NovelToon NovelToon
MAHAR LIMA MILIAR DARI SUAMI PENGANGGURAN

MAHAR LIMA MILIAR DARI SUAMI PENGANGGURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Cinta setelah menikah / Romansa pedesaan / Konglomerat berpura-pura miskin / CEO / Nikahmuda
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Prettyies

Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.

Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.

Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Olahraga Malam

Adipati membuka pintu balkon kamar hotel, menyalakan sebatang rokok. Asap putih mengepul di udara malam, berpadu dengan cahaya kota yang temaram.

Ia menatap jauh ke bawah, lalu mengangkat ponsel dan menekan nomor Arga.

📞 Telepon tersambung.

“Gimana, Ga?” suara Adipati dalam dan tenang, tapi ada bara di balik nadanya.

“Tenang,” jawab Arga. “Sinta udah gue amankan. Sekarang lo mau gue apain?”

Adipati mengembuskan asap pelan, matanya menatap kosong ke langit.

“Kasih lo minum minuman yang udah dikasih obat perangsang itu ke Sinta,” katanya datar.

“Terus bawa di ke kamar hotel depan restoran lo. Sama pelayan yang bantu dia tadi. Biar dia ngerasain gimana rasanya dijebak.”

“Gila lo, Den,” Arga mendengus. “Kalau urusan dendam, lo emang gak setengah-setengah.”

Adipati tersenyum tipis, nyaris tanpa emosi.

“Gue gak suka orang main-main sama istri gue. Apalagi itu mantan pacar gue sendiri.”

“Lo cinta banget ya sama dia?” tanya Arga pelan, seolah ingin memastikan.

“Dari dulu, Ga.”

Adipati membuang abu rokok ke asbak kaca.

“Waktu itu gue tahu dia udah punya pacar, jadi gue mundur. Tapi pas dengar si cowok gak serius dan gak berani ngelamar… gue baru maju. "

“Terus lo langsung lamar dia?”

“Gue dekati bokapnya dulu,” jawab Adipati santai.

“Bokapnya punya utang lumayan gede ke gue. Jadi, saat gue datang dan ngelamar Selina, dia gak punya alasan buat nolak.”

Arga terkekeh kecil.

“Lo emang Raden Adipati Wijaya — tenang tapi ngeri. Semua langkah lo selalu terhitung.”

Adipati menatap puntung rokok yang hampir habis.

“Gue cuma tahu satu hal, Ga. Kalau udah gue jadi milik gue siapa pun gak boleh nyentuh dia.”

“Semoga lo langgeng sama dia, bro,” ucap Arga akhirnya.

“Aamiin,” jawab Adipati pelan, sebelum menutup panggilan.

Ia mematikan rokoknya, menatap kota di bawah sana — dingin, tenang, tapi menyimpan badai yang belum reda.

Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Selina keluar dengan handuk dililitkan di tubuhnya, langkahnya sedikit sempoyongan. Rambutnya basah, napasnya masih belum teratur.

“Mas…” suaranya pelan.

“Kamu ngerokok?”

Adipati yang berdiri di balkon tersentak. Ia segera mematikan rokoknya, meremas puntung itu lalu membuangnya ke tempat sampah.

“Maaf,” ucapnya pelan sambil menutup pintu balkon. “Mas lagi pusing aja. Kamu gimana? Udah mendingan?”

Selina mengangguk kecil, memeluk tubuhnya sendiri.

“Sedikit… tapi aku kedinginan, Mas.”

Adipati langsung mendekat. Tanpa banyak bicara, ia membuka kemejanya dan menyampirkannya ke bahu Selina.

“Pakai ini,” katanya lembut. “Kamu tiduran aja, biar anget.”

Ia menggandeng Selina perlahan menuju ranjang. Selina menurut, namun tangannya refleks menahan dada bidang Adipati. Jemarinya turun ke perutnya yang keras. Selina menelan ludah, napasnya sedikit tercekat.

Adipati membeku sesaat. Rahangnya mengeras menahan diri.

“Selina…” suaranya berat, menahan gejolak.

Selina menatapnya, mata mereka saling bertaut dalam jarak yang terlalu dekat untuk sekadar aman. Adipati akhirnya menarik Selina ke dalam pelukannya.

“Mas cuma mau kamu tenang,” ucapnya lirih.

