Asisten Duda CEO Tajir Melintir
Grizella Madeline Dealova, seorang anak magang yang ambisius dan berani, tidak pernah menyangka akan terlibat dengan Galaxy Adelion Wesley, CEO kaya raya yang dingin dan terluka karena pengkhianatan masa lalu.
Pertemuan mereka dipenuhi pertengkaran, tetapi perlahan rasa benci berubah menjadi ketertarikan. Saat Galaxy memintanya menjadi asisten pribadi dan tinggal bersamanya, keduanya mulai menghadapi perasaan yang tidak bisa mereka hindari.
Namun, ketika cinta mulai tumbuh, mantan istri Galaxy kembali membawa rahasia lama yang mengancam hubungan mereka.
Akankah Grizella menjadi alasan Galaxy kembali percaya pada cinta, atau justru menjadi luka baru dalam hidup sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONTRAK YANG MENGUBAH HIDUP HIDUP
Grizella masih memandangi map hitam yang berada di pangkuannya sejak keluar dari ruang CEO.
Isi kontrak itu terus berputar di kepalanya.
Asisten Pribadi CEO.
Wajib tinggal di penthouse selama masa kerja.
Ia bahkan beberapa kali mencubit lengannya sendiri untuk memastikan semua ini bukan mimpi.
"Kenapa justru aku?"
Sesampainya di apartemen kecil tempat tinggalnya, Grizella langsung merebahkan tubuh di sofa. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.
Menjadi asisten pribadi CEO perusahaan terbesar di New York adalah kesempatan emas yang diimpikan banyak orang.
Namun syarat tinggal serumah dengan atasannya membuatnya ragu.
"Kalau orang lain tahu, pasti mereka salah paham..."
Ponselnya bergetar.
Nomor yang tidak dikenal.
"Selamat sore, Nona Grizella."
Suara pria yang tenang terdengar dari seberang telepon.
"Saya Aaron, sekretaris pribadi Tuan Galaxy."
Grizella segera duduk tegak.
"Selamat sore."
"Saya hanya ingin mengingatkan bahwa Tuan Galaxy menunggu keputusan Anda sebelum pukul delapan malam."
"Baik."
"Jika Anda menerima, mobil perusahaan akan menjemput Anda."
Telepon pun terputus.
Grizella memejamkan mata.
Ia tahu kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.
Setelah berpikir cukup lama, ia akhirnya menggenggam kontrak itu erat.
"Aku akan membuktikan bahwa aku diterima karena kemampuan, bukan karena belas kasihan."
Tepat pukul tujuh malam, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan apartemennya.
Seorang sopir membukakan pintu dengan sopan.
"Nona Grizella?"
"Ya."
"Silakan. Tuan Galaxy sudah menunggu."
Sepanjang perjalanan, Grizella hanya bisa menatap gemerlap lampu Kota New York dari balik jendela.
Beberapa menit kemudian, mobil memasuki kawasan apartemen paling eksklusif di kota itu.
Gedung pencakar langit itu menjulang megah, dijaga petugas keamanan selama dua puluh empat jam.
Lift pribadi membawa Grizella langsung menuju lantai paling atas.
Pintu lift terbuka.
Sebuah penthouse yang sangat luas terbentang di hadapannya.
Interiornya didominasi warna hitam, abu-abu, dan putih dengan desain modern yang elegan.
Jendela kaca raksasa memperlihatkan panorama kota yang menakjubkan.
Grizella tanpa sadar berdecak kagum.
"Ini rumah... atau hotel bintang tujuh?"
"Tidak keduanya."
Suara berat itu membuat Grizella menoleh.
Galaxy berdiri dengan pakaian santai berwarna hitam. Meski tanpa jas, kharismanya tetap begitu kuat.
"Selamat datang."
Grizella sedikit membungkuk.
"Terima kasih, Tuan."
Galaxy berjalan melewatinya.
"Ikut."
Grizella segera mengikuti langkahnya.
Galaxy membawanya ke sebuah kamar yang ukurannya hampir sebesar apartemen Grizella sebelumnya.
