NovelToon NovelToon
Semar Mesem

Semar Mesem

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Bab 15

Tujuh jam.

Kepalanya mulai terasa ringan. Seperti melayang. Pandangannya mulai kabur. Asap dupa di depannya seperti menari-nari, membentuk pola-pola aneh yang tidak bisa ia mengerti.

Delapan jam.

Ia mulai melihat bayangan.

Di sudut kamar. Di dekat lemari. Di balik gorden. Bayangan hitam. Berbentuk manusia, tapi tidak jelas. Hanya siluet. Hanya gelap. Menatapnya dengan mata yang tidak ada.

Sembilan jam.

Bayangan itu semakin banyak. Tiga. Empat. Lima. Mereka berdiri di sekelilingnya, menatapnya dalam diam. Lusi tidak takut. Ia tahu mereka adalah khodam leluhur penjaga yang disebut Ki Sarowang. Mereka datang untuk menilainya. Untuk mengawasi ritualnya.

Sepuluh jam.

Tubuhnya mulai gemetar. Bukan karena kedinginan. Tapi karena energi yang mulai bangkit di dalam dirinya. Energi yang tidak bisa ia jelaskan. Energi yang terasa panas dan dingin sekaligus, mengalir dari ujung kaki ke ubun-ubun.

Sebelas jam.

Ia mendengar suara-suara. Bisikan-bisikan. Bukan dari luar. Tapi dari dalam kepalanya sendiri. Bisikan yang tidak bisa ia mengerti bahasanya. Tapi ia tahu artinya. Bisikan itu mengatakan: Teruskan. Jangan berhenti. Kamu hampir sampai.

Dua belas jam.

Malam tiba. Di luar, hujan sudah berhenti. Bulan muncul di langit, nyaris purnama. Cahayanya masuk lewat celah gorden, menciptakan garis-garis perak di lantai kamar.

Lusi masih duduk. Tubuhnya sudah mati rasa. Ia tidak bisa merasakan kakinya lagi. Ia tidak bisa merasakan tangannya lagi. Yang tersisa hanyalah kesadaran kesadaran yang melayang di antara dunia nyata dan dunia gaib.

Tiga belas jam.

Bayangan-bayangan itu semakin jelas. Ia sekarang bisa melihat wajah mereka. Wajah-wajah tua. Wajah-wajah kuno. Leluhurnya. Para dukun dan sesepuh yang sudah meninggal ratusan tahun lalu. Mereka berdiri mengelilinginya, mulut mereka bergerak-gerak seperti sedang membaca mantra bersamanya.

Empat belas jam.

Lusi mulai lupa siapa dirinya. Namanya. Wajahnya. Masa lalunya. Semuanya seperti terkikis, digantikan oleh kekosongan yang aneh. Satu-satunya yang ia ingat adalah tujuan ritual ini: Irawan. Ia harus menyelesaikan ini untuk Irawan.

Lima belas jam.

Tiba-tiba, liontin di lehernya bergetar. Bukan getaran fisik. Tapi getaran energi. Hangat. Sangat hangat. Seperti ada yang memeluknya dari jauh.

Mbah Buyut...

Air mata mengalir dari matanya yang terpejam. Bukan air mata kesakitan. Bukan air mata kesedihan. Tapi air mata... kelegaan. Ia tidak sendirian. Ki Sarowang menjaganya dari jauh. Merasakan perjuangannya. Mengirimkan energinya.

Enam belas jam.

Tengah malam. Kamar itu sekarang gelap total lilin-lilin sudah padam karena habis terbakar. Tapi anehnya, Lusi masih bisa melihat. Bukan dengan matanya. Tapi dengan sesuatu yang lain. Mata batin, begitu Ki Sarowang menyebutnya. Mata yang bisa melihat hal-hal gaib.

Dan dengan mata itu, ia melihat Irawan.

Bayangan Irawan muncul di depannya. Tapi bukan Irawan yang asli hanya proyeksi. Hanya bayangan. Irawan sedang duduk di kamarnya, memegangi kepalanya, menangis.

"Lusi... Lusi... kenapa gue nggak bisa berhenti mikirin lo... apa yang lo lakuin sama gue..."

Lusi tersenyum.

