Gayatri, seorang ibu rumah tangga yang selama 25 tahun terakhir mengabdikan hidupnya untuk melayani keluarga dengan sepenuh hati. Meskipun begitu, apapun yang ia lakukan selalu terasa salah di mata keluarga sang suami.
Di hari ulang tahun pernikahannya yang ke-25 tahun, bukannya mendapatkan hadiah mewah atas semua pengorbanannya, Gayatri justru mendapatkan kenyataan pahit. Suaminya berselingkuh dengan rekan kerjanya yang cantik nan seksi.
Hidup dan keyakinan Gayatri hancur seketika. Semua pengabdian dan pengorbanan selama 25 tahun terasa sia-sia. Namun, Gayatri tahu bahwa ia tidak bisa menyerah pada nasib begitu saja.
Ia mungkin hanya ibu rumah tangga biasa, tetapi bukan berarti ia lemah. Mampukan Gayatri membalas pengkhianatan suaminya dengan setimpal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI 29
“Nenek, di mana Ibu?” tanya Keandra begitu sampai di rumah. Wajahnya terlihat bahagia dan tak sabar untuk menemui sang ibu.
Sarita yang tengah menonton televisi seperti biasa, mendongak sebentar, melihat cucunya dengan mata yang menyipit. “Kau dari mana? Sudah sore seperti ini baru pulang. Ibumu mencemaskanmu sejak siang.”
“Iya, Nenek. Tapi di mana Ibu?”
Sarita kembali menonton televisi. “Coba kau cari di halaman belakang, tadi Ibumu bilang mau menanam bibit cabai,” jawabnya.
Keandra langsung menuju halaman belakang. Di sana, Gayatri tengah menyiram tanaman-tanamannya. Selain mengurus rumah, Gayatri juga gemar menanam sayuran.
“Ibu!”
Gayatri tersentak, hampir saja ia menjatuhkan pot berisi tunas cabai. Ia menoleh dan mendapati putranya tersenyum lebar di sana.
“Kau sudah pulang rupanya. Bagaimana dengan kelasnya? Apakah semuanya lancar?” tanya Gayatri seraya meletakkan pot berisi tunas itu kembali ke tempatnya.
Tanpa aba-aba, Keandra menghampiri sang ibu dan langsung memeluk Gayatri. “Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak,” katanya. Suaranya terdengar bergetar.
“Eh, ada apa ini? Tiba-tiba memeluk Ibu seperti ini,” kata Gayatri heran, tapi balas memeluk putranya itu dengan hangat. “Keandra. Ada apa?”
Keandra melepas pelukannya, lalu merogoh sakunya, meraih ponselnya dan menunjukkan saldo rekeningnya. “Lihatlah, Bu. Ini gaji pertamaku,” ucap Keandra bangga.
Mengetahui hal itu, Gayatri pun turut merasa bangga. “Benarkah? Selamat, Nak. Kau berhasil! Ibu bangga padamu,” katanya dengan senyuman bangga. Meski tak seberapa, setidaknya, putranya itu telah berhasil.
“Selamat, Nak. Kau berhasil.”
Keandra mengangguk senang, “Semuanya ini juga berkat Ibu. Ibu yang selalu menyemangatiku,” katanya dengan senyum secerah matahari.
Di saat yang bersamaan, di ruang tamu terdengar suara teriakan Sarita. Keandra dan Gayatri saling pandang sebelum akhirnya berjalan ke ruang tamu untuk memastikan apa yang terjadi.
Di sana sudah ada Mahesa, bahkan Nadya pun ada di sana. Mereka tersenyum lebar, bahkan Sarita terlihat bahagia.
“Seperti habis menang undian saja,” celetuk Keandra asal.
Gayatri menyenggol lengan putranya, mengingatkan Keandra untuk menjaga lisan dan sikapnya.
Sarita menoleh, “Gayatri, lihatlah! Lihatlah ini, suamimu mendapat bonus dari perusahaannya!” Sarita memekik girang. Menunjukkan cek di tangannya yang bernilai fantastis.
Gayatri hanya tersenyum, melirik Mahesa yang terlihat sangat bangga dengan hasil kerjanya. Begitu pun dengan Nadya.
Namun, perempuan itu langsung memalingkan wajah dan bersembunyi di balik punggung Mahesa saat Gayatri menatapnya dengan tajam.
“Putraku memang luar biasa,” kata Sarita, melihat putranya dengan bangga. “Astaga, aku harus mengabarkan berita ini kepada semua orang.”
Gayatri turut tersenyum, namun bukan ikut bahagia dengan kabar itu, melainkan menyadari bahwa sama halnya seperti Sarita, Gayatri pun merasa bangga pada putranya sendiri.