"Ini kamarmu."
Grizella terpaku.
"Untuk saya?"
"Kalau tidak suka, bilang sekarang."
"Bukan begitu..."
Ia tersenyum tipis.
"Kamarnya terlalu bagus."
Galaxy hanya mengangguk singkat.
"Aaron sudah menyiapkan pakaian kerja dan kebutuhanmu."
"Terima kasih."
Setelah itu, Galaxy menyerahkan sebuah kartu akses.
"Ada beberapa aturan."
Grizella langsung memperhatikan.
"Pertama, jangan masuk ke ruang kerjaku tanpa izin."
"Kedua, jangan mengganggu waktuku setelah tengah malam kecuali keadaan darurat."
"Ketiga..."
Galaxy berhenti sejenak.
"Jangan berbohong kepadaku."
Tatapan matanya berubah lebih dingin.
Grizella dapat merasakan ada sesuatu di balik kalimat sederhana itu.
Seolah-olah kebohongan adalah hal yang paling dibenci pria tersebut.
"Saya mengerti."
Galaxy kembali berbicara dengan nada datar.
"Besok pukul enam pagi kita berangkat ke kantor."
"Jangan terlambat."
"Baik."
Galaxy berbalik hendak pergi.
Namun sebelum pintu tertutup, ia berkata pelan tanpa menoleh,
"Selamat datang di hidupku, Grizella."
Kalimat singkat itu membuat Grizella membeku.
Entah mengapa, untuk sesaat ia melihat kesepian yang begitu dalam di balik sosok CEO yang selalu tampak sempurna itu.
Ia belum tahu bahwa tinggal di penthouse ini bukan hanya akan mengubah kariernya.
Tetapi juga... mengubah hatinya.
Pukul lima tiga puluh pagi, alarm di kamar Grizella berbunyi nyaring.
Ia langsung bangun, mandi, lalu mengenakan setelan kerja berwarna krem yang telah disiapkan oleh Aaron. Rambut panjangnya diikat rapi, membuat wajah cantiknya terlihat semakin segar.
Hari ini adalah hari pertamanya sebagai asisten pribadi Galaxy Adelion Wesley.
"Aku tidak boleh membuat kesalahan."
Tepat pukul enam pagi, Grizella turun ke ruang makan.
Ia mendapati Galaxy sudah duduk di meja makan sambil membaca laporan bisnis di tablet. Secangkir kopi hitam mengepul di sampingnya.
"Selamat pagi, Tuan."
Galaxy hanya mengangguk singkat.
"Duduk."
Grizella duduk di hadapannya.
Beberapa pelayan segera menyajikan sarapan.
Suasana begitu hening hingga suara sendok yang menyentuh piring terdengar jelas.
Grizella merasa tidak nyaman.
"Begini terus setiap pagi?"
Galaxy tidak mengalihkan pandangannya dari tablet.
"Ada masalah?"
"Tidak."
"Tapi makan tanpa bicara sedikit pun terasa aneh."
Galaxy akhirnya menatapnya.
"Aku tidak suka berbicara saat sarapan."
Grizella mengangkat bahu.
"Kalau begitu saya akan menyesuaikan."
Jawaban itu membuat Galaxy sedikit terkejut.
Ia mengira Grizella akan membantahnya seperti kemarin.
Sesampainya di Wesley Corporation, perhatian seluruh karyawan langsung tertuju kepada mereka.
Grizella turun dari mobil yang sama dengan Galaxy.
Bisik-bisik mulai terdengar.
"Itu anak magang kemarin."
"Sekarang dia datang bersama CEO?"
"Jangan-jangan..."
Grizella dapat merasakan tatapan sinis dari berbagai arah.
Namun ia memilih mengabaikannya.
Galaxy berjalan lebih dulu menuju lift khusus.
"Ayo."
Grizella segera mengikutinya.
Begitu pintu lift tertutup, hanya ada mereka berdua.
Galaxy menyerahkan sebuah tablet.