Rasain, Wan. Rasain.

Tujuh belas jam.

Delapan belas jam.

Sembilan belas jam.

Dua puluh jam.

Tubuhnya sudah melewati batas kelelahan. Ia tidak lagi merasa lapar. Tidak lagi merasa haus. Tidak lagi merasa sakit. Yang ia rasakan hanyalah... kekuatan. Kekuatan yang mengalir dari pusat bumi, naik ke tulang ekornya, merambat ke tulang punggungnya, dan berkumpul di puncak kepalanya.

Dua puluh satu jam.

Dua puluh dua jam.

Dua puluh tiga jam.

Tinggal satu jam lagi.

Tinggal satu jam.

Hampir sampai.

Pukul 05.50. Sepuluh menit sebelum matahari terbit.

Lusi membuka matanya.

Kamar itu sudah terang oleh cahaya pagi yang masuk lewat celah gorden. Asap dupa sudah hilang. Lilin-lilin sudah jadi genangan lilin beku di lantai. Bunga-bunga di bokor sudah layu, airnya berubah warna menjadi keruh.

Tapi Lusi masih duduk. Masih bersila. Masih tegak.

Dan di dalam dirinya, sesuatu telah berubah.

Ia bisa merasakannya. Api itu. Api warisan yang dulu hanya berupa bara kecil, sekarang sudah menjadi kobaran api yang siap membakar apa pun. Energi yang mengalir di nadinya bukan lagi energi manusia biasa. Ada kekuatan di sana. Kekuatan yang baru saja lahir.

Liontin di lehernya bergetar lagi. Hangat.

Bagus, Nduk. Kamu berhasil.

Suara Ki Sarowang. Bukan di telinganya. Tapi di dalam kepalanya.

Pukul 06.00. Matahari terbit.

Pati Geni selesai.

Lusi menggerakkan tubuhnya perlahan. Sendi-sendinya berderak seperti bambu kering. Ia merentangkan kakinya yang sudah mati rasa, memijit-mijitnya pelan agar darah mengalir lagi. Ia meregangkan punggungnya yang sudah kaku. Ia menarik napas dalam-dalam napas pertama sebagai manusia baru.

Air.

Ia meraih botol air mineral di dekatnya, membukanya dengan tangan bergetar, dan meneguknya. Air itu terasa seperti kehidupan yang mengalir ke dalam tubuhnya. Dingin. Segar. Menyembuhkan.

Nasi.

Ia meraih sepiring nasi putih yang sudah ia siapkan sejak kemarin nasi yang sudah dingin dan sedikit keras. Tapi rasanya... luar biasa. Seperti makanan terenak yang pernah ia makan seumur hidupnya.

Setelah selesai makan dan minum, ia berdiri. Kakinya masih gemetar, tapi ia bisa berdiri. Ia berjalan ke cermin.

Dan ia melihat seseorang yang berbeda.

Wajahnya masih wajahnya. Tapi ada sesuatu yang berubah. Matanya. Dulu, matanya redup. Lelah. Takut. Sekarang, matanya bersinar. Bukan kilau keemasan lagi. Tapi sesuatu yang lebih dalam. Lebih kuat. Lebih... menakutkan.

Ia tersenyum pada bayangannya di cermin.

"Aku berhasil, Mbah," bisiknya. "Aku berhasil."

Satu jam kemudian. Pukul 07.00.

Tok tok tok.

"Lus? Lo udah selesai? Ini gue. Dita."

Lusi berjalan ke pintu, membukanya perlahan. Dita berdiri di depan pintu dengan muka khawatir. Begitu melihat Lusi, ia langsung mundur selangkah.

"Ya ampun, Lus. Muka lo..."

"Kenapa?"

"Pucet banget. Tapi..." Dita mengerutkan dahinya. "Mata lo... kok beda ya? Gue nggak bisa jelasin. Tapi ada sesuatu di mata lo."

Lusi tersenyum. "Aku cuma capek, Dit. Butuh tidur."

"Oh... oke. Lo mau gue beliin bubur?"

"Nggak usah. Makasih." Lusi menutup pintu pelan.

Ia berjalan ke kasur, merebahkan diri, dan menatap langit-langit kamar yang retak-retak.

