Mona Kavitha Luis adalah anak yatim piatu.
Orang tuanya meninggal karena kecelakaan pada saat dia berusia 18 tahun, tetapi Mona yakin jika orang tuanya meninggal karena suatu kesengajaan, papanya meninggalkan sebuah perusahaan besar kepadanya. Mona selalu ingin menyelidiki kecelakaan yang menimpa orang tuanya tetapi selalu dilarang oleh tantenya. Mona sekarang tinggal bersama adik papanya bernama Dewi Felicya Luis. Tantenya ini sangat baik dan sayang terhadap Mona.
Apakah disini tantenya terlibat atas kecelakaan orang tuanya Mona atau Rekan bisnis papanya yang tidak menyukai keluarga mereka yang berhasil??
*****
Suatu hari Mona terpaksa menikah dengan supir pribadinya dikarenakan suatu kesalah pahaman, tetapi supir itu sendiri juga menyimpan suatu rahasia.
Siapakah supir itu, Mona tidak mengetahuinya dan bagaimana Mona akhirnya bisa menerima supir itu sebagai suaminya.
Silakan dibaca teman2
Semoga kalian suka.
Terima kasih
🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lie_lili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Dirgo & Friska Tidak Sengaja Bertemu
Beberapa waktu pun berlalu, saat ini Gavin sudah lebih terang-terangan membantu Mona jika dia melihat Mona dalam masalah yang bagi dia perlu dibantu.
Hari ini Mona mengirim Friska ke kota X untuk melihat perkembangan pembangunan cabang perusahaannya.
Friska pun menyanggupinnya, dia pun berangkat diwaktu pagi hari, hingga kalau sampai dikota X Friska tidak kemalamam, setidaknya sore dan masih bisa melihat bangunan.
*****
Di kota X, diwaktu sore.
Sesuai perkiraan akhirnya Friska sampai di kota X diwaktu sore hari. Friska sebenar seorang supir yang handal juga dalam berkendaran
Kini Friska pun berdiri didepan pembangunan kantor itu.
"Kamu" seru Friska.
"Hei kamu"
"Kog bisa disini?" Tanya Dirgo.
Iya, yang dilihat Friska adalah Dirgo, dia baru saja berbicaran dengan kontraktor bangunan.
"Kenapa kamu kesini" tanya Dirgo.
"Ini kantor milik nona kami, jadi aku bebas kesini" ucap Friska ketus.
"Hei, nona mu juga nona ku, dia istri tuan ku" ucap Dirgo tidak mau kalah.
"Dan ini tuan Gavin yang meminta ku untuk selalu mengawas pembangunan ini!" Ucap Dirgo bangga karena perintah Gavin untuknya khusus kesini.
Friska hanya mengeleng-gelengkan kepalanya, seolah memberi isyarat tidak percaya.
"Oh Tuhan, mengapa dia disini" batin Dirgo.
"Tuan meminta ku kesini sangat tidak tepat" sesal Dirgo.
"Kenapa kau" ucap Friska melihat Dirgo yang terdiam.
"Sial sekali aku harus bertemu dia" batin Friska.
Entah mengapa Friska dan Dirgo jika bertemu mereka merasa tidak bisa tenang, selalu ingin berdebat.
Friska kemudian mencari hp ditasnya, kemudian dia menelepon Mona untuk memberi laporan.
"Halo nona" renggek Friska.
"Hei kamu kenapa" tanya Mona diseberang telepon.
"Nona, mengapa saya harus bertemu dengan dia" Friska menunjuk kearah Dirgo, seakan Mona bisa melihatnya saja.
Dirgo pun langsung melontotkan matanya, karena perkataan Friska dan telunjuk Friska.
"Ssssttttt" Friska memberi isyarat Dirgo untuk diam.
Dirgo hanya bisa menarik nafasnya kemudian membuangnya pelan, mengstabilkan emosinya.
"Sabar, dia wanita" Batin Dirgo.
"Siapa" tanya Mona atas pertanyaan yang ditanyakan Friska.
"Dirgooooooo" ucap Friska lemas.
"Wah, ada Dirgo disana, apa Gavin yang mengirimnya?" Tanya Mona langsung.
"Iya, tuan Gavin yang mengirimnya" ucap Friska pelan.
"Kalian harus akur disana, saling bantu ya" ucap Mona. Membuat Friska memanjangkan telingga dan melototkan matanya.
"Aku pulang saja langsung ya nona" bujuk Friska.
"Jangan, nanti kamu kelelah"
"Nikmati saja disana dulu, besok kamu tidak perlu masuk kerja, aku kasih cuti 1 hari, dengan percuma, ok" Mona pun langsung mematikan hpnya.
"Nona, nona, nona"
"Halo" ucap Friska memanggil-manggil Mona, yang diseberang telepon yang sudah tidak ada suaranya.
"Yah, dimatiin orang belom selesai bicara nona" jerit frustasi Friska.
Dirgo yang melihatnya hanya bisa tersenyum karena dia sering diperlakukan begitu.
"Suami istri sama saja, pasangan serasi" gumam Dirgo pelan.
"Sudahlah santai saja! Aku enggak akan memakan kamu!" Ucap Dirgo santai kemudian dia pergi ingin memasuki mobilnya.
Tretttt! Treeettt! Treeetttt!
Mesin mobil Dirgo tidak mau menyala.
"Hei sayang kamu kenapa?" Tanya Dirgo pada mobilnya. Dia pun keluar dari mobilnya.
"Sayang kamu kenapa sih?" Ucao Dirgo lagi.
"Hei, siapa yang kamu panggil sayang" kesal Friska. Sesaat dia merasa sesuatu perasaan yang susah disebutkan.
"Duhhhh jangan kepedean aku panggil kamu sayang" ucap Dirgo ketus.
"Aku tidak bicara dengan kamu, aku bicara dengan mobil ku" ucap Dirgo memandang mobil kesayangannya dan mengelus bodi mobilnya.
"Hiiiiiihhhhh menjijikkan" ucap Friska melihat tingkah Dirgo.
Friska pun segera mengelilingin pembangunan kantor tersebut sambil mengfoto-fota sebagai data dokumentasinya untuk bosnya nanti. Juga sempat berbicara dengan orang-orang yang membangun disana.
30 menit kemudian.
"Hah, kenapa orang itu belum pulang?" Tanya Friska dalam batinnya, sambil melihat Dirgo yang tengah duduk lemas dibagian depan mobilnya.
"Aku ikut kamu ya" rayu Dirgo langsung, karena dia sudah lelah membenarkan mobilnya tetap tidak mau berjalan, taxi sana juga susah ditemukan.
"Aghhh, tidak" ucap Friska acuh tak acuh.
"Ku mohon, aku sudah lapar" wajah memelas Dirgo.
"Ayo lah" bujuk Dirgo lagi.
Beberapa saat Friska berpikir akhirnya dia pun mau jika Dirgo naik dimobilnya.
Bagi Friska ini suatu kesialan harus berada dekat Dirgo. Bagi Dirgo, dia masih beruntung karena Friska datang tepat waktu.
"Cepat naik" ucap Friska kemudian melempar kunci mobilnya ke Dirgo, dengan spontan dia menangkapnya.
"Aku tidak mau menjadi supir mu" ucap Friska ketus.
Dengan senang hati Dirgo pun masuk kedalam mobil Friska, mereka mencari tempat makan, karena cacing diperut Dirgo sudah demo meminta makan, begitu juga Friska hanya dia malu saja, tidak memberitahu Dirgo jika dia juga lapar.