"Mulai hari ini jadwalku adalah tanggung jawabmu."
Grizella membuka data di dalamnya.
Matanya membelalak.
"Rapat delapan kali?"
"Ya."
"Dua presentasi."
"Benar."
"Makan siang hanya lima belas menit?"
Galaxy mengangguk.
Grizella menatapnya tidak percaya.
"Kalau seperti ini, Tuan bisa sakit."
Galaxy menjawab datar.
"Aku tidak punya waktu untuk sakit."
Grizella langsung menggeleng.
"Itu bukan alasan."
Galaxy menatapnya tajam.
"Kau sedang mengajariku?"
"Saya hanya mengingatkan."
Beberapa detik mereka saling menatap.
Kemudian...
Galaxy justru tersenyum tipis.
"Sekarang aku mengerti kenapa kau berani membantahku."
"Saya membantah kalau memang perlu."
Jawaban itu membuat Galaxy terkekeh pelan.
Sangat pelan.
Sampai-sampai Grizella tidak yakin apakah pria itu benar-benar baru saja tertawa.
Rapat pertama berlangsung selama dua jam.
Grizella berdiri di samping Galaxy sambil mencatat seluruh keputusan penting.
Ketika salah seorang direktur mencoba menyembunyikan kesalahan laporan keuangan, Grizella menyadari ada angka yang tidak sesuai.
Ia ragu sejenak.
Haruskah ia diam?
Atau berbicara?
Galaxy meliriknya.
"Katakan."
Grizella menarik napas.
"Maaf, Tuan."
Ia menunjuk salah satu halaman laporan.
"Data keuntungan kuartal ini berbeda dengan lampiran sebelumnya."
Ruangan mendadak hening.
Direktur itu langsung pucat.
Galaxy mengambil dokumen tersebut.
Setelah memeriksanya beberapa saat, wajahnya berubah dingin.
"Kenapa bisa berbeda?"
Direktur itu terbata-bata.
"Itu... mungkin kesalahan cetak."
Galaxy melempar dokumen ke atas meja.
"Jangan pernah berbohong di ruang rapatku."
Suasana menjadi sangat tegang.
Tak lama kemudian, rapat ditutup.
Saat semua orang keluar, Galaxy menghampiri Grizella.
"Kerja bagus."
Grizella tersenyum kecil.
"Itu memang tugas saya."
Galaxy menatapnya beberapa saat.
Semakin lama mengenal Grizella, semakin ia sadar bahwa gadis ini tidak pernah mencari pujian.
Ia hanya melakukan apa yang menurutnya benar.
Dan justru itulah yang membuat Galaxy semakin tertarik.
Namun tanpa mereka sadari, dari balik dinding kaca ruang rapat, sepasang mata sedang mengawasi setiap interaksi mereka.
Seorang wanita berambut panjang mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Galaxy..."
"Aku baru pergi beberapa tahun."
"Dan sekarang sudah ada wanita lain di sisimu?"
Tatapan penuh kebencian itu tertuju lurus kepada Grizella.
"Permainan ini baru saja dimulai."
Hari pertama Grizella sebagai asisten pribadi akhirnya berakhir menjelang malam.
Setelah menyelesaikan rapat terakhir, ia mengikuti Galaxy kembali ke penthouse. Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan. Galaxy sibuk membaca laporan di tabletnya, sementara Grizella memilih menikmati pemandangan lampu-lampu Kota New York yang berkilauan dari balik jendela mobil.
Sesampainya di penthouse, Grizella langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
"Capek juga ternyata jadi asisten CEO," gumamnya sambil meregangkan bahu.
Tak lama kemudian, perutnya berbunyi.
Ia pun keluar menuju dapur.
Namun dapur yang luas itu ternyata kosong.
"Pelayan sudah pulang?"
Saat membuka kulkas, Grizella hanya menemukan beberapa bahan makanan sederhana.
Ia tersenyum kecil.
"Untung aku masih bisa memasak."
Tanpa berpikir panjang, ia mulai menyiapkan makan malam sederhana berupa sup hangat dan pasta.
