yang begitu berkarisma membuat semua orang bungkam dalam sekejap , suasana dingin dan mencengkam itu kini semakin menusuk.
"Siapa kau? Kenapa kau menculik kami?" tanya Liam mencoba memberanikan diri.
Sementara itu Tara dan teman-teman nya hanya bisa menatap takut sosok tersebut.
Mereka tidak bisa mengenali sosok itu karena ia memakai topeng.
"Tuan," ucap seorang laki-laki bertubuh tinggi besar itu sambil menarik sebuah kursi untuk sosok yang tak lain adalah boss mereka.
"Kalian tunggu di luar," ucap laki-laki bertopeng itu yang kini duduk di kursi sambil menyilang kaki nya di hadapan lima orang sandera nya itu.
"Baik tuan," ucap dua anak buah laki-laki bertopeng tersebut yang kemudian berlalu pergi dan menunggu di depan pintu masuk ruangan tersebut.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku! Siapa kau dan kenapa kau menahan kamu!?" ucap Liam semakin marah karena tidak ada satupun pertanyaan nya yang di jawab.
Bukan nya menjawab pertanyaan Liam, laki-laki itu malah mengeluarkan korek api dan juga rokok dari dalam sakunya, ia memasang rokok tersebut dan menghisapnya tanpa mempedulikan tatapan marah Liam.
"Liam sebaiknya kau diam, dia sepertinya bukan orang sembarangan," ucap Tara.
"Bukan orang sembarangan? Apa urusan nya dengan kita dan apa alasannya menculik kita sperti ini?" ucap Liam lagi.
Mendengar itu, laki-laki bertopeng tersebut tersenyum tipis.
Jangan tanya-tanya, topeng ini tidak menutupi seluruh wajahnya.
Liam dan Tara seketika mengerutkan keningnya.
"Kenapa wajah orang ini rasanya sangat tidak asing?" batin Liam.
"Senyum ini terlihat seperti ... tidak, tidak mungkin, dia kan tidak bisa berjalan, bagaimana bisa memiliki tubuh setegar dan sebagus ini," batin Tara.
"Tuan, sebenarnya kenapa kau menculik kami? Apa yang telah kami lakukan?" ucap temannya Tara mulai angkat bicara karena mereka merasa kalau mereka sama sekali tidak memiliki musuh sampai-sampai mereka harus berakhir seperti ini di tangan orang yang tidak mereka kenal.
"Sebenarnya kalian tidak ada hubungannya dengan ku, namun kalian sudah menganggu orang yang seharusnya tidak kalian ganggu jadi kalian harus menerima sedikit hukuman," ucap nya, ia menarik tangan Liam dan kembali menempelkan ujung rokok yang masih menyala itu ke tangan Liam dengan senyum penuh arti ia menekan puntung rokok tersebut ke tangan Liam.
"Aaaaahhh, sakit! Tolong! Lepaskan aku!" ucap Liam merintih menahan sakit.
Seketika orang-orang yang ada di dalam tersebut merinding, mereka semakin ketakutan setelah melihat apa yang di lakukan sosok bertopeng itu kepada Liam.
"Matilah, sebenarnya siapa yang sudah kita singgung sampai-sampai seperti ini," ucap mereka dengan suara kecil.
Sosok bertopeng itu segera berdiri dari duduknya, ia melangkah pergi, namun sebelum itu itu melempar senyum tipis itu ke kembali kepada Liam dan Tara.
"Masuk," ucap nya kepada dua anak buahnya.
"Kami siap menerima perintah tuan," jawab mereka sambil berdiri di hadapan pria tersebut.
"Malam ini biarkan mereka semua menginap di sini, setiap satu jam siram mereka dengan air garam, dan suruh mereka mengongong seperti anjing, bawa dia ekor anjing ke sini untuk menemani mereka," ucap pria bertopeng tersebut kepada dua anak buahnya.
"Baik tuan," ucap mereka segera menjalankan perintah.
Sementara pria bertopeng itu dengan cepat menghilang dari ruangan tersebut.
"Tunggu! Apa yang kalian lakukan? Apa sebenarnya salah kami? Kenapa kami di tahan di sini?" ucap Tara kepada dua orang laki-laki tersebut.
"Kalian sudah mendengar ucapan tuan kami bukan?"ucap mereka sambil tersenyum miring.
Beberapa bak air yang notabene nya adalah air garam sudah di sediakan di dalam ruangan itu, dua ekor anjing.
"Yang mengongong keras akan di bebaskan lebih awal, yang tidak mau mengongong biarkan tingal di sini sampai matahari terbit," ucap mereka berdua sambil memegangi gayung air garam.
Dalam sekejap air itu di siram ke tubuh Tara Liam dan tiga temannya, hal ini membuat mereka merasa perih karena luka yang ada di tubuh mereka.
Jeritan rasa sakit mengema di ruangan tersebut, tak lama mereka yang putus asa segera mengongong sperti anjing karena tak ingin berada lama-lama di tempat uang menyakitkan itu.
Keesokan harinya ...
Drttt ...
Drttt ...
Drttt ...
Flora membuka matanya dengan susah payah sambil meraba-raba ponselnya yang ada di atas nakas samping tempat tidur yang terus bergetar.
Call on ...
"Hallo," ucap nya sambil menempelkan benda pipih itu ke kuping nya.
"Hallo, Flora ada berita penting yang ingin kukatakan padamu, aku tunggu di cafe xxx," ucap suara yang tak asing di seberang telepon.
Tut ...
Tut ...
Tut ...
Telpon di matikan sebelah pihak oleh penelpon.
****
yu ah cus pindah lapak💜