Di kehidupan sebelumnya, Aluna dibenci dan dikucilkan oleh keluarga kandungnya sendiri karena hasutan Chika–anak yang diadopsi oleh Keluarga Anggara hingga tewas mengenaskan. Tidak hanya itu, Chika yang memang sudah mengincar harta kekayaan Keluarga Anggara pun akhirnya menghabisi semua anggota keluarga Anggara tanpa sisa. Hal tersebut membuat Aluna menyesal akan sikapnya yang selalu diam dan menerima saat ditindas.
Saat takdir memberi Aluna kesempatan untuk hidup kembali, Aluna berjanji untuk mengubahnya.
"Aku pasti bisa melindungi dan mempertahankan keluargaku! Pasti!" ucap Aluna penuh keyakinan.
Tapi, lho kok? Kenapa sikap semua orang tidak sama seperti di kehidupan sebelumnya? Sebenarnya apa yang terjadi?
Yuk, ikuti kisah SUARA HATI ALUNA. Jangan lupa like, komen, dan rate bintang 5 nya ya. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Bunga tidak menyangka kalau Aruan akan melakukan hal tersebut–menceraikan suaminya dan memindahkan aset milik Abimana untuk keempat anaknya. Padahal ia pikir, asal terus bersama Abimana, dirinya akan bisa ikut menikmati harta pria itu tanpa harus bekerja keras. Sayang, semua tak seindah rencana yang disusunnya.
"Mas, kenapa masih belum ditandatangani? Bunga nggak keberatan kok, iyakan?"
Aruan menoleh ke arah Bunga sambil tersenyum.
Lelaki yang sebentar lagi menjadi mantan suami Aruan itu menatap Bunga untuk meminta pendapat.
Bunga mencengkram tangannya sendiri seraya berkata, "Aku tidak keberatan kok, Mas. Lagian anak kita sudah bekerja sekarang, dia pasti masih bisa menghidupi kita."
Wanita itu berusaha tetap tersenyum seolah semuanya masih baik-baik saja. Padahal dalam hati, Bunga berharap, Abimana akan menolak usulan dari Aruan itu.
"Lihatlah, Ruan. Bunga bukan perempuan matre, kan? Buktinya dia rela menyerahkan semua harta yang kupunya untukmu," ucap Abimana–membanggakan sikap yang dimiliki oleh wanita yang menjadi pujaan hatinya itu.
"Ah, Mas Abi benar. Beruntung sekali Mas Abi bisa bersamanya," sahut Aruan seolah mengiyakan perkataan suaminya tersebut. "Kalau begitu buruan, Mas, tanda tangani! Setelah itu, aku dan anak-anak akan pergi dari sini. Kami tidak akan mengganggu kebersamaan kalian!"
Aruan kembali mendesak Abimana untuk menandarangani surat perjanjian cerai mereka.
Tanpa pikir panjang, Abimana langsung menandatangi surat itu dan menyerahkan kembali pada Aruan.
"Terima kasih, Mas buat kerja samanya. Setelah ini kita tidak usah bertemu lagi. Aku akan menyerahkan urusan perceraian ini pada pengacaraku. Dan soal anak-anak, Mas jangan khawatir, hartamu pasti bisa menghibur mereka."
Aruan sengaja menekankan kata Hartamu, untuk membuat Bunga jengkel.
"Ohya, aku lupa. Soal apartemen ini kalau kamu dan Bunga masih ingin menempatinya, kamu harus melunasi semua tunggakan sewa, kalau tidak bisa, silakan angkat kaki dari sini. Bukankah kalian memiliki seorang anak yang sangat berbakti? Pasti tidak masalah kalau harus mencarikan tempat tinggal baru untuk kalian. Apalagi dia sudah bekerja di perusahaan besar, iyakan?" ucap Aruan.
"Tapi, Ruan–"
"Tidak ada tapi-tapi," potong Aruan. "Pak Iwan, kalau sampai minggu depan Pak Abimana tidak melunasi biaya sewa yang 10 milyar itu, usir dia dan Bunga dari sini!" suruhnya.
"Baik, Nyonya," jawab Iwan.
"Ayo anak-anak kita pulang! Biarkan papa kalian menikmati waktunya bersama Bunga!"
Aruan mengajak ketiga anaknya untuk pergi meninggalkan apartemen tersebut.