“Aku juga memiliki satu berita bahagia lainnya, Bu.” Gayatri langsung menarik Keandra dengan perasaan bangga. “Putraku juga baru saja mendapatkan gaji pertamanya.”
Sarita makin tersenyum lebar. “Benarkah itu?” tanyanya pada Keandra yang langsung dibalas dengan anggukan kepala. “Yang Maha Kuasa benar-benar sangat baik pada keluarga kita.” Setelahnya, Sarita langsung beranjak dari sana dengan perasaan bahagia.
Alih-alih ikut merasa senang. Mahesa justru menatap Keandra dengan tatapan remeh. Satu tangannya sengaja ia masukkan ke dalam saku. “Oh, ya? Berapa gaji yang kau dapat dari menari seharian? 500?” tanyanya tertawa meremehkan.
Nadya yang berdiri tak jauh dari Mahesa pun menahan tawanya. Seolah apa yang dikatakan Gayatri adalah sebuah lelucon.
Keandra yang mendengar hal itu langsung tertunduk. Dadanya mendadak terasa sesak. Ini bukan kali pertama Mahesa merendahkan usaha Keandra, tapi tetap saja Keandra merasa sedih dan berkecil hati.
Gayatri yang mendengar hal itu tak terima, apalagi saat melihat Keandra yang langsung murung. Ia mengusap bahu putranya dan memberi isyarat agar Keandra kembali ke kamarnya.
Setelah putranya menjauh dari sana, Gayatri menatap Mahesa dengan berani, ada kilat kemarahan di matanya. “Aku sangat bangga dengan putraku, dengan semua usaha yang dia lakukan, dengan semua pencapaian yang dimilikinya. Apakah kau juga tidak bisa merasa bangga pada putramu sendiri, Mahesa?”
Mendengar namanya disebut, senyuman di wajahnya mendadak hilang. “Pencapaian? Pencapaian apa yang dia miliki? Pekerjaannya hanya menari dan menari seperti perempuan, tidak ada gunanya sama sekali,” hardik Mahesa.
Gayatri tersenyum tipis lalu membalas, “Sebelumnya, aku selalu meminta putraku untuk memaklumi sifat ayahnya. Aku selalu berkata padanya untuk menghormati ayahnya, terlepas dari apa pun yang kau katakan. Tapi, sepertinya tidak bisa lagi. Biar ku tegaskan padamu, jika kau tidak bisa bicara hal-hal yang baik, setidaknya diamlah,” kata Gayatri tegas.
“Kau! Kau semakin berani, Gayatri. Kau ….” Rahang Mahesa menegang, menahan marah. Jika ia tidak ingat sedang berada di rumah, ia pasti akan langsung meneriaki perempuan di hadapannya itu.
Nadya yang berdiri di antara mereka sepertinya sangat bahagia melihat perdebatan itu, meskipun harus ia akui bahwa ia juga merasa takut dengan sikap Gayatri yang sekarang.
“Keandra juga putramu. Kau tidak bisa membanggakan anakmu yang lain dan merendahkan anak yang lainnya. Sebagai orang tua, kita seharusnya mendukung apa pun yang mereka lakukan,” kata Gayatri lagi, kali ini nada suaranya terdengar lebih lembut.
“Apa yang bisa dibanggakan dari putramu itu? Pekerjaannya hanya menari saja seperti perempuan,” ketus Mahesa, tak suka diceramahi.
“Anak kita,” kata Gayatri tegas, mengoreksi ucapan Mahesa. “Terlebih lagi, menari tidak mengenal gender, baik laki-laki atau perempuan, tua ataupun muda, semua orang boleh melakukannya.”
Wajah Mahesa merah padam, entah karena kesal ataupun malu. “Kau tidak mengerti apa yang kukatakan?”
“Kau tidak mengerti apa yang kukatakan?” tanya Gayatri, mengulangi pertanyaan Mahesa. “Putraku suka menari, dan dia boleh melakukannya jika dia menyukai pekerjaannya.”
“Astaga, Gayatri. Mengapa kau—”
“Diam!” seru Gayatri, menatap Nadya tajam. “Orang lain tidak boleh menyela percakapan suami istri yang sedang berbicara.”
“Aku hanya berusaha melerai kalian.”
“Gayatri benar, Nadya. Jangan ikut campur dalam urusan rumah tangga kami, kau tidak berhak,” sela Mahesa tanpa menatap Nadya.
Nadya yang kesal dan tak terima, langsung berlalu dari sana tanpa berpamitan. “Benar-benar menyebalkan! Dia pikir dia siapa?” gumamnya, kesal. “Awas saja kau, Gayatri. Aku pasti akan membuatmu menderita.”
***
Eitsss, jangan marah dulu, wahai readers tercinta.
Di sini Mahesa akan kita buat terbang tinggi sebelum kita jatuhkan ke dasar jurang yang paling dalam. 🤪