NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34 - Clara yang Kehabisan Jalan

Clara memilih bertemu di parkiran basement mal, bukan kafe.

Ratna menolak datang sendiri. Siska ikut. Arga mengirim Hanif dan dua staf keamanan, tapi Ratna memintanya tidak turun langsung.

"Kalau kamu datang, Clara akan merasa sedang bernegosiasi dengan Wijaya Group," kata Ratna lewat telepon.

"Aku bisa menunggu di dekat."

"Tunggu di mobil. Jangan membuatnya kabur."

Arga diam sebentar, lalu berkata, "Baik, Ratna."

Cara ia menyebut nama Ratna membuat Siska melirik, tapi ia cukup bijak untuk tidak berkomentar.

Clara datang dengan hoodie hitam, masker, dan wajah tanpa riasan. Di bawah lampu basement yang kuning, memar di pipinya terlihat jelas.

Ratna menahan napas.

"Hendra?"

Clara tertawa pendek. "Dia tidak memukul dengan tangan sendiri. Mas Hendra lebih suka menyuruh orang menakut-nakuti."

Siska langsung menyalakan rekaman dengan izin. "Kamu bersedia memberi keterangan?"

"Saya bersedia kalau Bu Ratna menjamin Alif tidak disentuh."

Ratna menatapnya. "Aku tidak pernah berniat menyentuh anak kecil."

"Hendra bilang kalian akan mengambil semua. Apartemen, mobil, sekolah Alif."

"Apartemen itu dibeli dari uang perusahaan yang disembunyikan dari harta bersama. Mobil atas nama kantor. Sekolah Alif bukan urusan saya selama dia tidak memakai uang yang dicuri dari hak orang lain."

Clara menelan ludah.

"Aku bukan orang baik, Bu Ratna."

"Aku tahu."

Jawaban itu membuat Clara tersenyum getir. "Biasanya orang pura-pura bilang jangan begitu."

"Aku terlalu lelah untuk pura-pura."

Clara mengeluarkan flashdisk kecil dari saku. Tangannya gemetar.

"Ini salinan invoice vendor fiktif, rekening penampung, bukti transfer ke apartemen, dan chat Mas Hendra dengan orang bernama Joko. Joko yang datang ke unit saya semalam. Dia memecahkan kaca, bilang saya harus tutup mulut kalau tidak mau Alif pulang sekolah tanpa ibunya."

Siska mengambil flashdisk dengan sarung tangan kecil yang sudah ia siapkan. "Kenapa baru sekarang?"

Clara menatap Ratna.

"Karena saya pikir saya menang. Saya pikir kalau Bu Ratna keluar dari rumah itu, saya masuk. Ternyata saya cuma dipakai untuk menyimpan uang dan melahirkan anak laki-laki yang bisa dipamerkan."

"Kamu tahu Hendra menikah saat mendekatinya."

"Tahu." Clara tidak menghindar. "Saya juga tahu Bu Ratna sering dibuat terlihat tua, membosankan, tidak menarik. Itu membuat saya merasa menang. Saya jahat karena saya menikmati itu."

Ratna tidak menjawab.

Clara mengusap pipinya yang memar. "Tapi saya tidak menukar bayi. Saya tidak tahu soal itu sampai Mas Hendra mabuk dan bicara kacau. Dia bilang, 'Di rumahku anak saja bisa salah alamat, apalagi uang.' Saya kira cuma bercanda gelap. Lalu saya dengar Mama Sulastri dan dia bertengkar."

"Apa yang mereka katakan?"

"Mama Sulastri bilang jangan usik Darma dan Tari. Mas Hendra bilang dia tidak mau aib keluarga dipakai Clara untuk memeras. Dari situ saya cari."

Siska mencatat cepat. "Jadi Hendra tahu sebelum kamu bicara ke Ratna?"

"Dia tahu sebagian. Mungkin tidak detail, tapi dia tahu ada sesuatu."

Ratna merasa marahnya kembali menyala. Hendra boleh terkejut di depan semua orang, tapi ternyata keterkejutannya tidak suci.

Clara tiba-tiba memegang lengan Ratna. "Saya tidak minta dimaafkan. Saya cuma minta Alif jangan dibenci."

Ratna melihat tangan itu sampai Clara cepat melepaskannya.

"Alif anak Hendra. Dia juga korban dari pilihan orang tuanya."

Mata Clara berkaca-kaca.

"Saya kira Bu Ratna akan senang melihat saya jatuh."

"Aku tidak senang. Aku hanya tidak mau kamu berdiri di atas kepalaku lagi."

Clara mengangguk.

Dari jauh terdengar langkah cepat. Hanif muncul dari balik pilar, wajahnya tegang.

"Bu Ratna, kita harus pindah. Ada dua orang mengikuti Clara dari pintu timur."