"Kurang ajar, Aruan. Dia malah memberikan laki-laki bodoh ini kepadaku. Kalau bukan karena hartanya, untuk apa aku bertahan dijadikan selingkuhan," gerutu Bunga dalam hati.
"Untung saja aku masih memiliki rencana cadangan. Aruan, kamu yang memaksaku untuk bertindak kejam. Jangan salahkan aku karena aku harus menyingkirkan kamu dan ketiga anakmu dari dunia ini," batin Bunga lagi.
Bunga menyeringai.
***
Marvin segera keluar dari dalam mobilnya saat melihat Aluna bersama dengan ibu dan dua kakak laki-lakinya keluar dari area apartemen.
Putra mahkota Grup Kaisar itu langsung menghampiri mereka.
"Bagaimana? Urusan keluarga kalian sudah selesai?" tanya Marvin pada Aluna.
Aluna mengangguk.
"Aku tahu meski terlihat tegar, mama pasti sedih sekarang. Bagaimana pun, mama dan papa sudah hidup bersama selama puluhan tahun. Keduanya sudah mengalami suka dan duka bersama, masalah demi masalah pasti sudah pernah mereka selesaikan bersama. Dan sekarang.... "
Aluna menatap ibunya yang sejak keluar dari apartemen Bunga, diam saja.
"Kalian pulang saja dulu. Ada hal yang harus mama urus!" ucap Aruan pada ketiga anaknya.
"Memangnya mama mau kemana?" tanya Andi Si anak sulung.
"Bertemu pengacara. Mama harus mengurus perceraian itu secepatnya," jawab Aruan.
"Ma, biar aku temani."
Kata Andi menawarkan diri.
"Tidak perlu, mama bisa sendiri," tolak Aruan.
"Tidak bisa, pokoknya aku akan menemani Mama bertemu pengacara itu," kukuh Andi.
"Lalu bagaimana dengan Luna dan Armand?" tanya Aruan pada putra pertamanya itu.
"Mereka bisa pulang bersama saya, Tante," jawab Marvin dengan sopan. "Maaf, kalau saya ikut menyela," ucapnya sedikit tidak enak.
"Tidak apa-apa. Maaf ya Nak Marvin karena kamu harus melihat kebobrokan rumah tangga Tante dan papanya Aluna," ucap Aruan.
Dia juga merasa tidak enak hati karena dipertemuan pertamanya dengan calon tunangan putrinya itu, justru pria itu harus melihat pertengkaran keluarganya.
"Tidak masalah, Tante."
"Nak Marvin jangan khawatir, pertunanganmu dengan Luna tetap akan berlangsung minggu depan. Tante janji," tutur Aruan.
"Saya tidak mempermasalahkan itu, Tante. Jika memang kalian membutuhkan waktu, pertunangan itu bisa diundur," balas Marvin.
"Tidak perlu diundur. Pertunangan kalian tetap akan dilangsungkan minggu depan."
"Kalau begitu terserah Tante saja," ucap Marvin.
"Ma, Mama tidak apa-apa?" tanya Aluna dengan hati-hati.
"Tidak apa-apa, Sayang. Terima kasih sudah mengkhawatirkan mama."
Aruan mengusap kepala putrinya penuh sayang.
"Armand, kamu ikut pulang dengan Marvin dan Luna!"
"Iya, Ma," jawab Armand.
Setelah itu mereka masuk ke mobil masing-masing dan meninggalkan area apartemen.
***
"Luna, hp kamu berdering tuh dari tadi," ucap Armand.
Dia dan Aluna berada di mobil milik Marvin.
Aluna merogoh tas slempangnya untuk mengambil ponsel.
"Sepertinya dari Bibik di rumah."
Aluna menunjukkan nomor yang tertera pada layar ponselnya. Nomor tersebut adalah nomor telepon rumah Keluarga Anggara.
"Iya, Bi. Ada apa?" tanya Aluna setelah menakan tombol hijau.
"Non, Luna. Gawat, Non."
Suara Si Bibik terdengar panik.
"Gawat kenapa sih, Bik?" tanya Aluna lagi.
"Non, Chika, Non."
Aluna baru ingat kalau ia meninggalkan Chika dalam posisi berlutut di rumah.
"Dia kenapa?" tanya Aluna.
"Non Chika... Non Chika.... "
yx ampun koq secepat itu ,, 🤭🤣🤣
semoga ap yg mereka rencanakan di kehidupan ini lancar jaya👍👍👍💪
/Chuckle/