Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Garda Terdepan
“Kenapa?” tanya Reynan saat keluar dari kamar mandi dan mendapatkan Zara tengah melamun.
“Ah nggak,” jawab Zara seraya beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi.
Reynan menatap Zara dengan wajah bingungnya.
Namun begitu, Reynan segera melakukan ibadahnya.
Pukul tujuh pagi, di kediaman Budi sudah siap untuk pergi ke rumah Hanung.
Mau bagaimanapun, tidak elok jika mereka tidak datang ke acara itu.
Zara terlihat begitu cantik, memakai dress potongan sheath dress, dengan leher model halter, membuat lehernya terlihat semakin jenjang.
Bagian atas terdapat detail drapery atau lipatan kain yang menyilang di bagian dada dan pinggang.
Baju itu berwarna biru muda dengan panjang dibawah lutut atau midi.
Rambut yang diurai, dengan ujungnya dibuat curly. Membuat Zara semakin terlihat cantik dan anggun.
Sedangkan dengan Reynan, ia memakai baju batik lengan panjang dengan bawahan celana bahan berwarna hitam.
Sangat sederhana. Tapi bisa menghipnotis mata para wanita.
“Apa liat-liat?” tanya Zara pad Reynan, dimana suaminya itu terus menatapnya.
“Nggak … cuma mau memastikan, apa kamu siap melihat mereka menikah,” kata Reynan.
Zara berdecak seraya memutar malas bola matanya.
“Nggak … takutnya nanti kamu pingsan melihat mereka—”
“Ckk. Gak bakalan!” potong Zara.
Sakit hati? Pasti. Tapi tidak dengan terus meratap, bukan? Apalagi menjadi bahan kasihan orang-orang. Tidak, itu tidak akan pernah terjadi.
Ambil saja positifnya, dari kejadian kemarin. Yaitu dijauhkan dari lelaki seperti Danish.
“Ayo,” kata Budi.
“Saya saja yang nyetir, Yah.” Reynan menawarkan diri, mengingat jika mertuanya itu masih dalam keadaan berduka. Takutnya, terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Tanpa menolak, Budi pun langsung memberikan kunci mobil itu pada Reynan.
Mereka pun satu persatu masuk ke dalam mobil, Reynan berada di balik kemudi lalu disampingnya ada Zara dan di kursi belakang ada Lia dan Budi. Sedangkan Haris dan Sarah berada di mobilnya sendiri.
Kedua mobil itu pun meninggalkan rumah, melaju menuju kediaman pengantin.
Ada untungnya pesta Lea di adakan di rumah, jika mengabulkan keinginan Lea, pesta diadakan di gedung. Entah akan seperti apa nanti orang-orang menggunjingnya.
Terdengar saat ini pun, orang-orang tengah membicarakannya. Mengingat dalam keadaan berduka, masih tetap melanjutkan pesta.
Tidak lama, Keluarga Budi dan Haris pun tiba di rumah Hanung.
“Cukup mewah,” gumam Reynan setelah keluar dari mobil.
“Kuatkan hati,” ucapnya pada Zara.
“Kenapa? Hati saya biasa-biasa saja,” jawabnya.
“Ya … siapa tau,” godanya.
Zara berdecak.
Reynan dan Zara duduk di tempat yang sudah disediakan. Namun untuk Budi, Lia, Haris dan Sarah, masuk dulu ke dalam rumah Hanung.
Para tamu pun langsung berbisik-bisik, melihat kedatangan mereka.
Sedikit banyaknya, tamu Hanung sekarang adalah tamu Budi minggu lalu. Jadi … ada sebagian tamu yang mengerti dengan masalah keluarga itu.
Reynan dan Zara pun mendengar bisikan tentang mereka.
Tentang Zara yang beruntung dinikahi oleh lelaki seperti Reynan.
Sudahlah tampan, badannya bagus. Tapi … tidak sedikit pula orang bicara tentang status Reynan yang duda dan pengangguran.
Ada pula yang bicara jika Reynan memanfaatkan situasi itu untuk masuk ke dalam keluarga Budi.
“Kamu gak masuk? Nemuin sepupu?” tanya Reynan.
Ia biarkan orang-orang bicara sesuka hati tentang dirinya.
“Buat apa?” Zara berbalik tanya.
“Ya … mungkin untuk mengucapkan selamat,” ujarnya.
“Nanti saja di pelaminan,” jawabnya.
“Oke …” kata Reynan seraya menganggukan kepalanya.
Tidak lama, rombongan pengantin pria tiba.
Zara langsung membuang wajah, kala melihat Danish beserta keluarganya satu persatu keluar dari mobil.
“Mereka terlihat bahagia sekali,” celetuk Reynan.
Sontak Zara menatap Reynan dengan tajam.
“Kenapa?” tanya Reynan dengan pura-pura tidak tahu.
Meski Zara bilang gak apa-apa. Tapi Reynan tahu, sedikit banyaknya, hati Zara akan merasa sakit.
Siapa yang tidak sakit hati, hubungan lama, lalu memutuskan untuk menuju ke jenjang yang serius, yaitu pernikahan.
Melakukan persiapan yang tidak sebentar, dengan menguras emosi, tenaga, waktu dan tentunya materi untuk sesuatu yang sangat dinantikan, diharapkan, menjalani kehidupan yang bahagia bersama orang terkasih dan tercinta.