Clara langsung pucat. "Itu orangnya."

Siska memasukkan flashdisk ke tas bukti. "Kita ke mobil."

Mereka bergerak cepat. Clara hampir tersandung. Ratna memegang lengannya. Untuk sesaat, Clara tampak malu karena ditolong perempuan yang pernah ia hina.

Di dekat lift, dua pria berjaket gelap muncul. Salah satunya memanggil nama Clara.

"Mbak Clara, Pak Hendra cuma mau bicara."

Hanif berdiri di depan mereka. "Bicara lewat pengacara."

Pria itu tersenyum. "Ini bukan urusan kantor."

Pintu lift terbuka. Arga keluar.

Wajahnya dingin sekali.

"Sekarang jadi urusan saya."

Pria itu mengenali siapa yang berdiri di depannya. Keberanian mereka turun setengah. Namun salah satunya masih mencoba.

"Pak Arga, kami hanya menjalankan pesan."

"Sampaikan pesan balik. Kalau Hendra mengirim orang lagi untuk mengancam saksi, saya antar sendiri rekamannya ke polisi."

Tidak ada teriakan. Tidak ada gerakan kasar. Tapi ancaman itu jatuh lebih berat daripada pukulan.

Mereka mundur.

Di mobil, Clara akhirnya menangis. Ia menutup wajah, bahunya terguncang.

"Saya bodoh," katanya. "Saya pikir jadi perempuan yang dipilih suami orang berarti saya lebih berharga."

Ratna memandang keluar jendela.

"Aku dulu pikir menjadi istri sah berarti aku aman."

Clara menurunkan tangan.

Dua perempuan itu tidak menjadi teman. Tidak ada pelukan. Tidak ada maaf yang mudah. Tapi untuk pertama kalinya, mereka berdiri di sisi yang sama melawan laki-laki yang memakai mereka untuk kebutuhan berbeda.

Siska menghubungi polisi dan mengatur perlindungan saksi informal sambil menyiapkan laporan. Clara dan Alif dipindahkan sementara ke tempat aman milik kerabatnya di Bogor.

Sebelum turun, Clara menoleh kepada Ratna.

"Bu Ratna."

Ratna menatapnya.

"Kalau nanti saya harus bersaksi, saya akan datang."

"Datanglah bukan untuk aku. Datang untuk anakmu, supaya dia tidak tumbuh belajar dari kebohongan."

Clara mengangguk.

Malam itu Ratna dan Arga duduk di mobil yang parkir di pinggir jalan, menunggu Siska selesai menyerahkan barang bukti awal.

"Kamu tadi keluar dari lift seperti adegan drama," kata Ratna pelan.

"Hanif bilang situasinya berubah."

"Aku sudah bilang tunggu di mobil."

"Aku mencoba."

"Mencoba?"

"Tiga menit."

Ratna menatapnya. Lalu tertawa kecil meski lelah.

Arga ikut tersenyum, tipis.

"Ratna," katanya kemudian, lebih serius. "Setelah ini Hendra akan makin terdesak. Jangan pergi sendiri."

"Aku bukan anak kecil."

"Aku tahu. Tapi orang dewasa juga bisa ditemani."

Ratna tidak membantah.

Di luar, lampu jalan memantul di kaca. Di dalam mobil, untuk pertama kalinya sejak badai DNA dimulai, Ratna merasakan bukan hanya dirinya yang mengejar kebenaran.

Ada orang yang berjalan di sampingnya.

Dan kali ini, ia tidak ingin menyuruh orang itu pergi.

Saat mobil bergerak meninggalkan basement, Ratna melihat Clara duduk di mobil lain bersama Siska. Wajah perempuan itu pucat di balik kaca, tapi tangannya memeluk tas kecil berisi dokumen Alif. Bukan tas mewah, bukan simbol kemenangan, hanya tas seorang ibu yang akhirnya sadar anaknya bisa ikut tenggelam.

Ratna tidak menyukai Clara.

Mungkin ia tidak akan pernah menyukai perempuan itu.

Namun malam itu kebenciannya tidak lagi sederhana. Ada bagian dari dirinya yang tetap marah, ada bagian yang ingin Clara bertanggung jawab, dan ada bagian lain yang tidak tega melihat anak kecil dipakai sebagai tameng oleh ayahnya sendiri.

"Kamu memikirkan Alif?" tanya Arga.

Ratna menoleh. "Terlalu terlihat?"

"Kamu selalu melunak kalau menyangkut anak."

"Itu kelemahan?"

"Itu alasan aku mencintaimu."

Ratna terdiam. Arga tidak menarik kalimat itu kembali.

Di luar jendela, Jakarta terus menyala seperti tidak ada rahasia yang baru saja berpindah tangan.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!