Pati Geni sudah selesai. Ritual sudah lengkap.

Sekarang, tinggal menunggu hasilnya.

Malam harinya. Pukul 20.00.

Lusi terbangun dari tidur panjangnya. Kepalanya sudah lebih jernih. Tubuhnya sudah lebih segar. Ia duduk di tepi kasur, menatap kamarnya yang masih berantakan oleh sisa-sisa ritual.

Ia meraih ponselnya, menyalakannya untuk pertama kali sejak kemarin.

Layar menyala. Dan ia melihatnya.

47 pesan WhatsApp dari Irawan.

Tangannya sedikit bergetar saat ia membuka pesan-pesan itu.

Pesan 1 (07.15): "Lus, gue nggak bisa tidur semaleman."

Pesan 2 (07.30): "Lus, lo di mana? Gue nyariin lo."

Pesan 3 (08.00): "Gue ke kost lo. Pintunya dikunci. Lo di dalem kan?"

Pesan 4 (09.00): "Lusi please. Gue butuh ngomong."

Pesan 5 (10.30): "Kenapa lo diem aja? Gue tau lo baca ini."

Pesan 6 (12.00): "Gue nggak bisa makan. Nggak bisa minum. Nggak bisa apa-apa. Yang ada di kepala gue cuma lo. Kenapa?!"

Pesan 7 (14.00): "APA YANG LO LAKUIN SAMA GUE?!"

Pesan 8 (16.00): "Maaf. Gue nggak maksud marah-marah. Gue cuma... gue nggak ngerti. Ini aneh. Aneh banget."

Pesan 9 (18.00): "Lusi tolong. Gue mohon. Bales."

Pesan 10 (19.30): "Gue cinta sama lo. Gue baru nyadar. Gue cinta sama lo, Lus. Bales dong. Please."

Dan seterusnya. Puluhan pesan dengan nada yang sama. Marah. Bingung. Putus asa. Memohon.

Lusi membaca semuanya dengan wajah datar. Lalu, perlahan, sebuah senyum muncul di bibirnya.

Ini baru hari pertama setelah Pati Geni.

Efeknya akan semakin kuat. Semakin dalam. Semakin tidak tertahankan.

Irawan akan menjadi budaknya.

Sepenuhnya.

Ia meletakkan ponselnya, lalu berjalan ke meja. Kitab Semar Mesem masih terbuka di halaman terakhir halaman yang berisi "Mantra Pengunci". Mantra yang harus ia baca untuk mengunci ikatan antara dirinya dan Irawan selamanya.

Ia mengambil napas dalam-dalam.

"Sun amatek adjiku semar mesem..."

\[BERSAMBUNG…\]

1
Wawan
Kembang buat Lusi 😄
Wawan
Manfaatkan Lus .... 🤣🤣🤣
Wawan
iklan buat mu Thor ✍️
Wawan
2 mawar buatmu Thor ✍️
Wawan
Zombie 🤣
Wawan
Iklan dan mawar buat Semar mendem 🤣🤣🤣
Wawan
Cepat pulih Thor 👍✍️
Dhatu Lukita: terimakasih ❤️
total 1 replies
Dhatu Lukita
Halo, semuanya! 🥰

Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏

Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.

Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
Wawan
Wah ngeri 🤭
Dhatu Lukita
semangat aku dewe🤭🫰
Wawan
Lah kok pakai jilbab 😄🤭
Wawan
iklan dan mawar buat Lusi 😍😄
Wawan
Ngeri juga nih si Lusi 😄💪
Alis Yudha
Thor,Semar mesem sama jaran goyang apa sama ya🤔?🤭
Dhatu Lukita: halo kak, sama2 'ilmu pengasihan' tapi berbeda cara pengamalannya kak kurang lebih 🙏
total 1 replies
Wawan
/Rose/
Firmahadi
izin mampir kak
Wawan
Setangkai mawar buatmu Thor 💪
Dhatu Lukita: terimakasih banyak 😍❤️💪💪
total 1 replies
Wawan
Iklan. buat Lusi 🤭
Wawan
Jam dinding 👍
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
💃🏻 Apa salah lan dosaku, sayang? 🥺
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻‍♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!