Namun, di saat semua itu telah siap, tinggal melakukan akad nikah. Tetapi nyatanya … dengan tega hati, lelaki itu meninggalkan dirinya seorang diri di meja akad.
Tega!
Tidak punya hati!
Bajingan!
Begitu saat ini Zara memberikan label pada lelaki bernama Danish.
Tidak ada lagi rasa sayang, rasa cinta, ataupun rasa peduli.
Semuanya telah Zara kubur dalam-dalam. Ibarat kata, sedang cinta-cintanya, sedang sayang-sayangnya. Semua rasa itu harus Zara putus dengan terpaksa.
Ya dengan terpaksa. Apalagi? Zara tak sudi untuk terus melanjutkannya.
Rasanya Zara sudah buang-buang waktu saja, mencintai, menyayangi lelaki dengan berakhir mengenaskan seperti ini.
Orang tua Danish menoleh ke arah Zara, tampak dari wajah Ibu Danish itu seperti bersalah.
Namun, Zara tidak menghiraukan. Ia malah membuang wajahnya.
Meski kata Danish orang tuanya tidak bersalah, tapi tetap saja. Hati tidak bisa di bohongi, rasa sakit, kesal dan kecewa, tetap ada.
***
Di tempat lain.
“Serius, Hen?”
“Iya, bos.”
“Dari mana kamu bisa tau? Sedangkan Ayah saya tidak tau,” tanyanya.
“Ada email yang masuk. Nih coba bos baca,” kata Hendri seraya memberikan laptopnya.
Pria itu mengambil laptopnya dengan kasar, lalu ia pun membaca email itu.
“Sialan,” gerutunya.
“Gimana bos?” tanya Hendri lagi.
“Ya udah, siapkan semuanya. Saya mau ngabarin Ayah dulu,” ucapnya, seraya membuang puntung rokok lalu menginjaknya. Setelah itu, ia pun pergi.
Sedangkan Hendri, ia tersenyum menyeringai.
***
“Saya terima nikah dan kawinnya Lea Aulia binti Hanung dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” ucap Danish.
“Bagaimana saksi?”
“Sah …”
“Alhamdulillah …”
“Perasaan kamu gimana?” tanya Reynan pada Zara.
“Biasa aja,” jawabnya.
“Gak merasa gitu, denyut-denyut perih, hatinya? Secara saat ini sepupumu, yang jadi istri dari pacarmu itu.”
Zara tersenyum sinis. “Gak ada. Buat apa juga? Lelaki seperti itu, tidak layak untuk ditangisi.”
Reynan menganggukan kepalanya seraya tersenyum. “Saya suka dengan jawaban kamu,” ujarnya.
“Oh ya … setelah acara ini selesai, mau ikut gak?” tanya Reynan.
“Kemana?” tanya Zara.
“Ke suatu tempat, yang mungkin kamu kurang suka. Tapi … kamu akan tau aku kerja apa,” ucapnya.
Zara terdiam sebentar. Lalu tidak lama, ia pun menjawab ‘oke’.
Akhirnya acara tukar cincin, tanda tangan berkas dan doa sudah dilakukan. Kini sedang melakukan sungkeman.
Reynan terus mengajak ngobrol Zara, supaya Zara tidak fokus pada acara yang sedang berlangsung.
Kini tibalah resepsi, orang-orang mulai mengucapkan selamat pada kedua mempelai.
“Sekarang yuk, setelah ini kita pergi. Kita maka di luar saja,” kata Reynan.
Zara pun setuju.
Nampak Danish menatap Zara tanpa berkedip.
Melihat itu, Zara langsung melingkarkan tangannya pada tangan Reynan.
Reynan pun terkejut.
“Diam. Pinjam dulu tangannya,” bisik Zara.
Reynan pun tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
“Selamat ya. Semoga langgeng dan bahagia,” ucapnya Reynan pada Danish.
“Aamiin … terima kasih udah datang, Za.”
“Saya loh yang mengucapkan,” kata Reynan.
“Iya … saya tau. Tapi saya mau bilang makasih sama Zara,” ujar Danish.
“Apaan sih kamu,” bisik Lea. Ia merasa tidak suka Danish bicara pada Zara.
“Selamat ya, Kak. Semoga…” Zara menggantungkan ucapannya.
“Semoga apa?” tanya Lea dengan sinis.
“Semoga sakinah mawadah warahmah dan semoga lo gak dapat karma ya. Seperti apa yang udah lo lakuin ke gue,” kata Zara setengah berbisik.
“Lo!” Lea mengangkat tangannya. Namun tangan itu langsung ditahan oleh Reynan.
“Apa mau buat keributan di acara sendiri?” tanya Reynan dengan suara tegas dan dingin.
“Satu lagi. Jangan pernah menyakiti istri saya. Cukup hatinya yang anda sakiti, jangan dengan fisiknya. Namun jika anda kembali menyakiti hatinya, saya tidak akan tinggal diam.” Reynan memberi peringatan pada Lea.
“Ayo, Za.” Reynan mengajak Zara turun dari pelaminan.
Sedangkan dengan Lea, ia menatap sinis pada sepasang pengantin baru itu.