Audrey mengira hari pernikahan yang ada di depan matanya saat ini akan membawa kebahagiaan. Menikah dengan kekasih yang begitu dicintainya adalah mimpinya sejak dulu. Namun, dalam sekejap mata, hari yang dinanti adalah hari yang begitu menyakitkan baginya. Dimana dia harus menerima kenyataan jika kekasihnya malah memilih bersanding dengan Kakak tirinya. Hatinya rapuh, disaksikan gaun pengantin yang melekat indah di tubuhnya. Seorang Kakak yang ia sayang dengan tega mengkhianatinya tanpa perasaan.
Bagaimana kisah Audrey selanjutnya? Akankah wanita cantik itu depresi atau malah melakukan hal yang tidak bisa di bayangkan. Baca yuk!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhaya Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GTJ 30
"Mana mungkin ada orang lain yang memberikan kenyamanan untuk Rey, sedangkan aku selalu saja memantaunya," batin Jason ketika ucapan Euno terus saja terngiang-ngiang di ingatannya. Yah, hanya karena perihal kenyamanan, akhirnya Jason memilih jalan ini, pria itu memutuskan untuk untuk kembali ke rumahnya yang sudah ia tinggalkan beberapa hari ini.
Semua pekerja di kediaman Jason nampak berbaris rapi kala melihat mobil yang ditumpangi Tuan nya mulai masuk ke area pelataran. Semuanya menundukkan kepalanya dengan rasa hormat yang penuh.
"Selamat datang kembali, Tuan," sapanya berbarengan, tak ada yang berani mendongakkan kepalanya untuk sekedar melihat wajah Jason. Pada dasarnya mereka takut mendapatkan tatapan tajam dari sosok Jason.
"hmm." Hanya itulah yang keluar dari bibir Jason, hingga di persekian detik pria itu memilih melenggang pergi tanpa bersuara lagi.
****
"Bawa makanan itu pergi, aku tidak mau memakannya!" Audrey mendorong pelan nampan yang ada di depannya, melihatnya saja ia merasa mual, apalagi jika harus memakannya pikir Audrey. Untung saja Audrey mendorong dengan pelan, jika tidak, kemungkinan susu yang ada di atas meja kecil di depannya itu tumpah.
Noon terdiam dengan penuh kecemasan, ia takut jika ada hal buruk yang terjadi pada Audrey nantinya, jika wanita itu masih kekeh tidak mau memakan apapun sedari pagi.
"Tapi, Nyonya, apa anda tidak khawatir dengan keadaan calon bayi..."
"Jangan menggurui ku, pergilah," potong Audrey dengan suara yang meninggi dengan tatapan penuh emosi tak terkendalikan lagi.
Noon tak bersuara, ia hanya diam dengan meneguk ludahnya berkali-kali. Baru kali ini ia mendapatkan wajah Audrey yang tak bersahabat seperti ini. Biasanya, wanita cantik itu akan banyak bicara. Namun, setelah kepergian Jason, semuanya berubah.
Tanpa berkata-kata lagi, Noon mengambil nampan itu dengan gusar. Langkahnya terasa berat meninggalkan kamar sunyi milik Audrey. "Bagaimana Nyonya tidak lemah, makan saja dia tidak mau!" seru Noon terus saja melangkahkan kakinya dengan berat.
"Kenapa keluar?" suara bass milik seorang pria membuat Noon terjingkat. Untung saja nampan yang ia pegang sangat lah erat.
"Tu-an..." suara Noon tergagap kala setelah ia menoleh dan mendapati pria gagah tengah berdiri tegak dengan tatapan yang tajam. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta melainkan karena rasa takut yang seketika menguar di dadanya. "Nyonya tidak mau makan, Tuan," lanjutnya dengan suaranya yang nyaris tak terdengar.
"Bawa masuk," titahnya tanpa mau di bantah. Pria itu lebih dulu masuk kedalam kamar yang sudah beberapa Minggu ia tinggal. Rindu tentu saja, apalagi ia juga sangat merindukan sosok wanita yang terus saja abadi dihatinya sejak dulu.
"Aku gak mau makan, apa kamu tuli?" suara Audrey terdengar ketika ia mendengar suara pintu kamar terbuka kembali. Posisi wanita itu tetap sama, tak menoleh ataupun bergerak dengan wajah tenggelam diantara lututnya. Yah, wanita itu nampak sedih dan rapuh disana. "Per..." suara Audrey terhenti ketika wajahnya mendongak, bibirnya tanpa sadar terbuka dengan apa yang dilihatnya sekarang didepannya.
"Makanlah." suara bass milik pria itu membuat kepala Audrey mengangguk tanpa sadar. Sebuah senyuman juga ikut hadir kala pria itu memilih melangkahkan kakinya semakin mendekat ke arahnya. "Jangan melihat ku seperti itu!" tambahnya lagi yang kini sudah terduduk di tepi ranjang tepat di depan Audrey.
"Aku merindukanmu, Jason!" tubuh lemah milik Audrey menarik tubuh tegap milik Jason. Ia peluk dengan erat seperti takut kehilangan lagi.
Bersambung ...