Namun Selina tidak menjauh. Bibir mereka bertemu—awal yang ragu, lalu semakin dalam. Napas keduanya berpadu, emosi yang lama tertahan akhirnya bocor juga.

" Mmmmmpphh... "

Adipati segera mengangkat Selina ke ranjang. Ia memutus ciuman itu lebih dulu, menutup tubuh Selina dengan selimut tebal.

“Maaf,” katanya sambil mengelus rambut Selina. “Mas bukan pria berengsek yang ambil kesempatan saat kamu belum benar-benar sadar.”

Ia mengecup kening Selina dengan penuh penyesalan dan kasih.

Selina langsung memeluk lengannya.

“Jangan tinggalin aku, Mas… aku takut sendirian.”

Adipati menghela napas panjang. Dalam hatinya bergejolak hebat.

Oh damn… kamu benar-benar menguji iman mas yang setipis tisu, gumamnya dalam hati. Jakunnya naik turun menahan hasrat.

Ia akhirnya berbaring di samping Selina, tanpa melepas jarak yang pantas.

“Mas di sini,” ucapnya tegas tapi lembut. “Tidur. Mas jaga kamu.”

Selina memejamkan mata, masih menggenggam lengan Adipati, sementara Adipati menatap langit-langit kamar, berperang dengan perasaannya sendiri.

Adipati perlahan melepaskan pelukan Selina. Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya sendiri, menarik napas dalam-dalam.

“Mas?” Selina membuka mata setengah sadar. “Kamu mau ke mana?”

Adipati berdiri, membenarkan celana tidurnya.

“Mas bentar ya,” ucapnya berusaha santai. “Mas perlu… nenangin kepala.”

Selina menatapnya bingung.

“Nenangin gimana?”

Adipati tersenyum kecut.

“Olahraga,” jawabnya jujur. “Push-up, plank, apa aja. Pokoknya mas nggak mau main solo.”

Selina sedikit tersipu, lalu menarik selimut lebih tinggi.

“Mas aneh olahraga malam- malam,” gumamnya pelan.

Adipati mulai push-up di lantai. Nafasnya teratur, keringat mulai muncul.

“Ini demi kewarasan mas,” katanya sambil terengah. “Kamu tuh bahaya kalau deket-deket sama Mas.”

Selina bertanya heran.

“Bahaya kenapa mas? Aku cuma kegerahan loh. ”

“Iya,” sahut Adipati cepat. “Justru itu. Mas jaga diri dengan cara ini.”

Beberapa menit berlalu. Adipati duduk bersila, mengatur napasnya. Ketegangan yang tadi mengganggu perlahan mereda.

“Oke,” gumamnya. “Udah gak tegang dan pusing lagi. ”

Ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi.

“Mas mandi dulu. Kamu tidur aja, jangan mikir aneh-aneh.”

“Aku nggak mikir aneh,” Selina membalas lirih.

Adipati tertawa kecil dari balik pintu kamar mandi.

“Justru itu yang bikin bahaya.”

Tak lama kemudian, suara air berhenti. Adipati keluar dengan rambut masih basah, wajahnya jauh lebih tenang. Ia mendekati ranjang dengan langkah hati-hati.

Selina sudah terpejam, tapi tangannya refleks mencari sesuatu di sampingnya.

Adipati berbaring, memeluk Selina dengan jarak yang aman.

“Mas di sini,” bisiknya. “Ayo tidur sudah malam.”

Selina menghela napas lega dan mendekatkan diri.

“Jangan pergi lagi.”

“Nggak,” jawab Adipati lembut. “Sekarang tidur. Besok kamu harus lebih sehat.”

Selina mengangguk kecil dalam tidurnya, sementara Adipati memejamkan mata, menjaga pelukannya tetap hangat—dan pikirannya tetap waras.

1
Ayu
lanjut kak
Ayu
seru
wagiyah baru
ditunggu kelanjutannya kak
wagiyah baru
seru
Scarlett Rose
lanjut kak🤭
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut heeh
Anonymous
lanjut thor🤭
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut
wagiyah baru
lanjut kak
wagiyah baru
lanjut
Scarlett Rose
seru
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut thor
Ayu
lanjut kak
Ayu
lanjut kqk
Bambang
lanjt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!