NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 - Saksi yang Salah

Suara sirene ambulans menggema di sepanjang jalan kota yang diguyur hujan deras. Aurora Valentia baru saja menyelesaikan operasi darurat selama hampir enam jam tanpa henti. Tubuhnya terasa lelah, tetapi sebagai seorang dokter, ia sudah terbiasa mengorbankan waktu istirahat demi menyelamatkan nyawa orang lain.

Ia melepas masker medisnya sambil mengembuskan napas panjang.

"Akhirnya selesai juga," gumamnya pelan.

Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Rumah sakit mulai sepi. Aurora mengambil tasnya, berpamitan kepada beberapa perawat yang masih berjaga, lalu berjalan menuju area parkir.

Hujan turun semakin deras.

Aurora membuka payung dan melangkah menuju mobilnya. Jalanan tampak lengang. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya di atas aspal yang basah, menciptakan suasana yang sunyi sekaligus mencekam.

Entah mengapa, malam itu hatinya terasa gelisah.

Baru saja ia hendak membuka pintu mobil, suara deru mesin terdengar dari kejauhan.

Bruummm!

Sebuah mobil SUV hitam melaju sangat kencang melewati rumah sakit.

Beberapa detik kemudian...

Dor! Dor! Dor!

Rentetan tembakan memecah keheningan malam.

Aurora refleks menunduk.

"Astaga!"

Ia berlari mencari perlindungan di balik sebuah pilar beton. Dadanya berdebar sangat cepat.

Suara ban berdecit keras.

Dua mobil hitam saling kejar sambil melepaskan tembakan.

Kaca mobil pecah berhamburan.

Orang-orang yang masih berada di sekitar rumah sakit berteriak panik dan berhamburan menyelamatkan diri.

Aurora memejamkan mata sesaat.

Ketika suara tembakan mulai mereda, rasa penasarannya justru muncul.

Perlahan ia mengintip dari balik pilar.

Salah satu mobil berhenti di tengah jalan.

Empat pria bersenjata keluar dengan tergesa-gesa.

Belum sempat mereka mengangkat senjata...

Dor!

Dor!

Dor!

Tiga tembakan terdengar hampir bersamaan.

Ketiga pria itu langsung roboh bersimbah darah.

Aurora membekap mulutnya agar tidak berteriak.

Dari balik bayangan hujan, seorang pria tinggi mengenakan jas hitam melangkah dengan tenang.

Tangannya menggenggam pistol yang masih mengeluarkan asap tipis.

Wajahnya begitu tampan, tetapi sorot matanya sedingin es.

Ia berjalan melewati tubuh-tubuh yang bergelimpangan tanpa sedikit pun menunjukkan rasa iba.

Seolah membunuh seseorang hanyalah rutinitas biasa.

Pria itu berhenti di depan korban terakhir yang masih bernapas.

"Tuan... ampuni aku..." lirih pria tersebut.

Tatapan pria berjas hitam tetap datar.

"Aku sudah memberimu kesempatan."

Dor!

Satu peluru bersarang tepat di kepala pria itu.

Sunyi.

Yang terdengar hanya suara hujan.

Aurora gemetar hebat.

Ia baru saja menyaksikan pembunuhan dengan mata kepalanya sendiri.

Tanpa sengaja, kakinya mundur beberapa langkah.

Krek...

Sebuah ranting patah.

Suara kecil itu membuat pria berjas hitam langsung menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya Aurora melihat jelas wajah pria tersebut.

Sangat tampan.

Namun juga sangat mengerikan.

Tatapan dinginnya membuat Aurora seolah kehilangan kemampuan untuk bernapas.

Pria itu menyipitkan mata.

"Siapa di sana?"

Aurora tersentak.

Ia segera berbalik dan berlari sekuat tenaga.

"Hei! Berhenti!"

Aurora tak peduli.

Ia terus berlari menembus hujan.

Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa akan meledak.

Di belakangnya terdengar langkah kaki beberapa orang.

"Cepat tangkap dia!"

Aurora menoleh sekilas.

Lima pria bersenjata sedang mengejarnya.

Air mata mulai bercampur dengan air hujan.

"Aku harus selamat..."

Ia memasuki gang sempit yang gelap.

Namun langkahnya mendadak terhenti.

Di depannya berdiri pria berjas hitam yang tadi ia lihat.

Entah bagaimana caranya, pria itu sudah berada di sana lebih dulu.

Aurora membeku.

Pria itu mendekatinya perlahan.

"Tolong... jangan bunuh aku," ucap Aurora dengan suara bergetar.

Pria itu menatap wajah Aurora cukup lama.

Matanya yang dingin seolah sedang membaca isi pikirannya.

"Apa kau melihat wajahku?"

Aurora tidak menjawab.

Diamnya justru menjadi jawaban.

Pria itu menghela napas pelan.

"Sayang sekali."

Aurora menutup mata.

Ia yakin malam ini adalah akhir hidupnya.

Namun suara tembakan yang ia tunggu tak kunjung terdengar.

Sebaliknya, pria itu justru memasukkan pistolnya kembali ke balik jas.

"Masukkan dia ke mobil."

"Dengan senang hati, Tuan Raven," jawab salah seorang anak buahnya.

Aurora membuka mata dengan bingung.

"Apa... apa maksudnya?"

Pria bernama Raven itu menatapnya tanpa ekspresi.

"Kau terlalu banyak melihat."

"Aku tidak akan melapor ke polisi. Aku bersumpah!"

"Aku tidak percaya pada sumpah."

"Demi Tuhan..."

"Aku hanya percaya pada kendaliku sendiri."

Dua pria berbadan besar langsung memegang kedua lengan Aurora.

"Lepaskan aku!"

Aurora meronta sekuat tenaga, tetapi tenaganya tak sebanding dengan mereka.

Dalam hitungan detik ia sudah didorong masuk ke dalam mobil hitam mewah.

Pintu ditutup rapat.

Mobil melaju meninggalkan lokasi.

Aurora memandang keluar jendela dengan napas memburu.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Ia tidak tahu ke mana dirinya akan dibawa.

Yang ia tahu, hidupnya tak akan pernah sama lagi sejak malam ketika ia melihat wajah pria bernama Raven Alvaro—Don mafia paling kejam yang namanya membuat seluruh dunia bawah tanah gemetar.

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!