Aroma masakan perlahan memenuhi seluruh ruangan.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar dari arah ruang kerja.
Galaxy keluar sambil memijat pelipisnya.
Ia tampak lelah.
Tatapan dinginnya sedikit memudar dibanding biasanya.
Galaxy menghentikan langkah ketika mencium aroma makanan.
"Kau memasak?"
Grizella mengangguk.
"Kalau Tuan belum makan, silakan ikut."
Galaxy menatap meja makan selama beberapa detik.
Sudah lama tidak ada seseorang yang mengajaknya makan bersama.
Biasanya ia makan sendirian... atau bahkan melewatkan makan malam.
Tanpa banyak bicara, ia duduk.
Grizella menyendokkan sup ke mangkuknya.
"Silakan."
Galaxy mencicipinya.
Untuk pertama kalinya hari itu, ekspresi wajahnya berubah sedikit lebih hangat.
"Enak."
Grizella tersenyum puas.
"Syukurlah."
Suasana makan malam terasa jauh lebih nyaman dibanding sarapan tadi pagi.
Sesekali Grizella bercerita tentang masa kuliahnya, sedangkan Galaxy hanya mendengarkan.
Meski jawabannya singkat, setidaknya ia tidak lagi bersikap sedingin biasanya.
Selesai makan, Grizella membereskan meja.
Ketika melewati ruang kerja Galaxy, ia melihat pintunya sedikit terbuka.
Lampu di dalam masih menyala.
Ia berniat mengetuk pintu untuk menanyakan apakah masih ada pekerjaan.
Namun langkahnya terhenti.
Di dalam ruangan, Galaxy sedang duduk sendirian.
Di tangannya terdapat sebuah bingkai foto.
Wajah dingin pria itu berubah sendu.
Tatapannya dipenuhi luka yang belum benar-benar sembuh.
"Aku sudah memberikan segalanya..."
"Tapi kenapa kau tetap memilih mengkhianatiku...?"
Suara itu lirih.
Nyaris tak terdengar.
Grizella terdiam.
Kini ia mulai mengerti mengapa Galaxy begitu membenci kebohongan.
Bukan karena sifatnya yang keras.
Melainkan karena hatinya pernah dihancurkan oleh orang yang paling ia cintai.
Grizella perlahan mundur agar Galaxy tidak menyadari kehadirannya.
"Jadi... itu alasan di balik tatapan sedihnya."
Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Pria yang selama ini terlihat sempurna ternyata menyimpan kesepian yang begitu dalam.
Sekitar pukul sebelas malam...
Keheningan penthouse tiba-tiba dipecahkan oleh suara bel pintu.
Ting... tong...
Galaxy keluar dari ruang kerjanya dengan wajah datar.
Siapa yang datang selarut ini?
Begitu pintu dibuka...
Seorang wanita cantik berdiri di depan.
Ia mengenakan gaun putih elegan dengan senyum yang seolah penuh penyesalan.
"Halo, Galaxy..."
"Aku pulang."
Galaxy langsung membeku.
Sorot matanya yang biasanya tenang berubah dingin dalam sekejap.
Wanita itu adalah...
Vanessa Hartley.
Mantan istrinya.
Dari lantai dua, Grizella yang mendengar suara di depan pintu tanpa sengaja melihat pemandangan itu.
Tatapan Vanessa beralih kepada Grizella.
Senyumnya perlahan menghilang, berganti dengan sorot mata penuh kebencian.
"Oh..."
"Jadi sekarang sudah ada wanita lain yang tinggal di rumahmu?"
Galaxy mengepalkan tangannya.
Sementara Grizella hanya bisa berdiri terpaku, sama sekali tidak menyangka bahwa malam pertamanya di penthouse akan menjadi awal dari badai yang jauh lebih besar.
Vanessa datang bukan hanya untuk meminta maaf. Ia membawa sebuah rahasia dari masa lalu yang bisa menghancurkan kepercayaan Galaxy kepada Grizella bahkan sebelum benih cinta mereka benar-benar tumbuh.